Coto makassar

Coto makassar atau Pallu coto mangkasarak adalah hidangan tradisional Suku Makassar, Sulawesi Selatan. Makanan ini terbuat dari jeroan sapi yang direbus dalam waktu yang lama. Pada umumnya, coto makassar dihidangkan dalam mangkuk dan dinikmati dengan ketupat.
Coto makassar biasanya dijual secara terpisah, tergantung konsumen memilih campur antara jeroan dan daging, jeroan saja, atau daging saja.[1]
Sejarah
Coto makassar sudah ada sejak zaman kerajaan Gowa. Saat itu, berpusat di Somba Opu pada tahun 1538 Masehi di bagian selatan kota Makassar.[2] Coto makassar diperkirakan telah ada semenjak masa Kerajaan Gowa, tepatnya di Kabupaten Gowa pada abad ke-16.[3][4] Dahulu, hidangan coto bagian daging sapi sirloin dan tenderloin hanya disajikan untuk disantap oleh keluarga kerajaan. Sementara bagian jeroan disajikan untuk masyarakat kelas bawah atau abdi dalem pengikut kerajaan.
Ada juga yang mengatakan coto makassar diciptakan oleh rakyat yang disajikan kepada pengawal kerajaan dipagi hari sebelum bekerja. Dalam catatan sejarah yang dikutip dalam arsip pemerintah di Makassar, pada abad 16, hidangan coto makassar sebagai kuliner khas juga mendapat pengaruh dari kuliner Cina yang telah ada saat itu. Hal ini dapat dilihat dari jenis sambal yang digunakan, yakni sambal tauco sebagai salah satu identitasnya.[2]
Bahan-bahan
Umumnya daging yang digunakan dalam coto ini adalah daging sapi. Namun ada pula yang menggunakan berbagai macam daging jeroan sapi seperti lidah, otak, limpa, paru, hati, jantung, babat dan lain-lain. Konon, diperlukan sekitar 40 macam rempah untuk membuat coto makassar, yang disebut Rampa patang pulo. Aneka bumbu itu, di antaranya adalah bawang merah, bawang putih, cabai, biji-bijian dan bebungaan (lada, ketumbar, jintan, kemiri, pala, foeli, cengkih), dedaunan (daun salam, daun jeruk purut, daun kunyit, daun serai, daun seledri, daun bawang, daun bawang prei), rerimpangan (lengkuas, jahe), serta pelbagai bumbu lain seperti asam, garam, gula, kayu manis, dan juga Kacang tanah, irisan daun bawang dan bawang goreng, serta perasan jeruk nipis dicampurkan pada saat dihidangkan.[3]
Penetapan sebagai Warisan Budaya
Pada tahun 2015, Pemerintah Indonesia telah menetapkan coto makassar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.[5]
Referensi
- ^ "Lezatnya Coto Makassar". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-10-26. Diakses tanggal 2014-10-26.
- ^ a b Media, Kompas Cyber (2022-01-31). "Coto Makassar: Sejarah, Keunikan, Rasa, dan Perbandingan dengan Pallubasa Halaman all - Kompas.com". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2026-02-22.
- ^ a b Beritagar: Mengulik sejarah dan ciri Coto Makassar Diarsipkan 2021-01-18 di Wayback Machine.. Artikel oleh Febria Silaen, Minggu 24 April 2016 06:48 WIB. Diakses pada 15/I/2018
- ^ Tribun Timur: Mengenal lebih dalam coto makassar, intip sejarahnya. Artikel Jumat, 29 September 2017 12:50. Diakses pada 15/I/2018
- ^ "Coto Makassar". Budaya Kita. Diakses tanggal 22 Februari 2026.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


