Kedewan, Bojonegoro

Kedewan
Pengeboran minyak secara tradisional di Wonocolo
Pengeboran minyak secara tradisional
di Wonocolo
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenBojonegoro
Pemerintahan
 • CamatMudlofir, S.Sos., M.M.
Populasi
 (2024)
 • Total13.820 jiwa
Kode pos
62163
Kode Kemendagri35.22.25 Suntingan nilai di Wikidata
Kode BPS3522241 Suntingan nilai di Wikidata
Luas56,51 km²
Desa/kelurahan5
Peta
PetaKoordinat: 7°2′10.92480″S 111°38′19.91382″E / 7.0363680000°S 111.6388649500°E / -7.0363680000; 111.6388649500

Kedewan adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bojonegoro yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tuban di utara dan Jawa Tengah (Kabupaten Blora) di barat. Kedewan terletak di ujung barat laut kabupaten, dan dapat diakses dari arah Padangan dan Cepu ke utara. Kedewan merupakan pemekaran dari Kecamatan Kasiman dan mencakup 5 desa, sehingga menjadi salah satu kecamatan di Bojonegoro dengan jumlah desa paling sedikit. Selain itu, kecamatan ini juga memiliki jumlah penduduk paling sedikit kedua di Bojonegoro setelah Ngambon, yaitu sekitar 13 ribu jiwa pada tahun 2024.[1]

Kedewan dikenal dengan sumur minyak buminya yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda dan terpusat di Desa Wonocolo. Sumur-sumur tua tersebut berjumlah ratusan dan sekarang dikelola dengan cara tradisional oleh warga sekitar. Untuk mengenalkan kekayaan geologi dan sejarah di wilayah ini secara luas, pemerintah daerah juga membangun destinasi wisata yaitu Geopark Teksas Wonocolo serta museum di kawasan tambang tersebut.[2][3] Selain Wonocolo, juga terdapat kawasan produktif lainnya yaitu Lapangan Kawengan yang dikelola oleh Pertamina EP Asset 4 Field Cepu.

Geografi

Peta kecamatan di Bojonegoro

Kedewan adalah kecamatan yang terletak Kabupaten Bojonegoro bagian barat. Wilayah Kedewan merupakan titik paling utara dari Bojonegoro dan berada di perbatasan tiga kabupaten yaitu Bojonegoro, Tuban, dan Blora. Kedewan berada di kawasan Pegunungan Kapur Utara sehingga memiliki geografi berupa perbukitan kapur kering yang dikelilingi oleh hutan jati dan areal pertanian yang ditanami jagung.

Secara geologis, terdapat struktur antiklin Kawengan yang dapat menjebak minyak bumi sehingga membuat wilayah Kedewan kaya akan bahan tambang tersebut. Reservoir minyak di Wonocolo dikenal karena merupakan salah satu yang terdangkal di dunia (sekitar 300 m di bawah tanah sudah bertemu minyak) sehingga pemboran minyak dapat dilakukan secara tradisional oleh masyarakat. Pada tahun 2021, Kementerian ESDM menetapkan Petroleum System Wonocolo dan Antiklin Kawengan sebagai bagian dari Kawasan Cagar Alam Geologi Kabupaten Bojonegoro. Kecamatan Kedewan juga berdekatan dengan Cepu di Jawa Tengah yang juga kaya akan migas.[4][5]

Batas wilayah Kecamatan Kedewan adalah sebagai berikut:[1]

Utara Kabupaten Tuban (Kecamatan Kenduruan dan Bangilan)
Timur Kabupaten Tuban (Kecamatan Senori)
Selatan Kecamatan Kasiman dan Kecamatan Malo
Barat Kabupaten Blora (Kecamatan Jiken)

Daftar desa dan dusun

Kecamatan Kedewan terdiri dari 5 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:

No. Nama Desa Nama Dusun atau Dukuh Ref
1 Beji Beji, Bulu, Dilem, Singget, Sumberagung [1][6]
2 Hargomulyo Bayangan, Dandangilo (Dangilo), Mayang, Ngloji, Ngrowo, Tumo [1]
3 Kawengan Kawengan, Gunung Mas, Sampurno [1]
4 Kedewan Kedewan, Margoasri [1]
5 Wonocolo Wonocolo [1]

Penambangan minyak tradisional

Penambangan tradisional di Wonocolo

Pada akhir abad ke-19, Belanda menemukan kawasan kaya minyak yang dinamai Blok Cepu. Salah satu wilayah pengeboran pertama di daerah ini adalah Wonocolo. Sumur-sumur minyak di Wonocolo terkenal dangkal (kedalaman sekitar 200-400 m saja). Pemerintahan kolonial Belanda memulai penambangan minyak tradisonal di Wonocolo dengan menggunakan tenaga kerja dari penduduk lokal. Ilmu penambangan ini kemudian dikuasai oleh warga yang turun temurun melakukan penambangan di wilayah ini, bahkan ketika Belanda sudah meninggalkan Wonocolo dan pindah ke Kawengan.[7]

Penambangan tradisional di Kedewan cukup khas, yaitu menggunakan kayu / bambu untuk memutar tali. Tali tersebut diikatkan pada timba yang digunakan untuk menarik minyak mentah dari sumur. Awalnya penarikan tali menggunakan tenaga manusia, tetapi sekarang dimodifikasi dengan adanya mesin diesel atau mesin mobil bekas yang memudahkan proses penambangan. Minyak mentah hasil penambangan disebut lantung yang berwarna coklat pekat. Lantung yang sudah dipisahkan dengan air kemudian dimasak di tungku pembakaran berbahan bakar ranting kayu. Minyak olahan ini kualitasnya masih kurang baik (dinamai "minyak berat") yang kemudian akan disetor ke Pertamina untuk diolah lebih lanjut.[7]

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bekerja sama dengan Pertamina berusaha mengubah kawasan pertambangan tersebut menjadi area wisata geologi bernama "Teksas Wonocolo" sebagai bentuk persiapan apabila sumur tua di Wonocolo yang sudah ditambang selama seabad ini sudah mengering. Selain itu, pemerintah juga mengusulkan kawasan ini sebagai bagian dari Kawasan Cagar Alam Geologi Kabupaten Bojonegoro yang resmi ditetapkan oleh Kementerian ESDM pada tahun 2021. Selanjutnya, kawasan ini juga akan diusulkan sebagai bagian dari Global Geopark UNESCO.[2][5]

Tempat terkenal

Pompa angguk minyak bumi di Kawengan
  • Petroleum Geoheritage / Geopark Teksas Wonocolo
  • Museum dan Rumah Singgah Geopark Wonocolo - menyimpan sejarah perminyakan di Wonocolo hingga berbagai fosil seperti gajah purba.[8]
  • Pertamina EP Asset 4 Cepu Field - Stasiun Pengumpul Utama (SPU) Kawengan
  • Struktur Geologis Antiklin Kawengan
  • Pasar Kedewan
  • Puskesmas Kedewan

Kuliner

Nasi Gulung khas Kedewan

Nasi gulung

Nasi gulung masakan khas dari Kecamatan Kedewan. Kuliner ini berupa nasi liwet yang digulung dengan daun pisang kemudian diikat rapat dan dimasak kembali hingga matang, sehingga pemasakannya dilakukan 2 kali. Cara memasak ini membuat nasi liwet semakin punel, harum, dan awet hingga 2 hari. Sebagai pelengkapnya, kudapan ini biasa disajikan dengan sambal teri, rica-rica, sambal jeroan ayam atau oseng ikan laut. Menurut penjualnya, nasi ini dulunya digunakan sebagai bekal pekerja tambang di zaman Belanda.[9]

Referensi

  1. ^ a b c d e f g Kabupaten Bojonegoro Dalam Angka 2025. BPS Kabupaten Bojonegoro. 2025-02-28.
  2. ^ a b Petrus Riski (2016-09-07). "Penambang Tradisional Bojonegoro Mengais Sisa 'Emas Hitam' Wonocolo". VOA INDONESIA.
  3. ^ Tulusno Budi S (2025-07-03). "Asa Geopark Bojonegoro Mendunia Lewat Jejak Minyak Bumi Tradisional". BERITA JATIM.
  4. ^ Samian (2026-01-23). "Bojonegoro Miliki Reservoir Minyak Bumi Terdangkal di Indonesia, Ini Buktinya". SUARA BANYUURIP.
  5. ^ a b KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 55.K/HK.02/MEM.G/2021 TENTANG PENETAPAN KAWASAN CAGAR ALAM GEOLOGI KABUPATEN BOJONEGORO.
  6. ^ "Dua Kandidat Siap Berlaga dalam Pilkades Beji". SUARA DESA. 2022-10-24.
  7. ^ a b Rizha Nahdia Naumi, Agus Trilaksana (2015). "PERTAMBANGAN MINYAK TRADISIONAL DI DESA WONOCOLO, KECAMATAN KEDEWAN, KABUPATEN BOJONEGORO TAHUN 1970-1987". AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah. 3 (1). Universitas Negeri Surabaya.
  8. ^ Slamet Agus Sudarmojo (2016-04-25). "Wisata Minyak Wonocolo Bojonegoro Dilengkapi Fosil Purba". ANTARA JATIM.
  9. ^ Misbahul Munir (2022-08-07). Arina Pramudita (ed.). "Nikmatnya Nasi Gulung, Kuliner Khas Kawasan Tambang Minyak Tua di Bojonegoro". JATIMNOW.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement