Iddhipāda
| Bagian dari seri tentang |
| 37 sayap pencerahan (bodhipakkhiyā-dhammā) |
|---|
Iddhipāda (Pali; Sanskerta: ṛddhipāda) adalah sebuah istilah majemuk yang dapat diterjemahkan menjadi "landasan kekuatan spiritual" (bedakan dari pañcabala) atau "dasar keberhasilan spiritual".[1] Iddhipāda terdiri dari kata iddhi (Skt.: ṛddhi) yang bermakna "keberhasilan, kesuksesan, potensi, kekuatan"; serta kata pāda yang bermakna "dasar, landasan, unsur pendukung."[2]
Dalam upaya mencapai pencerahan (bodhi) dan pembebasan (vimutti), keberhasilan pencapaian kesaktian-kesaktian iddhi yang terkait tidaklah sepenting "dasar/landasan" (pāda) yang digunakan untuk mencapai keberhasilan tersebut. Empat kualitas "dasar" ini mencakup: konsentrasi (samādhi) yang dihasilkan dari hasrat (chanda); yang dihasilkan dari semangat (viriya); yang dihasilkan dari pikiran/batin (citta); dan yang dihasilkan dari analisis (vīmaṁsa). Empat kualitas dasar ini digunakan untuk mengembangkan kondisi mental yang bajik dan menyingkirkan kondisi mental yang tidak bajik.[3]
Dalam literatur Buddhis tradisional, kumpulan empat kualitas mental ini adalah salah satu dari tujuh set kualitas yang dipuji oleh Buddha sebagai hal yang kondusif bagi Pencerahan (bodhipakkhiyādhammā).
Penjelasan kitabiah
Dalam Tripitaka Pali, sumber informasi utama mengenai iddhipāda terdapat dalam kitab Saṁyuttanikāya, bab 51, yang berjudul, "Khotbah-khotbah Bertaut tentang Landasan untuk Kekuatan/Keberhasilan Spiritual" (Iddhipāda-saṁyutta).
Empat komponen
Dalam khotbah "Lalai" (Viraddha Sutta, SN 51.2), dinyatakan:
- "Para bhikkhu, mereka yang telah melalaikan empat landasan kekuatan spiritual [atau empat dasar keberhasilan spiritual] (iddhipāda) berarti telah melalaikan jalan mulia yang menuju kehancuran penderitaan sepenuhnya. Mereka yang menjalankan empat landasan kekuatan spiritual [atau empat dasar keberhasilan spiritual] (iddhipāda) berarti telah menjalankan jalan mulia menuju kehancuran penderitaan sepenuhnya."[4]
Empat dasar dari keberhasilan spiritual (iddhipāda) tersebut adalah konsentrasi (samādhi) yang dihasilkan dari:
- Hasrat, tujuan, keinginan, atau antusiasme (chanda)
- Semangat, kegigihan, atau kemauan (viriya)
- Pikiran, batin, atau kesadaran (citta)
- Analisis, penyelidikan, atau pembedaan (vīmaṃsā; Skt: mīmāṃsā)[5]
Konsentrasi dan bentukan kehendak berusaha
Dalam sebagian besar diskursus kitabiah, keempat dasar keberhasilan (iddhipāda) ini dikembangkan bersama-sama dengan "bentukan-bentukan kehendak berusaha" (padhāna-saṅkhāra).[6] Syarat-syarat penyerta ini diuraikan dalam khotbah "Konsentrasi yang dihasilkan dari Keinginan" (Chandasamādhi Sutta, SN 51.13):[7]
| “ | “Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu memperoleh konsentrasi (samādhi), memperoleh keterpusatan pikiran (ekaggatā) yang berdasarkan pada keinginan [atau hasrat] (chanda), ini disebut konsentrasi yang dihasilkan dari keinginan. Ia membangkitkan keinginan [atau hasrat] untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan (viriya), mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang telah muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidak-rusakannya, meningkatkannya, memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ini disebut bentukan-bentukan kehendak berusaha (padhāna-saṅkhāra). Demikianlah [1] keinginan [atau hasrat] ini dan [2] konsentrasi yang dihasilkan dari keinginan ini dan [3] bentukan-bentukan kehendak berusaha ini: ini disebut landasan kekuatan spiritual [atau dasar keberhasilan spiritual] (iddhipāda) yang memiliki konsentrasi yang dihasilkan dari keinginan dan bentukan-bentukan kehendak berusaha.
“Jika, para bhikkhu, seorang bhikkhu memperoleh konsentrasi (samādhi), memperoleh keterpusatan pikiran (ekaggatā) yang berdasarkan pada kegigihan (viriya), ini disebut konsentrasi yang dihasilkan dari kegigihan. Ia membangkitkan keinginan [atau hasrat] untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang telah muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidak-rusakannya, meningkatkannya, memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ini disebut bentukan-bentukan kehendak berusaha (padhāna-saṅkhāra). Demikianlah [1] kegigihan ini dan [2] konsentrasi yang dihasilkan dari kegigihan ini dan [3] bentukan-bentukan kehendak berusaha ini: ini disebut landasan kekuatan spiritual [atau dasar keberhasilan spiritual] (iddhipāda) yang memiliki konsentrasi yang dihasilkan dari kegigihan dan bentukan-bentukan kehendak berusaha. “Jika, para bhikkhu, seorang bhikkhu memperoleh konsentrasi (samādhi), memperoleh keterpusatan pikiran (ekaggatā) yang berdasarkan pada pikiran (citta), ini disebut konsentrasi yang dihasilkan dari pikiran. Ia membangkitkan keinginan [atau hasrat] untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan (viriya), mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang telah muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidak-rusakannya, meningkatkannya, memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ini disebut bentukan-bentukan kehendak berusaha (padhāna-saṅkhāra). Demikianlah [1] pikiran ini dan [2] konsentrasi yang dihasilkan dari pikiran ini dan [3] bentukan-bentukan kehendak berusaha ini: ini disebut landasan kekuatan spiritual [atau dasar keberhasilan spiritual] (iddhipāda) yang memiliki konsentrasi yang dihasilkan dari pikiran dan bentukan-bentukan kehendak berusaha. “Jika, para bhikkhu, seorang bhikkhu memperoleh konsentrasi (samādhi), memperoleh keterpusatan pikiran (ekaggatā) yang berdasarkan pada penyelidikan (vīmaṁsa), ini disebut konsentrasi yang dihasilkan dari penyelidikan. Ia membangkitkan keinginan [atau hasrat] untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan (viriya), mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang telah muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidak-rusakannya, meningkatkannya, memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ini disebut bentukan-bentukan kehendak berusaha (padhāna-saṅkhāra). Demikianlah [1] penyelidikan ini dan [2] konsentrasi yang dihasilkan dari penyelidikan ini dan [3] bentukan-bentukan kehendak berusaha ini: ini disebut landasan kekuatan spiritual [atau dasar keberhasilan spiritual] (iddhipāda) yang memiliki konsentrasi yang dihasilkan dari penyelidikan dan bentukan-bentukan kehendak berusaha.” |
” |
| — Chandasamādhi Sutta, SN 51.13 terj. Indra Anggara | ||
Keberhasilan spiritual terkait
Dalam hal keberhasilan spiritual (iddhi) yang terkait dengan pengembangan dasar-dasar (pāda) ini, Khotbah "Sebelum" (Pubba Sutta, SN 51.11) menguraikann:[8]
Ketika empat landasan kekuatan spiritual [atau empat dasar keberhasilan spiritual] itu telah dikembangkan dan dilatih dengan cara ini, seorang bhikkhu mampu mengerahkan berbagai jenis kekuatan spiritual [keberhasilan spiritual]: dari satu, ia menjadi banyak; dari banyak, ia menjadi satu; ia muncul dan lenyap; ia berjalan tanpa halangan menembus tembok, menembus benteng, menembus gunung seolah-olah menembus ruang kosong; ia masuk dan keluar dari dalam tanah seolah-olah di dalam air; ia berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah di atas tanah; duduk bersila, ia melayang di angkasa seperti seekor burung; dengan tangannya ia menyentuh bulan dan matahari begitu kuat dan perkasa; ia mengerahkan kemahiran dengan jasmani hingga sejauh alam brahmā.
Lihat pula
- Abhiññā – enam jenis pengetahuan spiritual tingkat tinggi yang ditemukan dalam Tripitaka Pali.
- Bodhipakkhiyādhammā – tujuh himpunan yang terdiri dari 37 kualitas mental yang kondusif bagi Pencerahan
- Empat Usaha Benar – empat aspek "pembentukan kehendak berusaha"
- Iddhi – keberhasilan spiritual yang dibahas dalam Buddhisme secara kitabiah
- Kevatta Sutta
Catatan
- ^ Misalnya, lihat Bodhi (2000), hlm. 1718-49; dan, Thanissaro (1997). Bodhi (2000), hlm. 1939, n. 246 mencatat bahwa kitab tafsir Pali pasca-kanonik menyatakan bahwa istilah majemuk ini dapat diterjemahkan baik sebagai "landasan untuk kemampuan spiritual" atau "landasan yang merupakan kemampuan spiritual."
- ^ Lihat, misalnya, Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 120-1, entri untuk "Iddhi" di [1] (diakses 2008-02-07).
- ^ Untuk pembahasan tentang sarana Buddhis dalam mengembangkan kualitas bajik dan menghilangkan kualitas tidak bajik, lihat, misalnya, Empat Usaha Benar.
- ^ Bodhi (2000), hlm. 1718.
- ^ Terjemahan bahasa Inggris di sini didasarkan pada: Bodhi (2000), bab 51, hlm. 1718-49; Brahm (2007), hlm. 394; dan, Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 120-1, entri untuk "Iddhi". Dalam versi Indonesia, didasarkan pada penerjemahan DhammaCitta, Saṅgha Theravāda Indonesia, dan Ashin Kheminda.
- ^ "Pembentukan kehendak dari upaya giat" adalah terjemahan dari istilah padhāna-saṅkhāra. Alternatif lain termasuk terjemahan Thanissaro (1997) yaitu "pembentukan dari pengerahan tenaga." Istilah Pali padhāna sama dengan yang ditemukan dalam Empat Usaha Benar (Pali: sammappadhāna; Skt.: samyak-pradhāna atau samyak-prahāṇa), yang merupakan kelompok lain dari set bodhipakkhiyādhammā.
- ^ Bodhi (2000), hlm. 1729-30.
- ^ Bodhi (2000), hlm. 1727.
Referensi
- Bodhi, Bhikkhu (trans.) (2000). The Connected Discourses of the Buddha: A Translation of the Samyutta Nikaya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-331-1.
- Brahm, Ajahn (2007). Simply this Moment!. Perth: Bodhinyana Monastery.
- Rhys Davids, T.W. & William Stede (eds.) (1921-5). The Pali Text Society’s Pali–English Dictionary. Chipstead: Pali Text Society. Mesin pencari daring umum untuk PED tersedia di http://dsal.uchicago.edu/dictionaries/pali/.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1997). Iddhipada-vibhanga Sutta: Analysis of the Bases of Power (SN 51.20). Diakses 2008-02-07 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn51/sn51.020.than.html.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


