Tridarma
Tridarma (berarti tri: tiga dan darma: pengabdian, aksara Jawa: ꦠꦿꦶꦢꦂꦩ) adalah filosofi sikap yang pernah dicanangkan oleh Mangkunegara I (Raden Mas Said) untuk dipegang setiap warga negara maupun pemimpin apabila ingin wilayahnya makmur. Motto ini populer di kalangan warga Kota Surakarta dan menjadi pegangan pemerintahan Praja Mangkunegaran hingga sekarang. Secara lengkap Tridharma ini berbunyi:
- Rumangså mèlu andarbèni (ꦫꦸꦩꦁꦱꦩꦺꦭꦸꦲꦤ꧀ꦢꦂꦧꦺꦤꦶ, "merasa ikut memiliki")
- Wajib mèlu anggondhèli (ꦮꦗꦶꦧ꧀ꦩꦺꦭꦸꦲꦁꦒꦺꦴꦤ꧀ꦝꦺꦭ꧀ꦭꦶ, "berkewajiban ikut membela/mempertahankan")
- Mulat sarirå angråså wani (ꦩꦸꦭꦠ꧀ꦱꦫꦶꦫꦲꦔꦿꦱꦮꦤꦶ, "berani berintrospeksi/mawas diri")
Pada awalnya, motto ini dipakai oleh Raden Mas Said untuk membina kesatuan gerakan pemberontakan yang dipimpinnya. Setelah ia bergelar menjadi Mangkunagara I, Tridarma diterapkannya pula kepada warganya.
Baris terakhir Tridarma (mulat sarira hangrasa wani) sekarang dipakai sebagai motto Kota Surakarta. Soeharto, presiden kedua Indonesia, diketahui juga berusaha mempraktikkan petuah ini meskipun dianggap tidak berhasil.
Contoh Penerapan Tridarma
Penerapan Tridarma dalam dunia Perguruan Tinggi menggambarkan tiga pilar utama yang menjadi dasar seluruh kegiatan lembaga pendidikan tinggi di Indonesia, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan berfungsi membentuk lulusan yang berpengetahuan, berkarakter, dan memiliki keterampilan sesuai bidangnya. Penelitian menjadi sarana pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, serta kontribusi terhadap kemajuan teknologi dan sosial. Sementara itu, pengabdian kepada masyarakat bertujuan menerapkan hasil penelitian dan keahlian akademik untuk membantu memecahkan persoalan nyata di lingkungan masyarakat.
Dalam penerapannya, Tridarma diwujudkan melalui proses pembelajaran yang interaktif, riset dosen maupun mahasiswa, publikasi ilmiah, serta kegiatan sosial seperti pelatihan, pendampingan UMKM, penyuluhan kesehatan, dan pemberdayaan desa. Setiap unsur saling terkait: penelitian memperkuat materi pendidikan, sedangkan pengabdian menjadi wadah aplikasi ilmu. Dengan menjalankan Tridarma secara seimbang, perguruan tinggi dapat berfungsi sebagai pusat ilmu sekaligus agen perubahan sosial.[1]
Referensi
- ^ "Peran dan Tugas Dosen pada Tri Dharma Perguruan Tinggi". lldikti13.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
Lihat pula
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


