Lokomotif JNR DD10
| DD10 | |||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Lokomotif DD10 bernomor induk DD10-1 pada tahun 1935 | |||||||||||||||||
| |||||||||||||||||
| |||||||||||||||||
| |||||||||||||||||
Lokomotif JNR DD10 (国鉄DD10) adalah lokomotif diesel elektrik bergandar Bo'-2-Bo' yang pernah dioperasikan oleh Japan National Railways saat masih bernama Kementerian Perkeretaapian Jepang sejak tahun 1935 hingga 1947.
Klasifikasi
Klasifikasi DD10 untuk jenis lokomotif ini dijelaskan di bawah ini.
- D: Lokomotif diesel
- D: Empat poros penggerak
- 10: Lokomotif dengan kecepatan maksimum di bawah 85 km/jam
Ikhtisar
Dengan semakin membaiknya kapasitas produksi industri dan teknologi mesin diesel di Jepang pada tahun 1930-an, Jepang memutuskan untuk membuat purwarupa lokomotif diesel yang dapat digunakan untuk langsir atau menarik kereta penumpang berukuran kecil.
Secara teknis, lokomotif ini dikembangkan berdasarkan riset dan pengalaman dari lokomotif diesel pertama di Jepang yang didatangkan dari Jerman, yaitu lokomotif seri DC10 dan DC11.
Penggunaan
Setelah diproduksi, lokomotif ini ditempatkan di Depo Lokomotif Oyama dan berfungsi sebagai kendaraan uji coba sekaligus digunakan untuk langsir di Stasiun Oyama. Kinerjanya dikatakan sebanding dengan lokomotif uap tipe 2120 yang umum digunakan sebagai lokomotif langsir pada masa itu. Namun lokomotif ini memiliki masalah serius, seperti kebisingan dan getaran yang berlebihan saat beroperasi, bahkan mengalami patah poros engkol pada mesin.
Tak lama setelah itu, lokomotif ini tidak dapat digunakan lagi akibat pembatasan bahan bakar minyak yang diberlakukan oleh sistem perang. Lokomotif ini kemudian tidak terpakai hingga akhirnya diafkirkan pada September 1947 (showa 22) setelah berakhirnya perang. Lokomotif ini disimpan di Pabrik Omiya selama bertahun-tahun sebelum akhirnya dirucat sekitar bulan Februari 1965 dan saat ini sudah tidak ada lagi.
Komponen
Bodi lokomotif ini memiliki struktur kotak yang terbuat dari besi welded. Seperti lokomotif lainnya pada masa tersebut, akses masuk ke dalam kereta dilakukan melalui pintu di bagian ujung lokomotif, terhubung langsung dengan kabin masinis. Seluruh bodi lokomotif dicat dengan warna anggur nomor 1 (grape-colored No. 1).
Sistem transmisi daya yang digunakan adalah sistem listrik, dengan melakukan trial dan error pada lokomotif DC11. Meskipun lokomotif DC10 dan DC11 menggunakan transmisi roda gigi dengan struktur yang sederhana, transmisi berdaya tinggi sangat rentan mengalami masalah seperti patahnya roda gigi dan keausan yang tidak merata. Oleh karena itu, lokomotif jenis baru ini memilih sistem listrik yang dianggap lebih andal dari sistem mekanis.
Untuk mengurangi beban gandar, lokomotif ini menggunakan dua set bogie tiga gandar. Gandar di bagian tengah berfungsi sebagai gandar utama dan menggunakan roda berdiameter kecil. Sementara itu, motor seri DC dengan daya terukur 100 kW dipasang secara menggantung pada dua gandar di kedua ujung bogie. Desain bogie ini nantinya digunakan kembali secara hampir identik saat modifikasi ED18 generasi kedua dilakukan. Hingga tahun 2017, unit ED18 2 masih dilestarikan dan dapat dilihat.
Komponen kelistrikan lokomotif ini diproduksi bersama oleh Shibaura Engineering Works dan Hitachi, dua perusahaan yang telah memiliki rekam jejak dalam memasok kebutuhan Kereta Api Manchuria Selatan.[1] Sementara itu, bodi dan perakitan lokomotif dilakukan oleh Kawasaki Heavy Industries. Lokomotif ini hanya diproduksi sebanyak satu unit pada tahun 1935 (showa 10).
Referensi
- ^ Yamashita, Zentaro (1937). "Internal Combustion Electric Car 2. Diesel-Electric Locomotive Class DD10 of the Ministry of Railways". Jurnal IEEJ. 57 (585). Institute of Electrical Engineers of Japan: 285–302. doi:10.11526/ieejjournal1888.57.285.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


