Dhammavicaya

Dalam Buddhisme, dhammavicaya (Pali; Sanskerta: धर्मविचय-, dharmavicaya; Aksara Han: 擇法, zé fǎ), juga dieja dhamma-vicaya dan dhamma vicaya, telah diterjemahkan ke dalam berbagai makna, seperti "pembedaan fenomena,"[1] "penyelidikan kondisi-kondisi,"[2] "analisis kualitas,"[3] "pembedaan dhamma,"[4][note 1] "pembedaan keadaan,"[5] "investigasi/penyelidikan ajaran,"[6][note 2] dan "pencarian Kebenaran."[7] Maknanya cukup ambivalen; istilah ini menyiratkan penyelidikan terhadap ajaran Buddha (dhamma), tetapi juga penerapan pemahaman jernih (sampajāna atau sampajañña) pada fenomena batin-jasmani dalam rangka menerapkan usaha benar, yang membuka jalan untuk memasuki jhāna pertama.

Etimologi

Menurut Rupert Gethin, "dhamma-vicaya berarti 'pembedaan dhamma' atau 'pemahaman dhamma'; membedakan dhamma secara tepat berarti memahami dhamma."[8]

Penjelasan kitabiah

Tujuh faktor pencerahan

Dalam Suttapiṭaka dari Tripitaka Pali, ini adalah faktor kedua dari tujuh faktor pencerahan (satta bojjha). Faktor ini didahului oleh penegakan perhatian-penuh (sati) dan diterapkan bersama energi/usaha (viriya). Bersama-sama, perhatian penuh (sati), pemahaman jernih (sampajāna), dan usaha akan menenangkan pikiran, serta membuka jalan bagi munculnya jhāna, yang ditandai oleh empat faktor pencerahan lainnya, yaitu kegiuran (pīti), ketenteraman (passaddhi), penyatuan pikiran (samādhi), dan keseimbangan/ketidakberpihakan batin (upekkhā).[note 3] Menurut Saṁyuttanikāya, faktor ini harus dikembangkan dengan terus-menerus memberikan perhatian yang saksama/bijaksana (yoniso manasikāra bahulīkāro) terhadap fenomena-fenomena (dhammā) berikut: baik dan tidak baik (kusalā-akusalā); tercela dan tidak tercela (sāvajjā-anavajjā); rendah dan luhur (hīna-paītā); serta, gelap dan terang (kaha-sukka).[9] Penjelasan alternatif dalam kitab-kitab nikāya menyebutkan bahwa faktor ini dibangkitkan dengan "membedakan dhamma tersebut menggunakan kebijaksanaan" (taṃ dhamma paññāya pavicināti).[10]

Abhidhamma Theravāda

Kitab Dhammasaṅgaṇī dari Abhidhammapiṭaka bahkan lebih kuat mengaitkan dhamma vicaya dengan paññā (kebijaksanaan) dalam perinciannya tentang keadaan-keadaan bajik (kusalā dhammā):

Katamaṃ tasmiṃ samaye paññindriyaṃ hoti? yā tasmiṃ samaye paññā pajānanā vicayo pavicayo dhammavicayo ...
Apakah yang pada saat itu merupakan indra-kebijaksanaan (paññindriya)?
Yaitu, apa pun yang pada saat itu merupakan kebijaksanaan (paññā), pemahaman (pajānanā), penyelidikan (vicaya), penyelidikan mendalam/penelitian (pavicata), penyelidikan terhadap fenomena/kebenaran (dhammavicaya) ...[11]

Abhidharma Mahāyāna

Dalam kitab-kitab Abhidharma yang lebih belakangan dan literatur pasca-kanonik (seperti karya cendekiawan India abad ke-4 M, Vasubandhu), dharma vicaya merujuk pada studi dharma sebagai fenomena fisik atau mental yang membentuk realitas hakiki (Skt.: paramārtha).[12]

Lihat pula

Catatan

  1. ^ Terkait keputusannya untuk tidak menerjemahkan kata dhamma, Gethin 1992 meringkas (hlm. 151): "Poin yang ingin saya sampaikan, bagaimanapun, adalah bahwa penggunaan kata dhammā (dalam bentuk jamak) di kitab-kitab nikāya, Abhidhammapiṭaka kanonik, dan bahkan sampai batas tertentu dalam tradisi kitab komentar, tetap menjadi istilah yang agak ambigu dan multivalen. Pemahaman persisnya terus sulit dipahami dan menantang definisi yang kaku atau tetap. Mungkin ini bukan kebetulan, dan teks-teks tersebut memang sengaja menikmati fluiditas dari istilah itu sendiri."
    Dalam konteks dhamma-vicaya, Gethin mengajukan gagasan (hlm. 152, lihat juga hlm. 154): "Dalam pemikiran Buddhis, membongkar dhammā menurut saya adalah menyisakan dhamm. Oleh karena itu, Dhamma-vicaya berarti 'pembedaan dhamma' atau 'pemahaman dhamma'; membedakan dhamma secara tepat berarti memahami dhamma.
    Dalam catatan kaki terkait (hlm. 152, n. 38), Gethin menyatakan keraguannya untuk menerjemahkan vicaya sebagai "investigasi/penyelidikan."
  2. ^ Entri untuk "Vicaya"), 693 ("Sambojjhanga").
  3. ^ Lihat, misalnya, MN 118 (Thanissaro, 2006).

Referensi

  1. ^ "Khotbah-Khotbah Berkelompok Sang Buddha". DhammaCitta. Diakses tanggal 2026-03-26.
  2. ^ "Glossarium". DhammaCitta. Diakses tanggal 2026-03-26.
  3. ^ Thanissaro 1996.
  4. ^ Gethin 1992, hlm. 146 ff.
  5. ^ Bodhi 2000, hlm. 1567 ff, SN 46 passim.
  6. ^ Rhys Davids & Stede 1921–1925, hlm. 615.
  7. ^ Rhys Davids 2003, hlm. 18 passim.
  8. ^ Gethin 1992, hlm. 152, 154.
  9. ^ SN 46.2 (Bodhi, 2000, hlm. 1569) dan 46.51 (Bodhi, 2000, hlm. 1598). Dalam catatan akhir terkait, Bodhi (2000, hlm. 1900–1, n. 59) berkomentar:
    Contoh lebih lanjut tentang pertentangan antara keadaan baik dan buruk ditemukan di MN No. 8, di mana sang Buddha menyebutkan empat puluh empat pasang hal bajik dan tidak bajik yang saling bertentangan. Penjelasan faktor pencerahan ini menunjukkan bahwa meskipun 'pembedaan keadaan' mungkin secara teknis diidentifikasi dengan paññā [misalnya, dalam SN 54.13 (lihat di bawah) atau di dalam Dhammasaṅgaṇī], fungsi awal paññā sebagai faktor pencerahan bukanlah untuk memahami tiga corak umum, dsb., melainkan sekadar untuk membedakan antara keadaan mental yang baik dan buruk yang menjadi jelas seiring dengan semakin mendalamnya perhatian penuh.
  10. ^ SN 54.13 (Bodhi, 2000, hlm. 1782-3; Gethin, 1992, hlm. 147). Gethin (1992, hlm. 147) menyatakan: "... [A]pa yang dimaksud dengan dhamma tersebut' (ta dhamma) tidak sepenuhnya jelas."

    Paññāya adalah bentuk infleksi dari paññā (Pali; Skt.: prajñā) yang dapat diterjemahkan dengan berbagai cara. Misalnya, seperti yang tercermin di sini, Bodhi menerjemahkannya sebagai "dengan kebijaksanaan," sementara Gethin (1992, hl. 147) menerjemahkannya sebagai "melalui kebijaksanaan." (Thanissaro, 1995, menerjemahkannya sebagai "dengan ketajaman batin," menggunakan "ketajaman batin" untuk paññā.) Seperti yang disarankan oleh Bodhi (2000, hlm. 1900-1, n. 59) yang dikutip pada catatan akhir sebelumnya, cara konvensional untuk memahami paññā di sini adalah dalam hal melihat sebuah dhamma dalam konteks tiga corak umum yaitu ketidakkekalan (anicca), penderitaan (dukkha), dan tanpa-inti (anattā).

  11. ^ Dhs 11 (Rhys Davids, 1900, hlm. 17-18).
  12. ^ Misalnya, Williams (2007, hlm. 43) menulis: "Jadi, dalam Abhidharmakośa Bhāya non-Mahāyāna, prajñā diberikan secara sederhana sebagai pembedaan dharma (dharmapravicaya), yaitu hal-hal tertinggi yang menandai titik akhir dari analisis Abhidharma."

Sumber

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement