Serangan Aceh ke Pulau Breueh (1887)

Serangan Aceh ke Pulau Breueh merupakan salah satu operasi militer yang dilakukan oleh pejuang Aceh di bawah pimpinan Teungku Chik di Tiro pada 9 hingga 20 November 1887 yang menargetkan instalasi batu bara Angkatan Laut Belanda di Teluk Lambaleh, Pulau Breueh, sebagai bagian dari perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda dalam Perang Aceh.

Latar Belakang

Pada malam 9–10 November 1887, sebuah kelompok pejuang Aceh di bawah pimpinan Teukoe di Tiro—yang menurut laporan berkekuatan sekitar 150 hingga 200 orang—menyeberang melalui laut dari Lampagger di wilayah VI Moekims (Aceh Besar) menuju Pulau Bras (Poeloe Bras). Gerakan ini diduga bertujuan untuk menyerang instalasi batu bara milik Angkatan Laut yang terletak di Teluk Lambaleh, serta menyerang patroli militer yang beroperasi di antara mercusuar pulau tersebut dan instalasi batu bara. Serangan tersebut kemungkinan berkaitan dengan kegiatan pengukuran tanah yang sebelumnya dilakukan di pulau itu, yang diduga berkaitan dengan rencana pembangunan sebuah benteng Belanda di Lambaleh.

Penyerangan

12 November 1887

Sebagai tanggapan atas pergerakan tersebut, pada pagi hari 12 November 1887 Batalion Infanteri ke-14 berangkat dari Koeta Radja dengan kekuatan sekitar 300 orang di bawah komando Mayor J.W. Stemfoort menggunakan kapal pos Hindia Belanda Gouverneur-Generaal s’Jacob, dengan tujuan Zandbaai di Pulau Bras.

Sementara itu, kapal perang Zr.Ms. Merapi dan Zr.Ms. Bali dari Angkatan Laut Militer Hindia Belanda berlayar menuju pantai selatan pulau dengan tujuan mengancam jalur komunikasi pihak Aceh dan memberikan dukungan tembakan artileri apabila diperlukan selama proses pendaratan pasukan. Pasukan yang diberangkatkan membawa perbekalan untuk sepuluh hari operasi.

13 November 1887

Setelah pasukan mendarat di Zandbaai (Lhok Kruet) di Pulau Bras, yang terletak di bagian barat pulau, pada pagi hari 13 November 1887 Batalion Infanteri ke-14 bergerak menuju instalasi militer di Teluk Lambaleh melalui dua jalur berbeda.

Pada hari yang sama, bala bantuan tambahan kembali dikirim dari daratan Aceh menuju Pulau Bras. Bala bantuan tersebut terdiri atas 50 orang dengan perbekalan dan amunisi yang dikirim dari benteng pantai Kroeng Raba, serta satu kompi dari Batalion Infanteri ke-3 yang berjumlah sekitar 150 orang yang diberangkatkan dengan kapal pemerintah GM Albatros menuju Teluk Lambaleh. Di atas kapal tersebut turut serta komandan ekspedisi, yakni Letnan Kolonel J.A. Vetter.

Pada pukul 19.00 malam, GM Albatros berlabuh di Teluk Lambaleh. Kolonel Vetter kemudian turun ke darat, diikuti oleh ajudannya Letnan Köhler, yang merupakan putra dari almarhum Jenderal Köhler.

14 November 1887

Pada 14 November 1887, kolom pasukan yang dipimpin oleh Mayor Stemfoort, yang sebelumnya bergerak dari Zandbaai untuk melakukan patroli, tiba di instalasi Lambaleh tanpa mengalami perlawanan sepanjang perjalanan.

Setelah melakukan perundingan antara Kolonel Vetter dan para perwira seniornya, diputuskan bahwa pasukan yang berada di GM Albatros akan diturunkan ke darat, suatu proses yang berlangsung dengan cepat dan teratur.

Selanjutnya GM Albatros menerima perintah untuk membawa Kolonel Vetter seorang diri menuju Oleh-leh serta menyampaikan surat dan instruksi kepada kapal Zr.Ms. Bali, yang saat itu berada di Lampoejang.

Menjelang tengah hari, GM Albatros mulai berlayar. Namun karena kapal GM Zeemeeuw baru saja tiba, surat tersebut akhirnya diserahkan kepada kapal itu, sementara GM Albatros melanjutkan perjalanannya.

Ketika melewati saluran tengah (Haroes Lampoejang), kapal GM Zeemeeuw langsung disambut tembakan lillak, yaitu meriam kecil Aceh, dan bahkan terkena sebuah proyektil.

Pada malam hari Kolonel Vetter mendarat di Oleh-leh, sementara GM Albatros menerima perintah dari Gubernur H.K.F. van Teijn melalui telegram yang berbunyi: “Tetap siap berlabuh; besok angkut 120 hingga 180 orang.”

Menurut laporan yang kemudian diterima, pasukan Aceh dengan kekuatan sekitar 300 orang berada di pantai selatan pulau, terutama di Lampoejang dan Oleh Paja, tempat mereka telah membangun posisi pertahanan. Setelah diketahui bahwa pihak Aceh telah memperkuat posisi mereka, kolom pasukan Belanda kemudian diperkuat dengan dua kompi dari Batalion Infanteri ke-8 serta empat mortir Coehoorn untuk mengusir pasukan Aceh dari pertahanan tersebut.

15 November 1887

Pada 15 November 1887, para artileris dan dua kompi dari Batalion Infanteri ke-8, bersama Kolonel Vetter, naik ke GM Albatros untuk berlayar kembali menuju Pulau Bras. Dalam perjalanan kapal tersebut memberikan sinyal kepada beberapa kapal lain.

Setibanya di tujuan, Kolonel Vetter berpindah ke kapal Zr.Ms. Merapi, sementara GM Albatros diperintahkan mengikuti sebuah barkas uap yang melakukan patroli di kampung-kampung pesisir. Karena kampung-kampung tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda permusuhan, patroli tersebut segera kembali ke instalasi militer.

Sebelum keberangkatan pasukan dari Teluk Lambaleh, pada pagi hari 15 November 1887 instalasi tersebut diserang oleh sekelompok kecil pejuang Aceh yang melepaskan sekitar sepuluh tembakan, sehingga seorang prajurit mengalami luka ringan.

Instalasi tersebut sebenarnya cukup rentan, karena terletak di antara bukit-bukit tinggi yang ditutupi vegetasi lebat. Kemungkinan besar kelompok tersebut merupakan pasukan pengintai Aceh.

Sebagai langkah pengamanan, diputuskan untuk memperkuat garnisun di Lambaleh dengan 70 orang tambahan.

Pada pukul 14.00 siang, diperoleh laporan bahwa seluruh flotila akan berangkat pada tengah malam menuju kampung Lampoejang dengan tujuan menyerang posisi Aceh di sana.

Pada malam hari, sebuah kolom pasukan berjumlah sekitar 540 perwira dan prajurit, bersama beberapa pasukan zeni serta empat mortir Coehoorn, naik ke kapal-kapal berikut: Zr.Ms. Merapi, Zr.Ms. Banda, Zr.Ms. Bali, serta kapal pemerintah GM Albatros. Sementara itu kapal GM Zeemeeuw masih berpatroli di sekitar Haroes Lampoejang.

16 November 1887

Pada pagi 16 November 1887, flotila tersebut tiba di Teluk Lampoejang, tempat pasukan Aceh telah mendirikan benteng pertahanan.

Kapal Zr.Ms. Merapi segera mulai menembakkan granat ke arah benteng tersebut, sementara sekoci dari berbagai kapal diturunkan untuk melakukan pendaratan pasukan dan pelaut.

Pada granat ketiga yang ditembakkan oleh Zr.Ms. Merapi, benteng Aceh yang terletak di puncak sebuah bukit berhasil terkena tembakan sehingga bendera Aceh yang berkibar di benteng tersebut runtuh. Keberhasilan tembakan tersebut disambut sorak-sorai “Hoezee!” oleh pasukan Belanda.

Tembakan tersebut dianggap sangat mengesankan mengingat kapal-kapal saat itu terombang-ambing oleh gelombang, yang menyebabkan perubahan posisi sasaran hingga sekitar empat sampai lima meter secara vertikal.

Sekoci dari GM Albatros, di bawah komando Letnan Dua Angkatan Laut Pemerintah J.H. Stouthandel, bergerak menuju pantai. Tidak lama kemudian terbentuk sebuah flotila perahu yang cukup besar di dekat pantai di bawah pimpinan Perwira Pertama kapal penjaga B.A. Volck.

Namun ombak yang sangat besar menyebabkan proses pendaratan berlangsung sangat sulit. Selain itu, pasukan pendarat terus-menerus ditembaki oleh pejuang Aceh dari darat. Kapal-kapal dan sekoci bersenjata juga membalas dengan tembakan granat ke arah posisi Aceh.

Akibat ombak yang kuat, sebuah barkas dari Zr.Ms. Merapi dan sebuah sekoci uap dari Zr.Ms. Bali hancur ketika menghantam pantai.

Dalam proses pendaratan tersebut beberapa prajurit mengalami luka berat, sehingga mereka harus diangkut kembali ke kapal menggunakan sekoci.

Menjelang pukul 18.00, hanya sekitar setengah dari pasukan yang berhasil mendarat di darat dan mereka kemudian mendirikan perkemahan tersembunyi untuk bermalam.

Sekitar pukul 22.30 malam, perkemahan tersebut ditembaki oleh pasukan Aceh, dan pasukan Belanda segera membalas dengan tembakan cepat, yang mengakibatkan seorang sersan tewas.

17 November 1887

Pada pagi 17 November 1887, sekitar setengah dari kolom pasukan telah berhasil mendarat sepenuhnya. Pasukan Aceh yang berada di perbukitan sekitar lokasi pendaratan kemudian berhasil dipukul mundur oleh pasukan Belanda.

Setelah melepaskan beberapa tembakan dari jarak jauh yang tidak menimbulkan kerusakan berarti, para pejuang Aceh kemudian mundur ke wilayah pegunungan yang sulit dijangkau dan ditutupi vegetasi lebat.

18 November 1887

Pada 18 November 1887, pasukan Belanda bergerak menuju Oleh Paja, sebuah kampung pesisir lain yang terletak di sebelah barat Lampoejang.

Kapal-kapal perang turut bergerak mengikuti pasukan darat untuk memberikan dukungan tembakan artileri guna membuka jalan bagi pergerakan pasukan di darat.

Setibanya di Oleh Paja, setengah kolom pasukan yang lain diturunkan ke darat. Namun karena jumlah pasukan Aceh dianggap tidak cukup besar untuk mempertahankan pertempuran secara terus-menerus, dan karena pasukan Belanda sendiri telah mengalami kelelahan akibat hujan deras selama operasi, diputuskan bahwa pasukan akan ditarik kembali keesokan harinya, sementara garnisun di instalasi Lambaleh akan diperkuat dua kali lipat.

19 November 1887

Dengan mempertimbangkan hujan yang terus berlangsung serta situasi yang berkembang di lapangan, pada 19 November 1887 pasukan Belanda akhirnya kembali ke wilayah Aceh Besar.

Namun demikian, pasukan Aceh belum sepenuhnya terusir. Ketika pasukan Belanda mulai meninggalkan pantai, sekoci mereka kembali ditembaki oleh pejuang Aceh.

Dukungan tembakan dari kapal tidak dapat diberikan karena dikhawatirkan akan mengenai pasukan sendiri yang masih berada di dekat pantai.

Oleh karena itu diputuskan untuk menyiapkan sebuah divisi pendarat yang terdiri atas satu atau beberapa sekoci bersenjata, masing-masing dilengkapi dengan meriam 7 cm di haluan, dua belas pelaut bersenjata senapan, serta seorang juru kemudi bersenjatakan pedang.

Divisi pendarat tersebut kemudian melakukan pengintaian ke arah timur pada pagi hari. Setelah operasi tersebut selesai, seluruh pasukan naik kembali ke kapal, dan pada malam hari yang sama mereka telah kembali di Oleh-leh.

Kapal Zr.Ms. Banda diperintahkan untuk berpatroli di bagian selatan pulau. Situasi yang terjadi pada saat itu menyerupai permainan kucing dan tikus, karena ketika menjalankan tugas tersebut Zr.Ms. Banda kembali ditembaki oleh pasukan Aceh di saluran tengah, dan seorang tamboer (penabuh drum militer) di kapal tersebut tewas terkena tembakan.

20 November 1887

Pada 20 November 1887, komandan GM Albatros menerima ucapan terima kasih resmi dari Gubernur van Teijn, serta dari komandan stasiun militer Kolonel De Kanter, yang juga merupakan komandan kapal Zr.Ms. Merapi.

Dalam laporan tersebut secara khusus disebutkan bahwa Perwira Pertama Angkatan Laut Pemerintah di kapal GM Albatros menyatakan kepuasan yang besar terhadap kinerja Perwira Kedua J.H. Stouthandel selama operasi berlangsung.

Akibat dan Dampak

Dalam pendaratan di Pulau Bras serta dalam beberapa insiden penembakan kecil yang terjadi kemudian, tercatat sembilan prajurit Belanda mengalami luka-luka, di antaranya lima luka ringan, sementara dua orang meninggal dunia.

Menurut laporan yang diterima oleh pihak Belanda, kerugian di pihak Aceh diperkirakan empat orang tewas dan sekitar tujuh orang luka-luka.

Sekitar 26 November 1887, kemungkinan akibat hujan lebat yang terus-menerus, sebagian besar pasukan Aceh meninggalkan Pulau Bras pada malam hari melalui laut dan kembali ke wilayah IV dan VI Moekims.

Tidak lama kemudian muncul laporan bahwa Teungku di Tiro terlihat berada di Lamgoet di wilayah XXII Moekims, di mana ia disebut-sebut sedang mengumpulkan sejumlah besar pengikut.

Serangan Aceh tersebut juga memperlihatkan dengan jelas kerentanan instalasi batu bara Angkatan Laut, yang memiliki arti strategis penting bagi jalur pelayaran. Oleh sebab itu diputuskan untuk memindahkan instalasi batu bara tersebut ke Oleh-leh.

Pada 1 Maret 1888, instalasi batu bara Angkatan Laut di Pulau Bras secara resmi ditutup. Meskipun demikian, kehadiran militer di Pulau Bras tetap dianggap diperlukan untuk mengamankan patroli antara dermaga di Teluk Lambaleh dan mercusuar pulau tersebut.

Rujukan

  • Onze Vestiging in Atjeh, G.F.W. Borel, blz. 307.
  • Kroniek der Zeemacht, M.A. van Alphen, 2003.
  • De Zeemacht in Nederlandsch-Indië 1874-1888, W.J. Cohen Stuart, Blz. 81 & 82.
  • Het nieuws van den dag, 13-12-1887, 09-01-1888, 16-01-1888 en 17-01-1888.
  • Java-Bode, nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indië, 03-01-1888.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement