Margomulyo, Bojonegoro
Margomulyo | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Bojonegoro | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Joko Tri Cahyono, S.STP, MM. | ||||
| Populasi (2024) | |||||
| • Total | 23.413 jiwa | ||||
| Kode pos | 62168 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.22.22 | ||||
| Kode BPS | 3522010 | ||||
| Luas | 139,68 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 6 | ||||
| |||||
Margomulyo adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bojonegoro. Margomulyo terletak di ujung barat daya kabupaten dan merupakan kecamatan terjauh dari ibu kota, yaitu lebih dari 60 km. Di lain sisi, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Ngawi dan hanya berjarak sekitar 10 km saja dari pusat kotanya. Margomulyo juga berbatasan dengan Jawa Tengah (Kabupaten Blora) di sebelah barat tetapi dipisahkan oleh Bengawan Solo.[1] Margomulyo merupakan pemekaran dari Kecamatan Ngraho pada tahun 1992.[2]
Dusun Jepang di Desa Margomulyo dikenal sebagai salah satu perkampungan Orang Samin atau Sedulur Sikep, yaitu keturunan dari pengikut Samin Surosentiko di zaman kolonial Belanda dan sampai sekarang masih menjaga tradisinya.[3] Tempat terkenal lainnya di Margomulyo di antaranya Jalur Watu Jago yang dikelilingi pepohonan yang indah serta masjid megah di tepi jalan nasional bernama Masjid An-Nahdla.[4][5]
Margomulyo memiliki jumlah penduduk yang kecil, yaitu sekitar 23 ribu jiwa pada tahun 2024. Hal tersebut membuat Margomulyo menjadi kecamatan dengan penduduk paling sedikit keempat di Bojonegoro setelah Ngambon, Kedewan, dan Bubulan. Margomulyo hanya memiliki 6 desa, tetapi desa-desa tersebut memiliki banyak dusun yang tersebar di tengah perbukitan dan hutan jati.[1] Banyaknya jati di Margomulyo membuat kecamatan ini dikenal sebagai sentra kerajinan dari akar jati atau gembolan di Bojonegoro.[6]
Geografi

Margomulyo adalah kecamatan di Kabupaten Bojonegoro yang merupakan titik paling barat dari Bojonegoro. Margomulyo berada di kawasan Pegunungan Kendeng, sebuah pegunungan kapur yang kering yang memanjang di selatan Bojonegoro. Geografi kecamatan ini berupa perbukitan yang didominasi areal hutan jati dan persawahan yang ditanami jagung. Desa-desa di Margomulyo memiliki wilayah yang luas dan memiliki banyak dusun atau perkampungan terpencil dan saling berjauhan.
Bagian barat Margomulyo berbatasan dengan Sungai Bengawan Solo yang menjadi pemisah dengan Kabupaten Blora di Jawa Tengah. Tidak ada jembatan di wilayah ini, tetapi terdapat jasa perahu tambangan untuk menyeberang seperti di Desa Ngelo.[7] Bengawan Solo di Margomulyo menjadi lokasi proyek nasional bernama Bendungan Karangnongko untuk mengairi wilayah yang kering ini.[8]
Batas wilayah Kecamatan Margomulyo adalah sebagai berikut:[1]
| Utara | Kecamatan Ngraho |
| Timur | Kecamatan Tambakrejo |
| Selatan | |
| Barat |
Sejarah

Daerah Jipangulu yang sekarang masuk Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo merupakan salah satu tempat bersejarah di Kabupaten Bojonegoro. Wilayah ini berada di tepian Bengawan Solo dan dikenal sebagai wilayah hulu dari daerah Jipang. Jipang mencakup Bojonegoro dan Blora (Cepu) dan membentang dari Jipangulu di barat hingga ke Jipang Hilir (Bowerno / Baureno) di timur. Di Jipangulu ditemukan ratusan artefak seperti tembikar, logam, guci, hingga keramik Cina yang sudah terdata di berbagai lokasi seperti Museum 13 di Kalitidu dan BPCB Jawa Timur. Selain itu, kolonial Belanda di abad ke-19 juga menemukan struktur bangunan dari batu bata yang berserakan yang menunjukkan peradaban masa lalu di Jipangulu.[9]
Dusun Jepang di Desa Margomulyo dikenal dengan adanya Kampung Samin, yaitu perkampungan yang dihuni oleh Orang Samin atau Sedulur Sikep. Orang Samin menganut faham Saminisme yang dicetuskan oleh Samin Surosentiko dari Blora untuk menentang kebijakan kolonial Belanda. Berikut ini adalah pimpinan atau sesepuh dari kelompok Samin:
- Samin Surosentiko
- Surokidin - menantu Samin
- Surokarto Kamidin - putra Surokidin
- Hardjo Kardi - putra Surokarto Kamidin
Awalnya Surokarto Kamidin berasal dari Tapelan, Ngraho yang kemudian menikahi Poniyah dari Dusun Jepang sekitar tahun 1920-an. Hal inilah yang memulai perkembangan Dusun Jepang sebagai pusat kebudayaan Orang Samin. Walaupun tidak mengenyam bangku pendidikan formal, Hardjo Kardi mengubah komunitas Samin menjadi lebih terbuka salah satunya dengan membangun sekolah dasar hingga masjid. Selain itu, nama Hardjo Kardi juga dikenal luas bahkan sering dikunjungi tokoh-tokoh penting seperti bupati hingga gubernur.[3]
Daftar desa dan dusun
Kecamatan Margomulyo terdiri dari 6 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:
| No. | Nama Desa | Nama Dusun atau Dukuh | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Geneng | Geneng, Banter, Kalibedah, Payung, Plumpung | [1][10] |
| 2 | Kalangan | Kalangan, Bamban, Bandung, Biren, Padasmalang, Pandean, Suryo | [1][10] |
| 3 | Margomulyo | Batang, Jatiroto, Jepang, Jerukgulung, Kaligede, Kalimojo, Ngasem, Tepus | [1][10] |
| 4 | Meduri | Meduri, Besali, Kalidogol, Kaligede, Kenongo Dengkol, Keren, Kijing, Kunir, Pleret, Pucanganom | [1][10] |
| 5 | Ngelo | Ngelo, Jeruk, Jipangulu, Matar, Tolu | [1][10] |
| 6 | Sumberejo | Becok, Bungkul, Kedungkrambil, Mojosari, Palkerep, Piji, Pluntu, Singgih, Wates | [1][10] |
Kebudayaan

Terdapat sentra kebudayaan Orang Samin di Dusun Jepang, Desa Margomulyo sehingga daerah itu sering disebut Kampung Samin. Orang Samin adalah subsuku Jawa yang memiliki tradisi unik yang membedakannya dari masyarakat lain di sekitarnya. Tradisi tersebut turun-temurun diwariskan sejak masa Samin Surosentiko dari Blora yang melawan pemerintah kolonial Belanda dengan caranya sendiri tanpa kekerasan, seperti menolak membayar pajak sehingga membuat beliau ditangkap dan diasingkan[3]
Orang Samin dikenal memiliki karakter yang polos atau lugu, sederhana, serta terbuka kepada siapapun. Seiring dengan perkembangan zaman, Orang Samin mulai berintegrasi dengan masyarakat sekitarnya yang modern dan beragama Islam. Di Dusun Jepang terdapat sekitar 47 KK atau sekitar 200 jiwa yang tinggal mengelompok di bagian timur dusun. Orang Samin di Dusun Jepang dipimpin oleh Hardjo Kardi yang merupakan sesepuh generasi keempat dari masyarakat Samin.[3]
Salah satu tradisi rutin Orang Samin di Dusun Jepang adalah Gumbregan. Gumbregan adalah bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ungkapan terima kasih atas hasil peternakan selama setahun. Adat Gumbregan dilaksanakan tiap tahunnya pada Jum’at Pahing Bulan Sura / Muharram. Ritual ini berupa makanan berupa ketupat yang digelar dan didoakan, untuk kemudian dimakan secara bersama-sama dan dibagikan. Tradisi ini adalah kearifan lokal Bojonegoro yang harus dilestarikan.[11]
Tempat terkenal
- Masjid An-Nahdla di jalan nasional
- Kampung Samin Dusun Jepang
- Hutan Watu Jago - hutan jati yang dikelola oleh Perhutani
- Proyek Bendungan Karangnongko di Bengawan Solo[8]
- Tambangan penyeberangan di Bengawan Solo
- Pasar Margomulyo
- Tugu Selamat Datang Bojonegoro
- Puskesmas Margomulyo
Referensi
- ^ a b c d e f g h i Kabupaten Bojonegoro Dalam Angka 2025. BPS Kabupaten Bojonegoro. 2025-02-28.
- ^ "PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 1992 TENTANG PEMBENTUKAN 18 (DELAPAN BELAS) KECAMATAN DI WILAYAH KABUPATEN-KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BLITAR, LUMAJANG, SITUBONDO, LAMONGAN, PROBOLINGGO, MALANG, BOJONEGORO, DAN KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II SURABAYA DALAM WILAYAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR" (PDF).
- ^ a b c d Siti Munawaroh, Christriyati Ariani, Suwarno (2015). Etnografi masyarakat Samin di Bojonegoro : Potret Masyarakat Samin Dalam Memaknai Hidup (PDF). Yogyakarta: KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN - BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA (BPNB) YOGYAKARTA. ISBN 978-979-8971-48-8. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ^ Dwi Suko Nugroho (2020-06-22). "Watu Jago Potensi Jadi Wisata Baru di Bojonegoro". SUARA BANYUURIP.
- ^ Ainur Rofiq (2025-01-03). "Megah-Estetiknya Bangunan Masjid An Nahdla Bojonegoro". DETIK JATIM.
- ^ Muharrom (2019-03-28). "Kerajinan Gembol Jati yang Masih Bertahan". BLOK BOJONEGORO.
- ^ Santi (2022-07-27). "Dikonsep Transportasi Wisata, Perahu Penyeberangan di Margomulyo Tolak Angkut Kendaraan". KORAN DIVA.
- ^ a b Yuan Edo Ramadhana (2025-01-02). "Megaproyek Bendungan Karangnongko: Ganti Untung Desa Kalangan Sisakan Satu Bidang". RADAR BOJONEGORO.
- ^ A Wahyu Rizkiawan (2024-05-28). "Jipangulu: Titik Hulu Peradaban Bojonegoro". JURNABA.co.
- ^ a b c d e f "Kecamatan Margomulyo". margomulyo.bojonegorokab.go.id. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Diakses tanggal 2026-02-11.
- ^ "Warga Samin Gelar Grumbegan Wujud Rasa Syukur dan Lestarikan Kearifan Lokal di Bojonegoro". SUARA DESA. 2023-08-04.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



