Letusan Gunung Semeru 2025

Letusan Gunung Semeru 2025
Abu dari letusan
Gunung apiGunung Semeru
Tanggal mulai19 November 2025
Jam mulai14:13 WIB
LokasiKabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia
08°06′28″S 112°55′19″E / 8.10778°S 112.92194°E / -8.10778; 112.92194
VEI2–3–4[1][2]
Dampak3 luka-luka
Peta
Lokasi gunung Semeru

Pada sore hari tanggal 19 November 2025, Gunung Semeru, yang terletak di antara Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia mengalami letusan, menghasilkan awan panas piroklastik dan lahar yang menuruni lereng gunung dan aliran-aliran sungai lahar, yang berdampak pada beberapa desa dan pemukiman warga di Kecamatan Pronojiwo dan Kecamatan Candipuro.[3][4] Aktivitas vulkanik terus berlangsung hingga memasuki tahun 2026.

Latar belakang

Geografi dan iklim

Gunung Semeru atau Gunung Meru adalah gunung berapi kerucut di Jawa Timur, Indonesia, sekaligus gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan puncak Mahameru setinggi 3.676 mdpl (meter di atas permukaan laut).[5] Gunung ini merupakan bagian dari jaringan gunung api di Busur Sunda yang terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Sunda,[6] dan merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung Kerinci dan Gunung Rinjani. Kawahnya dikenal dengan nama Jonggring Saloko.

Secara administratif, Gunung Semeru termasuk wilayah Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, terletak pada koordinat 8°06' LS dan 112°55' BT. Gunung ini berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru seluas 50.273,3 hektar, yang juga mencakup Gunung Bromo (2.392 mdpl), Gunung Batok (2.470 mdpl), Gunung Kursi (2.581 mdpl), Gunung Watangan (2.662 mdpl), dan Gunung Widodaren (2.650 mdpl), serta empat danau yaitu Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, dan Ranu Darungan.

Iklim di kawasan ini termasuk tipe B (Schmidt-Ferguson) dengan curah hujan 927-5.498 mm per tahun. Suhu di puncak berkisar 0-4°C, sementara suhu rata-rata 3-8°C pada malam hari dan 15-21°C pada siang hari.

Riwayat letusan

Catatan letusan pertama tercatat pada 8 November 1818, dan sepanjang abad ke-19 terjadi puluhan kali letusan. Letusan signifikan terjadi pada 1941–1942 (material letusan hingga ketinggian 1.400-1.775 m), 1977 dengan APG (Awan panas guguran) sejauh 10 km dengan volume 6,4 juta m³), 1994 (7 korban jiwa), dan terakhir kali yang paling mematikan dan destruktif pada 4 Desember 2021.

Kronologi letusan

Pra-letusan

Menjelang erupsi besar pada sore hari, aktivitas vulkanik terus meningkat. Letusan-letusan kecil tercatat sudah terjadi tiga kali berturut-turut sejak pagi, dengan tinggi letusan mencapai 600 meter di atas puncak. Erupsi pertama hari itu terjadi pukul 04:10 WIB (Waktu Indonesia Barat) dengan kolom abu setinggi 500 meter, disusul pukul 05:09 WIB dan pukul 06:05 WIB.

13:00–15:37 WIB: Letusan

Kronologi erupsi besar dimulai pada pukul 13:00 WIB, ketika di puncak hingga lereng Semeru terjadi hujan dengan intensitas sedang dan gunung tertutup kabut. Pukul 14:13 WIB, terpantau terjadinya guguran lava/awan panas guguran yang terekam di seismogram pada PPGA (Pos Pantau Gunung Api) Gunung Sawur, dengan amplitudo maksimal 25 mm. Pukul 14:25 WIB, guguran lava/awan panas guguran terpantau di CCTV Pos Curah Koboan dengan jarak luncur mencapai 4 km dari puncak Semeru. Pukul 14:35 WIB, awan panas guguran masih terekam dengan amplitudo maksimal 25 mm dengan jarak luncur mencapai 5 km. Pukul 15:37 WIB, awan panas guguran terpantau mengalami kenaikan dengan amplitudo maksimum 38 mm dengan jarak luncuran mencapai 5,5 km disertai gempa.[7][8][9]

16:00–17:00 WIB: Puncak aktivitas letusan dan kenaikan status level

Dalam waktu hanya satu jam, status gunung tertinggi di Pulau Jawa ini naik dari Waspada (Level II/2) menjadi Siaga (Level III/3), lalu ke Awas (Level IV/4), level status tertinggi, pada pukul 17:00 WIB. Puncak aktivitas terjadi pada masa ini, ketika Gunung Semeru meletus dahsyat dengan kolom abu setinggi 2 kilometer di atas puncak dan jarak luncuran awan panas melebihi 14 kilometer. Material panas juga sampai kawasan Jembatan Gladak Perak, salah satu jalur vital menuju lereng gunung, mengakibatkan penutupan akses jalan melalui jembatan ini.[7][8][9]

Letusan tercatat memiliki amplitudo maksimum 45 mm dengan durasi panjang mencapai 14.283 detik (sekitar 4 jam). Luncuran material awan panas mencapai lebih dari 13 kilometer mengarah ke tenggara-selatan, menuju Besuk Kobokan. Detik pukul 18:11 WIB, erupsi berakhir, tapi status Awas tetap diberlakukan. Media Indonesia Bupati Lumajang, Indah Amperawati menyampaikan bahwa kondisi gunung saat ini masih harus diawasi ketat. "Erupsi memang sudah berhenti, tetapi status awas tetap kita pertahankan demi keselamatan warga. Potensi aktivitas susulan masih bisa terjadi, sehingga kewaspadaan tidak boleh menurun."[8]

Pasca-letusan: Aktivitas vulkanik masih berlanjut

Aktivitas vulkanik terus berlanjut pasca-erupsi besar. Pada aktivitas kegempaan, Gunung Semeru terekam 157 kali gempa letusan atau guguran dengan amplitudo 10–22 mm dan durasi 58–185 detik. Gunung Semeru juga tercatat mengalami 17 kali gempa guguran, 19 kali gempa hembusan, satu gempa vulkanik dalam, enam gempa tektonik jauh, serta satu gempa getaran banjir dengan amplitudo mencapai 43 mm berdurasi 6.499 detik. Badan Geologi menegaskan bahwa masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 20 kilometer dari puncak.[10]

Kepala Tim Mitigasi Gunung Api Badan Geologi, Heruningtyas mengatakan sekitar pukul 10.50 WIB, banjir lahar dingin akibat letusan terus meluas, lahar dingin tersebut sudah mencapai Gladak Perak yang jaraknya 13 kilometer dari puncak gunung. Banjir lahar dingin tersebut terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi-sedang di sekitar kawasan Semeru.[11]

Dampak

Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana, mengamati abu dari letusan Gunung Semeru

Menurut BPBD Jawa Timur, per tanggal 20 November, belum tercatat adanya korban jiwa akibat letusan ini. Tiga orang dilaporkan mengalami luka bakar akibat terjebak saat melintasi kawasan terdampak di sekitar Jembatan Gladak Perak.[12] Dua diantaranya merupakan sepasang suami istri asal Kabupaten Kediri dan satu lainnya merupakan seorang warga Dusun Umbulan Sumbersari. Mereka yakni sepasang suami istri Haryono (48) dan Normawati (43), yang merupakan warga Desa Maron, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri. Keduanya juga mengalami trauma inhalasi, yakni cedera pada saluran pernapasan akibat terpapar udara panas dan debu vulkanik saat awan panas meluncur di sekitar jembatan. Mereka berdua menjalani perawatan di RSUD dr. Haryoto Lumajang. Satu korban lainnya, Hosen (44), juga turut mengalami luka bakar, dan dirawat di RSUD Pasirian Lumajang.[13]

Kepala BPBD Jawa Timur, Gatot Subroto, melaporkan kolom abu pekat membumbung tinggi dengan warna kelabu kehitaman dan intensitas sangat tebal dengan ketinggian 1.000 meter dari puncak.[14] Abu vulkanik tersebut mengarah ke Barat Laut hingga Utara, mengakibatkan langit gelap di beberapa wilayah Kabupaten Lumajang seperti Pronojiwo dan Candipuro.[15] Per 24 November, sekitar 200 rumah mengalami kerusakan, 21 rumah serta satu sekolah hancur, 204 hektare lahan rusak, serta infrastruktur listrik lumpuh.[16][17] 143 ternak mati, dan 1.156 orang mengungsi akibat dampak dari letusan tersebut.[18][19] Kerusakan tersebut meliputi tiga desa, masing-masing berada di Desa Supiturang dan Oro-Oro Ombo, di Kecamatan Pronojiwo, dan Desa Penanggal, di Kecamatan Candipuro.[20]

Tanggapan

Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos) melakukan evakuasi warga ke titik aman, asesmen cepat di lapangan, dan memastikan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi bersama BNPB, Tim SAR, Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Dinas Sosial Kabupaten Lumajang, TNI dan Polri, TAGANA, Kampung Siaga Bencana, serta para relawan.[21] Kemensos menyediakan makanan siap saji, selimut, kasur, masker, dan tenda pengungsian untuk membantu warga yang mengungsi. Persediaan medis, air, dan makanan instan juga disediakan. Diperkirakan saluran bantuan tersebut senilai Rp 463 Juta, Berdasarkan data Kemensos, sebanyak 765 warga mengungsi di delapan titik aman di Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo.[22] Mereka terdiri dari anak-anak, balita, lansia, ibu hamil, bayi, serta kelompok dewasa. Bantuan diarahkan untuk mengisi kebutuhan paling mendesak di pos pengungsian, mulai dari sandang, pangan, hingga perlengkapan darurat. Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Lumajang telah menyiapkan dua titik dapur umum (DU) untuk memenuhi kebutuhan pangan warga terdampak, dengan total kapasitas 1.350 boks makanan per hari,[23] untuk lebih dari 600 pengungsi.[24]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ "Report on Semeru (Indonesia)". Global Volcanism Program (Smithsonian Institution) (dalam bahasa Inggris). 2025-11-19. Diakses tanggal 2025-11-23.
  2. ^ "Darwin Volcanic Ash Advisories". Darwin Volcanic Ash Advisories - Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin Bureau of Meteorology (dalam bahasa Inggris). 2025-11-22. Diakses tanggal 2025-11-23.
  3. ^ "Tiga Desa Terdampak Erupsi Gunung Semeru". Tempo. 2025-11-20. Diakses tanggal 2025-11-21.
  4. ^ "Gunung Semeru erupsi, ratusan pendaki 'dalam kondisi aman'". BBC News Indonesia. 2025-11-20. Diakses tanggal 2025-11-21.
  5. ^ Thouret, Jean-Claude; Lavigne, Franck; Suwa, Hiroshi; Sukatja, Bambang; Surono (2007-11-23). "Volcanic hazards at Mount Semeru, East Java (Indonesia), with emphasis on lahars". Bulletin of Volcanology (dalam bahasa Inggris). 70 (2): 221–244. doi:10.1007/s00445-007-0133-6. ISSN 0258-8900.
  6. ^ Neukirchen, Florian (2022). Mountains and Plunging Plates: Subduction Zones (dalam bahasa Inggris). Cham: Springer International Publishing. hlm. 207–302. doi:10.1007/978-3-031-11385-7_4. ISBN 978-3-031-11384-0.
  7. ^ a b "Kronologi Gunung Semeru Meletus Luncurkan Awan Panas hingga 13 Km". SINDOnews Daerah. Diakses tanggal 2025-11-21.
  8. ^ a b c "Gunung Semeru Erupsi, Luncuran Awan Panas hingga 18 Kilometer". mediaindonesia.com. 2025-11-20. Diakses tanggal 2025-11-21.
  9. ^ a b Mufarida, Binti (2025-11-20). "Kronologi Detik-Detik Gunung Semeru Meletus Dahsyat". iNews Jatim. Diakses tanggal 2025-11-22.
  10. ^ "Berstatus Awas, Gunung Semeru Embuskan Asap Setinggi 1.000 Meter". Detik.com. 22 November 2025. Diakses tanggal 22 November 2025.
  11. ^ Senza Perdana (22 November 2025). "Banjir Lahar Semeru Menyebar hingga 13 Km, Aliran Capai Gladak Perak". Detik.com. Diakses tanggal 22 November 2025.
  12. ^ "Korban Erupsi Gunung Semeru Bertambah Jadi 3 Orang, Alami Luka Bakar". CNN Indonesia. 20 November 2025. Diakses tanggal 20 November 2025.
  13. ^ "Korban Erupsi Gunung Semeru Bertambah Jadi 3 Orang, Alami Luka Bakar". CNN Indonesia. 2025-11-20. Diakses tanggal 2025-11-22.
  14. ^ "Gunung Semeru Kembali Bergolak, Asap Membumbung 1.000 Meter ke Langit". Liputan 6. 22 November 2025. Diakses tanggal 22 November 2025.
  15. ^ "Wilayah Pronojiwo dan Candipuro Diguyur Hujan Abu Vulkanik Semeru". MetroTvnews. 19 November 2025. Diakses tanggal 19 November 2025.
  16. ^ Huda, Miftahul; Wadrianto, Glori K. (20 November 2025). "Korban Luka akibat Erupsi Gunung Semeru Bertambah Jadi 3 Orang". Kompas Surabaya. Lumajang: Kompas.com. Diakses tanggal 21 November 2025.
  17. ^ "Infrastruktur Listrik Lumpuh Akibat Erupsi Semeru 19 November". Tempo.co. 24 November 2025. Diakses tanggal 24 November 2025.
  18. ^ "Dampak Erupsi Semeru: 200 Rumah Rusak, 143 Ternak Mati, 1.000 Warga Mengungsi". Kompas.com. 20 November 2025. Diakses tanggal 21 November 2025.
  19. ^ "Pengungsi Akibat Erupsi Gunung Semeru Bertambah Jadi 1.156 Orang". CNN Indonesia. 20 November 2025. Diakses tanggal 21 November 2025.
  20. ^ "BNPB: Tiga luka berat & 204 hektare lahan rusak akibat erupsi Semeru". Antara News. 24 November 2025. Diakses tanggal 24 November 2025.
  21. ^ Didik Fibrianto (22 November 2025). "Rumah Hancur Akibat Erupsi Semeru, Kemensos Janji Perbaiki". Beritasatu.com. Diakses tanggal 22 November 2025.
  22. ^ "Kemensos Salurkan Bantuan Rp 463 Juta untuk Warga Terdampak Erupsi Semeru". Tempo.co. 22 November 2025. Diakses tanggal 22 November 2025.
  23. ^ "Kemensos Distribusikan 1.350 Porsi Makanan per Hari untuk Warga Terdampak Erupsi Semeru". Kuasakata.com. 22 November 2025. Diakses tanggal 22 November 2025.
  24. ^ Nurul Hidayat (23 November 2025). "Bantuan Makanan Pengungsi Erupsi Gunung Semeru". Bisnis.com. Diakses tanggal 23 November 2025.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement