Gunung di Sulawesi Selatan

Gunung di Sulawesi Selatan adalah gunung-gunung yang terbentuk di wilayah Sulawesi Selatan. Pada wilayah Sulawesi Selatan terdapat tujuh gunung. Gunung-gunung di wilayah Sulawesi Selatan memiliki ketinggian berkisar antara dua ribuan meter di atas permukaan laut dan tiga ribuan meter di atas permukaan laut. Salah satu gunung di wilayah Sulawesi Selatan menjadi habitat bagi genus hewan endemik di pulau Sulawesi yaitu Tarsius dan menjadi objek wisata berjenis ekowisata di Sulawesi Selatan. Penduduk di sekitar gunung Bawakaraeng memiliki keyakinan lokal bahwa pendakian gunung Bawakaraeng pada waktu tertentu sama seperti sedang haji.

Jumlah dan ketinggian

Pada wilayah Sulawesi Selatan terdapat tujuh gunung.[1] Lokasi dari gunung Latimojong adalah di perbatasan antara wilayah Kabupaten Enrekang dan wilayah Kabupaten Luwu.[1] Selain itu, terdapat gunung Lompobattang, gunung Rantekombola, gunung Kambuno dan gunung Balease.[2] Gunung-gunung di wilayah Sulawesi Selatan memiliki ketinggian berkisar antara dua ribuan meter di atas permukaan laut dan tiga ribuan meter di atas permukaan laut.[2]

Gunung tertinggi di wilayah Sulawesi Selatan adalah gunung Latimojong dengan ketinggian 3.470 meter di atas permukaan laut.[1] Kemudian ada gunung Rantekombola dengan ketinggian 3.455 meter di atas permukaan laut dan gunung Balesae dengan ketinggian 3.016 meter di atas permukaan laut. Sementara itu, gunung-gunung dengan ketinggian dua ribua meter di atas permukaan laut yaitu gunung Kambuno dan gunung Lompobattang. Gunung Kambuno memiliki ketinggian 2.950 meter di atas permukaan laut. Sedangkan gunung Lomobattang memiliki ketinggian yaitu 2.900 meter di atas permukaan laut.[2]

Pemanfaatan

Salah satu gunung di wilayah Sulawesi Selatan menjadi habitat bagi genus hewan endemik di pulau Sulawesi yaitu Tarsius. Gunung tersebut adalah gunung Latimojong. Spesies Tarsius yang terdapat dalam wilayah gunung Latimojong yaitu Tarsius pumilus. Habitat dari Tarsius pumilus hanya di puncak gunung dalam cakupan wilayah gunung Latimojong. Para wisatawan mengunjungi gunung Latimojong untuk melihat perilaku dari Tarsius pumilus yang termasuk spesies langka di dunia. Pengamatan wisatawan terhadap gunung Latimojong menjadi jenis wisata bertipe ekowisata di Sulawesi Selatan.[3]

Keyakinan lokal

Penduduk di sekitar gunung Bawakaraeng memiliki keyakinan lokal terhadap pendakian gunung. Pendakian terhadap gunung Bawakaraeng diyakini sama seperti pelaksanaan haji jika dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu dalam bulan-bulan tertentu yang diyakini oleh masyarakat setempat. Gunung Bawakaraeng umumnya didaki secara bersamaan dengan sekelompok orang untuk memenuhi keyakinan tersebut setiap tahunnya.[4]

Referensi

  1. ^ a b c Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (2014). Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Prov. Sulsel Tahun 2013 (PDF). Makassar: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. hlm. 4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ a b c Wayong, P., dkk. (1978). Geografi Budaya Daerah Sulawesi Selatan (PDF). Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. hlm. 15. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ Supriatna, Jatna (2024). Ekowisata Hidupan Liar Berkelanjutan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 329. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ Supriatna, Jatna (2021). Otobiografi Jatna Supriatna: Jejak Selusur Seorang Petualang, Pendidik, dan Wiraswasta Perikehidupan Alam. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 145. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement