Gunung di Banten
Gunung di Banten adalah gunung-gunung yang terbentuk di wilayah Banten. Pembentukan gunung di wilayah Banten terjadi selama periode Kuarter akibat endapan vulkanik dan pergerakan magma di selat Sunda. Pada bagian barat wilayah Banten terbentuk komplek gunung bernama Komplek Gunung Karang-Aseupan dan pada wilayah Kabupaten Pandeglang juga terdapat empat gunung dengan ketinggian yang rendah. Beberapa gunung berapi aktif di wilayah Banten yang pernah meletus telah meninggalkan bekas dapur magma yang lahannya kemudian dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian karena bersifat menyuburkan tanaman.
Pembentukan
Gunung merupakan salah satu bentang alam yang terbentuk di wilayah Banten. Berdasarkan pembentukannya, gunung dalam wilayah Banten termasuk jenis gunung kuarter yang terbentuk melalui endapan vulkanik selama periode Kuarter. Endapan vulkanik yang membentuk gunung di wilayah Banten merupakan aktivitas magma dari wilayah selat Sunda yang berdekatan dengan pulau Sumatera.[1]
Sebaran
Pada bagian barat wilayah Banten terbentuk komplek gunung bernama Komplek Gunung Karang-Aseupan. Dua gunung utama pada Komplek Gunung Karang-Aseupan yaitu gunung Karang dan gunung Aseupan.[1] Selain itu, pada bagian ujung barat pulau Jawa yang termasuk dalam wilayah Banten terdapat gunung Pulosari.[2] Gunung Pulosari terletak di bagian selatan wilayah Banten bersama dengan beberapa gunung lainnya yaitu gunung Karang dan gunung Kendeng.[3] Pada wilayah Kabupaten Pandeglang yang termasuk dalam wilayah Banten juga terdapat gunung-gunung dengan ketinggian yang termasuk rendah yaitu gunung Payung ( 480 m), gunung Honje (620 m), gunung Tilu (562 m) , dan gunung Raksa (320 m). Keempat gunung tersebut tersebar lokasinya di bagian utara maupun bagian selatan wilayah Kabupaten Pandeglang.[4]
Pemanfaatan
Beberapa gunung berapi aktif di wilayah Banten yang pernah meletus telah meninggalkan bekas dapur magma. Tanah yang terdapat di bekas dapur magma pada gunung dalam wilayah Banten memiliki kandungan mineral yang bersifat menyuburkan tanaman. Karena itu, penduduk di sekitar gunung berapi yang memiliki bekas dapur magma memanfaatkan lahannya untuk kegiatan pertanian. Beberapa gunung yang subur untuk pertanian di wilayah Banten yaitu gunung Karang dan gunung Endut.[5]
Referensi
- ^ a b Pusat Survei Sumberdaya Alam Darat (2007). Kajian dan Analisis. Pusat Survei Sumber Daya Alam Darat, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional & PT. Shiddiq Sarana Mulya. hlm. 19. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Mansur, Khatib (2001). Perjuangan Rakyat Banten Menuju Provinsi: Catatan Kesaksian Seorang Wartawan. Kadin Banten. hlm. 14. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Untoro, Heriyanti Ongkodharma (2006). Kebesaran dan Tragedi Kota Banten. Yayasan Kota Kita. hlm. 43. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Balai Penelitian dan Pengembangan Agama (2010). Pemetaan Kerukunan Umat Beragama di Banten. Balai Penelitian dan Pengembangan Agama. hlm. 129. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Madsupi, Ace Suhaedi (2005). Potret Banten. Paguyuban Rakyat Benteng. hlm. 25. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


