Gelombang feminisme pertama
Feminisme gelombang pertama adalah periode aktivitas dan pemikiran feminis yang terjadi selama abad ke-19 dan awal abad ke-20 di dunia Barat. Gerakan ini berfokus pada isu-isu hukum, terutama untuk memperoleh hak pilih bagi perempuan. Istilah ini sering digunakan secara sinonim dengan jenis feminisme yang dianut oleh gerakan hak-hak perempuan liberal yang berakar pada gelombang pertama, dengan organisasi seperti International Alliance of Women dan afiliasinya. Gerakan feminis ini tetap berfokus pada kesetaraan dari sudut pandang hukum.[1]
Istilah first-wave feminism sendiri diciptakan oleh jurnalis Martha Lear dalam sebuah artikel di New York Times Magazine pada Maret 1968 berjudul “The Second Feminist Wave: What do these women want?”[2][3][3] Feminisme gelombang pertama dicirikan oleh perjuangannya untuk kekuasaan politik bagi perempuan, bukan sekadar melawan ketidaksetaraan informal (de facto).
Secara umum, gelombang pertama feminisme memperjuangkan kesetaraan formal, sedangkan gelombang-gelombang berikutnya biasanya memperjuangkan kesetaraan substantif.[4]
Metafora “gelombang” telah digunakan secara luas, termasuk dalam literatur akademik, tetapi juga dikritik karena dianggap menciptakan pandangan yang sempit tentang pembebasan perempuan—karena menghapus kesinambungan sejarah aktivisme dan hanya menyoroti tokoh-tokoh tertentu yang terlihat.[5]
Istilah “gelombang pertama” dan model “gelombang” secara umum juga dipertanyakan ketika diterapkan pada gerakan perempuan di luar dunia Barat, karena periodisasi dan pengembangan terminologi tersebut sepenuhnya didasarkan pada peristiwa feminisme Barat, sehingga tidak dapat diterapkan secara tepat pada konteks non-Barat.
Namun demikian, perempuan yang berpartisipasi dalam aktivisme politik untuk kesetaraan gender di berbagai negara non-Barat sering kali mencontoh tuntutan para feminis Barat untuk hak-hak hukum. Aktivisme semacam ini berkaitan dengan feminisme gelombang pertama di Barat dan terjadi pada akhir abad ke-19 hingga 1930-an, sering kali berhubungan erat dengan gerakan nasionalis anti-kolonial.
Terminologi global
Isu-isu mengenai inklusi yang muncul selama gelombang pertama gerakan feminis di Amerika Serikat dan terus berlanjut sepanjang gelombang-gelombang feminisme berikutnya telah menjadi topik perdebatan akademis yang signifikan.
Beberapa sarjana menganggap model “gelombang” feminisme Barat bermasalah, karena menyederhanakan sejarah panjang aktivisme menjadi kategori-kategori terpisah yang mencirikan generasi aktivis tertentu, alih-alih mengakui sejarah perjuangan hak-hak perempuan yang kompleks, saling terhubung, dan interseksional.
Pendekatan ini dianggap mengurangi makna perjuangan dan pencapaian banyak individu, serta memperparah perpecahan dan konflik antara berbagai kelompok feminis yang terpinggirkan.[6]
Poin-poin perdebatan yang masih muncul dalam diskusi modern tentang feminisme Barat dan global berakar pada ketidaksetaraan yang menandai feminisme gelombang pertama. Cara Barat memposisikan diri sebagai otoritas dalam diskursus feminisme global telah dikritik oleh para feminis di Amerika Serikat seperti bell hooks, karena dianggap mereplikasi hierarki kolonial dalam diskusi, memusatkan kepemilikan pengetahuan pada Barat, serta menjadikan gender sebagai satu-satunya dasar kesetaraan.[7]
Gagasan tentang “dekolonisasi feminisme” (decolonizing feminism) muncul sebagai respons terhadap posisi politik dan intelektual yang dominan dari feminisme Barat. Dengan mengakui keberadaan berbagai bentuk feminisme di seluruh dunia, feminisme global berusaha menanggapi ruang pandang yang sempit dan kurangnya perhatian terhadap identitas interseksional yang telah ada sejak feminisme gelombang pertama di dunia Barat.
Keberadaan beragam feminisme dan bentuk aktivisme di berbagai belahan dunia merupakan akibat dari kenyataan bahwa feminisme gelombang pertama sendiri dibentuk oleh sejarah kolonialisme dan imperialisme.[8]
Referensi
- ^ Tong, Rosemarie; Botts, Tina Fernandes (2017). Feminist thought: a more comprehensive introduction (Edisi Fifth edition). New York London: Routledge, Taylor & Francis Group. ISBN 978-0-429-97487-8.
- ^ "The Second Feminist Wave (Published 1968)" (dalam bahasa Inggris). 1968-03-10. Diakses tanggal 2025-11-08.
- ^ a b "First Wave Feminism". BCC Feminist Philosophy (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-08.
- ^ Whelehan, Imelda (1995-06-01). Modern Feminist Thought: From the Second Wave to 'Post-Feminism'. Edinburgh University Press. doi:10.1515/9780748632084. isbn 978-0-7486-3208-4.. ISBN 978-0-7486-3208-4.
- ^ Hewitt, Nancy A., ed. (2010). No permanent waves: recasting histories of U.S. feminism. New Brunswick, New Jersey: Rutgers University Press. ISBN 978-0-8135-4724-4.
- ^ Reger, Jo (2017). "Finding a Place in History: The Discursive Legacy of the Wave Metaphor and Contemporary Feminism". Feminist Studies (dalam bahasa Inggris). 43 (1): 193–221. doi:10.1353/fem.2017.0012. ISSN 2153-3873.
- ^ Needham, Anuradha Dingwaney (2010-07). "Response: Theorizing the 'First Wave' Globally". Feminist Review (dalam bahasa Inggris). 95 (1): 64–68. doi:10.1057/fr.2009.65. ISSN 0141-7789.
- ^ www.berghahnjournals.com https://www.berghahnjournals.com/view/journals/cja/36/2/cja360205.xml. Diakses tanggal 2025-11-08.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


