Feminisme budaya

Feminisme budaya (dalam bahasa Inggris : cultural feminism) adalah salah satu aliran feminisme yang berupaya menilai kembali dan mendefinisikan ulang sifat-sifat yang secara budaya dilekatkan pada perempuan.[1][2] Istilah feminisme budaya juga digunakan untuk merujuk pada teori-teori yang menekankan adanya perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki. Dalam kerangka ini, perbedaan gender dipandang sebagai sesuatu yang patut diakui, baik sebagai hasil pembentukan budaya maupun sebagai sesuatu yang bersifat bawaan.[3]

Feminisme budaya berkembang sebagai aliran yang berbeda dari sebagian feminisme radikal. Jika feminisme radikal memandang feminitas sebagai konstruksi sosial yang dibentuk oleh sistem patriarki, feminisme budaya menekankan penghargaan terhadap nilai-nilai yang diasosiasikan dengan perempuan. Pendekatan ini dikaitkan dengan pandangan esensialis tentang perbedaan gender dan penilaian positif terhadap sifat-sifat yang dilekatkan pada perempuan.[1][4][5]

Teori

Dalam pengembangannya, feminisme budaya berangkat dari anggapan bahwa posisi perempuan dalam masyarakat sangat dibentuk oleh sistem patriarki. Aliran ini berupaya menilai kembali sifat-sifat yang secara budaya dilekatkan pada perempuan. Filsuf feminis Linda Alcoff menjelaskan bahwa feminisme budaya cenderung menafsirkan ulang ciri-ciri seperti pasivitas, emosionalitas, atau subjektivitas yang sering dinilai negatif sebagai kualitas positif, misalnya kecenderungan pada perdamaian, kemampuan merawat, dan kesadaran diri.[1]

Gagasan yang kemudian diasosiasikan dengan feminisme budaya dapat ditelusuri pada tokoh abad ke-19. Jane Addams dan Charlotte Perkins Gilman menekankan pentingnya kerja sama, kepedulian, dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan dalam kehidupan publik.[6] Menurut Josephine Donovan, gagasan serupa telah muncul dalam karya Margaret Fuller, khususnya Woman in the Nineteenth Century (1845), telah mengemukakan pandangan tentang pentingnya dimensi emosional dan intuitif dalam pengetahuan.[7][8]

Alice Echols menyatakan bahwa feminisme budaya memandang pembebasan perempuan sebagai pengembangan dan pelestarian budaya yang berpusat pada perempuan.[4]: 35  Echols mengaitkan pendekatan ini dengan tokoh seperti Kathleen Barry, Susan Brownmiller, Mary Daly, Andrea Dworkin, Susan Griffin, Robin Morgan, Janice Raymond, Adrienne Rich, and Florence Rush.[1][9] Gerakan feminisme separatis, feminisme lesbian, serta inisiatif penerbitan perempuan juga kerap diasosiasikan dengan feminisme budaya karena menekankan pembentukan ruang sosial dan budaya yang dikelola perempuan.[10][11]

Beberapa tokoh feminisme budaya menekankan dimensi biologis dan pengalaman khas perempuan. Mary Daly mengaitkan pengalaman perempuan dengan konsep energi yang berorientasi pada kehidupan.[1] Adrienne Rich membedakan antara keibuan sebagai institusi sosial yang dibentuk dalam kerangka patriarki dan dan pengalaman keibuan sebagai relasi personal.[12] Hubungan antara ibu dan anak perempuan dipandang sebagai aspek penting yang perlu dipulihkan dari pengaruh struktur sosial yang menekan.[13]

Mary Daly mengembangkan gagasan tentang “energi perempuan”, yang disebut sebagai Gyn/Ecology, dan mengaitkannya dengan kemampuan biologis perempuan untuk melahirkan dan menopang kehidupan. Dalam kerangka pemikirannya, potensi ini dipandang ditekan oleh agresi dan dominasi laki-laki.[1] Adrienne Rich juga berpendapat bahwa tubuh dan pengalaman biologis perempuan memiliki potensi yang kuat, tetapi potensi tersebut kerap dibatasi ketika didefinisikan melalui perspektif laki-laki.[12] Sebagian feminis budaya mendorong pembentukan pusat dan ruang yang dikelola khusus oleh perempuan sebagai upaya menantang konstruksi gender yang dianggap merugikan. Selain pemisahan secara fisik, mereka juga menyerukan jarak dari nilai-nilai yang diasosiasikan dengan budaya laki-laki. Bentuk pemisahan dalam feminisme budaya ini mendapat kritik karena dinilai mengabaikan analisis terhadap patriarki sebagai struktur sosial dan cenderung memusatkan perhatian pada laki-laki sebagai individu penyebab penindasan perempuan.[13]

Dalam beberapa gagasan yang berkembang dalam aliran ini, perempuan dipandang sebagai kelompok sosial yang paling penting sekaligus paling terpinggirkan. Mary Daly berpendapat bahwa kategori identitas lain, seperti etnisitas dan kelas, dibentuk menurut perspektif laki-laki. Akibatnya, perempuan yang mengidentifikasi diri melalui kategori tersebut cenderung terpisah dari solidaritas dengan perempuan lainnya.[1] Sementara itu, Adrienne Rich menyatakan bahwa beban sosial yang ditanggung perempuan bersifat luas dan kompleks.[12]

Sifat keibuan dan proses melahirkan menjadi topik penting dalam teori feminisme budaya. Adrienne Rich membedakan antara sifat keibuan sebagai institusi sosial yang dibentuk dalam kerangka patriarki dan dan pengalaman keibuan sebagai relasi personal.[12] Hubungan antara ibu dan anak perempuan dipandang sebagai aspek penting yang perlu dipulihkan dari pengaruh struktur sosial yang menekan.[4]

Dalam kajiannya mengenai teori gelombang feminisme kedua, kritikus sastra Carol Anne Douglas menilai bahwa buku Woman and Nature: The Roaring Inside Her karya Susan Griffin berperan penting dalam perkembangan feminisme budaya. Douglas menyoroti bagaimana karya tersebut mengaitkan kritik terhadap dominasi patriarkal dengan persoalan biologi dan konstruksi tentang “alam perempuan”, yang kemudian menjadi salah satu ciri pembahasan dalam arus teori ini.[14]

Referensi

  1. ^ a b c d e f g Alcoff, Linda (1988). "Cultural Feminism versus Post-Structuralism: The Identity Crisis in Feminist Theory". Signs: Journal of Women in Culture and Society. 13 (3): 405–436. doi:10.1086/494426. ISSN 0097-9740. JSTOR 3174166.
  2. ^ Tong, Rosemarie (2009). "Radical Feminism: Libertarian and Cultural Perspectives". Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction (Edisi 3rd). Boulder, Colo.: Westview Press. ISBN 978-0-8133-4375-4.
  3. ^ Kramarae, Cheris; Spender, Dale (2000). Routledge International Encyclopedia of Women: Global Women's Issues and Knowledge. New York: Routledge. hlm. 746. doi:10.4324/9780203800942. ISBN 978-0-415-92090-2.
  4. ^ a b c Echols, Alice (1983). "Cultural Feminism: Feminist Capitalism and the Anti-Pornography Movement". Social Text (7): 34–53. doi:10.2307/466453. ISSN 0164-2472. JSTOR 466453.
  5. ^ Evans, Judy (1995). "Cultural Feminism: Feminism's First Difference". Feminist Theory Today: An Introduction to Second-Wave Feminism. London: SAGE Publications. hlm. 73. ISBN 978-1-4462-6493-5. OCLC 874319830.
  6. ^ Ritzer, George (2007). Contemporary Sociological Theory and Its Classical Roots. Boston: McGraw-Hill. ISBN 978-0-07-299759-0.
  7. ^ Donovan, Josefine (2000). Feminist Theory: The Intellectual Traditions (Edisi 3d). New York: Continuum. ISBN 978-1-84714-118-7.
  8. ^ Levine, Amy-Jill; Blickenstaff, Marianne (2004). A Feminist Companion to the Acts of the Apostles. London: T & T Clark. hlm. 242. ISBN 978-0-8264-6252-7.
  9. ^ "God, Mom & Apple Pie: 'Feminist' Businesses as an Extension of the American Dream". Off Our Backs. 5 (11): 18–20. 1976. ISSN 0030-0071. JSTOR 25772445.
  10. ^ Adams, Kate (1998). "Built Out of Books: Lesbian Energy and Feminist Ideology in Alternative Publishing". Journal of Homosexuality. 34 (3–4): 113–141. doi:10.1300/J082v34n03_07. ISSN 0091-8369.
  11. ^ Klinger, Alisa (1995). Paper Uprisings: Print Activism in the Multicultural Lesbian Movement (Ph.D. thesis). University of California, Berkeley. hlm. 52–55. ISBN 979-8-208-21876-1.
  12. ^ a b c d Rich, Adrienne Cécile (1997). Of Woman Born: Motherhood as Experience and Institution. London: Virago. ISBN 978-0-86068-031-4. OCLC 263689375.
  13. ^ a b Bromley, Victoria L. (2012). Feminisms Matter: Debates, Theories, Activism. University of Toronto Press. ISBN 978-1-4426-0500-8.
  14. ^ Douglas, Carol Anne (July 1990). Love and Politics: Radical Feminist and Lesbian Theories. San Francisco: Ism Press. ISBN 978-0-910383-17-2.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement