Korupsi di Turkmenistan
| 90–100 80–89 70–79 60–69 50–59 40–49 | 30–39 20–29 10–19 0–9 Tidak ada data |
Korupsi di Turkmenistan merupakan masalah yang sangat meluas. Dalam Indeks Persepsi Korupsi 2024 yang dirilis oleh Transparency International, yang menilai 180 negara pada skala dari 0 ("sangat korup") hingga 100 ("sangat bersih"), Turkmenistan memperoleh skor 17. Berdasarkan peringkat skor, Turkmenistan menempati posisi ke-165 dari 180 negara, di mana negara yang berada di peringkat pertama dipersepsikan memiliki sektor publik paling jujur.[1] Sebagai perbandingan regional, skor tertinggi di antara negara-negara Eropa Timur dan Asia Tengah adalah 53, skor rata-ratanya 35, dan skor terendah adalah milik Turkmenistan sendiri, yakni 17.[2] Sementara itu, dalam perbandingan global, skor tertinggi adalah 90 (peringkat 1), skor rata-rata 43, dan skor terendah 8 (peringkat 180).[3]
Latar belakang
Korupsi di Turkmenistan berakar dari praktik korupsi yang sudah berlangsung sejak era Uni Soviet. Seperti halnya negara-negara bekas republik Soviet lainnya, Turkmenistan menghadapi tantangan serius dalam memberantas korupsi. Menurut American Security Project, korupsi menjadi penghambat utama bagi negara-negara tersebut untuk berkembang ke arah sistem "liberal-demokratis." Korupsi tidak hanya menghalangi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi warga negaranya, tetapi juga menghambat masuknya investasi asing.[4]
Turkmenistan berada di kawasan Asia Tengah, wilayah dengan tingkat korupsi yang sangat tinggi bahkan dibandingkan dengan kawasan pasca-Soviet lainnya. Menurut Regional Anti-Corruption Initiative, Turkmenistan terletak di “pusat kawasan yang sarat dengan negara-negara korup”.[5] Berdasarkan analisis terhadap Indeks Persepsi Korupsi tahun 2014, Turkmenistan bersama Uzbekistan dijuluki sebagai “Yang Terburuk dari yang Terburuk” oleh Freedom House pada tahun 2015—kategori yang hanya ditempati oleh tujuh negara lain di seluruh dunia.[4]
Parahnya kondisi korupsi di Turkmenistan juga diakui secara internasional. Pada tahun 2000, Wakil Presiden Bank Dunia Johannes Linn menyatakan bahwa Turkmenistan adalah "satu-satunya bekas republik Soviet yang pemberian pinjamannya dihentikan akibat tuduhan korupsi." Lima perusahaan Barat bahkan dilarang berpartisipasi dalam proyek-proyek Bank Dunia di negara tersebut karena dugaan penipuan dan korupsi, termasuk praktik suap kepada pejabat Turkmenistan demi memenangkan kontrak proyek.[6]
Referensi
- ^ "The ABCs of the CPI: How the Corruption Perceptions Index is calculated". Transparency.org (dalam bahasa Inggris). 11 February 2025. Diakses tanggal 22 March 2025.
- ^ Myrzabekova, Altynai; Prokic, Lidija (11 February 2025). "CPI 2024 for Eastern Europe & Central Asia: Vicious cycle of weak democracy and flourishing corruption". Transparency.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 22 March 2025.
- ^ "Corruption Perceptions Index 2024: Turkmenistan". Transparency.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 22 March 2025.
- ^ a b Bugnacki, John (6 April 2015). "Critical Issues Facing Russia and the Former Soviet Union: Governance and Corruption". American Security Project. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 December 2019. Diakses tanggal 15 April 2017.
- ^ "The 10 Most Corrupt Countries in the World". Regional Anti-Corruption Initiative. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 August 2018. Diakses tanggal 18 April 2017.
- ^ "IMF, World Bank Face Tough Questions on Corruption". Global Policy Forum. 2 October 2000. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 April 2017. Diakses tanggal 18 April 2017.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


