Jhāna
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Dalam teks-teks tertua Buddhisme, jhāna (Pāli) atau dhyāna (Sanskerta: ध्यान) adalah komponen dari pengembangan batin (bhāvanā), yang umumnya diterjemahkan sebagai "penyerapan meditatif" atau "absorpsi meditatif," untuk menarik pikiran dari respons otomatis terhadap kesan-kesan indra dan "membakar habis" kotoran batin, yang mengarah pada "kondisi ketidakberpihakan-batin dan perhatian-penuh yang murni (upekkhā-sati-parisuddhi)."[1] Jhāna mungkin merupakan praktik inti dari Buddhisme prasektarian, dikombinasikan dengan beberapa praktik terkait yang secara bersama-sama mengarah pada perhatian-penuh (bahasa Inggris: mindfulness) dan pelepasan yang murni.[2][3][4]
Dalam tradisi komentar yang muncul kemudian, yang bertahan dalam Theravāda masa kini, jhāna, dalam konteks tertentu, disamakan dengan "konsentrasi" (samādhi), sebuah kondisi penyerapan terpusat di mana terdapat penurunan kesadaran terhadap lingkungan sekitar. Dalam Gerakan Vipassanā kontemporer yang berbasis Theravāda, kondisi pikiran yang terserap ini dianggap tidak perlu dan bahkan tidak bermanfaat untuk tahap pencerahan pertama (sotāpanna), yang harus dicapai melalui perhatian-penuh pada tubuh dan vipassanā (pandangan-terang ke dalam ketidakkekalan). Sejak tahun 1980-an, para cendekiawan dan praktisi mulai mempertanyakan posisi-posisi ini, mengadvokasi pemahaman dan pendekatan yang lebih komprehensif dan terintegrasi, berdasarkan deskripsi tertua tentang jhāna di dalam sutta-sutta.[5][6][7][8]
Dalam tradisi Buddhis Chan dan Zen (yang penamaannya masing-masing merupakan pelafalan bahasa Tionghoa dan Jepang untuk dhyāna/jhāna), seperti halnya dalam Theravāda dan Tiantai, ānāpānasati (perhatian penuh pada pernapasan), yang diturunkan dalam tradisi Buddhis sebagai sarana untuk mengembangkan dhyāna, merupakan praktik sentral. Dalam tradisi Chan/Zen, praktik ini pada dasarnya berlandaskan pada teknik meditasi Sarvāstivāda yang diturunkan sejak awal Masehi.
Rūpa jhāna
| Tabel: Faktor-faktor rūpa jhāna | ||||
| Faktor jhāna (jhānaṅga) | Jhāna pertama |
Jhāna kedua |
Jhāna ketiga |
Jhāna keempat |
|---|---|---|---|---|
| Vitakka (penempatan awal)
|
✓ (vivicceva kāmehi vivicca akusalehi dhammehi) |
✗ (diredakan) |
— | — |
| Vicāra (penempatan sinambung)
| ||||
| Pīti (kegembiraan)
|
✓ (vivekaja) |
✓ (samādhija; ajjhattaṁ sampasādana) |
✗ (dipudarkan) |
— |
| Sukha (kebahagiaan)
|
✓ (kāyena paṭisaṁvedeti) |
✗ (dilampaui; adukkhamasukhaṁ upekkhāsatipārisuddhi) | ||
| Ekaggatā (kemanunggalan,
keterpusatan) |
✓ | ✓ | ✓ | ✓ (satipārisuddhi cittekaggatā) |
| Referensi:
[9][10][11][12] | ||||
Dalam sutta-sutta, jhāna dimasuki ketika seseorang 'duduk bersila dan menegakkan perhatian penuh (sati)'. Menurut tradisi Buddhis, praktik ini dapat didukung oleh ānāpānasati, perhatian penuh pada pernapasan, sebuah praktik meditatif inti yang dapat ditemukan di hampir semua aliran agama Buddha. Kitab Suttapiṭaka dan Āgama mendeskripsikan empat tahap rūpa jhāna. Rūpa merujuk pada alam materi/jasmaniah, dalam pengertian netral, berbeda dengan alam kāma (nafsu, keinginan indrawi) dan alam arūpa (alam tanpa materi).[13] Meskipun ditafsirkan dalam tradisi Theravāda sebagai deskripsi mengenai konsentrasi dan keterpusatan pikiran yang semakin mendalam, pada asalnya jhāna tampaknya mendeskripsikan sebuah perkembangan mulai dari penyelidikan tubuh dan pikiran serta usaha meninggalkan kondisi-kondisi yang tidak bajik, menuju "keseimbangan batin dan perhatian-penuh yang murni,"[14] sebuah pemahaman yang juga dipertahankan dalam Zen dan Dzogchen.[7][14] Deskripsi standar dari jhāna, berikut interpretasi tradisional dan alternatifnya, adalah sebagai berikut:[14][note 1]
- Jhāna pertama:
- Terasing (vivicceva) dari keinginan terhadap kesenangan indrawi, terasing (vivicca) dari kondisi-kondisi yang tidak bajik [lainnya] (akusalehi dhammehi, dhamma yang tidak bajik[15]), seorang biku memasuki dan berdiam di dalam jhāna pertama, yang merupakan pīti ("kegiuran," "kegembiraan") [mental] dan sukha ("kebahagiaan"; juga: 'langgeng', berlawanan dengan 'sementara' (dukkha)) [jasmani] "yang lahir dari viveka" (secara tradisional diartikan "keterasingan"; secara alternatif, "pembedaan" (atas dhamma)[16][note 2]), disertai dengan vitakka-vicāra (secara tradisional, penempatan/penempelan awal dan sinambung/terus-menerus pikiran pada objek meditasi; secara alternatif, penyelidikan awal dan investigasi lanjutan[19][20][21] terhadap dhamma (kotoran batin[22] dan pikiran-pikiran yang bajik[23][note 3]); juga: "pemikiran diskursif"[note 4]).
- Jhāna kedua:
- Sekali lagi, dengan meredanya vitakka-vicāra, seorang biku memasuki dan berdiam dalam jhāna kedua, yang merupakan pīti [mental] dan sukha [jasmani] "yang lahir dari samādhi" (samādhi-ja; tradisional: lahir dari "konsentrasi"; alternatif: "penyadaran [...] yang mengetahui namun tanpa penalaran konseptual,"[31] "membawa latensi atau saṅkhāra yang terpendam ke pandangan yang jelas"[32][note 5]), dan memiliki sampasādana ("keheningan,"[34] "ketenteraman batin"[29][note 6]) serta ekaggatā (penyatuan/kemanunggalan pikiran,[34] kesadaran) tanpa vitakka-vicāra;
- Jhāna ketiga:
- Dengan memudarnya pīti, seorang biku berdiam dalam upekkhā (keseimbangan batin," "pelepasan afektif"[29][note 7]), sato (penuh-perhatian) dan [dengan] sampajañña ("memahami dengan jernih," mengetahui sepenuhnya,"[35] "penyadaran yang membedakan"[36]). [Masih] mengalami sukha pada jasmaninya, ia memasuki dan berdiam dalam jhāna ketiga, yang sehubungan dengan itu para mulia menyatakan, "berdiam dalam kebahagiaan [jasmani], seseorang bersikap seimbang dan penuh perhatian".
- Jhāna keempat:
- Dengan ditinggalkannya [keinginan akan] sukha ("kebahagiaan") dan [penolakan terhadap] dukkha ("rasa sakit"[37][36]) serta dengan lenyapnya [pergerakan batin antara] somanassa ("sukacita batiniah,"[38]) dan domanassa ("dukacita batiniah"[38]) sebelumnya, seorang biku memasuki dan berdiam dalam jhāna keempat, yang bersifat adukkhaṃ asukhaṃ ("tidak menyakitkan juga tidak menyenangkan,"[37] "kebebasan dari rasa bahagia dan rasa sakit"[39]) dan memiliki upekkhā-sati-pārisuddhi (kemurnian sempurna dari keseimbangan-batin dan perhatian-penuh).[note 8]
Lihat juga
Catatan
- ^ Keren Arbel merujuk pada Majjhima Nikaya 26, Ariyapariyesana Sutta, The Noble Search
Lihat pula:
* Majjhima Nikaya 111, Anupada Sutta
* AN 05.028, Samādhaṅga Sutta: The Factors of Concentration.
Lihat Johansson (1981), Pali Buddhist texts Explained to Beginners untuk terjemahan kata per kata. - ^ Arbel menjelaskan bahwa "viveka" biasanya diterjemahkan sebagai "pelepasan," "pemisahan," atau "keterasingan," tetapi makna utamanya adalah "pembedaan" (diskriminasi). Menurut Arbel, penggunaan vivicca/vivicceva dan viveka dalam deskripsi jhāna pertama "memainkan kedua makna kata kerja tersebut; yaitu, maknanya sebagai pembedaan (kearifan) dan konsekuensinya berupa 'keterasingan' serta pelepasan," sejalan dengan "pembedaan atas sifat pengalaman" yang dikembangkan oleh empat satipaṭṭhāna.[16] Bandingkan dengan Dōgen: "Terpisah dari segala gangguan dan berdiam sendirian di tempat yang tenang disebut "menikmati ketenteraman dan ketenangan.""[17]
Arbel berpendapat lebih lanjut bahwa viveka menyerupai dhamma vicaya, yang disebutkan di dalam bojjhaṅga, suatu deskripsi alternatif mengenai jhāna, tetapi merupakan satu-satunya istilah bojjhaṅga yang tidak disebutkan dalam deskripsi standar jhāna.[18] Bandingkan dengan Sutta Nipāta 5.14 Udayamāṇavapucchā (Pertanyaan Udaya): "Kemurnian keseimbangan batin dan perhatian penuh, yang didahului oleh penyelidikan prinsip-prinsip—ini, Aku nyatakan, adalah pembebasan oleh pencerahan, penghancuran kebodohan batin.” (Terjemahan: Sujato) - ^ Sutta Nipāta 5.13 Pertanyaan Udaya (terj. Thanissaro): "Dengan kesenangan dunia terbelenggu. Dengan awal pikiran hal itu diperiksa."
Chen 2017: "Samādhi dengan pemeriksaan umum dan penyelidikan mendalam secara spesifik berarti menyingkirkan dhamma yang tidak bajik, seperti nafsu serakah dan kebencian, untuk menetap dalam sukacita dan kebahagiaan yang disebabkan oleh ketiadaan pemunculan, dan untuk memasuki meditasi pertama dan sepenuhnya berdiam di dalamnya."
Arbel 2016, hlm. 73: "Oleh karena itu, saran saya adalah bahwa kita harus menafsirkan eksistensi vitakka dan vicāra di dalam jhāna pertama sebagai 'residu' yang bajik dari perkembangan pikiran bajik sebelumnya. Mereka menandakan 'gema' dari pikiran-pikiran bajik tersebut, yang bergema pada seseorang yang memasuki jhāna pertama sebagai sikap-sikap bajik terhadap apa yang sedang dialaminya." - ^ Dalam Kanon Pali, Vitakka-vicāra membentuk satu ungkapan, yang merujuk pada pengarahan pikiran atau perhatian seseorang pada suatu objek (vitakka) dan penyelidikannya (vicāra).[21][24][25][26][27] Menurut Dan Lusthaus, vitakka-vicāra adalah penelitian analitis, sebuah bentuk paññā. Ia "melibatkan pemfokusan pada [sesuatu] dan kemudian memecahnya menjadi komponen-komponen fungsionalnya" untuk memahaminya, "membedakan sejumlah faktor pengkondisi yang terlibat dalam suatu peristiwa fenomenal."[28] Tradisi komentar Theravāda, sebagaimana diwakili oleh Visuddhimagga karya Buddhaghosa, menafsirkan vitakka dan vicāra sebagai penerapan perhatian awal dan kelangsungannya pada suatu objek meditasi, yang berpuncak pada penenteraman pikiran ketika beralih ke jhāna kedua.[29][30] Menurut Martin Stuart-Fox dan Rod Bucknell, hal ini mungkin juga merujuk pada "proses normal pemikiran diskursif," yang didiamkan melalui penyerapan di dalam jhāna kedua.[30][29]
- ^ Terjemahan standar untuk samādhi adalah "konsentrasi"; akan tetapi, terjemahan/penafsiran ini didasarkan pada penafsiran komentar, sebagaimana dijelaskan oleh sejumlah penulis kontemporer.[14] Tilmann Vetter mencatat bahwa samādhi memiliki cakupan makna yang luas, dan "konsentrasi" hanyalah salah satunya. Vetter berpendapat bahwa jhāna kedua, ketiga, dan keempat adalah sammā-samādhi, "samādhi benar," yang dibangun di atas "kesadaran spontan" (sati) dan keseimbangan batin yang disempurnakan di dalam jhāna keempat.[33]
- ^ Terjemahan umum, yang didasarkan pada penafsiran komentar atas jhāna sebagai kondisi penyerapan yang meluas, menerjemahkan sampasādana sebagai "keyakinan internal." Namun, seperti yang dijelaskan Bucknell, kata tersebut juga berarti "menenteramkan," yang lebih tepat dalam konteks ini.[29] Lihat juga Passaddhi.
- ^ Upekkhā adalah salah satu dari Brahmavihara.
- ^ Bersama dengan jhāna keempat datanglah pencapaian pengetahuan yang lebih tinggi (abhiññā), yaitu, pemadaman semua kekotoran mental (āsava), namun juga kekuatan batin.[40] Sebagai contoh dalam AN 5.28, sang Buddha menyatakan (Thanissaro, 1997.):
"Ketika seorang biku telah mengembangkan dan mempraktikkan konsentrasi benar yang mulia dengan lima faktor dengan cara ini, maka pada salah satu dari enam pengetahuan yang lebih tinggi mana pun ia mengarahkan pikirannya untuk diketahui dan direalisasikan, ia dapat menyaksikannya sendiri kapan pun ada celah...."
"Jika ia menginginkannya, ia menggunakan berbagai kekuatan supranormal. Setelah menjadi satu ia menjadi banyak; setelah menjadi banyak ia menjadi satu. Ia muncul. Ia lenyap. Ia pergi tanpa halangan menembus dinding, benteng, dan gunung seolah-olah menembus ruang angkasa. Ia menyelam ke dalam dan keluar dari bumi seolah-olah itu adalah air. Ia berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah di atas tanah kering. Duduk bersila ia terbang di udara seperti burung bersayap. Dengan tangannya ia menyentuh dan membelai bahkan matahari dan bulan, yang begitu perkasa dan kuat. Ia menggunakan pengaruh dengan tubuhnya bahkan sampai ke alam Brahma. Ia dapat menyaksikannya sendiri kapan pun ada celah ..."
Referensi
- ^ Vetter 1988, hlm. 5.
- ^ Vetter 1988.
- ^ Bronkhorst 1993.
- ^ Gethin 1992.
- ^ Rose 2016, hlm. 60.
- ^ Shankman 2008.
- ^ a b Polak 2011.
- ^ Arbel 2017.
- ^ Bodhi, Bhikkhu (2005). In the Buddha's Words. Somerville: Wisdom Publications. hlm. 296–8 (SN 28:1-9). ISBN 978-0-86171-491-9.
- ^ Sujato, Bhikkhu. "Majjhima Nikāya 111: Anupada Sutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2026-03-16.
- ^ "Suttantapiṭake Aṅguttaranikāyo § 5.1.3.8". MettaNet-Lanka (dalam bahasa Pali). Diarsipkan dari asli tanggal 2007-11-05. Diakses tanggal 2007-06-06.
- ^ Bhikkhu, Thanissaro (1997). "Samadhanga Sutta: The Factors of Concentration (AN 5.28)". Access to Insight. Diakses tanggal 2007-06-06.
- ^ Fuller-Sasaki (2008).
- ^ a b c d Arbel 2016.
- ^ Johansson 1981, hlm. 83.
- ^ a b Arbel 2016, hlm. 50-51.
- ^ Maezumi & Cook (2007), hlm. 63.
- ^ Arbel 2016, hlm. 106.
- ^ Wayman 1997, hlm. 48.
- ^ Sangpo & Dhammajoti 2012, hlm. 2413.
- ^ a b Lusthaus 2002, hlm. 89.
- ^ Chen 2017, hlm. "samadhi: A calm, stable and concentrative state of mind".
- ^ Arbel 2016, hlm. 73.
- ^ Rhys-Davids & Stede 1921–25.
- ^ Guenther & Kawamura 1975, hlm. Kindle Locations 1030-1033.
- ^ Kunsang 2004, hlm. 30.
- ^ Berzin 2006.
- ^ Lusthaus 2002, hlm. 116.
- ^ a b c d e Bucknell 1993, hlm. 375-376.
- ^ a b Stuart-Fox 1989, hlm. 82.
- ^ Arbel 2016, hlm. 94.
- ^ Lusthaus 2002, hlm. 113.
- ^ Vetter 1988, hlm. XXVI, note 9.
- ^ a b Arbel 2016, hlm. 86.
- ^ Arbel 2016, hlm. 115.
- ^ a b Lusthaus 2002, hlm. 90.
- ^ a b Arbel 2016, hlm. 124.
- ^ a b Arbel 2016, hlm. 125.
- ^ Johansson 1981, hlm. 98.
- ^ Sarbacker 2021, hlm. entry: "abhijñā".
Daftar pustaka
- Arbel, Keren (2016), Early Buddhist Meditation: The Four Jhanas as the Actualization of Insight, Routledge, doi:10.4324/9781315676043, ISBN 9781317383994
- Arbel, Keren (2017). Early Buddhist meditation : the four jhânas as the actualization of insight. London: Routledge. ISBN 978-1-317-38399-4.
- Baker, Kenneth (2008), The Lightning Field, Hol Art Books
- Berzin, Alexander (2006), Primary Minds and the 51 Mental Factors
- Blyth, R. H. (1966), Zen and Zen Classics, Volume 4, Tokyo: Hokuseido Press
- Brahm, Ajahn (2006), Mindfulness, Bliss, and Beyond: A Meditator's Handbook, Wisdom Publications
- Brahm, Ajahn (2007), Simply This Moment
- Bronkhorst, Johannes (1993), The Two Traditions Of Meditation In Ancient India, Motilal Banarsidass Publ.
- Bucknell, Robert S. (1993), "Reinterpreting the Jhanas", Journal of the International Association of Buddhist Studies, 16 (2)
- Chen, Naichen (2017), The Great Prajna Paramita Sutra, Volume 1, Wheatmark
- Cousins, L. S. (1996), "The origins of insight meditation" (PDF), dalam Skorupski, T. (ed.), The Buddhist Forum IV, seminar papers 1994–1996 (pp. 35–58), London, UK: School of Oriental and African Studies, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-12-30, diakses tanggal 2020-04-19
- Crangle, Edward Fitzpatrick (1994), The Origin and Development of Early Indian Contemplative Practices, Harrassowitz Verlag
- Dogen, Kazuaki (1999), Tanahashi (ed.), Enlightenment Unfolds. The Essential Teachings of Zen Master Dogen, Shambhala
- Dumoulin, Heinrich (2005), Zen Buddhism: A History. Volume 1: India and China, World Wisdom Books, ISBN 978-0-941532-89-1
- Feuerstein, George (1978), Handboek voor Yoga (Dutch translation; English title "Textbook of Yoga"), Ankh-Hermes
- Fischer-Schreiber, Ingrid; Ehrhard, Franz-Karl; Diener, Michael S. (2008), Lexicon Boeddhisme. Wijsbegeerte, religie, psychologie, mystiek, cultuur en literatuur, Asoka
- Fuller-Sasaki, Ruth (2008), The Record of Lin-Ji, University of Hawaii Press
- Gethin, Rupert (1992), The Buddhist Path to Awakening, OneWorld Publications
- Gethin, Rupert (2004), "On the Practice of Buddhist Meditation According to the Pali Nikayas and Exegetical Sources", Buddhismus in Geschichte und Gegenwart, 9: 201–21
- Gokhale, Pradeep P. (2020). The Yogasūtra of Patañjali: A New Introduction to the Buddhist Roots of the Yoga System. Taylor & Francis.
- Gombrich, Richard F. (1997), How Buddhism Began, Munshiram Manoharlal
- Gregory, Peter N. (1991), Sudden and Gradual. Approaches to Enlightenment in Chinese Thought, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers Private Limited
- Guenther, Herbert V.; Kawamura, Leslie S. (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" (Edisi Kindle), Dharma Publishing
- Johansson, Rune Edvin Anders (1981), Pali Buddhist Texts: Explained to the Beginner, Psychology Press
- Kalupahana, David J. (1992), The Principles of Buddhist Psychology, Delhi: ri Satguru Publications
- Kalupahana, David J. (1994), A history of Buddhist philosophy, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers Private Limited
- King, Richard (1995), Early Advaita Vedānta and Buddhism: The Mahāyāna Context of the Gauḍapādīya-kārikā, SUNY Press
- King, Winston L. (1992), Theravada Meditation. The Buddhist Transformation of Yoga, Delhi: Motilal Banarsidass
- Kunsang, Erik Pema (2004), Gateway to Knowledge, Vol. 1, North Atlantic Books
- Lachs, Stuart (2006), The Zen Master in America: Dressing the Donkey with Bells and Scarves
- Lai , Whalen; Cheng, Yu-yin (2008), "Chinese Buddhist Philosophy from Han through Tang", dalam Mou, Bo (ed.), ?, Routledge
- Loori, John Daido (2006), Sitting with Koans: Essential Writings on Zen Koan Introspection, Wisdom Publications, ISBN 0-86171-369-9
- Lusthaus, Dan (2002), Buddhist Phenomenology: A Philosophical Investigation of Yogacara Buddhism and the Ch'eng Wei-shih Lun, Routledge
- Maezumi, Taizan; Cook, Francis Dojun (2007), "The Eight Awarenesses of the Enlightened Person": Dogen Zenji's Hachidainingaku", dalam Maezumi, Taizan; Glassman, Bernie (ed.), The Hazy Moon of Enlightenment, Wisdom Publications
- Matsumoto, Shirõ (1997) (1997), The Meaning of "Zen". In Jamie Hubbard (ed.), Pruning the Bodhi Tree: The Storm Over Critical Buddhism (PDF), Honolulu: University of Hawaiʻi Press, hlm. 242–250, ISBN 082481908X Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link) Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- McRae, John (1986), The Northern School and the Formation of Early Chʻan Buddhism, University of Hawaii Press
- Nanamoli, Bhikkhu (trans.) (1995), The Middle Length Discourses of the Buddha: A New Translation of the Majjhima Nikaya, Wisdom Publications, ISBN 0-86171-072-X
- Polak, Grzegorz (2011), Reexamining Jhana: Towards a Critical Reconstruction of Early Buddhist Soteriology, UMCS
- Quli, Natalie (2008), "Multiple Buddhist Modernisms: Jhana in Convert Theravada" (PDF), Pacific World, 10: 225–249
- Rhys-Davids, T.W.; Stede, William, ed. (1921–25), The Pali Text Society's Pali–English dictionary, Pali Text Society), diarsipkan dari asli tanggal July 8, 2012
- Rose, Kenneth (2016), Yoga, Meditation, and Mysticism: Contemplative Universals and Meditative Landmarks, Bloomsbury
- Samuel, Geoffrey (2008). The Origins of Yoga and Tantra: Indic Religions to the Thirteenth Century. Cambridge University Press. ISBN 978-1-139-47021-6.
- Sangpo, Gelong Lodro; Dhammajoti, Bhikkhu K.L. (2012), Abhidharmakosa-Bhasya of Vasubandhu: Volume 3, Motilal Banarsidass
- Sarbacker, Stuart Ray (2021), Tracing the Path of Yoga: The History and Philosophy of Indian Mind-Body Discipline, State University of New York Press
- Schmithausen, Lambert (1981), On some Aspects of Descriptions or Theories of 'Liberating Insight' and 'Enlightenment' in Early Buddhism". In: Studien zum Jainismus und Buddhismus (Gedenkschrift für Ludwig Alsdorf), hrsg. von Klaus Bruhn und Albrecht Wezler, Wiesbaden 1981, 199–250
- Schaik, Sam van (2018), The spirit of Zen, Yale University Press
- Shankman, Richard (2008), The Experience of Samadhi: An In-depth Exploration of Buddhist Meditation, Shambhala
- Sharf, Robert (2014), "Mindfullness and Mindlessness in Early Chan" (PDF), Philosophy East & West, 64 (4): 933–964, doi:10.1353/pew.2014.0074, S2CID 144208166[pranala nonaktif permanen]
- Sharf, Robert H. (2015), "Is mindfulness Buddhist? (and why it matters)", Transcultural Psychiatry, 52 (4): 470–484, doi:10.1177/1363461514557561, PMID 25361692, S2CID 18518975
- Stuart-Fox, Martin (1989), "Jhana and Buddhist Scholasticism", Journal of the International Association of Buddhist Studies, 12 (2)
- Suzuki, D.T. (2014), Selected Works of D.T. Suzuki, Volume I: Zen, University of California Press
- Tola, Fernando ; Dragonetti, Carmen; Prithipaul, K. Dad (1987), The Yogasūtras of Patañjali on concentration of mind, Motilal Banarsidass
- Vetter, Tilmann (1988), The Ideas and Meditative Practices of Early Buddhism, BRILL
- Vimalaramsi, Bhante (2015), A Guide to Tranquil Wisdom Insight Meditation, Dhamma Sukha Publishing
- Wayman, Alex (1997), "Introduction", Calming the Mind and Discerning the Real: Buddhist Meditation and the Middle View, from the Lam Rim Chen Mo Tson-kha-pa, Motilal Banarsidass Publishers
- Williams, Paul (2000), Buddhist Thought. A complete introduction to the Indian tradition, Routledge
- Wujastyk, Dominik (2011), The Path to Liberation through Yogic Mindfulness in Early Ayurveda. In: David Gordon White (ed.), "Yoga in practice", Princeton University Press
- Wynne, Alexander (2007), The Origin of Buddhist Meditation, Routledge
- Yu, Jimmy (2021), Reimagining Chan Buddhism: Sheng Yen and the Creation of the Dharma Drum Lineage of Chan, Routledge
- Zhu, Rui (2005), "Distinguishing Sōtō and Rinzai Zen: Manas and the Mental Mechanics of Meditation" (PDF), East and West, 55 (3): 426–446, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2018-12-14, diakses tanggal 2018-12-14
Pranala luar
- Buddhist Meditation – Panduan meditasi dari BuddhaNet
- Dhyāna in Zen Buddhism – Penjelasan tentang meditasi dalam tradisi Zen
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


