Penaklukan Lambhuk–Beurawe (1874)

Penaklukan Lambhuk–Beurawe (Belanda: Verovering van Lemboe en Berauw) pada 7 November 1874 merupakan operasi militer yang berhasil dilaksanakan oleh Tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger / KNIL) terhadap kampung-kampung yang telah diperkokoh pertahanannya, yakni Lemboe dan Berauw, di wilayah Aceh. Setelah wilayah tersebut direbut, korps zeni Belanda segera memulai pembangunan tiga benteng permanen yang kemudian menjadi bagian dari Oosterlinie (Garis Timur) dalam sistem pertahanan yang dikenal sebagai Linie van Pel. Garis ini merupakan rangkaian pertahanan yang dibangun mengelilingi keraton (kraton) di Kota Radja sebagai pusat kendali militer dan administratif Belanda di Aceh.

Penaklukan

Pada pagi hari 7 November 1874, dua setengah batalion infanteri serta satu baterai artileri lapangan bergerak maju menuju Lemboe di bawah komando Kolonel A.J. Diepenbroek, dengan komando tertinggi berada di tangan Kolonel J.L.J.H. Pel. Serangan dilancarkan dari arah Penajoeng dan Langkroek, melintasi hamparan sawah yang terbentang di depan posisi pertahanan Aceh.

Sebagai bagian dari strategi operasi, artileri yang ditempatkan di Kota Radja menembakkan tembakan berat ke kampung yang terletak di sebelah timur Lemboe. Tindakan ini dimaksudkan untuk mencegah masuknya bala bantuan atau kelompok-kelompok pejuang Aceh ke medan pertempuran. Sementara itu, pasukan di bawah Pel bergerak maju dalam beberapa kolom tempur dan menyerbu tepi kampung yang telah diperkokoh dengan sistem pertahanan yang kuat.

Kolonel Pel dan stafnya. 1874.

Meskipun pertahanan fisik kampung tersebut tergolong sangat kokoh, perlawanan pasukan Aceh ternyata relatif terbatas dan tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya. Hasil pertempuran menunjukkan bahwa bagian barat Lemboe, yang juga dikenal sebagai kampung Berauw—tempat pertahanan utama berada di sepanjang Pedirdijk—berhasil direbut dan jatuh ke tangan Belanda. Di pihak Aceh, kerugian dinyatakan cukup besar. Sementara itu, di pihak Belanda tercatat Kolonel Diepenbroek serta 20 orang prajurit dan kuli mengalami luka-luka.

Pasca-Penaklukan

Pada tahap awal, terdapat rencana untuk menaklukkan seluruh wilayah Lemboe dan mendirikan sebuah pos militer di sudut timur laut kawasan tersebut. Pos itu dirancang agar dapat mengendalikan kampung Lampriet dan terutama Pinang, yang dianggap strategis dalam sistem pertahanan kawasan timur Kota Radja. Namun demikian, Kolonel Pel memutuskan untuk menghentikan operasi lanjutan dan menunda ekspansi lebih jauh hingga posisi Belanda di wilayah yang telah direbut benar-benar terkonsolidasi.

Segera setelah penaklukan, pembangunan tiga pos pertahanan yang diperkokoh dimulai di Lemboe. Pos pertama didirikan di awal tanggul dekat sungai. Pos kedua dibangun di sudut barat laut garis pertahanan yang telah diperkokoh. Pos ketiga didirikan tidak jauh ke arah timur dari pos kedua, tepat di tepi utara kampung.

Dengan dikuasainya Lemboe, seluruh jalur Pedirdijk kini berada di bawah kendali Belanda, sehingga rute sepanjang Sungai Aceh dapat diamankan. Meski demikian, pos-pos baru tersebut, terutama pada tahap awal pendiriannya, menghadapi tekanan berat. Pos yang terletak di ujung selatan Pedirdijk sangat terpapar tembakan dari seberang sungai.

Untuk memperkuat pertahanan, dibangun parapet tinggi di sisi sungai dan ditempatkan sebuah meriam ulir kaliber 8 cm dalam posisi siaga. Benteng ini kemudian dinamai Lemboe Zuid (Lemboe Selatan) atau Rivier-Benteng (Benteng Sungai). Benteng tersebut dirancang dalam ukuran luas dan diperuntukkan sebagai markas permanen bagi kekuatan pasukan yang cukup besar. Korps zeni juga membangun barak besar serta gudang-gudang dari bambu untuk mendukung logistik militer.

Sementara itu, pos Lemboe Noord-Oost (Lemboe Timur Laut), beberapa hari setelah pendiriannya, mengalami kesulitan akibat hujan deras yang menyebabkan kawasan tersebut tergenang air sepenuhnya. Medan yang sangat rendah membuat lokasi ini kurang ideal untuk pembangunan pertahanan. Meskipun demikian, dari posisi tersebut wilayah di depan hingga kawasan III Moekims tetap dapat diawasi secara efektif.

Pada 10 Maret 1875, sebuah kolom pasukan di bawah pimpinan Mayor de Bruin dikerahkan untuk memindahkan pos Lemboe Noord-Oost ke lokasi yang lebih strategis di arah timur. Perlawanan dari pihak Aceh dalam operasi ini relatif kecil dan tidak signifikan. Pada malam hari, kolom tersebut kembali ke Kota Radja. Dalam operasi tersebut, hanya satu orang perwira yang mengalami luka tembak serius.

Karena wilayah antara Nieuw Lemboe Noord-Oost dan Kota Alam dinilai sangat tidak aman—terutama karena musuh dapat memasuki garis pertahanan tanpa terdeteksi melalui semak belukar yang lebat—diputuskan untuk mendirikan sebuah pos antara yang dinamai Lemboe Oost (Lemboe Timur).

Pada 12 Maret 1875, titik yang telah ditentukan tersebut diduduki oleh sebuah kolom pasukan di bawah komando Mayor J.H. Romswinckel. Pasukan Aceh berusaha menghalangi pembangunan pos ini dengan melakukan tembakan ke arah pasukan Belanda. Namun upaya tersebut tidak berhasil menghentikan penyelesaian pembangunan pos pertahanan tersebut.

Rujukan

  • 1878. G.F.W. Borel. Onze vestiging in Atjeh Critisch Beschreven. Den Haag. Thieme. bladzijde 209-211, 262 (Lemboe Oost)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement