Gerakan Perang Salib
| Gerakan Perang Salib |
|---|
| Asal mula |
| Teori perang yang sah • Penitensi • Ziarah Kristen • Reforma Gregorian |
| Jenis |
| Perang Salib • Perang Salib Rakyat • Perang Salib Iberia • Perang Salib Utara• Perang Salib melawan orang Kristen |
| Teori dan Praktik |
| Indulgensi • Bula Perang Salib • Dakwah • Kaul • Tata perang • Ordo militer • Keuangan • Kritik |
| Negara |
| Negara-negara Tentara Salib • Siprus • Yunani jajahan Peranggi • Negara Ordo Kesatria Jerman • Rodos • Malta |
| Kawan dan Lawan |
| Orang Bizantin • Orang Armenia • Umat Yakubi • Orang Yahudi |
Gerakan Perang Salib adalah gerakan religius, politis, dan militer besar-besaran pada Abad Pertengahan, yang lazimnya dianggap bermula pada penyelenggaraan Konsili Clermont tahun 1095, ketika Paus Urbanus II mencanangkan pelaksanaan ekspedisi bersenjata untuk menolong umat Kristen Timur yang hidup di bawah pemerintahan Muslim. Ekspedisi bersenjata itu dikemas Sri Paus sebagai ziarah penyilih dosa. Pada masa itu, kewibawaan Sri Paus sudah meningkat lewat pembenahan tatanan hidup bergereja, dan ketegangan dengan para penguasa sekuler mendorong tumbuhnya gagasan perang suci, yang memadukan teori perang yang sah dari zaman klasik, preseden-preseden Alkitabiah, dan ajaran Agustinus tentang kekerasan yang dapat dibenarkan. Ziarah bersenjata, yang diselaraskan dengan ajaran agama Katolik yang kristosentris dan militan pada masa itu, menyalakan semangat juang di mana-mana. Ekspansi bangsa Eropa juga kian dimungkinkan oleh pertumbuhan ekonomi, surutnya kekuatan-kekuatan lama Laut Tengah, dan tidak bersatunya umat Islam. Faktor-faktor tersebut membuka peluang bagi tentara salib untuk melakukan perebutan wilayah dan mendirikan empat negara di kawasan Levans. Perjuangan untuk mempertahankan kedaulatan negara-negara ini menginspirasi perang-perang salib berikutnya. Kepausan juga melancarkan perang salib yang membidik sasaran-sasaran lain, yaitu orang-orang Muslim di jazirah Iberia, orang-orang pagan di kawasan Baltik, dan pihak-pihak lain yang menentang kewibawaan Sri Paus.
Meskipun mengedepankan keikutsertaan orang-orang dari kalangan elit kesatria, yang digugah semangat juangnya dengan cara mengungkit nilai-nilai keutamaan kesatria yang menjadi pedoman hidup mereka, gerakan ini bergantung kepada dukungan luas dari kaum rohaniwan, masyarakat perkotaan, dan rakyat tani. Sekalipun dicegah, kaum wanita pun ikut terseret arus gerakan ini, baik sebagai peserta, sebagai pengemban tugas dan tanggung jawab kaum pria yang menjadi tentara salib dan berangkat ke Tanah Suci, maupun sebagai korban. Banyak orang menjadi tentara salib lantaran ingin mendapatkan indulgensi (penghapusan siksa dosa), tetapi keuntungan materi juga menjadi salah satu daya pikat. Biasanya perang salib dimaklumkan melalui bula Sri Paus, dan para pesertanya mengikrarkan kaul ikut berjuang dengan cara "memikul salib", yang dilambangkan melalui tindakan menjahitkan tanda salib pada pakaian mereka. Kegagalan menunaikan kaul ini dapat membuat seorang peserta diekskomunikasi. Gelora semangat juang yang berulang kali memuncak dari waktu ke waktu memunculkan "perang salib rakyat" yang dilancarkan tanpa izin paus.
Perang-perang yang dilancarkan atas izin paus memunculkan pranata-pranata dan ideologi-ideologi yang khas. Kendati mula-mula pendanaannya acak-acakan, kemudian hari perang-perang ini didanai dengan cara yang lebih tertata melalui pengenaan pajak kepada rohaniwan dan penjualan indulgensi. Pasukan inti tentara salib beranggotakan kesatria-kesatria aswasada berpersenjataan berat, didukung pasukan infanteri, laskar-laskar pribumi, dan bantuan angkatan laut dari kota-kota maritim. Tentara salib mengukuhkan kekuasaannya dengan cara membangun puri-puri yang kuat, dan penyatuan nilai-nilai keutamaan kesatria dengan nilai-nilai luhur kerahiban menghasilkan ordo-ordo militer. Gerakan ini membuat dunia Kristen Barat bertambah luas dan menciptakan negara-negara perbatasan yang baru, beberapa di antaranya bertahan hingga permulaan zaman modern. Perang salib menyuburkan pertukaran budaya dan masih membekas dalam seni rupa dan seni sastra Eropa. Sekalipun meredup akibat Reformasi Protestan, "liga-liga suci" anti-Usmani terus memelihara semangat gerakan perang salib hingga abad ke-18.
Latar belakang
Pada umumnya Perang salib didefinisikan sebagai perang agama Kristen yang dikobarkan oleh para pejuang Eropa Barat pada Abad Pertengahan demi merebut Yerusalem.[1][2] Kampanye-kampanye militer yang berkaitan dengannya berbeda-beda dari segi luas jangkauan, rentang waktu, dan tujuan yang memotivasi.[3][4] Gerakan perang salib yang lebih luas menumbuhkan pranata-pranata dan ideologi-ideologi khas yang membentuk tatanan kehidupan bermasyarakat di Eropa Katolik maupun di kawasan-kawasan sekitarnya.[5][6]
Teori-teori perang yang sah dari zaman klasik
Pada zaman klasik, filsuf-filsuf Yunani dan ahli-ahli hukum Romawi merumuskan teori-teori perang yang sah, yang kelak memengaruhi teologi perang salib. Aristoteles menitikberatkan kebutuhan akan akhir yang sah, dengan menegaskan bahwa "perang semestinya dilakukan demi perdamaian". Hukum Romawi mengharuskan adanya sebab yang sah, dan berpendirian bahwa hanya pemerintah yang sah sajalah yang berhak memaklumkan perang. Bela negara, pemulihan hak, dan penghukuman dianggap sebagai alasan-alasan yang dapat diterima.[7]
Meskipun Alkitab—susastra pokok agama Kristen—menyajikan pandangan-pandangan yang saling bertentangan mengenai kekerasan,[keterangan 1][9] kristenisasi Kekaisaran Romawi pada abad ke-4 menuntun kepada pengembangan teori perang yang sah versi Kristen. Uskup Ambrosius adalah teolog pertama yang menyamakan musuh-musuh negara Kristen dengan musuh-musuh Gereja.[10][11]
Pada tahun 395, Kekaisaran Romawi terbagi permanen menjadi belahan timur dan belahan barat.[12] Peristiwa penyerbuan dan penjarahan kota Roma, yang terjadi 15 tahun kemudian, mendorong Agustinus—anak didik Ambrosius—untuk menulis risalah Kota Allah,[13] yang memaparkan pandangannya bahwa larangan membunuh yang termaktub di dalam Alkitab tidak berlaku atas perang-perang yang dilancarkan atas izin Allah.[14] Agustinus berpendirian bahwa perang yang sah haruslah dimaklumkan oleh pemerintah yang sah, dikobarkan dengan alasan yang sah apabila upaya damai sudah menemui jalan buntu, dan dilaksanakan secara terkendali dengan didasari niat baik.[10][15] Renungan-renungannya nyaris terlupakan sesudah Kekaisaran Romawi Barat runtuh pada tahun 476.[10][16]
Tiga tatanan peradaban
Di atas puing-puing Kekaisaran Romawi Barat, tumbuh kerajaan-kerajaan Kristen baru, yang rata-rata dipimpin oleh seorang panglima perang Jermani. Kemahiran dalam bertempur dan kesetiakawanan merupakan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh kaum bangsawan di kerajaan-kerajaan baru itu. Kaum rohaniwan kerap menyanjung-nyanjung perilaku kekerasan mereka demi mendapatkan perlindungan, sekalipun Gereja tetap mengecap pembunuhan sebagai perbuatan dosa, sehingga pelakunya harus menjalankan laku tobat—biasanya puasa[17]—untuk mendapatkan pengampunan dosa.[18]
Sementara itu, belahan timur Kekaisaran Romawi masih terus bertahan, kendati banyak bagian dari wilayah kedaulatannya, termasuk Yerusalem, sudah jatuh ke tangan Khilafah Islamiyah yang sedang gencar melebarkan sayap pada pertengahan abad ke-7.[19][20] Alquran, susastra tersuci agama Islam, menyerukan jihad, yakni perjuangan untuk menyiarkan dan membela agama.[keterangan 2][22][23] Pada awal abad ke-8, tentara Muslim memasuki Eropa dan menaklukkan sebagian besar jazirah Iberia. Umat Kristen yang hidup di bawah pemerintahan Muslim harus membayar pajak khusus yang disebut jizyah.[24] Begitu perang-perang penaklukan mereda, muncullah tiga tatanan peradaban, yaitu Eropa Barat yang terfragmentasi, Romawi Timur yang sedang melemah, dan dunia Islam yang kian menanjak.[25]
Perang suci dan ketakwaan
Perlawanan terhadap ekspansi Muslim lambat laun memunculkan sebuah negara kecil di barat laut jazirah Iberia, yaitu Kerajaan Asturias. Seiring bergulirnya waktu, perlawanan ini tumbuh menjadi sebuah gerakan ekspansi, yang dianggap oleh masyarakat setempat sebagai gerakan yang diizinkan Allah. Invasi berulang kelompok-kelompok non-Kristen ke Eropa Barat pada abad ke-9 menghidupkan kembali gagasan perang suci,[15] yaitu perang yang dilancarkan atas izin seorang pemimpin spiritual, untuk mencapai tujuan-tujuan yang bersifat religius, dan berpahalakan keselamatan.[26] Paus Leo IV adalah paus pertama yang menjanjikan pahala keselamatan bagi orang-orang yang berjuang membela wilayah kedaulatan paus pada tahun 846.[27][28]
Ketika perang mulai terjadi terus-menerus, muncul golongan militer baru yang beranggotakan petarung-petarung berkuda, dan dikenal dengan sebutan milites di dalam karya-karya tulis sezaman. Mereka adalah orang-orang yang terampil menggunakan berbagai jenis senjata, misalnya ganjur yang berat.[29][30] Supaya perilaku kekerasan mereka tidak kebablasan, para petinggi Gereja mencetuskan gerakan Damai Allah.[31][32] Ironisnya, usaha-usaha untuk membatasi pertumpahan darah justru membuat Gereja menjadi termiliterisasi, karena para uskup berlomba-lomba membentuk angkatan perang dalam rangka menegakkan Damai Allah.[33]

Saat pemerintah pusat melemah, orang-orang kuat di daerah-daerah merebut kendali atas paroki-paroki maupun biara-biara, dan acap kali mengangkat rohaniwan yang kurang layak. Umat beriman merasa khawatir kalau-kalau pengangkatan yang melangkahi kewenangan Gereja itu akan membuat sakramen-sakramen yang dilayankan oleh si rohaniwan menjadi tidak sah.[34][35] Kekhawatiran ini membuat mereka bertambah cemas memikirkan azab akhirat.[17][36] Orang yang berbuat dosa diharapkan mengakui dosanya dan menjalankan laku tobat untuk dirukunkan kembali dengan Gereja. Lantaran laku tobat bisa sangat memberatkan, para imam mulai menawarkan indulgensi, yaitu pengalihan laku tobat ke dalam bentuk tindakan seperti bersedekah atau berziarah.[37][38] Ziarah laku tobat ke Palestina, yang dikenal sebagai Tanah Suci, dinilai istimewa lantaran keterkaitan erat kawasan itu dengan karya pelayanan Yesus,[39][40] juga lantaran di kawasan itulah orang dapat berziarah ke Gereja Makam Kudus, yang diyakini sebagai lokasi peristiwa penyaliban dan kebangkitan Yesus.[41][42]
Pembenahan tatanan hidup bergereja
Di zaman yang penuh dengan kekerasan itu, kepedulian terhadap urusan azab akhirat semakin meningkat, sehingga menyuburkan gerakan-gerakan berbenah di dalam lingkungan Gereja, lembaga yang dipercaya sebagai saluran pengalir rahmat Allah. Pada tahun 910, piagam pendirian biara Kluni menetapkan preseden dengan memberikan hak kepada para rahib untuk bebas memilih abas mereka. Upaya pembenahan tatanan hidup bergereja yang diprakarsai biara Kluni merembet dengan cepat ke mana-mana, didukung oleh kaum bangsawan yang menghargai syafaat para rahib bagi keselamatan jiwa mereka.[43][44] Pusat maupun cabang-cabang biara Kluni hanya tunduk kepada kewibawaan paus.[45][46]
Para paus, yang dihormati sebagai pengganti Rasul Petrus, menyatakan diri sebagai pemimpin tertinggi Gereja, dengan menyitir kata-kata pujian Yesus kepada Petrus.[47] Pada kenyataannya, keluarga-keluarga bangsawan Roma mengendalikan kepausan sampai Kaisar Hendrikus III memasuki kota Roma pada tahun 1053. Kaisar Hendrikus mengangkat rohaniwan-rohaniwan yang mencetuskan Pembenahan Gregorius demi tegaknya "kebebasan Gereja", melarang simoni alias praktik jual-beli jabatan gerejawi, dan menjadikan para kardinal, yakni rohaniwan-rohaniwan senior, sebagai satu-satunya pihak yang berhak memilih paus.[48][49] Andrew Latham, sarjana hubungan internasional, berpendapat bahwa Pembenahan Gregorius membuat Gereja Barat berkonflik dengan "sederet kekuatan sosial di dalam maupun di luar dunia Kristen".[50] Pada masa itu, perbedaan-perbedaan teologi dan liturgi di antara kelompok Kristen arus utama di Barat dan kelompok Kristen arus utama di Timur sudah semakin dalam,[keterangan 3] dan berbuntut aksi saling ekskomunikasi pada tahun 1054 dan perpecahan antara Gereja Katolik di barat dan Gereja-Gereja Ortodoks di timur.[51][52]
Kebangkitan semangat bergama mulai mengakar seiring munculnya komunitas-komunitas rahib seperti tarekat Kartusian dan tarekat Sistersien, dan menyebarnya Tata Tertib Santo Agustinus di kalangan rohaniwan sekuler. Kristosentrisme—fokus baru kepada hidup dan sengsara Kristus—juga turut menempa corak kehidupan pada masa itu, dan menginspirasi para penceramah keliling.[53]
Situasi dunia menjelang perang salib pertama

Sekitar tahun 1000, ada empat kekuatan besar yang mendominasi kawasan sekitar Laut Tengah, yaitu khilafah bani Umayah di Andalus, khilafah bani Fatimah di Mesir, khilafah bani Abas (secara nominal) di Timur Tengah, dan Kekaisaran Romawi Timur di Eropa Selatan dan Anatolia. Dalam hitungan beberapa dasawarsa, semuanya mengalami krisis serius, khususnya di timur, tempat kekeringan dan gelombang dingin memicu kelaparan dan kerawanan.[54][55] Perubahan iklim menguntungkan Eropa Barat, memicu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan populasi.[56] Kota-kota di Eropa Barat masih relatif kecil-kecil ukurannya. Kota-kota terbesar sekalipun, seperti Venesia dan Roma, hanya berpenduduk kurang dari 40.000 jiwa.[keterangan 4][56]
Andalus melemah akibat konflik dan pecah menjadi beberapa negara kecil yang rawan terhadap ekspansi Kristen alias Reconquista.[57] Di Mesir dan Palestina, akibat sungai Nil berulang kali tidak meluap saat tiba musimnya, terjadi bencana kelaparan dan ketegangan antarumat beragama. Pada tahun 1009, Gereja Makam Kudus dihancurkan atas perintah Khalifah Alhakim dari bani Fatimah,[keterangan 5][59] kendati kelak dibangun kembali dengan dukungan Romawi Timur.[60] Sementara itu, migrasi-migrasi orang Turkoman dari Asia Tengah mengguncang stabilitas Timur Tengah. Togril I, pemimpin Turkoman dari kabilah Seljuk, merebut kekuasaan dari khilafah bani Abas pada tahun 1055.[61][62] Penggantinya, Alp Arslan, mengalahkan Romawi Timur di Manzikert pada tahun 1072, dan dengan demikian melapangkan jalan bagi orang Turkoman untuk masuk dan menetap di Anatolia.[63][64]
Dengan memudarnya kekuatan-kekuatan tradisional, kaum saudagar Italia menguasai perdagangan di Laut Tengah.[65] Orang-orang Norman dari kawasan utara Prancis menaklukkan bagian selatan jazirah Italia dan pulau Sisilia pada tahun 1091.[66][67] Lantaran ekspansi mereka mengancam kepentingan kepausan, Paus Leo IX terdorong untuk memerangi mereka. Meskipun mengalami kekalahan, Sri Paus menjanjikan pengampunan dosa kepada orang-orang yang ikut serta berjuang di pihak kepausan,[68][69] menunjukkan bahwa kepausan tidak segan-segan melimpahkan insentif spiritual bagi kepentingan perang.[70]
Hasrat kesatria-kesatria Eropa Barat akan tanah dan kekuasaan cocok dengan paus-paus yang kian lama kian lugas, yang menganugerahkan pengampunan dosa untuk kepentingan perang melawan kekuatan-kekuatan Muslim di Sisilia dan Iberia.[keterangan 6][71][72][73] Kenyataan bahwa negeri-negeri itu dulunya Kristen membuat kepausan teringat akan nasib Palestina. Pada tahun 1074 Paus Gregorius VII mengusulkan perang untuk merebut kembali Yerusalem, tetapi tak kunjung terlaksana.[74] Tidak lama kemudian, timbul kontroversi investitur yang dipicu oleh perdebatan seputar kewenangan paus dan kewenangan raja. Konflik bersenjata yang terjadi selama kontroversi itu berlangsung menggugah kembali minat orang terhadap teori-teori perang yang sah.[75][76] Anselmus dari Lucca, seorang ahli hukum kanonik, menghimpun risalah-risalah Agustinus untuk mengukuhkan dalilnya bahwa perang yang ditujukan untuk mencegah terjadinya dosa merupakan tindakan cinta kasih. Teolog Bonizo dari Sutri menganggap orang-orang yang gugur dalam perang semacam itu sebagai martir.[75][77] Gagasan-gagasan ini bermuara kepada keyakinan bahwa perang yang sah bisa dijadikan laku tobat.[78]
Perang salib
Berkat pulihnya minat mengkaji ajaran Agustinus tentang kekerasan yang sah, Gereja Barat mendapatkan kerangka ideologis bagi pertembungan militer.[73] Menjelang akhir abad ke-11, ketika kepedulian orang terhadap urusan dosa sedang tinggi-tingginya, kepausan berada di posisi yang tepat untuk menggerakkan nilai-nilai yang dipedomani golongan kesatria.[79]
Perang Salib I

Memikul salib
Tentara salib mengikrarkan kaul keikutsertaan dalam perjuangan, dan biasanya diikuti upacara penjahitan lambang salib berbahan kain biasa atau kain sutra—biasanya berwarna merah—pada mantel mereka. Dengan "memikul salib", mereka membulatkan tekad untuk menanggapi seruan Kristus yang termaktub di dalam Injil Matius, yaitu "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus … memikul salibnya dan mengikut Aku".[80][81] Upacara ini menggemakan kembali semangat imitatio Christi (mengikuti jejak Kristus), gerakan spiritual abad ke-11 yang mendorong umat beriman meneladani Kristus dengan cara melayani sesama.[53] Benda-benda khas peziarah seperti tongkat dan pundi-pundi juga dibagi-bagikan.[82] Lambang salib harus terus melekat pada pakaian tentara salib sampai mereka kembali dari medan perang. Pencopotan lambang salib sebelum waktunya dapat dikenai sanksi oleh pihak Gereja,[keterangan 7][84] dengan pengecualian langka seperti sakit, miskin, atau ketidakcakapan.[85] Pada akhir abad ke-12, tentara salib secara luas dikenal dengan sebutan crucesignati (orang-orang yang diberi tanda salib).[86]
Hak istimewa
Selaku orang-orang yang sedang melaksanakan laku tobat dan ziarah bersenjata, tentara salib digolongkan oleh hukum kanonik sebagai rohaniwan sementara di bawah yurisdiksi gerejawi.[87] Hah-hak istimewa sekuler yang mula-mula diberikan kepada mereka tidak terdokumentasi dengan baik. Menurut salah satu kitab kumpulan hukum kanonik, tentara salib perdana berikut barang-barang bawaan mereka berada "di bawah perlindungan keamanan Jeda Allah". Guibertus dari Nogent, mencatat bahwa Paus Urbanus menawarkan perlindungan kepada tentara salib dan seisi rumahnya, dengan ancaman ekskomunikasi bagi siapa saja yang berani mencelakai mereka.[88] Pendekatan hukum semacam ini masih disifatkan sebagai "barang baru" pada tahun 1107 oleh Ivo dari Chartres, ahli hukum kanonik yang enggan mengadili perkara perebutan sebuah benteng tentara salib.[keterangan 8][90] Konsili Lateran I menjadikan keistimewaan tersebut bersifat resmi, melindungi "rumah dan seisi rumah" tentara salib, lengkap dengan ancaman hukuman ekskomunikasi otomatis atau latae sententiae bagi pelanggar, hanya saja pelaksanaannya tidak konsisten.[91] Paus Egenius III juga menangguhkan tindak lanjut tuntutan hukum terhadap tentara salib, menangguhkan kewajiban mereka untuk membayar bunga pinjaman,[92][93] dan memberi kuasa kepada mereka untuk menjual tanah—termasuk tanah lungguh—tanpa perlu persetujuan anggota keluarga maupun bangsawan majikan.[94]
Baca juga
Keterangan
- ^ Perjanjian Lama mencitrakan perang-perang bangsa Israel melawan musuh-musuh mereka sebagai perang-perang yang dilancarkan atas izin Allah, tetapi memuat pula Titah Kelima yang melarang pembunuhan. Dalam Perjanjian Baru, Yesus menyatakan bahwa "barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang", tetapi Yesus juga berkata, "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang."[8]
- ^ Meskipun jihad maupun perang salib sama-sama adalah wujud dari perang suci, tidak ada bukti keterkaitan yang bersifat langsung di antara keduanya. Sejarawan Paul M. Cobb menisbatkan kemiripan keduanya kepada "akar bersamanya di dalam suatu monoteisme universal yang bertuhankan Allah yang cemburu".[21]
- ^ Perbedaan-perbedaan paling kentara di antara kedua komunitas Kristen itu terletak di dalam pengubahan isi Syahadat Nikea secara sepihak oleh Gereja Barat, dan penggunaan roti beragi alih-alih roti tak beragi dalam perayaan Ekaristi—upacara utama liturgi Kristen—oleh Gereja Timur.[51]
- ^ Sebagai perbandingan, Konstantinopel, ibu kota Romawi Timur, diperkirakan berpenduduk 600.000 jiwa, sementara Bagdad, ibu kota bani Abas, maupun Kairo, ibu kota bani Fatimah, berpenduduk kira-kira 500.000 jiwa, dan Kordoba, ibu kota bani Umayah berpenduduk sekurang-kurangnya 100.000 jiwa.[56]
- ^ Sebuah ensiklik—yang diduga diterbitkan oleh Paus Sergius IV pascapenghancuran Gereja Makam Kudus—mengungkapkan niat Paus Sergius untuk memimpin sebuah armada berlayar ke timur dan membangun kembali gereja itu, tetapi ensiklik tersebut adalah dokumen palsu dari akhir abad ke-11 yang dibuat di biara Moissac.[58]
- ^ Paus Aleksander II menawarkan pengampunan dosa kepada orang-orang Norman yang memerangi negara Islam Sisilia, dan menjanjikan penghapusan siksa dosa kepada para kesatria yang berangkat ke Iberia.[71]
- ^ Ekskomunikasi Kaisar Frederikus II merupakan contoh nyata. Sang kaisar bertolak menuju medan perang pada tahun 1227, tetapi wabah penyakit memaksanya pulang. Meskipun demikian, Paus Gregorius IX menjatuhkan pidana ekskomunikasi kepadanya karena sudah gagal menunaikan kaul. Jotischky berpendapat bahwa mungkin saja alasan sebenarnya di balik ekskomunikasi Frederikus adalah usaha-usaha yang dilakukannya untuk mengukuhkan kekuasaannya atas Gereja di Sisilia.[83]
- ^ Paus Paskalis II sudah mengamanatkan kepada Ivo untuk mengekskomunikasi Rotrodus III, Bupati Perche, lantaran priagung Prancis itu membangun benteng di atas lahan milik Hugo II, bangsawan Le Puiset. Ivo ragu-ragu, dan mengungkapkan bahwa dia tidak mau "menghukum orang seperti hasasin, tanpa diadili lebih dulu".[89]
Rujukan
- ^ Hornby 2005, hlm. 370.
- ^ Nicholson 2004, hlm. xlviii.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 10–11.
- ^ Nicholson 2004, hlm. xl–xli, xlviii.
- ^ Murray 2006, hlm. xxxi.
- ^ Lloyd 2002, hlm. 65.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 13–14.
- ^ Asbridge 2012, hlm. 14–15.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 14.
- ^ a b c Tyerman 2019, hlm. 14.
- ^ Madden 2013, hlm. 2.
- ^ Lock 2006, hlm. 358.
- ^ Backman 2022, hlm. 56–59.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 15, 482 (note 21).
- ^ a b Jaspert 2006, hlm. 15.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 14–15.
- ^ a b Thomson 1998, hlm. 69–70.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 14, 30–31.
- ^ Backman 2022, hlm. 126, 141–143.
- ^ Lock 2006, hlm. 4.
- ^ Cobb 2016, hlm. 29.
- ^ Hillenbrand 2018, hlm. 89–91.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 75.
- ^ Cobb 2016, hlm. 30.
- ^ Backman 2022, hlm. 144–146.
- ^ Dennis 2001, hlm. 31.
- ^ Tyerman 2007, hlm. 38.
- ^ Bysted 2014, hlm. 53–54.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 16.
- ^ Bull 2002, hlm. 24.
- ^ Backman 2022, hlm. 213–214.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 17–18.
- ^ Morris 2001, hlm. 144.
- ^ Backman 2022, hlm. 214–215.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 25.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 30–31.
- ^ Mayer 2009, hlm. 25–27.
- ^ Bysted 2014, hlm. 20, 96.
- ^ Cobb 2016, hlm. 33–34.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 21–22.
- ^ Tyerman 2019, hlm. xxiii–xxv.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 34–36.
- ^ Thomson 1998, hlm. 33–35.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 27–28.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 27.
- ^ Latham 2011, hlm. 231.
- ^ Thomson 1998, hlm. 39.
- ^ Thomson 1998, hlm. 82–85.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 25.
- ^ Latham 2011, hlm. 240.
- ^ a b Jaspert 2006, hlm. 4.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 28–29.
- ^ a b Jaspert 2006, hlm. 29.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 33–41, 47.
- ^ Ellenblum 2012, hlm. 3.
- ^ a b c Tyerman 2019, hlm. 47.
- ^ Cobb 2016, hlm. 60–70.
- ^ Mayer 2009, hlm. 17.
- ^ Ellenblum 2012, hlm. 46–47.
- ^ Lock 2006, hlm. 12.
- ^ Ellenblum 2012, hlm. 61–122.
- ^ Lock 2006, hlm. 12–14.
- ^ Cobb 2016, hlm. 71–72.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 45.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 57.
- ^ Backman 2022, hlm. 287–288.
- ^ Cobb 2016, hlm. 49–60.
- ^ Bysted 2014, hlm. 57.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 26.
- ^ Morris 2001, hlm. 144–145.
- ^ a b Bysted 2014, hlm. 57–58.
- ^ France 1999, hlm. 188–189.
- ^ a b Bull 2002, hlm. 18.
- ^ Tyerman 2007, hlm. 49.
- ^ a b Jotischky 2017, hlm. 25–27.
- ^ Backman 2022, hlm. 301–302.
- ^ Bysted 2014, hlm. 209.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm. 78.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 33.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm. 69.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 4–5.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm. 691.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 237–238.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm. 71.
- ^ Lloyd 2002, hlm. 48.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 5.
- ^ Riley-Smith 2005, hlm. 128.
- ^ Brundage 1997, hlm. 141–143.
- ^ Brundage 1997, hlm. 144–145.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm. 71–72.
- ^ Brundage 1997, hlm. 146-147, 152–153.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 64.
- ^ Brundage 1997, hlm. 147.
- ^ Blaydes & Paik 2016, hlm. 558.
Kepustakaan
- Ailes, Marianne (2019). "The Chanson de geste". Dalam Bale, Anthony (ed.). The Cambridge Companion to the Literature of the Crusades. Cambridge Companions to Literature. Cambridge University Press. hlm. 25–38. ISBN 978-1-1084-7451-1.
- Al'Zoby, Mazhar (2021). "'Frankish Invasions' and 'A Cosmic Struggle between Islam and Christianity'—A View from Jordan". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial Histories—Current Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol. Three. Routledge. hlm. 24–25. ISBN 978-0-367-51127-2.
- Asbridge, Thomas (2012) [2010]. The Crusades: The War for the Holy Land. Simon and Schuster. ISBN 978-1-8498-3688-3.
- Backman, Clifford R. (2022) [2009]. The Worlds of Medieval Europe (Edisi Fourth). Oxford University Press. ISBN 978-0-1975-7153-8.
- Blaydes, Lisa; Paik, Christopher (Summer 2016). "The Impact of Holy Land Crusades on State Formation: War Mobilization, Trade Integration, and Political Development in Medieval Europe". International Organization. 70 (3): 551–586. doi:10.1017/S0020818316000096. ISSN 0020-8183. JSTOR 24758130.
- Bartlett, Robert (1994) [1993]. The Making of Europe: Conquest, Colonization and Cultural Change, 950–1350. Penguin Books. ISBN 978-0-140-15409-2.
- Bouras, Charalambos (2001). "The Impact of Frankish Architecture on Thirteenth-Century Byzantine Architecture". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm. 247–262. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Brundage, James A. (1997). "Crusaders and Jurists: The Legal Consequences of Crusader Status". Dalam Vauchez, André (ed.). Le concile de Clermont de 1095 et l'appel à la croisade. Actes du Colloque Universitaire International de Clermont-Ferrand (23-25 juin 1995). Publications de l'École française de Rome. Vol. 236. École française de Rome. hlm. 141–154. ISBN 978-2-7283-0388-5.
- Bull, Marcus (2002) [1999]. "Origins". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 15–34. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Bysted, Ane L. (2014). The Crusade Indulgence: Spiritual Rewards and the Theology of the Crusades, ca 1095–1216. History of Warfare. Vol. 103. BRILL. ISBN 978-9-0042-8043-4.
- Carr, Mike (2016) [2014]. Merchant Crusaders in the Aegean, 1291–1352. Warfare in History. The Boydell Press. ISBN 978-1-7832-7405-5.
- Caspi-Reisfeld, Keren (2001). "Women Warriors during the Crusades, 1095–1254". Dalam Edgington, Susan B.; Lambert, Sarah (ed.). Gendering the Crusades. University of Wales Press. hlm. 94–107. ISBN 978-0-7083-1698-6.
- Cassidy-Welch, Megan (2023). Crusades and Violence. ARC Humanities Press. ISBN 978-1-6418-9475-3.
- Chazan, Robert (2006). The Jews of Medieval Western Christendom, 1000–1500. Cambridge Medieval Textbooks. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-84666-0.
- Chrissis, Nikolaos G. (2021). "Western Agression and Greco—Latin Interaction—A View from Syria". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial Histories—Current Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol. Three. Routledge. hlm. 42–44. ISBN 978-0-367-51127-2.
- Christiansen, Eric (1997) [1980]. The Northern Crusades (Edisi Second). Penguin Books. ISBN 978-0-14-026653-5.
- Cobb, Paul M. (2016) [2014]. The Race for Paradise: An Islamic History of the Crusades. Oxford University Press. ISBN 978-0-1987-8799-0.
- Constable, Giles (2001). "The Historiography of the Crusades". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm. 1–22. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Cortest, Luis (1998). "Introduction". Dalam Economou, George (ed.). Poem of the Cid: A Modern Translation with Notes by Paul Blackburn. University of Oklahoma Press. hlm. xi–xvi. ISBN 978-0-8061-3022-4.
- Coureas, Nicholas (2021). "The Crusades Confront the Orthdoxs—A Greek Cypriot Viewpoint". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial Histories—Current Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol. Three. Routledge. hlm. 39–41. ISBN 978-0-367-51127-2.
- Dennis, George T. (2001). "Defenders of the Christian People: Holy War in Byzantium". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm. 31–40. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Dickson, Gary (2006). "Popular Crusades". Dalam Murray, Alan V. (ed.). K–Q. The Crusades: An Encyclopedia. Vol. III. ABC Clio. hlm. 975–979. ISBN 978-1-57607-862-4.
- Dodwell, C. R. (1993). The Pictorial Arts of the West: 800–1200. Pelican History of Art. Yale University Press. ISBN 978-0-300-06493-3.
- Edbury, Peter (2002) [1999]. "The Latin East, 1291–1661". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 291–322. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- El-Azhari, Taef Kamal (2021). "The Former Victors over the Crusades in Palestine—A View from Egypt". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial Histories—Current Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol. Three. Routledge. hlm. 45–46. ISBN 978-0-367-51127-2.
- Ellenblum, Ronnie (2012). The Collapse of the Eastern Mediterranean: Climate Change and the Decline of the East, 950–1072. Cambridge University Press. ISBN 978-1-1070-2335-2.
- Folda, Jaroslav (2002) [1999]. "Art in the Latin East, 1098–1291". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 138–154. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Forey, Alan (2002) [1999]. "The Military Orders, 1120–1312". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 15–34. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- France, John (1999). Western Warfare in the Age of the Crusades, 1000–1300. Cornell University Press. ISBN 978-0-8014-3671-0.
- Friedman, Yvonne (2001). "Captivity and Randsom: The Experience of Women". Dalam Edgington, Susan B.; Lambert, Sarah (ed.). Gendering the Crusades. University of Wales Press. hlm. 121–139. ISBN 978-0-7083-1698-6.
- Gerstel, Sharon E. J. (2001). "Art and Identity in the Medieval Morea". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm. 263–286. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Ghazarian, Jacob G. (2005) [2000]. The Armenian Kingdom in Cilicia during the Crusades: The Integration of Cilician Armenians with the Latins, 1080–1393. RoutledgeCurzon. ISBN 978-0-7007-1418-6.
- Haydock, Nickolas (2009a). "'The Unseen Cross Upon the Breast': Medievalism, Orientalism, and Discontent". Dalam Haydock, Nickolas; Risden, E. L. (ed.). Hollywood in the Holy Land: Essays on Film Depictions of the Crusades and Christian–Muslim Clashes. McFarland & Company. hlm. 1–38. ISBN 978-0-7864-4156-3.
- Haydock, Nickolas (2009b). "Homeland Security: Northern Crusades through the East–European Eyes of Alexander Nevsky and the Nevsky Tradition". Dalam Haydock, Nickolas; Risden, E. L. (ed.). Hollywood in the Holy Land: Essays on Film Depictions of the Crusades and Christian–Muslim Clashes. McFarland & Company. hlm. 47–96. ISBN 978-0-7864-4156-3.
- Hillenbrand, Carole (2018) [1999]. The Crusades: Islamic Perspectives. Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-0630-6.
- Hodgson, Natasha R. (2017) [2007]. Women, Crusading and the Holy Land in Historical Narrative. Warfare in History. The Boydell Press. ISBN 978-1-78327-270-9.
- Hornby, A. S. (2005) [1948]. Wehmeier, Sally; McIntosh, Colin; Turnbull, Joanna; Ashby, Michael (ed.). Oxford Advanced Learner's Dictionary (Edisi Seventh). Oxford University Press. ISBN 978-0-1943-1606-4.
- Housley, Norman (2002) [1999]. "The Crusading Movement, 1274–1700". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 258–290. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Irwin, Robert (2002) [1999]. "Islam and the Crusades, 1096–1699". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 211–257. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Isa, Mohamad (2021). "A Sate of Continuous Rape and Violation—A View from Syria". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial Histories—Current Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol. Three. Routledge. hlm. 62–63. ISBN 978-0-367-51127-2.
- Jaspert, Nikolas (2006) [2003]. The Crusades. Routledge. ISBN 978-0-4153-5968-9.
- Jeffreys, Elizabeth; Jeffreys, Michael (2001). "The "Wild Beast from the West": Immediate Literary Reactions in Byzantium to the Second Crusade". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm. 101–116. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Jotischky, Andrew (2017) [2004]. Crusading and the Crusader States (Edisi Second). Routledge. ISBN 978-1-1388-0806-5.
- Kazhdan, Alexander (2001). "Latins and Franks in Byzantium: Perception and Reality from the Eleventh to the Twelfth Century". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm. 83–100. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Kostick, Conor (2008). The Social Structure of the First Crusade. The Medieval Mediterranean: Peoples, Economies and Cultures, 400–1500. Vol. 76. Brill. ISBN 978-90-04-16665-3.
- Lapina, Elizabeth (2019). "Crusader Chronicles". Dalam Bale, Anthony (ed.). The Cambridge Companion to the Literature of the Crusades. Cambridge Companions to Literature. Cambridge University Press. hlm. 11–24. ISBN 978-1-1084-7451-1.
- Latham, Andrew (March 2011). "Theorizing the Crusades: Identity, Institutions, and Religious War in Medieval Latin Christendom". International Studies Quarterly. 5 (1): 223–243. doi:10.1111/j.1468-2478.2010.00642.x. ISSN 0020-8833. JSTOR 23019520.
- Lilie, Ralph-Johannes (1993) [1981]. Byzantium and the Crusader States, 1096-1204. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-820407-7.
- Lloyd, Simon (2002) [1999]. "The Crusading Movement, 1096–1274". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 35–67. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Lock, Peter (1995). The Franks in the Aegean, 1204–1500. Longman. ISBN 978-0-58-205139-3.
- Lock, Peter (2006). The Routledge Companion to the Crusades. Routledge Companion to History. Routledge. ISBN 978-0-4153-9312-6.
- Luttrell, Anthony (2002) [1999]. "The Military Orders, 1312–1798". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 323–362. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- MacEvitt, Christopher (2008). The Crusades and the Christian World of the East: Rough Tolerance. The Middle Ages. University of Pennsylvania Press. ISBN 978-0-8122-2083-4.
- Madden, Thomas F. (2013). The Concise History of the Crusades. Critical Issues in World and International History (Edisi Third). Rowman & Littlefield. ISBN 978-1-4422-1575-7.
- Mallett, Alex (2020) [2014]. Popular Muslim Reactions to the Franks in the Levant, 1097–1291. Routledge. ISBN 978-0-367-60103-4.
- Mayer, Hans Eberhard (2009) [1965]. The Crusades. Diterjemahkan oleh John Gillingham (Edisi Second). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-873097-2.
- Menache, Sophia (2021). "In the Frontier of the Former Kingdom of Jerusalem: Risk of Misunderstanding—A View from Israel". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial Histories—Current Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol. Three. Routledge. hlm. 72–74. ISBN 978-0-367-51127-2.
- Morris, Colin (2001) [1989]. The Papal Monarchy: The Western Church from 1050 to 1250. Oxford History of the Christian Church. Clarendon Press. ISBN 978-0-19-826925-0.
- Murray, Alan V. (2006). "Preface". Dalam Murray, Alan V. (ed.). A–C. The Crusades: An Encyclopedia. Vol. I. ABC Clio. hlm. xxxi–xxxii. ISBN 978-1-57607-862-4.
- Nicholson, Helen (2004). The Crusades. Greenwood Guides to Historic Events of the Medieval World. Greenwood Press. ISBN 978-0-313-32685-1.
- O'Callaghan, Joseph F. (2003). Reconquest and Crusade in Medieval Spain. The Middle Ages. University of Pennsylvania Press. ISBN 978-0-8122-1889-3.
- Paterson, Linda (2019). "The Troubadours and Their Lyrics". Dalam Bale, Anthony (ed.). The Cambridge Companion to the Literature of the Crusades. Cambridge Companions to Literature. Cambridge University Press. hlm. 39–53. ISBN 978-1-1084-7451-1.
- Phillips, Jonathan (2002) [1999]. "The Latin East, 1098–1291". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 111–137. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Phillips, Jonathan (2014) [2002]. The Crusades, 1095–1204. Seminar Studies (Edisi Second). Routledge. ISBN 978-1-4058-7293-5.
- Pringle, Denys (2002) [1999]. "Architecture in the Latin East, 1098–1571". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 155–175. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Riley-Smith, Jonathan (2002a) [1999]. "The State of Mind of Crusaders to the East, 1095–1300". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 68–89. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Riley-Smith, Jonathan (2002b) [1999]. "Revival and Survival". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 385–389. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Riley-Smith, Jonathan (2005) [2001]. "The Crusading Movement". Dalam Hartmann, Anja V.; Hauser, Beatrice (ed.). War, Peace and World Orders in European History. Routledge. hlm. 127–140. ISBN 978-0-415-24440-4.
- Routledge, Michael (2002) [1999]. "Songs". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 90–110. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Shachar, Uri Zvi (2019). "Hebrew Crusade Literature in Its Latin and Arabic Contexts". Dalam Bale, Anthony (ed.). The Cambridge Companion to the Literature of the Crusades. Cambridge Companions to Literature. Cambridge University Press. hlm. 102–118. ISBN 978-1-1084-7451-1.
- Sturtevant, Paul B. (2009). "SaladiNasser: Nasser's Political Crusade in El Naser Salah Ad-Din". Dalam Haydock, Nickolas; Risden, E. L. (ed.). Hollywood in the Holy Land: Essays on Film Depictions of the Crusades and Christian–Muslim Clashes. McFarland & Company. hlm. 123–146. ISBN 978-0-7864-4156-3.
- Thomson, John A. (1998). The Western Church in the Middle Ages. Arnold. ISBN 978-0-340-60118-1.
- Thomson, Robert W. (2001). "The Crusaders through Armenian Eyes". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm. 71–82. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Tibble, Steve (2025) [2024]. Crusader Criminals: The Knights Who Went Rogue in the Holy Land. Yale University Press. ISBN 978-0-300-28429-4.
- Tyerman, Christopher (2007) [2006]. God's War: A History of the Crusades. Penguin Books. ISBN 978-0-1402-6980-2.
- Tyerman, Christopher (2011). The Debate on the Crusades, 1099–2010. Issues in Historiography. Manchester University Press. ISBN 978-0-7190-7320-5.
- Tyerman, Christopher (2019). The World of the Crusades: An Illustrated History. Yale University Press. ISBN 978-0-3002-1739-1.
- Wicks, Jared (September 1967). "Martin Luther's Treatise on Indulgences". Theological Studies. 28 (3): 481–518. doi:10.1177/004056396702800302.
Bacaan tambahan
- Boas, Adrian J., ed. (2016). The Crusader World. The Routledge Worlds. Routledge. ISBN 978-0-415-82494-1.
- Maier, Christophe T. (2010). Crusade Propaganda and Ideology: Model Sermons for the Preaching of the Cross. Cambridge University Press. doi:10.1017/CBO9780511496554. ISBN 978-0-5114-9655-4.
- Nicholson, Helen J, ed. (2005). Palgrave Advances in the Crusades. Palgrave Macmillan. doi:10.1057/9780230524095. ISBN 978-1-4039-1237-4.
- Polk, William R. (2018). Crusade and Jihad: The Thousand-Year War Between the Muslim World and the Global North. The Henry L. Stimson Lectures Series. Yale University Press. ISBN 978-0-3002-2290-6.
- Spencer, Stephen J. (2019). Emotions in a Crusading Context, 1095-1291. Oxford University Press. ISBN 978-0-1988-3336-9.
- Tyerman, Christopher (1995). "Were There Any Crusades in the Twelfth Century?". The English Historical Review. 110 (437). Oxford University Press: 553–577. doi:10.1093/ehr/CX.437.553. JSTOR 578335.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


