Sangkan paraning dumadi

Patung Ranggawarsita sebagai memorial dari karya-karyanya, termasuk kompilasi dari prinsip ajaran Sangkan paraning dumadi yang berasal dari Sunan Kalijaga.

Sangkan paraning dumadi (aksara Jawa: ꦱꦁꦏꦤ꧀ꦥꦫꦤꦶꦁꦣꦸꦩꦣꦶ) merupakan pengertian atau ajaran dalam falsafah Jawa untuk memahami dari mana seseorang berasal (sangkan), menyadari tentang tujuan hidupnya (paraning), dan mengamalkan serta mengisi hidup berdasarkan jati dirinya (dumadi). Sangkan Paraning Dumadi ini mengemukakan prinsip dari siklus kehidupan manusia mulai dari lahir hingga kembali ke Sang Maha Pencipta. Dengan simbol “Sangkan paraning dumadi” ini, manusia akan lebih memahami tentang spiritualitasnya sendiri untuk mendapatkan kesempurnaan hubungan manusia dengan Penciptanya. Simbol spiritualitas ini mengajak kita untuk merenungkan mengenai asal muasal dan tujuan akhir kita sebagai manusia sehingga akan bermakna jika nilai-nilainya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah perkembangan dunia digital dan ilmu yang semakin kompleks saat ini terkadang kita sering lupa atas makna hidup kita sebagai manusia (knowing the purpose of life) dan bagaimana mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat untuk lingkungan dan masyarakat di sekitar kita.[1]

Pemahaman umum

Setiap manusia pada hakikatnya adalah seorang peziarah yang sedang menempuh perjalanan panjang menuju kesadaran hakiki. Ia datang dari suatu sumber yang suci, hidup di dunia untuk menjalankan amal kebajikan, lalu perlahan-lahan akan kembali kepada asalnya. Dalam hal ini, kesadaran tentang perjalanan itu disebut Sangkan Paraning Dumadi, yang sekali lagi, berarti asal dan tujuan dari penciptaan kita. Kesadaran ini tidak hanya berbicara tentang kehidupan setelah mati, melainkan tentang bagaimana manusia seharusnya hidup di dunia dengan penuh berkah dan manfaat. Konsep ini mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar tentang amal sholeh, tetapi juga tentang memahami arah dari setiap langkah yang diambil. [2]

Dalam Islam, konsep "Sangkan paraning dumadi (asal-usul dan tujuan hidup)" terkait erat dengan ajaran tanazzul (turun) dari alam ilahi, menjalankan perilaku sebagai Insan Kamil (manusia paripurna) serta tujuan akhir kembali kepada Allah. Hal ini merupakan cerminan dari perspektif Islam yang melihat kehidupan sebagai perjalanan dari Tuhan dan kembali kepada-Nya, sebagaimana tercermin dalam surat Al-Baqarah ayat 156: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali). [3][4]

Makna hidup dari Sangkan paraning dumadi

Dalam konsep 'Sangkan Paraning Dumadi' (SPD) , terdapat landasan filosofis yang kaya akan makna hidup. Manusia sebagai makhluk yang mendiami dunia ini memiliki "kewajiban" untuk menjalani kehidupan sesuai dengan norma kehidupan yang berlaku. Bagi kebanyakan masyarakat, kehidupan dianggap sebagai perjalanan yang mengajarkan pentingnya memahami asal-usul, tujuan, dan akhir dari kehidupan. Jika seseorang memiliki pemahaman yang benar, maka mereka akan dapat hidup secara harmonis di dunia dan akherat. Oleh karena itu, perjalanan hidup manusia dalam pandangan ini disebut sebagai "laku" atau "lakoning urip kanthi laku", bahwa hidup ini harus ditempuh melalui laku batin, welas asih, kesederhanaan, dan karya budaya yang membawa kebaikan bagi masyarakat, seperti yang tertera dan dituliskan dalam naskah Serat Centhini (yang disusun pada awal abad ke-19 atas perintah Sunan Pakubuwana V).[5]

Raden Ngabehi Ranggawarsita, seorang pujangga dari keraton Surakarta dalam bukunya, Serat Sabdajati, juga memberikan pepeling (nilai moral) kepada setiap umat Islam dalam menjalankan praktik dan mewujudkan Insan Kamil (manusia seutuhnya) tersebut. Berdasarkan pemikiran dan ajaran Sunan Kalijaga, dia menggambarkan bahwa hanya melalui SPD manusia akan menemukan rahayu yang dimaknai sebagai kebahagiaan sejati. Sebab, orang yang telah melakukan prinsip ini akan menyatu dengan Sang Pencipta dan mendapatkan kebahagiaan lahir dan bathin.[6]

Dalam konteks ini, prinsip SPD bukan hanya tentang pencarian makna hidup pribadi, tetapi juga tentang bagaimana pemahaman akan makna tersebut dalam membentuk kesejahteraan komunal dan harmoni dalam masyarakat. SPD mengingatkan kita bahwa dalam setiap langkah perjalanan, ada jejak kehidupan yang penuh arti yang membimbing kita menuju makna yang lebih dalam. Untuk itu, marilah kita terus memadukan nilai-nilai SPD dengan kehidupan sehari-hari kita. Dengan demikian, kita dapat membawa keindahan makna hidup dan kesejahteraan psikologis tidak hanya bagi diri kita sendiri, tetapi juga bagi dunia yang kita nikmati bersama ini.[7]

Sumbu Filosofi Yogyakarta

Dalam mewujudkan filosofi tersebut, Keraton Yogyakarta sebagai warisan budaya yang bersejarah memberikan contoh dari SPD lewat Sumbu Filosofis Yogyakarta. Sumbu ini dinyatakan dalam bentuk garis dengan tiga buah titik: Panggung KrapyakKraton Yogyakarta - dan Tugu Pal Putih yang memuat makna mendalam tentang perjalanan hidup manusia menurut kosmologi Jawa. Dari Panggung Krapyak, yang melambangkan asal mula kehidupan dan dunia kemanusiaan, perjalanan berlanjut menuju arah Keraton sebagai pusat kekuasaan, tatanan, dan keseimbangan spiritual. Keraton dipandang sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Di ujung utara berdiri Tugu Pal Putih, yang menandai tujuan akhir: kesucian, pencerahan, dan kesempurnaan hidup.[8][9]

Sumbu ini tidak hanya mengandung makna filosofis, tetapi juga menjadi dasar penataan ruang Kota Yogyakarta. Jalan Malioboro, yang berada tepat di tengah jalur ini, menjadi koridor budaya dan ekonomi yang mencerminkan dinamika antara tradisi dan modernitas. Pada 2023, UNESCO menetapkan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Dunia, menegaskan pentingnya nilai kosmologi Jawa dalam warisan global. Melalui Sumbu Filosofi, Yogyakarta memperlihatkan bagaimana tata ruang kota Jogja dapat merefleksikan pandangan hidup, etika, serta hubungan manusia dengan alam semesta secara harmonis.

Pemahaman Konsep lewat Kesenian

Untuk memahami ajaran hakikat yang melekat dalam filsafat "Sangkan Paraning Dumadi", Soimah, seorang pesinden serba bisa menyajikannya lewat petikan sebuah kidung (lagu/tembang) "Rumekso Ing Wengi" yang ditulis oleh Sunan Kalijaga. Dalam sebuah pagelaran musik di dusun Wonorejo desa Hargobinangun, Pakem, Sleman dan di halaman depan Oemah Petroek, dia melantunkan syair dari kidung yang berisi filsafah tersebut dengan suara yang mengesankan:

Ana kidung rumekso ing wengi/Teguh hayu luputa ing lara/Luputa bilahi kabeh/Jin setan datan purun/Paneluhan tan ana wani/Miwah panggawe ala/Gunaning wong luput/Geni atemahan tirta/Maling adoh tan ana ngarah ing mami/Guna duduk pan sirna.[10]

Seni pertunjukan yang serupa diselenggarakan dalam bentuk tari teatrikal bertajuk 'Sangkan Paraning Dumadi' dan berlangsung di Panggung Taman Tirtanadi Blora.[11] Sebuah pagelaran lain juga dibawakan oleh komunitas peduli lingkungan dan kebudayaan di Desa (Balkondes) Ngargogondo Kecamatan Borobudur, pada tanggal 22 Desember 2023, untuk menggambarkan sangkan paraning dumadi lewat 11 rentetan tembang: Maskumambang, Mijil, Sinom, ... Megatruh, dan Pucung.[12]

Tembang Maskumambang menggambarkan fase atau tahapan kehidupan manusia ketika berada dalam kandungan ibu. Kata "maskumambang" terdiri dari dua kata, yaitu "emas" dan "kumambang" berarti emas terapung. Tembang ini menceritakan tahap pertama dalam perjalanan hidup seorang manusia yang melambangkan anak sebelum dilahirkan, masih di dalam kandungan. Tembang ini banyak berisi nasihat kepada seorang anak, supaya nantinya selalu berbakti kepada orang tuanya ketika dia sudah lahir.

Tembang Mijil yang berarti "kelahiran manusia", merupakan bagian dari kehidupan alam semesta. Mijil berarti keluar. Tembang Mijil ini bermakna ketika anak lahir ke dunia. Tembang Mijil memberi ajaran dan nasihat kepada manusia supaya selalu kuat dan tabah dalam menjalani kehidupan ke masa depannya.

Kehidupan manusia di masa kanak-kanak digambarkan dalam tembang Sinom. Kata "sinom" artinya daun yang masih muda. Tembang Sinom juga bisa diartikan "isih enom" (masih muda). Tembang ini melukiskan masa muda yang indah dan masa yang penuh dengan harapan dan angan-angan. Tembang Sinom berisi tentang nasihat, rasa persahabatan dan keramahtamahan.

Kemudian tembang Kinanthi berasal dari kata "kanthi" yang berarti menuntun. Setiap manusia membutuhkan bimbingan atau tuntunan. Tembang ini mengisahkan kehidupan seorang anak yang masih membutuhkan tuntunan agar bisa menuju jalan kehidupan yang benar.

Tembang Asmarandana berasal dari kata "asmara" dan "dahana". Artinya, "api asmara" atau cinta kasih. Tembang ini menceritakan perjalanan hidup manusia dalam tahap memadu cinta-kasih dengan pasangan hidupnya. Tembang Asmarandana juga menggambarkan perasaan hati yang bahagia sekaligus pilu dan sedih karena dilanda asmara.

Tembang Gambuh berarti "cocok" atau jodoh. Tembang ini menggambarkan seseorang yang telah berhasil menemukan pasangan hidupnya. Tembang ini digunakan untuk menyampaikan cerita dan nasihat dalam kehidupan seperti kebersamaan, rasa kasih sayang kekeluargaan dan toleransi.

Tembang Dhandhanggula berasal dari kata "dhangdhang" atau berharap. Namun, ada juga yang menganggapnya berasal dari kata "gegadhangan" yang artinya harapan, angan-angan atau cita-cita. Sedangkan kata "gula" berati manis, bahagia atau indah. Tembang ini bermakna berharap sesuatu yang indah atau yang manis. Tembang ini digunakan sebagai pembuka untuk menjabarkan berbagai ajaran kebaikan, ungkapan rasa cinta dan kebahagiaan.

Tembang Durma menggambarkan sifat-sifat berontak, amarah dan nafsu berperang. Tembang ini menunjukkan watak manusia yang angkuh, sombong, serakah, mudah emosi, suka mengumbar hawa nafsu dan berbuat semena-mena terhadap sesama. Dalam istilah Jawa, keadaan seperti itu disebut dengan "munduring tata krama (durma)" yang berarti hilangnya atau berkurangnya tata krama. Tembang ini berisi nasihat supaya berhati-hati dalam meniti kehidupan.

Tembang Pangkur dari kata "mungkur" yang berarti undur diri. Tembang ini menggambarkan manusia yang sudah tua dan telah mulai mengalami banyak kemunduran fisik. Badannya sudah mulai lemah, tidak sekuat ketika usia muda. Tembang ini digunakan untuk memberi nasihat yang disampaikan dengan rasa kasih sayang.

Untuk tembang Megatruh dari kata "megat" yang artinya pisah dan "ruh" yang berarti nyawa. Megatruh bisa diartikan sebagai berpisahnya ruh dari tubuh manusia. Makna yang terkandung dalam tembang ini, ketika manusia mengalami kematian. Tembang ini berisi nasihat agar setiap orang mempersiapkan diri menuju akhirat yang kekal abadi. Biasanya tembang ini digunakan untuk menggambarkan duka-cita, rasa penyesalan atau kesedihan.

Tembang Pucung atau Pocong sering dimaknai sebagai orang meninggal yang ada di alam kubur. Tembang ini diibaratkan tahapan terakhir perjalanan hidup manusia, yaitu berada di alam baka. Tembang ini menceritakan hal-hal yang lucu untuk menghibur hati. Walaupun sifatnya jenaka, isi dari tembang Pucung mengandung nasihat yang bijak untuk menyelaraskan kehidupan antara manusia, lingkungan, alam dan dengan Sang Pencipta. Semua tahapan dari kehidupan yang melambangkan perjalanan hidup manusia dinyatakan dalam sebelas rentetan tembang ini: Maskumambang, Mijil, Sinom, ... Megatruh, dan Pucung. Rangkaian tembang-tembang ini merupakan karya adiluhung dengan kemasan dan ekspresi yang tidak lepas dari akar budaya yang ada, dalam rangka melestarikan kearifan lokal.[12]

Referensi

  1. ^ "Konsep Sangkan Paraning Dumadi sebagai Falsafah di Era Kontemporer". panggungharjo.desa.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  2. ^ "Ilmu Sangkan Paraning Dumadi "Sanggar Kencono."". catalogue.nla.gov.au. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  3. ^ "SANGKAN PARANING DUMADI: Eksplorasi Sufistik, Konsep Mengenal Diri sebagai Kunci Swarga Miftahul Djanati". jurnal.iainponorogo.ac.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  4. ^ "SANGKAN PARANING DUMADI: Eksplorasi Sufistik, Kunci Swarga Miftahul Djanati". academia.edu. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  5. ^ "Melihat makna hidup dibalik Sangkan Paraning Dumadi". kompasiana.com. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  6. ^ "Sangkan Paraning Dumadi as Salik Practice in R.Ng. Ronggowarsita's Sabdajati Book" (PDF). researchgate.net. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  7. ^ "View of Sangkan Paraning Dumadi". jurnalfahum.uinsa.ac.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  8. ^ "Mendukung Sumbu Filosofi Yogyakarta Menuju Warisan Dunia". kratonkec.jogjakota.go.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  9. ^ "Philosophic axis 'Sangkan Paraning Paraning Dumadi'". researchgate.net. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  10. ^ ""Sangkan Paraning" Soimah". entertainment.kompas.com. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  11. ^ "Tari Teatrikal Sangkan Paraning Dumadi Kaya Akan Falsafah Jawa". detik.com. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  12. ^ a b "Pagelaran 'Sangkan Paraning Dumadi', Gambaran Perjalanan Hidup Manusia". beritamagelang.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.

Lihat pula

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement