Siri’ na pacce
Siri’ na pacce adalah filsafat hidup masyarakat Bugis dan Makassar yang menekankan kehormatan dan solidaritas kemanusiaan. Kata Siri’ bermakna harga diri, martabat, dan rasa malu yang mulia, yang menjadi kompas moral agar seseorang bertindak jujur, bertanggung jawab, dan tidak merendahkan diri maupun orang lain. Sementara itu, na berarti dan, dan pacce (atau pesse) adalah empati mendalam terhadap penderitaan sesama, dorongan batin untuk ikut merasakan dan membantu tanpa pamrih. Sehingga secara keseluruhan, makna siri’ na pacce adalah prinsip hidup untuk menjaga kehormatan diri sekaligus memiliki kepekaan sosial dan rasa kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dapat disimpulkan bahwa prinsip ini merupakan suatu sistem nilai sosial, budaya dan kepribadian yang menggambarkan pranata pertahanan harga diri dan martabat manusia sebagai individu dan anggota masyarakat.[1]
Dalam pandangan filsafat, siri’ menjaga integritas individu, sedangkan pacce memastikan integritas itu tidak menjadi egoisme. Keduanya membentuk keseimbangan etis antara keteguhan prinsip dan kepekaan sosial. Seseorang yang memegang siri’ na pacce akan berani mempertahankan kebenaran, namun tetap berbelas kasih dan adil. Filsafat ini juga berfungsi sebagai perekat sosial: konflik dihindari karena melukai siri’, dan kepedulian tumbuh karena pacce. Sehingga budaya Siri Na pacce dalam kehidupan suku Bugis-Makassar menjadi salah satu faktor pendukung untuk mempertahankan nilai solidaritas kemanusiaan.[2][3]
Di tengah modernitas, prinsip siri’ na pacce ini tetap relevan sebagai landasan etika publik, mendorong kepemimpinan berintegritas, keadilan sosial, dan solidaritas, serta membentuk manusia yang bermartabat, berani, dan manusiawi. Nilai Siri' na Pacce di dalam Masyarakat Bugis-Makassar mengajarkan tentang moralitas kesusilaan yang berupa anjuran, larangan, hak dan kewajiban yang mendominasi tindakan manusia untuk menjaga serta mempertahankan kehormatannya.[4][5]
Sejarah Siri Na Pacce
Siri na pacce merupakan budaya yang telah diterapkan oleh suku Makassar sejak zaman dahulu. Suku Makassar yang mendiami sebagian wilayah Sulawesi Selatan merupakan penduduk asli yang sudah memiliki pranata budaya tersendiri, bahkan jauh sebelum lahir Kerajaan Gowa. Sejarah ini dapat diketahui dari tulisan lontara yang merupakan warisan budaya suku Bugis-Makassar. Walaupun sejarah suku Makassar mulai tercatat pada masa Karaeng Tumapakrisik Kallonna, namun budaya siri sendiri sudah menjadi adat istiadat dan falsafah hidup mereka sejak dahulu.[2]
Sejak masa penjajahan Belanda, budaya siri' ini sudah diterapkan, dimana perempuan yang belum menikah harus dikawal oleh pengawal kehormatan (palappi siri') apabila hendak bepergian. Palappi siri' ini siap siaga dengan senjata badiknya apabila ada yang hendak merendahkan orang yang dikawalnya, termasuk bila ada yang menatap gadis yang dikawalnya terlalu lama.[6]
Adapun pandangan suku Makassar tentang siri dapat kita lihat dari beberapa petuah-petuah yang berkaitan dengan siri. Selain dari itu salah satu petuah yang lain dari masyarakat suku Bugis-Makassar adalah ungkapan "Siritaji nakitau", yang artinya hanya karena siri maka kita dinamakan manusia. Maksud dari pepatah ini bahwa seseorang yang tidak mempunyai siri tidak layak disebut manusia, karena sikap orang yang tidak mempunyai siri' akan seperti perbuatan binatang yang tidak punya rasa malu.[2] Nilai budaya siri’na pacce, secara umum, merupakan sebuah bentuk penghayatan dari unsur budaya Provinsi Sulawesi Selatan, khususnya etnis Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja, di mana budaya siri’na pacce digunakan sebagai pedoman bagi etnis tersebut dalam menjalankan kehidupannya sehari – hari.[7]
Referensi
- ^ "Pengaruh Nilai Budaya Siri' Na Pacce dalam Pelayanan Publik di Kabupaten Bone". kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025. ;
- ^ a b c "Siri Na Pacce, Nilai Budaya dan Artinya dalam Masyarakat Bugis-Makassar". detik.com. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
- ^ "The Value of Siri'na Pacce as an Alternative to Settle Persecution". jurnal.unpad.ac.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
- ^ "EKSISTENSI NILAI BUDAYA SIRI' NA PACCE TERHADAP TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERDASARKAN ASAS LEGALITAS PADA MASYARAKAT BUGIS MAKASSAR". repository.ugm.ac.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
- ^ "Integrating Siri'na Pacce on Pancasila and Civic Education Subject in Elementary Schools". garuda.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
- ^ Mattalatta, Andi (2014). Meniti Siri' dan Harga diri. Jakarta: Khasanah Manusia Nusantaea. ISBN 9789799730503. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ "Buletin Siri'na Pacce 2024". sulsel.kemenkum.go.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
Lihat juga
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


