Sejarah nama Filipina

Nama dari kepulauan yang saat ini dinamai Filipina (Filipino: Pilipinas, [pɪlɪˈpinɐs]; Spanyol: Filipinas) telah dikenal dengan berbagai nama di berbagai budaya dan di berbagai peridoe waktu, umumnya merujuk pada kelompok pulau tertentu dalam kepulauan tersebut. Bahkan nama Filipina sendiri pada awalnya merujuk pada kepulauan di sekitar Pulau Leyte dan Pulau Samar. Nama tersebut disebut pertama kali oleh penjelajah asal Spanyol, Ruy López de Villalobos atau salah satu dari kaptennya, Bernardo de la Torre sebagai bentuk penghormatan kepada putra mahkota Felipe, yang kemudian menjadi Raja Felipe II dari Spanyol. Pulau Mindanao, yang dicapai oleh penjelajah dan diperkirakan sebagai daratan utama, dinamai "Caesarea Caroli" untuk menghormati Raja Carlos I dari Spanyol. Selama masa penjajahan Spanyol di Filipina, nama Filipina kemudian umum disebut sebagai nama yang merujuk ke seluruh wilayah kepulauan yang dikuasai Spanyol, dan nama tersebut bertahan dengan sedikit perubahan. Ketika terjadi Revolusi Filipina, para revolusioner mendirikan Republik Filipina (Spanyol: República Filipina). Ketika Amerika Serikat menginvasi dan menduduki Filipina, teritori tersebut dinamai Kepulauan Filipina (Spanyol: Islas Filipinas). Ketika Filipina merdeka, nama resmi negara tersebut kemudian ditetapkan sebagai "Filipina".
Nama saat ini


Nama Filipina yang digunakan saat ini diberikan oleh penjelajah asal Spanyol, Ruy López de Villalobos[1][2] atau salah satu dari kaptennya, Bernardo de la Torre.[3][4] Penamaan itu dilakukan pada tahun 1543, melalui sebuah ekspedisi untuk menegakkan kontrol Spanyol atas ujung akhir dari pembagian dunia dengan Portugal melalui perjanjian Tordesillas dan Zaragoza. Penamaan tersebut dilakukan untuk menghormati putra mahkota Felipe, setelah menamai pulau Mindanao untuk menghormati Kaisar Habsburg dan Raja Spanyol, Carlos I. Pada awalnya, nama Felipina dan Islas Felipinas hanya ditujukan pada Kepulauan Leyte, Samar, dan pulau-pulau di sekitarnya,[3][4] tetapi seiring berjalannya waktu, nama tersebut digunakan untuk merujuk kepada kepulauan secara keseluruhan.[5] Nama tersebut kemudian dipinjam ke dalam bahasa Inggris sebagai Phillippine Islands setelah Amerika Serikat menguasai kepulauan tersebut setelah Perang Spanyol–Amerika Serikat dan Perang Filipina–Amerika Serikat.[6]
Dalam bahasa lain
Konstitusi tahun 1987 menyatakan bahwa bahasa resmi negara ialah bahasa Filipina dan bahasa Inggris. Konstitusi tersebut tidak mengatur nama resmi negara, tetapi penggunaan frasa "Republic of the Philippines" digunakan dalam Konstitusi bahasa Inggris secara konsisten. Pasal XIV, bab 8 dari Konstitusi tersebut juga mengamanatkan agar konstitusi tersebut diundangkan dalam bahasa Filipina, tetapi tidak ada versi resmi Konstitusi dengan bahasa Filipina. Adapun "Republika ng Pilipinas" merupakan nama resmi negara de facto dalam bahasa Filipina. Hal yang membedakannya dengan nama bahasa Inggris ialah penggunaan kata artikel "the",[7][8][9] yang tidak ditiru oleh nama resmi bahasa Filipina, yang seharusnya menggunakan kata artikel "ang".
Dalam bahasa Filipina, negara tersebut sudah lama dikenal dengan sebutan Filipinas atau Pilipinas (dalam Tagalog). Penggunaan awalnya diterapkan oleh organisasi Katipunan dalam dokumen dasar yang diuraikan pada tahun 1892.[10] Pada tahun 1930-an, cendekiawan Lope K. Santos mengenalkan alfabet abakada untuk menulis bahasa Tagalog dalam alfabet bahasa Latin, yang tidak memanfaatkan huruf F, karena suara untuk mengeja huruf tersebut tidak ada dalam bahasa Filipina, yang umumnya menganggapnya sama dengan huruf "P". Alfabet abakada kemudian diterapkan pula dalam bahasa-bahasa lain di Filipina. Dengan demikian, Pilipinas menjadi nama yang umum digunakan untuk menyebut negara tersebut.[11]
Komisyon sa Wikang Filipino dan artis terkemuka Filipina seperti Virgillio S. Almario mendorong penggunaaan frasa Filipinas sebagai nama resmi Filipina untuk mencerminkan sejarah negara tersebut[12] serta mencakup semua bahasa negara lain yang fonologinya mengandung /f/, diwakili oleh grafem "F" dalam alfabet Filipina saat ini.[13] Kebijakan ini kemudian dibatalkan oleh komisioner Arthur Casanova pada tahun 2021, yang menyebutnya tidak konstitusional. Komisi tersebut kemudian menyarankan penggunaan nama Pilipinas, alih-alih Filipinas, sebagai nama resmi negara, terutama ketika diucapkan di Filipina.[14]
Dalam pertemuan internasional, perwakilan negara Filipina umumnya menggunakan nama resmi negara dalam bahasa Inggris. Hal ini juga menjadi kebiasaan, bahkan ketika pertemuan tersebut dilakukan di Filipina. Nama negara Filipina dalam bahasa lain sering kali didasarkan pada nama Filipinas atau Pilipinas, yang keduanya dianggap berasal dari bahasa Latin Philippinae.
Nama historis
Kepulauan Filipina sejak dahulu telah dikenal dengan berbagai nama:
- Panyupayana. Cendikiawan dan pedagang dari India dahulu menyebut Kepulauan Filipina dengan sebutan Panyupayana, yang merupakan istilah dari orientasi kosmologi India, yang diterapkan sebagai orientasi geopolitik. Nama ini muncul dalam Purana dan berbagai karya sastra India, seperti Ramayana dan Mahabharata,[15][16] juga karya sastra Filipina seperti Maharadia Lawana.[17][18]
- Ma-i. Menurut kitab Zhu Fan Zhi (诸蕃志/諸蕃誌) karya Zhao Rugua (趙汝适) pada masa Dinasti Song. Pulau-pulau yang ditemukan di bagian selatan Laut Tiongkok Selatan dikenal sebagai Ma-i (麻逸, Hokkien POJ: Mâ-i̍t, Mandarin Pinyin: Máyì). Pulau tersebut kemudian diidentifikasi oleh Spanyol sebagai pulau Mindoro[5] dan dibuktikan oleh pengamatan yang dilakukan oleh Ferdinand Blumentritt dalam bukunya, Versuch einer Ethnographie der Philippinen (Upaya Studi Etnografi Filipina).[19] Meski demikian, beberapa sejarawan menduga bahwa Ma-i bukanlah istilah untuk sebuah pulau, tetapi istilah yang merujuk semua kepulauan di selatan Tiongkok, termasuk pula Manila,[20] yang dikenal sebagai pemukiman orang Tionghoa perantauan dan terus berhubungan dengan Tionghoa daratan sejak abad ke-9 Masehi.[21]
- Berdasarkan deskripsi asli, Ma-i terdiri dari tiga pulau (三洲, Hokkien POJ: Sam-chiu, Mandarin Pinyin: Sānzhōu), yaitu "Calamia" (卡拉棉, Hokkien POJ: Khá-la-miân, Mandarin Pinyin: Kǎlāmián), "Palawan" (巴拉望, Hokkien POJ: Pa-la-bāng, Mandarin Pinyin: Bālāwàng), dan "Busuanga" (布桑加, Hokkien POJ: Pò͘-song-ka, Mandarin Pinyin: Bùsāngjiā).[22]
- Selain dari tiga pulau tersebut, Ma-i dikatakan juga terdiri dari "Babuyan" (巴布延, Hokkien POJ: Pa-pò͘-iân, Mandarin Pinyin: Bābùyán), "Polillo" (波利略, Hokkien POJ: Po-lī-lio̍k, Mandarin Pinyin: Bōlìlüè), "Lingayen" (林加延, Hokkien POJ: Lîm-ka-iân, Mandarin Pinyin: Línjiāyán), "Luzon" (呂宋, Hokkien POJ: Lū-sòng, Mandarin Pinyin: Lǚsòng), dan "Lubang" (盧邦, Hokkien POJ: Lô͘-pang, Mandarin Pinyin: Lúbāng)[23] Dikatakan pula bahwa kepulauan tersebut telah memiliki kontak dengan Tiongkok dari Guangdong sejak tahun 982 Masehi.[19][20]
- Liusung (呂宋, Hokkien POJ: Lū-sòng, Mandarin Pinyin: Lǚsòng) merupakan nama Tiongkok yang saat ini digunakan untuk menyebut pulau Luzon. Nama tersebut asalnya dari bahasa Tagalog lusong, yang berarti lesung. Ketika Spanyol membuat peta Filipina pada awal abad ke-17, mereka menamai pulau tersebut Luçonia, yang kemudian dieja ulang menjadi Luzonia, sebelum akhirnya menjadi Luzon.[24]
- Berdasarkan deskripsi asli, Ma-i terdiri dari tiga pulau (三洲, Hokkien POJ: Sam-chiu, Mandarin Pinyin: Sānzhōu), yaitu "Calamia" (卡拉棉, Hokkien POJ: Khá-la-miân, Mandarin Pinyin: Kǎlāmián), "Palawan" (巴拉望, Hokkien POJ: Pa-la-bāng, Mandarin Pinyin: Bālāwàng), dan "Busuanga" (布桑加, Hokkien POJ: Pò͘-song-ka, Mandarin Pinyin: Bùsāngjiā).[22]
- Las islas de San Lázaro (Kepulauan Santo Lazarus). Nama kepulauan ini dinamai oleh Fernando de Magelhaens pada tahun 1521 ketika ia mencapai pulau Homonhon di kepulauan Samar (sekarang bagian dari Provinsi Samar Timur). Nama tersebut digunakan karena mereka menemukan pulau tersebut pada hari Santo Lazarus.[5]
- Las islas de Poniente (Kepulauan Barat). Ini juga merupakan nama yang dipakai oleh Fernando de Magelhaens ketika Las islas de San Lázaro yang ditemukannya juga mencakup pulau Cebu dan Leyte.[25] Meski demikian, beberapa sumber mengklaim bahwa bukan Magelhaens yang memberi nama tersebut, tetapi penulis sejarahnya. Nama tersebut berasal dari rute Spanyol yang mencapai pulau tersebut ketika mereka berlayar dari arah barat.[5] Sebaliknya, Portugis memanggil kepulauan tersebut Ilhas do oriente (Kepulauan Timur) karena mereka mencapai pulau tersebut dari arah timur pada tahun 1540-an.[26]
- Bangsa Portugis menamai pulau Luzon dengan sebutan ilhas Luções, atau Pulau orang-orang Luzon.[26]
- Pulau Mindanao pada awalnya dikenal sebagai ilhas de Liquíos Celebes karena letaknya yang berada di utara Laut Sulawesi (dulu dikenal sebagai Laut Celebes).[26]
- Caesarea Caroli atau Karoli merupakan nama yang diberikan kepada pulau Mindanao oleh Villalobos atau De la Torre ketika mereka mencapainya pada tahun 1543. Pulau tersebut dinamai untuk menghormati Kaisar Karl V dari Kekaisaran Romawi Suci (yang juga menjadi raja Spanyol sebagai Carlos I).[27][28][29]
- Pulau Sarangani, yang terletak di selatan pulau Mindanao, dinamai oleh Villalobos sebagai pulau Antonia. Nama tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Antonio de Mendoza y Pacheco, Wizurai Spanyol Baru, yang membiayai ekspedisi Villalobos ke Filipina.[2]
- Villalobos juga menamai zona litoral di antara pulau Samar dan pulau Leyte sebagai Tendaya.[30]
- Pada waktu ekspedisi yang dilakukan oleh Miguel López de Legazpi, Raja Felipe II dari Spanyol mengeluarkan Dekret Kerajaan yang memberi nama Nuevo Reino de Castilla (Kerajaan Kastilia Baru) pada pulau Luzon.
- Mutiara dari Timur atau Mutiara dari Laut Timur (Spanyol: Perla de oriente/Perla del mar de oriente) merupakan nama julukan pada Kepulauan Filipina. Nama tersebut berasal dari misionaris Yesuit asal Spanyol, Juan J. Delgado pada tahun 1751.[31] Nama ini menjadi terkenal melalui tulisan puisi terakhir oleh José Rizal, Mi último adiós, yang merujuk kepada negaranya.[32] Frasa ini juga dapat ditemukan dalam lagu kebangsaan Lupang Hinirang revisi 1960 versi bahasa Tagalog dan bahasa Spanyol.[33]
Nama yang kurang pasti
- Maniolas. Menurut seorang imam Yesuit dan sejarawan awal Filipina, Francisco Colin pada tahun 1663, Maniolas merupakan nama yang digunakan oleh Klaudius Ptolemaeus bagi kelompok kepulauan yang berada di selatan Tiongkok.[6][34] Colin mengutip tulisan-tulisan Ptolemaeus yang menyatakan tentang kepulauan Maniolas, yang ia duga menjadi asal-usul nama Manila. Teori ini didukung oleh José Rizal dan Pedro Paterno. Rizal sendiri menambahkan bahwa kepulauan tersebut dicatat oleh Ptolemaeus setelah seorang nelayan bernama Hippalus mengatakan kepadanya tentang keberadaan "kepulauan indah" di bagian tenggara Timur Jauh.[26][35] Meski demikian, sejarawan Filipina lain,Trinidad Pardo de Tavera menolak dugaan tersebut melalui bukunya Notas para una cartografia de Filipinas (Catatan untuk Kartografi Filipina) pada tahun 1910.[36]
- Baroussai. Nama tersebut juga berasal dari catatan Ptolamaeus, yang dipercaya sebagai nama dari Kepulauan Bisayak dan Mindanao, sehingga (bersamaan dengan Maniolas) membentuk sebagian besar Kepulauan Filipina.[37][38] Namun, beberapa cendikiawan berpendapat bahwa istilah tersebut digunakan untuk daerah Barus di Pulau Sumatra.[39][40]
- Ofir (bahasa Ibrani: אוֹפִיר) merupakan gugus kepulauan yang disebutkan dalam Alkitab dan dikenal akan kekayaannya. Beberapa tradisi menyebut Raja Salomo menerima kekayaan dari kepulauan tersebut tiga tahun sekali. Pada abad ke-17, imam Dominikan Gregorio García menulis bahwa Ofir kemungkinan berlokasi di Kepulauan Maluku atau Filipina.[41] Pada tahun 1609, Juan de Pineda menulis berbagai literatur terkait dengan kisah Salomo, Ofir, dan Filipina.[41] Sementara itu, mantan Perdana Menteri Filipina, Pedro Paterno, menulis dalam karyanya bahwa Ofir dan Filipina sama-sama menghasilkan kayu harum yang dikatakan diterima oleh Salomo.[42] Namun demikian, gagasan ini ditolak oleh sejarawan modern karena anggapan ini hanya melakukan perbandingan antara Filipina dan ekonomi Imperium Spanyol dengan Ophir dan kerajaan Salomo, yang dipandang sebagai pandangan yang mendukung kolonialisme Filipina.[43]
- Tawalisi merupakan kerajaan kuno di Asia Tenggara yang dicapai oleh Ibnu Batutah dalam perjalanannya. Ia mencapai kerajaan tersebut ketika ia meninggalkan pulau Sumatra dan menuju ke Tiongkok. Menurut catatan sejarah Ibnu Batutah, ia mencapai kerajaan tersebut ketika ia bertemu dengan Urduja, seorang putri prajurit legendaris dari Pangasinan. Kendati demikian, sejarawan modern seperti William Henry Scott menganggap Tawalisi dan putri prajurit tersebut sebagai "kisah dongeng yang luar biasa".[44]
Usulan penggantian nama
Sejak nama Filipina berkaitan dengan kekuasaan kolonialisme Spanyol dan Amerika, maka telah banyak beberapa usulan yang dikemukakan untuk mengganti namanya.[45] Meski demikian, nama yang didukung pemerintah secara resmi belum ditentukan.[46] Nama yang diusulkan umumnya berupa kata dari bahasa pan-Melayu yang mencerminkan identitas negara tersebut atau nama yang berhubungan dengan keunggulan negara tersebut dalam maritim sebelum era kolonial.[47]
Nama yang diusulkan
- Haring Bayang Katagalugan (Bangsa Tagalog Berdaulat). Andrés Bonifacio menyarankan nama tersebut untuk negara Filipina, yaitu Republik Tagalog (Republika ng Katagalugan), yang didirikannya pada tahun 1896–1897, meski tidak diakui oleh orang Filipina non-Tagalog lainnya. Nama tersebut dikritik karena memiliki konotasi regionalisme. Seorang sejarawan mengklaim bahwa kata "Katagalugan" tidak dimaksudkan oleh Bonifacio untuk meninggikan Tagalog dan merendahkan peran kelompok etnis lain, tetapi karena makna kata tersebut yang bisa diartikan sebagai "taga-ilog" (secara harfiah berarti "orang-orang sungai") memberi makna yang mewakili nenek moyang pelaut dari seluruh masyarakat Filipina.[48] Nama ini sendiri kemudian diterapkan pula oleh pemerintahan Macario Sakay pada tahun 1902 sebelum dibubarkan oleh pendudukan Amerika Serikat tahun 1906.[49][50]
- Kapatiran ("Persaudaraan"), atau kata dengan makna setara, Katipunan ("Asosiasi"/"Perkumpulan").[51]
- Luzviminda. Lakuran yang berasal dari penggalan kata pertama dari tiga kelompok pulau di negara tersebut, yaitu Luzon, Visayas (Bisayak), dan Mindanao. Istilah ini juga sering kali digantikan oleh Luzvimindas yang mengikutkan wilayah sengket Sabah bagian timur di Pulau Kalimantan.
- Mahárlika (bahasa Sanskerta: mahardhikka (महर्द्धिक), "orang merdeka"[52]). Pada masa pra-kolonial, kata mahárlika merujuk pada orang merdeka dalam bahasa Tagalog.[52] Maharlika merupakan kelompok masyarakat terbesar di Filipina dan mencakup prajurit, perajin, seniman, dan lain-lain.[53] Berbeda dari para penguasa, maharlika tidak berpartisipasi dalam politik.[54] Pada tahun 1978, Presiden Filipina Ferdinand Marcos mendukung rancangan undang-undang untuk mengganti nama negara menjadi Mahárlika pada masa darurat militer.[55] Ia mengklaim bahwa Mahárlika merupakan nama pasukan gerilya yang diduga ia pimpin selama Perang Dunia II. Klaim tersebut kemudian dibantah oleh Angkatan Darat Filipina, karena tidak adanya bukti mengenai klaim tersebut.[56] Eddie Ilarde, yang mengajukan rancangan tersebut secara keliru,[57] menyatakan bahwa Maharlika memiliki konotasi dengan kerajaan dan mengaku keliru menerjemahkan istilah tersebut.[57] Dalam buku Vocabulario de la lengua tagala, istilah tersebut diterjemahkan menjadi "alipin na itinuring na malaya" ("seorang budak yang diperlakukan seperti orang merdeka").[58] Para sejarawan juga mencatat arti istilah tersebut sebagai "lingga besar" atau "alat kelamin pria yang besar".[59][57] Mengetahui hal tersebut, rancangan undang-undang tersebut dibatalkan karena istilah tersebut dianggap oleh banyak kelompok etnis memiliki sifat yang terlalu "imperial".[51] Kendati demikian, usulan penggantian nama tersebut dinaikkan kembali oleh Presiden Rodrigo Duterte pada bulan Februari 2019,[60] tetapi usulan tersebut dibatalkan sebulan kemudian.[61]
- Malaysia. Beberapa politikus Filipina menyarankan penggunaan nama ini untuk negara tersebut. Sebuah rancangan undang-undang juga telah dikemukakan untuk mengubah nama negara menjadi Malaysia. Namun, nama tersebut kemudian telah digunakan oleh negara lain ketika rancangan tersebut masih dibahas dalam Kongres.[62]
- Rizalia. Dinamai berdasarkan nama pahlawan Filipina José Rizal,[63] dengan gaya penamaan yang sama dengan Bolivia, yang dinamai berdasarkan nama Simón Bolivar.[51]
- República Rizalina ("Republik Rizalina"). Artemio Ricarte, jenderal revolusioner yang diasingkan di Jepang, mengajukan nama tersebut sebagai nama negara dalam draf konstitusi pemerintahan revolusionernya. Nama tersebut didukung oleh orang-orang Filipina yang mendukung Rizal. Meski demikian, istilah tersebut dikritik karena Rizal sendiri tidak menginginkan Filipina yang merdeka selama Revolusi Filipina, karena ia menyatakan bahwa Filipina "belum siap" untuk berpisah dari Spanyol.[64] Namun, para sejarawan sepakat melalui beberapa dokumen-dokumen sejarah bahwa Rizal "percaya pada hak tertinggi revolusi", tetapi "tidak menganggapnya tepat waktu pada tahun 1896, dan menganggap rakyat dan negara pada waktu itu belum siap merdeka".[65]
Lihat pula
Referensi
Catatan kaki
- ^ "History of the Philippines". 2009.
- ^ a b Halili 2008, hlm. 22
- ^ a b Scott 1994, hlm. 6
- ^ a b "Online Etymology Dictionary". www.etymonline.com. 2009.
- ^ a b c d "The Islands to the West: How are Philippine towns named?". Diarsipkan dari versi asli pada March 30, 2009. Diakses tanggal May 6, 2005. Pemeliharaan CS1: BOT: status url asli tidak diketahui (link)
- ^ a b "Origin of the Name "Philippines"". Diarsipkan dari asli tanggal September 24, 2015. Diakses tanggal August 26, 2009.
- ^ Zwier, Larry (November 29, 2011). "Using 'the' with the Names of Countries". Cambridge.org. Diakses tanggal November 28, 2018.
- ^ Torrecampo, Rex Raymond (July 5, 2015). "Why Filipinos are Correct in Saying THE Philippines Instead of Philippines". lifesomundane.net. Diakses tanggal November 28, 2018.
- ^ Purdue University Online Writing Lab. "How to Use Articles (a/an/the)". purdue.edu. Diakses tanggal November 28, 2018.
- ^ Richardson, Jim (2021). ""Kasaysayan; Pinag-kasundoan; Manga dakuilang kautusan," August 1892". Katipunan: Documents and Studies. Diarsipkan dari asli tanggal March 8, 2023. Diakses tanggal July 8, 2022.
- ^ Almario, Virgilio S. (2014). Madalas itanong hinggil sa wikang pambansa / Frequently asked questions on the national language (PDF). Komisyon sa Wikang Filipino. hlm. 47. ISBN 978-971-0197-38-5. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal August 27, 2018. Diakses tanggal January 10, 2018.
- ^ "Bye Pilipinas, hello Filipinas?".
- ^ "Filipinas 'di Pilipinas – Almario (Ituwid ang kasaysayan)". kwf.gov.ph. Diarsipkan dari asli tanggal April 11, 2021. Diakses tanggal January 10, 2018.
- ^ Santos, Bim (July 28, 2021). "Komisyon sa Wikang Filipino reverts to use of 'Pilipinas,' does away with 'Filipinas'". l!fe • The Philippine Star.
- ^ Santarita, Joefe B. (2018). "Panyupayana: The Emergence of Hindu Polities in the Pre-Islamic Philippines". Cultural and Civilisational Links between India and Southeast Asia. hlm. 93–105. doi:10.1007/978-981-10-7317-5_6. ISBN 978-981-10-7316-8.
- ^ Joefe B. Santarita. “Panyupayana: The Philippines in Ancient India’s Geopolitical Orientation”. SEACOM Studies 2 (April 2015): 2
- ^ Francisco, Juan R. "Maharadia Lawana" (PDF). Juan R. Francisco – Maharadia Lawana. Diakses tanggal May 29, 2024.
- ^ FRANCISCO, JUAN R. (1989). "The Indigenization of the Rama Story in the Philippines". Philippine Studies. 37 (1): 101–111. JSTOR 42633135.
- ^ a b Hirth & Rockhill 1911, hlm. 160, Footnote 1
- ^ a b "National identity". Diakses tanggal July 27, 2009.
- ^ Scott 1984, hlm. 150
- ^ Hirth & Rockhill 1911, hlm. 162, Footnote 1
- ^ Hirth & Rockhill 1911, hlm. 160, Footnote 3
- ^ Ooi 2004, hlm. 798
- ^ a b c d "Names of the Philippines at different times in history". Diakses tanggal August 26, 2009.
- ^ Duka 2004, hlm. 55
- ^ Cooley 1830, hlm. 244
- ^ Spate 1979, hlm. 98
- ^ "East Visayan History". Northern Illinois University. Diarsipkan dari asli tanggal June 9, 2021. Diakses tanggal December 18, 2011.
- ^ Tope 2002, hlm. 7
- ^ "Mi Ultimo Adiós by Dr José Rizal". Diakses tanggal November 17, 2010.
- ^ "Flag and Heraldic Code of the Philippines". The LawPhil Project. Diakses tanggal November 17, 2010.
- ^ Carunungan, Celso Al (December 23, 1987). "What's in a Name?". Manila Standard Today. Diakses tanggal August 26, 2009.
- ^ de Morga 2004, hlm. 298
- ^ Mojares 2006, hlm. 174–175
- ^ Rizal: "Ptolemy also mentions... five Baroussai (Mindanao, Leite, Sebu, etc.)." See: https://archive.org/stream/historyofthephil07001gut/7phip10.txt
- ^ Makmak (February 10, 2011). "domingo: Name of the Philippines".
- ^ G. E. Gerini. "Researches on Ptolemy's geography of Eastern Asia (further India and Indo-Malay archipelago)". Asiatic Society Monographs. 1909. Royal Asiatic Society: 428–430.
- ^ Miksic, John N. (September 30, 2013). Singapore and the Silk Road of the Sea, 1300_1800. NUS Press. hlm. 79. ISBN 9789971695743.
- ^ a b Sheehan 2008, hlm. 398
- ^ Mojares 2006, hlm. 85
- ^ Truxillo 2001, hlm. 82
- ^ William Henry Scott, Prehispanic Source Materials for the Study of Philippine History, ISBN 971-10-0226-4, p.83
- ^ "Duterte Wants to Rename Philippines in Break from Colonial Past". Bloomberg.com. February 12, 2019. Diakses tanggal 2021-08-05.
- ^ Romero, Alexis. "'Maharlika' dropped, but Duterte still wants Philippine name change". Philstar.com. Diakses tanggal 2021-08-05.
- ^ "Would the Philippines by any other name sound as sweet?". South China Morning Post (dalam bahasa Inggris). 2019-02-17. Diakses tanggal 2021-08-05.
- ^ "Should the Philippines be renamed? Historian weighs in". ABS-CBN News. June 13, 2017.
- ^ Guerrero, Encarnacion & Villegas 1996, hlm. 3–12
- ^ Guerrero & Schumacher 1998, hlm. 95
- ^ a b c "Maharlika: AsianWeek". September 2, 2008. Diarsipkan dari asli tanggal January 29, 2009. Diakses tanggal July 27, 2009.
- ^ a b "Historian says 'Maharlika' as nobility a misconception". The Philippine Star.
- ^ Tan, Samuel K. (2008). A History of the Philippines. UP Press. hlm. 40. ISBN 978-971-542-568-1.
- ^ "Maharlika means noble? Not so, says historian". ABS-CBN News. February 12, 2019.
- ^ "Goodbye Philippines, hello 'Maharlika'? Duterte wants to rename country in break from colonial past". Bloomberg. February 12, 2019 – via The Straits Times.
- ^ "Palace says renaming Philippines to 'Maharlika' needs congressional action". The Philippine Star.
- ^ a b c "From Philippines to Maharlika? Referendum needed". The Philippine Star.
- ^ Tapnio, Kevyn (February 13, 2019). "What Does "Maharlika" Actually Mean?". SPOT. Summit Media.
- ^ "Miscellany Playing the Name Game". TIME. June 24, 2001. Diarsipkan dari asli tanggal May 20, 2021. Diakses tanggal June 8, 2019.
- ^ Placidos, Dharel (February 11, 2019). "Duterte mulls changing name of the Philippines". ABS-CBN News.
- ^ Romero, Alexis. "'Maharlika' dropped, but Duterte still wants Philippine name change". The Philippine Star.
- ^ Sakai, Minako (2009). "Reviving Malay Connections in Southeast Asia" (PDF). Dalam Cao, Elizabeth; Morrell (ed.). Regional Minorities and Development in Asia. Routledge. hlm. 124. ISBN 978-0-415-55130-4. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 13 October 2014.
- ^ "National Commission for Culture and the Arts – A Filipino people with a strong sense of nationhood and deep respect for cultural diversity". Diarsipkan dari asli tanggal March 7, 2021. Diakses tanggal February 13, 2019.
- ^ Rodis, Rodel (September 2, 2008). "'Maharlika' Reconsidered". Philippine Daily Inquirer. Diakses tanggal July 24, 2011.
- ^ "Did Rizal Favor the Revolution? A Criticism of the Valenzuela Memoirs". The Kahimyang Project. May 26, 2014.
Bibliografi
- Cooley, William Desborough (1830), The History of Maritime and Inland Discovery, vol. 2, Longman
- de Morga, Antonio (2004), History of the Philippine Islands Vols 1 and 2, Kessinger Publishing, ISBN 978-1-4191-2427-3 ISBN 978-1-4191-2427-3. Originally published by Antonio de Morga as Sucesos de las islas Filipinas in 1609, reprinted by Kessinger Publishing in 2004.
- Duka, C. (2004), Philippine History, Rex Bookstore, ISBN 978-971-23-3934-9 ISBN 978-971-23-3934-9
- Guerrero, Milagros; Encarnacion, Emmanuel; Villegas, Ramon (1996), "Andres Bonifacio and the 1896 Revolution", Sulyap Kultura, 1 (2), National Commission for Culture and the Arts, diarsipkan dari asli tanggal April 2, 2015, diakses tanggal August 9, 2009
- Guerrero, Milagros; Schumacher, John (1998), Reform and Revolution, Kasaysayan: The History of the Filipino People, vol. 5, Asia Publishing Company Limited, ISBN 978-962-258-228-6
- Halili, M. C. (2008), Struggle for Freedom, Rex Bookstore, ISBN 978-971-23-5045-0 ISBN 978-971-23-5045-0
- Hirth, Friedrich; Rockhill, W. W. (1911), Chau Ju-Kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteenth Centuries entitled Chu-fan-chi, Imperial Academy of Sciences
- Ooi, Keat Gin (2004), Southeast Asia: A Historical Encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor, ABC-CLIO, ISBN 978-1-57607-770-2 ISBN 978-1-57607-770-2
- Mojares, Resil B. (2006), Brains of the Nation: Pedro Paterno, T.H. Pardo de Tavera, Isabelo de los Reyes, and the Production of Modern Knowledge, Ateneo de Manila University Press, ISBN 9789715504966
- Scott, William Henry (1994), Barangay: Sixteenth-century Philippine Culture and Society, Ateneo University Press, hlm. 6, ISBN 978-971-550-135-4 ISBN 978-971-550-135-4, ISBN 978-971-550-135-4
- Scott, William Henry (1984), Prehispanic Source Materials for the Study of Philippine History (Edisi Revised), New Day Publishers, ISBN 971-10-0227-2
- Sheehan, Kevin Joseph (2008), Iberian Asia: The strategies of Spanish and Portuguese empire building, 1540--1700, ISBN 978-1-109-09710-8 ISBN 978-1-109-09710-8
- Spate, O. H. Khristian (1979), The Spanish Lake, Taylor & Francis, ISBN 9780709900498
- Tope, Lily Rose R.; Detch P. Nonan-Mercado (2002). Philippines. Marshall Cavendish Reference Books. ISBN 978-0-7614-1475-9.
- Truxillo, Charles (2001), By the Sword and the Cross: The Historical Evolution of the Catholic World Monarchy in Spain and the New World, 1492–1825, Greenwood Publishing Group, ISBN 978-0-313-31676-0 ISBN 978-0-313-31676-0
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


