Ekspedisi Samalanga III

Perang Samalanga III atau Ekspedisi Ketiga ke Samalanga 1901 (bahasa Belanda: Derde expeditie naar Samalangan) adalah operasi militer yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap wilayah Samalanga dan Batoe Iliq di pantai timur laut Aceh antara 29 Januari hingga 15 Februari 1901, dalam rangkaian Perang Aceh (1873–1914). Ekspedisi ini dilancarkan untuk menghancurkan salah satu pusat perlawanan terkuat di wilayah tersebut serta memaksa masyarakat Samalanga dan Peusangan tunduk kepada pemerintahan kolonial Belanda.

Operasi militer ini diprakarsai oleh J.B. van Heutsz, yang pada saat itu menjabat sebagai panglima militer Belanda di Aceh. Sasaran utama ekspedisi adalah benteng Batoe Iliq, sebuah posisi pertahanan penting yang selama bertahun-tahun menjadi pusat perlawanan Aceh di wilayah Samalanga.

Latar belakang

Sejak akhir abad ke-19, wilayah Samalanga dan Peusangan tetap menjadi salah satu daerah yang paling aktif menentang kekuasaan kolonial Belanda di Aceh. Meskipun Belanda telah melancarkan dua ekspedisi militer sebelumnya pada 1877 dan 1880, perlawanan di wilayah tersebut tidak sepenuhnya dapat dipadamkan.

Benteng Batoe Iliq khususnya dikenal sebagai salah satu pusat pertahanan terkuat bagi pejuang Aceh. Wilayah ini dipertahankan oleh jaringan perlawanan lokal yang dipimpin oleh sejumlah tokoh Aceh, termasuk Panglima Polèm II, Teuku Bin Peukan, serta kelompok yang mendukung seorang pretenden Sultan Aceh. Penduduk setempat juga terus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konfrontasi militer dengan Belanda.

Situasi ini membuat pemerintah kolonial memutuskan untuk melancarkan ekspedisi hukuman terhadap Samalanga. Tujuannya adalah menghancurkan basis perlawanan yang masih bertahan serta menegakkan kembali kontrol kolonial di wilayah tersebut.

Jalannya ekspedisi

J.B. van Heusz dalam Pertempuran Bateë-iliëk 1901.

Ekspedisi militer Belanda dimulai pada 29 Januari 1901. Setelah terlebih dahulu berhasil mengalahkan beberapa kelompok perlawanan di wilayah sekitar, pasukan Belanda kemudian memusatkan serangan mereka terhadap benteng Batoe Iliq, yang menjadi pusat pertahanan utama bagi pejuang Aceh di daerah tersebut.

Pada 1 dan 2 Februari 1901, posisi pertahanan Aceh di Batoe Iliq dan Asan Koembang diserang melalui pemboman artileri oleh kapal-kapal Angkatan Laut Belanda serta oleh meriam yang ditempatkan di bivak Belanda di Nangroë. Serangan artileri ini dimaksudkan untuk melemahkan pertahanan Aceh sebelum pasukan darat melancarkan penyerbuan.

Setelah pemboman tersebut, pasukan Belanda bergerak maju dan berhasil merebut empat benteng pertahanan milik pejuang Aceh. Namun posisi utama masih dipertahankan dengan gigih oleh para pejuang Aceh.

Pertempuran Batoe Iliq

Serangan terakhir terhadap benteng utama di Batoe Iliq dilakukan oleh gabungan pasukan infanteri Hindia Belanda, Korps Marechaussee te voet (pasukan polisi militer yang bergerak dengan berjalan kaki), serta divisi pendarat dari Angkatan Laut Belanda.

Pertempuran yang terjadi di dalam benteng berlangsung sangat sengit dan berlangsung dalam jarak dekat, bahkan hingga pertempuran satu lawan satu. Dalam upaya mempertahankan benteng, para pejuang Aceh meledakkan sebuah tong berisi mesiu di dalam posisi pertahanan mereka. Ledakan ini menyebabkan Letnan Verschuir serta sembilan prajurit lainnya mengalami luka bakar serius.

Meskipun demikian, pasukan Belanda akhirnya berhasil merebut benteng Batoe Iliq setelah pertempuran yang keras. Dalam operasi tersebut pasukan Belanda mengalami kerugian 5 orang tewas dan 29 orang terluka. Setelah benteng direbut, beberapa meriam milik pejuang Aceh juga jatuh ke tangan pasukan Belanda.

Dampak

Dengan jatuhnya benteng Batoe Iliq, salah satu pusat perlawanan terpenting di wilayah Samalanga akhirnya berhasil dihancurkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Kejatuhan benteng ini dianggap sebagai langkah penting dalam memperkuat kontrol kolonial Belanda di wilayah pesisir timur laut Aceh.

Tak lama setelah operasi militer tersebut, pemerintah kolonial dapat melanjutkan pembangunan jalur Atjeh-tram yang melewati wilayah Samalanga. Jalur kereta api militer ini merupakan bagian dari strategi Belanda untuk memperkuat mobilitas pasukan serta mempercepat pengiriman logistik selama berlangsungnya Perang Aceh.

Lihat pula

Referensi

  • Kielstra, E. B. De Atjeh-oorlog.
  • Zentgraaff, H. C. Atjeh.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement