Tujuh faktor pencerahan

Biksu sedang bermeditasi di samping Bendungan Sirikit di Thailand.

Dalam Buddhisme, tujuh faktor pencerahan (Pali: satta bojjha atau satta sambojjha; Skt.: sapta bodhyanga), juga dikenal sebagai tujuh faktor kecerahan dan tujuh faktor penerangan sempurna adalah:

  • Perhatian-penuh, penyadaran, atau pengingatan (Pali: sati; Sanskerta: smṛti). Untuk mempertahankan penyadaran akan realitas, khususnya ajaran (Dhamma).
  • Penyelidikan tentang sifat realitas (dhamma vicaya; Skt.: dharmapravicaya).
  • Energi atau semangat (viriya; Skt.: vīrya) juga dikenal sebagai usaha, upaya.
  • Kegembiraan atau kegiuran (pīti; Skt.: prīti).
  • Ketenteraman (passaddhi; Skt.: prashrabdhi) baik tubuh maupun pikiran.
  • Konsentrasi (samādhi) keadaan pikiran yang tenang dan terpusat,[1] atau "sepenunhya mengungkap potensi terpendam atau saṅkhāra ke permukaan"[2]
  • Ketidakberpihakan batin (upekkhā; Skt.: upekshā). Untuk menerima realitas apa adanya (yathā-bhūta) tanpa keserakahan ataupun kebencian.

Evaluasi dari tujuh faktor pencerahan ini merupakan salah satu dari "tujuh kelompok" "kondisi yang berkaitan dengan pencerahan" (bodhipakkhiyādhammā).

Kata Pali bojjhaṅga adalah gabungan dari bodhi ("kecerahan," "pencerahan") dan aṅga ("faktor").[3]

Etimologi

Satta sambojjhaṅgā:

  • satta – tujuh;
  • sam- - awalan yang berarti lengkap, penuh, tertinggi;
  • bojjh(i) < bodhi – sebuah kata benda abstrak yang dibentuk dari akar kata kerja *budh- (bangun, menjadi sadar, memperhatikan, mengetahui, atau memahami) yang berhubungan dengan kata kerja bujjhati (Pāli) dan bodhati atau budhyate (Sanskerta);
  • aṅga – bagian dari keseluruhan; faktor, penyebab.[4]

Sastra Pali

Dalam kitab Saṁyuttanikāya dari Suttapiṭaka, bojjhaṅga merujuk pada faktor-faktor duniawi yang bermanfaat yang mengarah pada pencerahan. Dalam kitab-kitab komentar Abhidhamma dan kepustakaan Pali, bojjhaṅga cenderung merujuk pada faktor-faktor adiduniawi yang terjadi bersamaan dengan pencerahan.[5]

Suttapiṭaka

Menurut sebuah khotbah dalam Saṁyuttanikāya yang berjudul "Bhikkhu Sutta" (SN 46.5):

[Bhikkhu:] "Yang Mulia, dikatakan, 'faktor-faktor pencerahan, faktor-faktor pencerahan.' Dalam pengertian apa mereka disebut faktor pencerahan?"
[Buddha:] "Faktor-faktor tersebut mengarah pada pencerahan, bhikkhu, oleh karena itu mereka disebut faktor-faktor pencerahan...."[6]

Selama meditasi, seseorang dapat merenungkan kualitas-kualitas tujuh faktor pencerahan serta kualitas-kualitas kebalikannya, yaitu lima rintangan batin (kesenangan indriawi, niat jahat, kemalasan-kelambanan, kegelisahan-kekhawatiran, keragu-raguan).[7] Selain itu, salah satu sutta Saṁyuttanikāya mengidentifikasi pengembangan setiap faktor pencerahan dengan disertai oleh masing-masing dari empat brahmawihara (cinta kasih, welas asih, simpati, keseimbangan batin).[8]

Dalam "Khotbah Api" Saṁyuttanikāya (SN 46.53), Sang Buddha mengidentifikasi bahwa sati (perhatian-penuh) itu "selalu berguna/bermanfaat" (sabbatthika); sedangkan, ketika pikiran seseorang sedang dikuasai middha (kelambanan), ia harus mengembangkan faktor pencerahan berupa dhamma-vicaya (penyelidikan), viriya (energi/usaha), dan piti (kegembiraan/kegiuran); dan, ketika pikiran seseorang sedang dikuasai uddhacca (kegelisahan), ia harus mengembangkan faktor pencerahan berupa passaddhi (ketenteraman), samādhi (konsentrasi), dan upekkhā (keseimbangan batin).[9]

Kembali menurut Saṁyuttanikāya, suatu ketika saat Sang Buddha sakit parah, Beliau meminta Yang Mulia Mahacunda untuk melafalkan Tujuh Faktor Pencerahan kepada-Nya. Dengan cara demikian, Sang Buddha sembuh dari penyakit yang diderita-Nya.[10]

Kitab risalah

Dalam Visuddhimagga, pada bagian yang membahas keterampilan yang dibutuhkan untuk pencapaian dan pemeliharaan jhāna (penyerapan batin), Buddhaghosa mengidentifikasi bojjhaṅga dengan cara berikut:

  • "Perhatian-penuh (sati) yang kuat ... dibutuhkan dalam semua keadaan...."
  • "Ketika pikirannya mengendur dengan kelambanan (middha) karena terlalu banyak energi (viriya) yang terkuras, dll., maka ... ia harus mengembangkan [ketiga faktor pencerahan tersebut] yang diawali dengan penyelidikan fenomena..." (yaitu, dhamma vicaya, viriya, piti).
  • "Ketika pikirannya gelisah (uddhacca) karena terlalu berenergi (viriya), dll., maka ... ia harus mengembangkan [ketiga faktor pencerahan tersebut] yang diawali dengan ketenteraman..." (yaitu, passaddhi, samādhi, upekkhā).[11]

Meditasi

Menyeimbangkan faktor pencerahan & rintangan
untuk digunakan saat mengalami
kemalasan & kelambanan
(thīna-middha)
untuk pulihkan perhatian-penuh (sati)
  • Perhatian-penuh (sati)
faktor penyeimbang
untuk digunakan saat mengalami
kegelisahan & kekhawatiran
(uddhacca-kukkucca)
untuk pulihkan perhatian-penuh (sati)

Tujuh faktor pencerahan berkaitan erat dengan praktik jhāna, menyerupai berbagai faktor yang merupakan bagian dari empat jhāna.[12]

Dalam meditasi, kemungkinan besar setiap orang mengalami dua dari lima rintangan (Pāli: pañca nīvaraṇāni). Keduanya adalah kemalasan dan kelambanan (Pāli: thīna-middha), yang merupakan tindakan setengah hati dengan sedikit atau tanpa keterpusatan batin, serta kegelisahan dan kekhawatiran (uddhacca-kukkucca), yang merupakan ketidakmampuan untuk menenangkan batin.[butuh rujukan]

Seperti yang ditunjukkan di atas, dalam "Khotbah Api" (SN 46.53), direkomendasikan bahwa penyelidikan (dhamma-vicaya), energi (viriya), dan kegembiraan (pīti) harus dikembangkan saat mengalami kemalasan dan kelambanan (thīna-middha). Ketenteraman (passaddhi), konsentrasi (samādhi), dan keseimbangan batin (upekkhā) harus dikembangkan saat mengalami kegelisahan atau kekhawatiran (uddhacca-kukkucca). Perhatian-penuh (sati) harus senantiasa hadir agar tetap waspada terhadap perubahan fisik maupun perubahan mental baik ke arah yang baik (kusala) maupun tidak baik (akusala).[9]

Lihat pula

Referensi

Catatan

  1. ^ Lihat, mis., Rhys Davids & Stede (1921–1925), entri untuk "Samādhi," diakses 3 Feb. 2011 dari "U.Chicago" di "The Pali Text Society's Pali-English dictionary". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-07-09. Diakses tanggal 2012-08-17. .
  2. ^ Lusthaus (2014), hlm. 113.
  3. ^ Sebagai contoh, lihat Rhys Davids & Stede (1921–1925), hlm. 490, entri untuk "Bojjhanga" (diakses 10 Jul 2007).[pranala nonaktif]
  4. ^ Critical Pali Dictionary, aṅga
  5. ^ Bodhi (2000), hlm. 1499.
  6. ^ Bhikkhu Sutta (SN 46.5), terj. Bodhi (2000), hlm. 1574. Lihat juga Walshe (2007), n. 265.
  7. ^ Untuk contoh khotbah yang menyertakan penjajaran dua rangkaian fenomena ini, lihat Satipatthana Sutta. Untuk kelompok khotbah di mana dua rangkaian fenomena ini disejajarkan, lihat SN 46.31 hingga 46.40 (Bodhi (2000), hlm. 1501, 1589–94).
  8. ^ SN 46.54, yang dikenal juga sebagai Mettaasahagata Sutta (CSCD) atau Metta Sutta (SLTP) atau Metta.m Sutta (PTS Feer). Lihat Bodhi (2000), hlm. 1607–11; Walshe (2007), hlm. 71–73, sutta 59.
  9. ^ a b "Khotbah Api" (Aggi Sutta, SN 46.53) (Bodhi (2000), hlm. 1605–7; Walshe (2007), hlm. 69–70, sutta 58).
  10. ^ Gilana Sutta (SN 46.16) Piyadassi Thera (1999); Piyadassi Thera (t.t.) Diarsipkan 2012-07-24 di Archive.is
  11. ^ Buddhaghosa (1999), hlm. 129, 131. Perhatikan bahwa Buddhaghosa dengan jelas merujuk pada enam bojjhanga terakhir dalam dua pernyataan yang dikutip terakhir. Pernyataan pertama tentang sati (perhatian-penuh), meskipun disebutkan tepat sebelum bojjhanga, secara teknis merujuk pada lima indra spiritual (indriya). Lihat juga SN 46.53 (Bodhi (2000), hlm. 1605–7; Walshe (2007), hlm. 69–70, sutta 58).
  12. ^ Gethin (2001), ch. 5; dan Arbel (2018).

Karya yang dikutip

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement