Lempar batu sembunyi tangan

Lempar batu sembunyi tangan menggambarkan tindakan seseorang yang melakukan kesalahan, kekacauan, atau provokasi, tetapi berusaha menutupi keterlibatannya. Dalam filsafat moral, peribahasa ini mengandung kritik terhadap perilaku tidak bertanggung jawab dan ketidakjujuran. Hal semacam ini merupakan fenomena manusia yang ingin memperoleh keuntungan atau melampiaskan niat buruk, namun tidak mau menerima konsekuensinya. Ungkapan lempar batu sembunyi tangan ini banyak dijumpai pada grup Whatsapp (WA) ataupun jenis media sosial yang lain untuk menggambarkan seseorang yang tidak bertanggung jawab dan menuduh orang lain atas kesalahannya, atau dengan kata lain, orang yang melakukan kesalahan tetapi pura-pura tidak mengetahuinya.[1]
Sembunyi tangan melambangkan upaya untuk menghindar dari tanggung jawab, lari dari konsekuensi, atau menyangkal perbuatannya, misalnya, setelah melempar batu, orang tersebut langsung menyembunyikan tangannya di balik punggung atau bersembunyi agar tidak ketahuan siapa yang melakukannya. Secara kiasan, ungkapan ini memiliki arti:
- 1. Tidak bertanggung jawab atas perbuatan sendiri.
- 2. Pengecut karena tidak berani mengakui kesalahan.
- 3. Mengkhianati atau merugikan orang lain lalu bersikap polos atau justru menuduh orang lain.
- 4. Melakukan sesuatu yang menimbulkan masalah, lalu berdiam diri seolah-olah dia tidak tahu menahu.[2]
Secara etika, ungkapan ini mengajarkan pentingnya akuntabilitas moral. Tindakan tanpa keberanian untuk mengakui kesalahan dianggap sebagai bentuk ketidakmatangan batin dan kelemahan karakter. Dalam perspektif filsafat sosial, peribahasa ini juga mencerminkan dinamika masyarakat: sering kali kerusakan muncul bukan karena kejahatan besar, melainkan karena perilaku kecil yang dilakukan diam-diam tanpa tanggung jawab. Ungkapan dan fenomena ini memberikan nasihat kepada kita semua untuk menjadi orang yang bertanggung jawab atas segala perbuatan yang telah dilakukan. Baik kecil maupun besar, disengaja maupun tidak disengaja, setiap perbuatan yang telah dilakukan harus dipertanggungjawabkan.[3]
Ajaran kearifan lokal Nusantara memandang perilaku semacam itu sebagai ketidakselarasan antara kata, niat, dan tindakan. Filsafat ini menekankan pentingnya integritas, keberanian mengakui kesalahan, serta tanggung jawab sebagai dasar hubungan manusia yang harmonis.[4]
Etika dalam Media Sosial
Layaknya hidup bermasyarakat, kita semua semestinya selalu mengedepankan etika ketika berkomunikasi di Whatsapp-group (WAG) dan media sosial pada umumnya. Dalam berkomunikasi di WAG, bagaimanapun diperlukan rasa hormat, kejujuran, dan penuh pertimbangan. Saat ber media sosial kita harus selalu ingat bahwa, sebuah WAG terdiri dari berbagai orang dengan latar belakang usia, jenis kelamin, sifat, dan pekerjaan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dengan menghormati orang-orang di grup WA, maka hal ini berarti menghormati diri sendiri agar orang lain tidak menganggap kita sebagai pengganggu.
Sebagai pedoman etika sederhana dalam berkomunikasi lewat media sosial, berikut tiga poin penting, antara lain:[5]
- Pertama, kirimkan pesan yang berguna dan jangan tergoda untuk membagikan hal-hal yang kita sukai saja di grup WA. Kalau memang benar-benar merasa perlu untuk membagikannya, maka cukup dikirim lewat japri ke 1-2 orang yang benar-benar dikenal, tanpa menggunakan jalur WAG. Karena bagaimanapun pesan yang dikirim ke grup harus ditujukan untuk kepentingan umum - bukan pribadi.
- Kedua, perhatikan waktu mengirim berita. Ingat, meskipun anggota di WAG adalah teman-teman semasa sekolah dulu, bukan berarti bisa nge-chat mereka di WAG seenaknya. Bagaimanam pun juga, mereka mempunyai aktivitas mereka masing-masing.
- Ketiga, sebelum mengirim pesan, ingatlah akan tujuan mengirimkan pesan tersebut. Sesuaikan pesan yang dikirimkan dengan tujuan dibuatnya WAG tersebut. Karena tidak semua orang suka dikirimi spam oleh pesan yang tidak terkait dengan mereka. Ketika pesan terkirim, jangan kemudian keluar dari topik bahasan ketika berbicara di WAG. Ingatlah bahwa WAG bukanlah akun media sosial pribadi, seperti Instagram atau Twitter.
- Keempat, bedakan antara cara mengirimkan berita pada media sosial dengan berita yang disampaikan langsung secara lisan dalam dunia nyata. Karena berita dalam dunia nyata dapat dengan mudah dikenali melalui ekspresi bahasa tubuh bahwa berita itu hanya candaan atau ejekan kecil saja. Oleh karena itu penggunaan emotikon yang menyertai berita akan dapat membantu menampilkan berita tersebut sebagai sebuah candaan atau anggapan belaka bukan sebagai hal yang nyata (pernyataan yang betul dan serius).
- Kelima, kita sedang hidup di masa yang penuh dengan kejutan. Teknologi berkembang begitu cepat hingga terkadang kita merasa belum sempat memahami satu inovasi, sudah muncul teknologi baru lainnya. Salah satu bentuk teknologi media sosial baru yang paling mencolok adalah Artificial Intelligence atau AI, oleh karena itu kita harus berhati-hati dan mencari cara baru dalam berkomunikasi di dunia maya dan dunia di Masa Depan Yang Akan Tergantikan.[6]
Referensi
- ^ "Komunikasi Lempar Batu Sembunyi Tangan". .kompasiana.com. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
- ^ "Lempar Batu Sembunyi Tangan". rri.co.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
- ^ "Lempar Batu Sembunyi Tangan". poskota.co.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
- ^ "Tangan sebagai Metafora Realitas Kehidupan dalam Lempar batu ..." journal.isi.ac.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
- ^ "Etika Saat Ber-Whatsapp, Perlu Ditegakkan!". .kompasiana.com. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
- ^ "Masa Depan Yang Akan Tergantikan". .kompasiana.com. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
Lihat juga
Pranala luar
- Klarifikasi Tuduhan “Lempar Batu Sembunyi Tangan” Miris Dan Mengerikan Oknum ASN Jadi “TUMBAL BONEKA DRAMA", metrotimes.news
- Arti Lempar Batu Sembunyi Tangan, Pahami Ciri-cirinya, fenomena.id
- https://uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/lempar-batu-sembunyi-dalang--mencari-aktor-intelektual-inseiden-kerusuhan
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


