Empat usaha benar

Empat Usaha Benar  
    belum muncul sudah muncul  
keadaan batin
yang tidak bajik
cegah tinggalkan
keadaan batin
yang bajik
bangkitkan pertahankan
     

Empat Usaha Benar (juga dikenal sebagai Empat Upaya Benar, Empat Daya Upaya Benar, Empat Pengerahan Benar, atau Empat Perjuangan Benar) (Pali: sammappadhāna; Skt.: samyak-pradhāna atau samyakprahāṇa) adalah bagian tak terpisahkan dari jalan Buddhis menuju Pencerahan (pemahaman). Dibangun di atas pengenalan mendalam tentang kemunculan dan ketidakmunculan berbagai kualitas mental seiring berjalannya waktu serta kemampuan kita untuk secara sadar mengintervensi kualitas-kualitas yang sementara ini, Empat Usaha Benar mendorong ditinggalkannya kualitas-kualitas mental yang berbahaya dan dipeliharanya kualitas-kualitas mental yang bermanfaat.

Empat Usaha Benar (sammappadhāna) dikaitkan dengan faktor "usaha benar" (sammā-vāyāma) dari Jalan Mulia Berunsur Delapan dan indra "kegigihan" (viriya) dari Lima Indra Spiritual (pañc'indriyāni); serta, merupakan satu dari tujuh kelompok Tujuh Faktor Pencerahan (Bodhipakkhiyadhammā), faktor-faktor yang berkaitan dengan bodhi.

Dalam kepustakaan Pali

Empat Usaha Benar (cattārimāni sammappadhānāni) dapat ditemukan dalam Vinayapiṭaka, Suttapiṭaka, Abhidhammapiṭaka, dan kitab komentar Pali.[1] Selain itu, sebuah konsep yang terdengar mirip namun berbeda, yaitu "empat usaha," (cattārimāni padhānāni) juga disebutkan dalam literatur tersebut. Kedua konsep ini dijabarkan di bawah ini.

Empat Usaha Benar

Empat Usaha Benar (cattārimāni sammappadhānāni) didefinisikan dengan frasa tradisional berikut:

"Ada kasus di mana seorang biku memunculkan nafsu-keinginan, berupaya, mengerahkan kegigihan, meneguhkan & mengerahkan niatnya demi:
"[i] tidak munculnya [anuppādāya] kualitas-kualitas buruk dan tidak bajik yang belum muncul.
"[ii] ... ditinggalkannya [pahānāya] kualitas-kualitas buruk dan tidak bajik yang sudah muncul.
"[iii] ... munculnya [uppādāya] kualitas-kualitas bajik yang belum muncul.
"[iv] ... dipertahankannya [ṭhitiyā], tidak hilangnya, peningkatan, kelimpahan, pengembangan, & pencapaian puncak dari kualitas-kualitas bajik yang telah muncul."[2]

Penjabaran ini dikaitkan dengan Sang Buddha sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut:

Rumusan ini juga merupakan bagian dari pemaparan panjang lebar oleh Y.M. Sāriputta ketika menjawab pertanyaan "Apakah Dhamma ini yang telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā [Buddha]?" (DN 33, Sangīti Sutta).[6] Selain itu, dalam sebuah bagian di Aṅguttaranikāya yang dikenal sebagai "Bagian Petikan Jari" (AN 1.51–60, Accharāsaṇghātavagga), Sang Buddha tercatat menyatakan bahwa, jika seorang biku melaksanakan salah satu dari empat usaha benar ini walau hanya sekejap (selama "petikan jari")[7] maka "ia berdiam dalam jhāna, telah melaksanakan tugasnya kepada Sang Guru, dan memakan dana makanan dari negara tanpa hutang budi."[8]

Penjabaran dua bagian yang serupa juga diberikan oleh Sang Buddha dalam SN 48.9, sekali lagi dalam konteks Lima Indra Spiritual (pañc'indriyāni), ketika Beliau menyatakan:

"Dan apakah, para bhikkhu, indra kegigihan itu? Di sini, para bhikkhu, seorang siswa mulia berdiam dengan kegigihan yang dibangkitkan demi meninggalkan keadaan-keadaan tidak bajik dan memperoleh keadaan-keadaan bajik; ia kuat, teguh dalam usahanya, tidak melalaikan tanggung jawab untuk mengembangkan keadaan-keadaan yang bajik. Inilah indra-kegigihan."[9]

Apa yang merupakan kualitas yang "tidak terampil" atau "tidak bajik" (akusala) dan yang "terampil" atau "bajik" (kusala) dibahas lebih lanjut di dalam Abhidhammapiṭaka dan kitab-kitab komentar pasca-kanonik Pali (Aṭṭhakathā).[10] Secara umum, keadaan-keadaan yang tidak bajik adalah tiga kekotoran batin (kilesa): keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan ketidaktahuan/delusi (moha).[11] Kualitas-kualitas bajik adalah kebalikan dari kekotoran batin tersebut: tanpa-keserakahan (alobha), tanpa-kebencian (adosa), dan tanpa-delusi (amoha).[12][13]

Empat Usaha

Di seluruh Tripitaka Pali, dibuat sebuah perbedaan antara "usaha-usaha" yang berjumlah empat (padhāna) dan empat "Usaha Benar" (sammappadhāna). Meskipun namanya mirip, berbagai khotbah kanonik secara konsisten mendefinisikan istilah-istilah yang berbeda ini dengan cara yang berbeda, bahkan dalam khotbah yang sama atau saling berdekatan.[14]

Empat usaha (cattārimāni padhānāni) diringkas sebagai:

  1. Pengendalian/pengekangan (saṁvara padhāna) indra-indra.
  2. Peninggalan (pahāna padhāna) kekotoran batin.
  3. Pengembangan (bhāvanā padhāna) faktor-faktor pencerahan.
  4. Pemeliharaan (anurakkhaṇā padhāna) konsentrasi, misalnya, menggunakan perenungan di tanah pemakaman.[15]

Lihat pula

Catatan

  1. ^ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 411, entri pada "padhāna" mengidentifikasi teks-teks Pali berikut: "Vin i.22; S i.105; iii.96 (the four); A ii.15 (id.); iii.12; iv.125; Nd1 14; Ps i.21, 85, 90, 161; SnA 124; PvA 98."
  2. ^ Thanissaro (1996), cetak tebal ditambahkan, pengulangan dihilangkan. Bahasa Pali untuk apa yang Thanissaro terjemahkan sebagai "kualitas buruk dan tidak bajik" adalah pāpakānaṃ akusalānaṃ dhammānaṃ dan bahasa Pali untuk "kualitas bajik" adalah kusalānaṃ dhammānaṃ.
  3. ^ Bodhi (2000), hlm. 1670-71; dan, Thanissaro (1996).
  4. ^ Bodhi (2000), hlm. 1671-72.
  5. ^ Bodhi (2000), hlm. 1709-12.
  6. ^ Walshe (1995), hlm. 480, 487, kelompok empat #2.
  7. ^ Rhys Davids & Stede (1921-25), entri untuk "Accharā" (hlm. 9)[pranala nonaktif], diakses 2007-08-25.
  8. ^ AN 1:394-397 (Upalavanna, n.d.). Diarsipkan 2011-01-16 di Wayback Machine. Untuk bahasa Pali aslinya, lihat AN 1.16.6.13-16 di MettaNet-Lanka http://metta.lk/tipitaka/2Sutta-Pitaka/4Anguttara-Nikaya/Anguttara1/1-ekanipata/016-Ekadhammapali-p.html Diarsipkan 2010-11-25 di Wayback Machine..
  9. ^ Bodhi (2000), hlm. 1671. Dengan demikian di sini Buddha berbicara tentang meninggalkan dan memperoleh berlawanan dengan meninggalkan, tidak muncul, muncul, dan mempertahankan pada SN 48.10.
  10. ^ Bodhi (2000), hlm. 1939, n. 245 mengidentifikasi sumber-sumber berikut: sumber Abhidhamma Vibh 208-14; dan, kitab komentar pasca-kanonik Vibh.-atthakatha (Sammohavinodani) 289-96, dan Vism 679.
  11. ^ Kadang-kadang Visuddhimagga berbicara lebih luas tentang meninggalkan sepuluh belenggu, kekotoran batin, rintangan batin, kemelekatan, dll. Lihat, misalnya, Buddhaghosa & Ñāṇamoli (1999), hlm. 707-709, XXII.47-63.
  12. ^ Bodhi (2000), op. cit.
  13. ^ Serupa dengan "kualitas" atau "keadaan" (dhamma) yang tidak bajik/bajik, sejumlah khotbah dalam Sutta Pitaka mengidentifikasi tindakan tidak bajik/bajik beserta akar-akarnya. Misalnya, dalam Sammaditthi Sutta (MN 9) (Ñanamoli & Bodhi, 1991), Sāriputta mengidentifikasi ketidakbajikan sebagai membunuh, mencuri, pelecehan seksual, berbohong, ucapan jahat, ucapan kasar, gosip, keserakahan, niat buruk, dan pandangan salah. (Kebajikan adalah berpantang dari tindakan-tindakan tidak bajik ini.) Akar dari yang tidak bajik adalah keserakahan, kebencian, dan delusi. (Akar dari yang bajik adalah tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian, dan tanpa-delusi.)
  14. ^ Khotbah-khotbah yang menyertakan definisi terpisah untuk kedua istilah ini baik dalam khotbah yang sama maupun berdekatan meliputi:
    • di DN 33, ketika menyenaraikan "[kelompok] empat hal yang telah dibabarkan secara sempurna oleh Sang Bhagavā," Y.M. Sāriputta menjabarkan "Empat Usaha Benar" (atau "empat daya besar") sebagai kelompok empat yang kedua dan "Empat Usaha" sebagai kelompok empat yang kesepuluh (Walshe, 1995, hlm. 487, 490).
    • di AN ii. 15, "Empat Usaha Benar" didefinisikan; sementara AN ii.16 mendefinisikan "Empat Usaha" (Jayasundere, n.d., sutta 3 ("Exertions (a)") dan sutta 4 ("Exertions (b)")).
    • di Ps i.84, "Empat Usaha" didefinisikan; sementara di Ps i.85 "Empat Usaha Benar" didefinisikan.
  15. ^ Terjemahan terutama didasarkan pada Rhys Davids & Stede (1921-25), entri-entri untuk "padhāna" (hlm. 411)[pranala nonaktif], "saŋvara" (hlm. 657)[pranala nonaktif], "pahāna" (hlm. 448)[pranala nonaktif], "bhāvanā" (hlm. 503) dan "anurakkhā" (hlm. 41)[pranala nonaktif] (semua halaman diakses pada 2007-05-29). Contoh-contoh khotbah yang memperluas empat usaha adalah DN 33, kelompok empat #10 (Walshe, 1995, hlm. 490); dan, AN 4.14 (Jayasundere, n.d., sutta 4, "Exertions (b)," diakses 2007-05-30). Untuk informasi lebih lanjut tentang perenungan di tanah pekuburan, lihat, misalnya, Satipatthana Sutta.

Sumber

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement