Penaklukan Surien (1874)

Penaklukan Surien (Belanda: Verovering van Soerian) pada 26 Juli 1874 merupakan operasi militer yang berhasil dilakukan oleh Tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger/KNIL) terhadap benteng Aceh di Soerian, Aceh. Setelah wilayah tersebut direbut, pasukan zeni Belanda segera membangun sebuah benteng baru di lokasi itu sebagai bagian dari Garis Barat (Westerlinie) dari Garis Pel (Linie van Pel), yakni sistem pertahanan yang dibangun mengelilingi keraton di Kota Radja (kini Banda Aceh).

Latar Belakang

Di sebelah selatan jalan lama Sultan yang menghubungkan Olehleh dengan Kota Radja terletak kampung Aceh bernama Soerian, yang pada waktu itu menjadi salah satu pusat pertahanan dan aktivitas militer pihak Aceh. Selama musim monsun, ketika Sungai Aceh hampir tidak dapat dilayari, jalur transportasi logistik Belanda terpaksa dialihkan melalui darat di sepanjang jalan tersebut. Konvoi-konvoi ini secara terus-menerus mendapat gangguan dari pasukan Aceh.

Untuk mengatasi situasi tersebut, pihak Belanda merencanakan penaklukan sejumlah kampung strategis, yaitu Setoe, Poengej Blang Tjoet, Poe Oe, dan Soerian. Tujuannya adalah membangun pos-pos militer di lokasi tersebut guna memperoleh posisi yang lebih maju, memperluas wilayah yang dikuasai, serta memperkuat perlindungan atas daerah Marassa dan jalur komunikasi antara keraton dan pantai.

Pada 26 Juni 1874, Gubernur Jenderal Loudon menyetujui rencana pembangunan jalur kereta api Aceh (Atjeh Spoor) dengan lebar rel 1.067 mm yang menghubungkan keraton dengan pantai di Olehleh. Soerian sendiri merupakan rangkaian pertahanan yang saling terhubung. Namun, berdasarkan laporan intelijen, sebagian besar pos telah ditinggalkan oleh pihak Aceh. Patroli malam yang dikirim dari pos Belanda di Blang Oë mengonfirmasi kabar tersebut. Mayor Jenderal Pel kemudian memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan mengerahkan seluruh kekuatan pasukan yang tersedia.

Jalannya Penaklukan

Pada 26 Juli 1874 pukul 04.00 pagi, satu kolom pasukan di bawah pimpinan Mayor Infanteri E.B.A. Groos bergerak dari Kota Radja menuju pos Blang Oë. Pasukan tersebut terdiri atas:

  • Setengah kiri Batalyon Infanteri ke-3 di bawah Mayor E.B.A. Groos.
  • Dua seksi artileri di bawah Mayor Artileri T.J.A. van Zijll de Jong.
  • Satu detasemen zeni di bawah Letnan Satu Zeni H.A.E. van Dentzsch.

Setibanya di Blang Oë, kolom tersebut bergabung dengan setengah kanan Batalyon Infanteri ke-2, yang terdiri atas dua kompi prajurit Afrika di bawah pimpinan Mayor M.A.E. Phaff, Kapten A.W.H. Perelaer, Letnan Satu J. van Wijk, Letnan Dua Krijgsman, dan Letnan Dua T. van der Zee.

Di Blang Oë, kekuatan pasukan dibagi menjadi dua: kolom serangan dan kolom cadangan. Kolom cadangan (berkekuatan satu setengah kompi infanteri) di bawah Mayor Groos tetap bertahan di Blang Oë. Sementara itu, kolom serangan di bawah Mayor Phaff bertugas merebut Soerian.

Sekitar pukul 07.00, sinyal untuk maju dibunyikan dan kolom serangan bergerak menuju Soerian. Pergerakan pasukan sangat terhambat oleh banyaknya pagar hidup (paggers) yang tumbuh lebat dan rapat. Setelah melewati rintangan tersebut, pasukan mencapai Kampung Lang Djabat, sekitar 100 meter dari Soerian, tempat Mayor Phaff memerintahkan barisan depan berhenti.

Artileri kemudian ditempatkan dalam posisi untuk membombardir pertahanan musuh sekaligus melindungi gerak maju infanteri. Mayor Artileri T.J.A. van Zijll de Jong, yang secara sukarela bertindak sebagai komandan baterai, secara pribadi mengarahkan meriam-meriam dengan ketepatan dan ketenangan tinggi. Di sisi kanan artileri, satu peleton prajurit Afrika melepaskan tembakan salvo.

Mayor Phaff kemudian memerintahkan kolom serangan untuk bergerak mendekati Soerian. Kelompok pendahulu kecil di bawah Letnan Dua T. van der Zee mencoba memanjat benteng dari sisi belakang, tetapi serangan itu dipukul mundur. Dalam peristiwa tersebut, Van der Zee terluka parah dan nyaris tidak dapat diselamatkan.

Kapten A.W.H. Perelaer yang datang membantu membuka tembakan tirailleur (tembakan menyebar) dan tembakan barisan. Tembakan ini dibalas dari benteng dengan meriam dan senapan. Diputuskan untuk menunggu pasukan utama sebelum melakukan serbuan langsung.

Setelah pasukan utama tiba, strategi diubah: pusat pertahanan musuh akan direbut terlebih dahulu guna menetralisir dua benteng lainnya. Artileri diperintahkan memusatkan seluruh tembakan ke benteng tengah, sementara seluruh kompleks benteng dikepung.

Sebanyak 21 prajurit zeni (mineur) di bawah Letnan Satu Van Dentzsch berhasil membuka celah melalui rintangan (chicane). Musuh dua kali dipanggil untuk menyerah, tetapi menjawab dengan teriakan “tida!” (tidak!). Mayor Phaff kemudian memerintahkan serangan badai kedua dan peniup terompet membunyikan sinyal menyerbu.

Kapten Perelaer bersama sejumlah prajurit Afrika memanjat sisi selatan benteng. Letnan Dua Krijgsman menyerbu dari sisi timur, sementara Letnan Satu Van Wijk dengan satu peleton Afrika menyerang dari sisi utara. Saat memasuki benteng, Krijgsman diserang dua pejuang Aceh, tetapi seorang prajurit Afrika maju, memukul salah satu penyerang dengan popor senapan dan menusuk yang lainnya dengan bayonet.

Teriakan prajurit Afrika mengatasi bunyi terompet dan pekik perang pejuang Aceh. Ajudan Bintara B. van Weenen tertembak hingga benderanya terlepas dari tangan, dan ia sendiri roboh dengan peluru di dada. Pertempuran jarak dekat yang terjadi selanjutnya berlangsung singkat dan brutal; mereka yang selamat dari tembakan senapan dilumpuhkan dengan bayonet.

Kapten Perelaer, yang sebelumnya berusaha membuka gerbang dengan kapak dan secara ajaib lolos dari peluru, bersama Sersan Vorsterman van Ooijen dan beberapa prajurit Afrika, hampir bersamaan dengan Krijgsman berhasil memasuki benteng. Tidak lama kemudian, bendera tiga warna Belanda berkibar di Soerian.

Pasca Penaklukan

Dari seluruh garnisun Aceh, hanya satu orang yang berhasil melarikan diri. Medan pertempuran dipenuhi mayat dan menghadirkan pemandangan yang mengerikan. Di antara korban pihak Aceh terdapat sejumlah tokoh terkemuka.

Di pihak Belanda, kerugian juga cukup besar. Kapten Perelaer, Letnan Satu J. van Wijk, dan Letnan Dua H. Krijgsman mengalami luka-luka. Sebanyak 54 serdadu tewas atau terluka. Letnan T. van der Zee, yang terluka parah pada serangan pertama, dirawat berbulan-bulan di rumah sakit di Aceh sebelum akhirnya dinyatakan tidak layak dinas di Belanda; ia kemudian hari menjadi wali kota Enschede.

Dalam penaklukan Soerian ini, prajurit Afrika Barat menunjukkan peran yang menonjol. Pihak Aceh menjuluki mereka “Orang Blanda Itam” (Belanda Hitam). Selain dianugerahi Orde Militer Willem kepada fusilier Afrika T. Tak, Medali Perunggu untuk Keberanian dan Kesetiaan diberikan kepada Sersan Afrika J. Noudjedij serta prajurit Afrika J. Hat, W. Muil, dan W. Bamberg. W. Zwol dan T. Zaal memperoleh penyebutan terhormat.

Melalui Keputusan Kerajaan tertanggal 4 April 1875 nomor 22, sejumlah perwira dan prajurit diangkat sebagai Kesatria Orde Militer Willem kelas IV atas keberanian yang ditunjukkan dalam pertempuran tersebut, yaitu:

  • Mayor Infanteri M.A.E. Phaff
  • Mayor Artileri F.J.A. van Zijll de Jong
  • Kapten Infanteri A.W.H. Perelaer
  • Letnan Satu Infanteri G.J.V. Vinkhuizen (perlu diverifikasi keterlibatannya)
  • Letnan Satu Infanteri J. van Wijk
  • Letnan Satu Zeni H.A.E. van Dentzsch
  • Letnan Dua Infanteri T. van der Zee
  • Letnan Dua A. van den Brandeler (perlu diverifikasi keterlibatannya)
  • Ajudan Bintara B. van Weenen (No. 63584)
  • Sersan F.A. van Bijlevelt (perlu diverifikasi keterlibatannya)
  • Sersan C.F. Vosterman van Ooijen (No. 62458)
  • Fusilier C. Hoffmans (perlu diverifikasi)
  • Kanonir Kelas I J.L.A. Loose (No. 65110)
  • Fusilier Afrika T. Tak

Rujukan

  • Schetsen uit den Atjeh Oorlog, J.P. Schoemaker hal. 15-24.
  • Booms I hal. 354-365.
  • Borel hal. 176-177.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement