Budi dan bahasa

Budi dan bahasa atau Budi bahasa merupakan dua unsur pokok dalam filsafat kehidupan manusia Indonesia. Budi menunjukkan pada daya batin yang mencakup akal, nurani, dan kehendak, sedangkan bahasa adalah medium simbolik untuk mengungkapkan, menata, dan menyampaikan isi pikiran. Dalam perspektif filsafat, budi tanpa bahasa akan merupakan potensi yang hambar dan sunyi, sementara bahasa tanpa budi akan menjadi rangkaian bunyi kosong tanpa makna yang berarti. Oleh karena itu, keduanya harus saling melengkapi. Menurut Raja Ali Haji, seorang pahlawan nasional dan seorang penyair Melayu yang terkenal, "Jika hendak mengenal orang yang berbangsa, lihatlah kepada budi bahasanya", demikian isi dari karyanya pada puisi Gurindam Dua Belas. Sikap dan pandangan dari sastrawan dari Pulau Penyengat ini: "bahasa menunjukan bangsa", merupakan sesuatu yang sangat penting dalam membangun budi pekerti, yaitu dengan cara memelihara dan melestarikan bahasa sebagai alat komunikasi dan sekaligus pendukung budaya dan jati diri bangsa.[1]

Melalui budi, manusia dapat menimbang baik dan buruk, serta benar dan salah, sedangkan melalui bahasa, pertimbangan itu dikomunikasikan, diperdebatkan, dan diuji secara rasional. Jika filsafat Yunani menempatkan logos sebagai jembatan antara rasio dan ujaran, maka tradisi Nusantara memandang bahasa sebagai cermin budi pekerti. Bahasa Melayu sebagai induk dari pengembangan bahasa Indonesia harus mengikuti tutur kata yang halus untuk mencerminkan budi yang tertata dan terpuji, sedangkan tutur yang kasar akan menandakan budi yang keruh. Oleh sebab itu, dalam alam kehidupan orang Melayu di Riau khususnya, budi, bahasa dan budaya merupakan tiga entitas yang saling berkelindan dan tak terpisahkan satu sama lain; ibarat dua sisi mata uang yang bersama-sama membentuk dan meneguhkan jati diri orang Melayu dan Indonesia pada umumnya.[1][2]

Dalam kehidupan masyarakat modern berbasis Internet saat ini, budi membimbing etika, dan bahasa membangun dialog dan komunikasi. Filsafat kita mengajarkan bahwa kemanusiaan akan tumbuh ketika budi diasah dan bahasa dipelihara, sehingga pikiran menjadi terang dan komunikasi sosial berlangsung secara bermartabat. Menurut tesaurus KBBI, kombinasi kata budi bahasa menggambarkan akhlak, budi pekerti, moral, susila, etika, tata krama, sopan santun, dan perilaku baik. Sehingga implementasi keduanya dapat dipakai untuk mengatasi hiruk-pikuk kehidupan, termasuk kehidupan di panggung politik, yang tidak lepas dari peran bahasa dan sopan santun dalam masyarakat luas. Sering kali kita jumpai bahwa ada orang yang menggunakan bahasa untuk menusuk perasaan, menyakiti, dan mengutuk fihak lain. Orang lupa pada fungsi hakiki dari bahasa yaitu untuk mengembangkan akal budi, dan memelihara kerja sama. Dengan demikian, pendidikan bahasa perlu menekankan pada kebiasaan berpikir yang jernih sekaligus berbahasa yang santun, agar kebebasan berpendapat tidak melukai sesama di antara kita, bahkan kebebasan ini dapat memperkaya pemahaman, keadilan, dan tanggung jawab bersama dalam masyarakat dunia maya yang berbudaya dan beradab.[3][4]

Referensi

  1. ^ a b "43. BUDI BAHASA (1); Bahasa Menunjukkan Bangsa". uin-suska.ac.id/. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
  2. ^ "Budi Bahasa Cermin Peradaban Bangsa". ikim.gov.my. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
  3. ^ "Lema "budi bahasa"". kemendikdasmen.go.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
  4. ^ "Revolusi Mental Berawal dari Bahasa". nasional.kompas.com. Diakses tanggal 7 Des. 2025.

Lihat juga

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement