Astha Brata

Astha Brata adalah ajaran kepemimpinan Jawa kuno yang menggambarkan delapan sifat sebagai teladan perilaku dari seorang pemimpin yang ideal. Astha brata (atau Astabrata dan hastabrata, menurut KBBI) berasal dari bahasa Sanskerta: Astha = delapan & Brata = laku, pedoman, ajaran, atau tuntunan hidup, sehingga arti Astabrata ini adalah “delapan ajaran” atau “delapan pedoman laku”, yaitu sifat keteladanan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Kedelapan ajaran ini mengambil teladan dari delapan unsur alam: bumi, matahari, api, samudra, langit, angin, bulan, dan bintang, yang masing-masing melambangkan karakter kepemimpinan ideal. Ajaran Astabrata ini diilhami dari kisah dalam agama Hindu dan merupakan sebuah wahyu Raden Arjuna dari Makutha Rama (negara Ayodya) yang berisi ajaran Hasta brata ini, yaitu wahyu kepemimpinan yang mengambil contoh sifat 8 Dewa dan sifat 8 unsur alam.[1][2][3]
Kedelapan unsur alam dari dewa-dewa Hindu yang melambangkan karakter kepemimpinan tersebut adalah:
- Batara Wisnu - Bantala (Bumi) yang bersifat sabar dan mau mendengarkan,
- Batara Bayu - Maruta (Angin) yang mempunyai karakteristik merata dan adil,
- Batara Baruna - Samodra (Samudra) / (Air) yang berkarakter luas dan memberikan kestabilan,
- Bethari Ratih - Candra (Bulan) yang menentramkan dengan kelembutan dan ketenangan,
- Bathara Surya - Surya (Matahari) yang memberi kehidupan dan energi
- Bathara Indra - Akasa (Langit) yang melindungi,
- Bhatara Brahma - Dahana (Api) yang penuh keberanian dan tegas, dan
- Bhatara Ismaya - Kartika (Bintang) yang bersifat memberi petunjuk.
Dengan meneladani delapan sifat ini, seorang pemimpin diharapkan mampu memimpin dengan bijaksana, adil, dan berkarakter luhur.
Serat Rama
Astabrata ini merujuk pada buku karangan Yasadipura I (1919) dalam Serat Rama, sebagaimana dikutip oleh Soemarsaid Moertono (2018) dalam Negara dan Kekuasaan di Jawa Abad XVI – XIX, yang menuliskan ujaran petatah-petitih Rama kepada raja baru, Wibisana. Ditulis dalam bentuk rupa tembang berbahasa Jawa Kuno, syair ini diduga dibuat dalam periode Mataram Hindu. Lebih tepatnya di masa kekuasaan Dyah Balitung, sekitar 870 M. Kakawin ini sering disebut oleh banyak orang sebagai adikakawin. Selain dianggap sebagai kakawin pertama, terpanjang, dan juga terindah dengan gaya bahasa dari periode Hindu-Jawa.[4]
Berkisah perihal prahara cinta yang bertepuk sebelah tangan dari seorang Rahwana (Dasamuka) kepada Dewi Sinta, istri Sri Rama (seorang raja dari negeri adidaya bernama Ayodya). Cinta yang bertepuk sebelah tangan karena dedikasi cinta Sinta kepada Rama ini bermuara pada peperangan besar dan kematian Rahwana. Di ujung kisah, Rama, yang merupakan titisan Dewa Wisnu, menasihati Arya Wibisana, adik Rahwana, supaya mau menggantikan posisi kakaknya memerintah negeri Alengka.
Dalam konteks inilah, Rama menjabarkan konsep kepemimpinan kepada Wibisana, calon raja baru di Alengka itu, setelah merasa putus asa menyaksikan keluarga besarnya gugur di medan peperangan. Ia dirundung kemalangan dan merasa diri sebatang kara. Melihat itu Rama memberikan ajaran kepemimpinan yang disebut Astabrata.
Seperti telah ditulis dalam artikel berjudul Etika Kepemimpinan Jawa: Negara dan Kekuasaan di Abad XVI – XIX di atas, Astabrata ini merupakan ajaran tentang darma atau kewajiban ratu gung binathara. Delapan laku, atau delapan sifat atau watak dalam ajaran ini, merupakan bentuk kewajiban seorang raja atau Gusti untuk menghadapi rakyat atau kawula-nya secara bijaksana.
Kembali merujuk pada paparan Yasadipura dalam naskah Serat Rama itu, disebutkan bahwa: [4]
“Adapun tingkah laku Batara Indra; ialah yang dengan bau-bauan menghujani bumi ini.
Derma-dananya menghambur tersebar merata ke seluruh dunia kepada semua hambanya baik yang besar maupun yang kecil tanpa membeda-bedakan orang. Itulah tingkah laku Indra”
Maka menurut pandangan dalam naskah ini, seorang raja haruslah memiliki kedermawanan kepada siapapun, tanpa pandang bulu dan tak membedakan sikap baik kepada si kaya maupun si miskin. Inilah kebijaksanaan yang pertama dari dewa Indra. Kebijaksanaan yang kedua berasal dari dewa Surya, dan diteruskan sampai pada kebijaksanaan yang ke delapan.
Catatan kaki
- ^ "Hastabrata: Filosofi Kepemimpinan Kompleks dan Ideal". psikologi.ugm.ac.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
- ^ "Astabrata, Sumber Nilai-Nilai Kepemimpinan Jawa".
- ^ "FALSAFAH ASTA BRATA UNTUK PEMIMPIN BANGSA & NEGARA". CORPS ALUMNI BUMISERAM MAKASSARA (CABM) (dalam bahasa American English). 2020-05-11. Diakses tanggal 2021-07-13.
- ^ a b "Astabrata, Sumber Nilai-Nilai Kepemimpinan Jawa". indonesia.go.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
Lihat juga
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


