Ekspedisi Asahan (1865)

Ekspedisi Asahan (1865)
Bagian dari Ekspansi kolonial Belanda di pesisir timur Sumatra
Tanggal30 Agustus – 21 Oktober 1865
LokasiAsahan, Kesultanan Aceh
Hasil Kemenangan Belanda; ibu kota Asahan, Tanjung Balai diduduki dan penguasa baru dipasang
Perubahan
wilayah
Pengaruh Belanda dikonsilidasikan di Asahan dan pesisir timur Sumatra
Berakhirnya pengaruh Aceh di Asahan
Pihak terlibat
 Netherlands Hindia Belanda
Tokoh dan pemimpin
 Netherlands Willem Eduard Frederik van Heemskerck
Pasukan
Setengah Batalyon Infanteri ke-12
Setengah baterai artileri lapangan
Pasukan kerajaan Asahan
Kekuatan
±1.500 prajurit
6 kapal uap perang
beberapa kapal penjelajah kecil
±80 meriam
Tidak diketahui
Korban
Tidak diketahui Tidak diketahui

Ekspedisi Asahan (1865) adalah operasi militer yang dilancarkan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap wilayah Kesultanan Asahan di pesisir timur Sumatra pada tahun 1865. Pada masa tersebut, Asahan secara historis berada dalam lingkup pengaruh Kesultanan Aceh, sehingga ekspedisi ini juga merupakan bagian dari upaya Belanda untuk memperluas pengaruhnya di wilayah yang sebelumnya berada dalam jaringan politik Aceh di sekitar Selat Malaka.

Latar belakang

Sejak abad ke-17, sejumlah kerajaan di pesisir timur Sumatra memiliki hubungan politik dengan Kesultanan Aceh, baik sebagai daerah taklukan maupun sebagai kerajaan yang berada dalam lingkup pengaruhnya. Di antara kerajaan tersebut adalah Kesultanan Asahan, yang menurut tradisi lokal didirikan oleh bangsawan keturunan Aceh.

Memasuki pertengahan abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda berupaya memperluas pengaruhnya di sepanjang pesisir timur Sumatra, terutama di wilayah yang membentang dari Jambi hingga Aceh. Namun banyak penguasa lokal di kawasan tersebut menolak untuk mengakui kedaulatan Belanda.

Penguasa Asahan termasuk di antara para pemimpin yang menolak pengakuan terhadap kekuasaan kolonial. Pemerintah kolonial melalui pejabatnya di Riau kemudian mengirimkan sebuah manifesto yang menuntut agar raja Asahan memberikan penjelasan atas sikapnya tersebut. Karena tuntutan itu tidak dijawab, pemerintah kolonial memutuskan untuk mengirimkan ekspedisi militer.

Jalannya ekspedisi

Pada 30 Agustus 1865, sebuah ekspedisi militer Belanda berangkat dari Batavia menuju pesisir timur Sumatra. Pasukan darat dipimpin oleh Willem Eduard Frederik van Heemskerck, seorang mayor dalam tentara Hindia Belanda.

Kekuatan ekspedisi terdiri atas setengah Batalyon Infanteri ke-12 dan setengah baterai artileri lapangan. Armada laut yang menyertai operasi tersebut terdiri dari beberapa kapal uap, antara lain Djambi, Amsterdam, Sindoro, Montrado, Haarlemmermeer, dan Delfzijl, serta sejumlah kapal penjelajah kecil. Secara keseluruhan sekitar 1.500 prajurit dan sekitar 80 pucuk meriam dikerahkan dalam ekspedisi ini.

Pasukan pendarat dibawa menggunakan sekoci dan perahu menuju kampung Rawa, yang dijadikan titik awal operasi darat menuju pusat kekuasaan Asahan. Dari sana pasukan bergerak menuju ibu kota kerajaan dengan dukungan tembakan dari kapal-kapal perang Belanda.

Sebelum pertempuran besar terjadi, penguasa Asahan dilaporkan telah meninggalkan ibu kota dan bergerak ke wilayah pedalaman. Sumber-sumber kolonial menyebutkan bahwa sebagian penduduk tidak lagi memberikan dukungan kepadanya, sehingga pasukan Belanda dapat mengambil alih pusat kekuasaan kerajaan tanpa perlawanan besar.

Dampak

Setelah penguasa lama meninggalkan wilayah tersebut, pemerintah kolonial Belanda menempatkan seorang penguasa baru yang dianggap lebih bersedia bekerja sama dengan pihak kolonial. Selain itu dilakukan pula penataan ulang batas wilayah kekuasaan kerajaan.

Ekspedisi ini merupakan bagian dari upaya Belanda untuk memperluas pengaruhnya di pesisir timur Sumatra, yang sebelumnya berada dalam jaringan politik dan perdagangan yang berkaitan dengan Kesultanan Aceh. Beberapa pemimpin lokal yang dianggap menentang kekuasaan Belanda kemudian ditangkap dan dibawa ke Pulau Jawa.

Setelah mengunjungi sejumlah wilayah penting di pesisir timur Sumatra dan menyelesaikan operasi militernya, ekspedisi tersebut kembali pada 21 Oktober 1865.

Lihat pula

Referensi

  • Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger voor het Nederlandsche volk beschreven. PDF

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement