Sungai Bongka

Sungai Bongka
Sungai Bangka, Salo Bongka, Sungai Kalingsu, Salo Kalingsoe
PetaKoordinat: 0°59′0″S 121°25′0″E / 0.98333°S 121.41667°E / -0.98333; 121.41667
Lokasi
Negara Indonesia
ProvinsiSulawesi Tengah
Ciri-ciri fisik
Hulu sungai 
 - lokasiBulan Jaya, Ampana Tete, Tojo Una-Una Regency, Central Sulawesi
Hulu ke-2 
 - lokasiWatoekandjoa, Kolo Atas, Morowali Regency, Central Sulawesi
Hulu ke-3 
 - lokasiBaraba, Menyo'e, Morowali Regency, Central Sulawesi
Muara sungaiTeluk Tomini
 - lokasiTampanombo, Ulubongka, Tojo Una-Una Regency, Central Sulawesi
 - koordinat0°59′38″S 121°24′43″E / 0.993778°S 121.412028°E / -0.993778; 121.412028
Daerah Aliran Sungai
Sistem sungaiDAS Bongka (DAS510459)
Luas DAS3.330 km2 (1.290 sq mi)
Pengelolaan sungaiBPDASHL Palu Poso;
Informasi lokal
Zona waktuWITA (UTC+8)
GeoNames1648224
Peta DAS Bongka


Sungai Bongka adalah sungai yang berada di Sulawesi Tengah, Indonesia, sekitar 1700 km di timur laut ibu kota Jakarta.[1][2] Sungai Bongka bermuara di perairan Teluk Tomini, wilayah Tampanombo. Sedangkan kawasan hulu terjauh sungai ini berada di Bulan Jaya.

Hidrologi DAS Bongka

Sungai Bongka merupakan aliran utama dalam sistem daerah aliran sungai yaituDAS Bongka dengan luas daerah tangkapan air mencapai 3.330 km2 (1.290 sq mi) yang mencakup wilayah kabupaten Tojo Una-una di bagian tengah hingga kawasan hilir DAS dan Morowali Utara mulai dari kawasan hulu hingga bagian tengah DAS. DAS Bongka merupakan DAS Pegunungan, dari kawasan hulunya hingga ke bagian hilirnya.[3]

Pemanfaatan

Rencana pembangunan PLTA Bongka

Pemerintah berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 275 MW dengan memanfaatkan aliran Sungai Bongka yang berlokasi di wilayah Ulubongka, Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah. Proyek tersebut telah diinisiasi sejak tahun 2017 oleh perusahaan Korea Water Resources Corporation (K-Water) melalui PT. Bongka Nova Energi. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menyetujui rencana ini dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada tahun 2022.[4][5]

Pembangunan PLTA tersebut bertujuan menyediakan pasokan listrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah Sulawesi Tengah serta dalam mendukung transisi energi terbarukan di Indonesia.[6]

Hingga saat ini, proyek PLTA Bongka masih dalam tahap perencanaan dan menghadapi berbagai kendala. Protes dan kritik dari masyarakat lokal dan organisasi lingkungan terus mengiringi rencana pembangunan ini. Meskipun pemerintah daerah mendukung proyek ini, proses perizinan dan partisipasi masyarakat yang minim masih menjadi hambatan utama.[7][8]

Potensi wisata DAS Bongka

DAS Bongka menawarkan panorama alam yang indah, flora dan fauna yang beragam, serta budaya lokal yang masih terjaga. Atraksi utamanya adalah arung jeram dan eksplorasi kehidupan masyarakat adat.

Masyarakat adat DAS Bongka

Orang Salaki termasuk rumpun Suku Wana yang menetap di DAS Bongka, sejak ratusan tahun lalu. Pola ladang rotasi, berburu dan memanen hasil hutan seperti rotan, damar dan gaharu telah dilakukan sejak zaman kolonial Belanda. Wilayah adat Salaki dijadikaan Hutan Lindung oleh Negara pada tahun 1999. Pemerintah beberapa kali memaksa mereaka untuk direlokasi (resetlement).[9]

Latar belakang Masyarakat Adat Tau Taa Wana

Kawasan hutan di Pedalaman Tojo Una-Una, khususnya di wilayah Dataran Tinggi Bulang, Daerah Aliran Sungai Bongka, merupakan salah satu area penting yang didiami dan dilestarikan oleh masyarakat adat Tau Taa Wana. Bagi masyarakat Tau Taa Wana, wilayah hutan di DAS Bongka, yang menjadi muara dari Sungai Bulang dan Mkasi, dianggap sebagai tempat yang paling baik dan dipercaya sebagai tempat asal leluhur mereka. Pijakan tanah pertama di Bongka, khususnya di hulu Sungai Bongka di Pegunungan Katurende dan Kadata, dianggap sebagai awal mitologi Kaju Paramba’a (kayu yang beranak), yang kemudian disebut Kaju Marangka. Tempat ini disakralkan sebagai tempat lahirnya leluhur Tau Taa Wana.[10]

Leluhur masyarakat Tau Taa Wana diduga kuat berasal dari kawasan hutan di bagian selatan-tenggara Pulau Sulawesi (atau bagian barat daya/barat laut Malili). Melalui fase persebaran dan migrasi kedua pada masa prasejarah, rombongan leluhur ini bergerak ke utara dan timur, menyusuri berbagai sungai dan pegunungan, hingga akhirnya tiba di daerah hulu Sungai Bau dan bergerak bermigrasi serta melakukan persebaran ke timur, tepatnya di DAS Bongka. Prinsip persebaran ini memungkinkan orang Tau Taa Vana tersebar di wilayah yang berbatasan dengan DAS Bongka, seperti Poso, Tentena, Morowali, Tojo Una-Una, dan Banggai.[10]

Masyarakat Tau Taa Wana secara turun-temurun hidup dan menetap di bentangan alam dari Pegunungan Kalunde Lumut di Dataran Tinggi Bulang Tojo Una-Una sampai wilayah Cagar Alam Morowali, termasuk di sekitar DAS Bongka. Hutan di sekitar DAS Bongka difungsikan sebagai ruang pemenuh kebutuhan hidup (konsumsi, pemukiman) dan juga dimanfaatkan kekayaan biodiversitasnya, termasuk tanaman obat untuk praktik pengobatan tradisional seperti Bakum valia dan Mobolong.[10]

Geografi

Sungai ini mengalir di wilayah tengah pulau Sulawesi yang beriklim hutan hujan tropis (kode: Af menurut klasifikasi iklim Köppen-Geiger).[11] Suhu rata-rata setahun sekitar 23 °C. Bulan terpanas adalah Oktober, dengan suhu rata-rata 24 °C, and terdingin April, sekitar 22 °C.[12] Curah hujan rata-rata tahunan adalah 2929 mm. Bulan dengan curah hujan tertinggi adalah April, dengan rata-rata 341 mm, dan yang terendah September, rata-rata 79 mm.[13]

Sungai Bongka
Tabel iklim (penjelasan)
JFMAMJJASOND
 
 
217
 
23
21
 
 
167
 
25
19
 
 
243
 
25
21
 
 
341
 
23
20
 
 
339
 
25
21
 
 
287
 
24
21
 
 
338
 
25
20
 
 
256
 
27
21
 
 
79
 
28
21
 
 
128
 
28
21
 
 
280
 
25
21
 
 
255
 
24
21
Suhu rata-rata maks. dan min. dalam °C
Total presipitasi dalam mm
Sumber: [12]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Sungai Bongka at Geonames.org (cc-by); Last updated 2012-01-17; Database dump downloaded 2015-11-27
  2. ^ Rand McNally, The New International Atlas, 1993.
  3. ^ "Peta Interaktif SIGAP Kementerian LHK - Klasifikasi DAS". Geoportal MenLHK. Diakses tanggal 2025-09-20.
  4. ^ Abas, Ibnu (21 Jul 2023). Sendo, Erlintara (ed.). "PT. Bongka Nova Energi Gelar Konsultasi Publik". RRI. Diakses tanggal 20 September 2025.
  5. ^ PPID (2022-10-08). "GUBERNUR SULAWESI TENGAH SETUJUI PEMBANGUNAN PLTA BONGKA, GANDENG TEKNOLOGI KOREA WATER RESOURCES COORPORATION". Diakses tanggal 2025-09-20.
  6. ^ Dwiantoro, Robert. "Transisi energi di Sulteng bersimpang kenyataan di lapangan - TUTURA.ID | Bertutur jernih, menawarkan perspektif". tutura.id. Diakses tanggal 2025-09-20.
  7. ^ "PLTA BONGKA : Bencana Yang Diundang - WALHI SULTENG | Sulawesi Tengah". WALHI SULTENG. 2023-09-01. Diakses tanggal 2025-09-20.
  8. ^ YMP 1 (2025-01-12). "PLTA Bongka: Antara Listrik dan Air Mata di Tanah Adat*)". Yayasan Merah Putih. Diakses tanggal 2025-09-20. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  9. ^ "TanahKita". tanahkita.id. Diakses tanggal 2025-09-20.
  10. ^ a b c Humaedi, M. Alie (2014). "TRADISI PELESTARIAN HUTAN MASYARAKAT ADAT TAU TAA VANA DI TOJO UNA-UNA SULAWESI TENGAH (The Forest Conservation Tradition of Indigenous People of Tau Taa Vana in Tojo Una-Una Central Sulawesi)" (PDF). Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. 11 (1): 91–111.
  11. ^ Peel, M C; Finlayson, B L; McMahon, T A (2007). "Updated world map of the Köppen-Geiger climate classification". Hydrology and Earth System Sciences. 11. doi:10.5194/hess-11-1633-2007. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  12. ^ a b "NASA Earth Observations Data Set Index". NASA. 30 January 2016. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-05-10. Diakses tanggal 2018-12-27.
  13. ^ "NASA Earth Observations: Rainfall (1 month - TRMM)". NASA/Tropical Rainfall Monitoring Mission. 30 January 2016. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-04-19. Diakses tanggal 2018-12-27.

0°59′38″S 121°24′43″E / 0.993778°S 121.412028°E / -0.993778; 121.412028

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement