Sejarah Filipina (900–1565)
| Cakrawala | Sejarah Filipina |
|---|---|
| Jangkauan geografis | Asia Tenggara |
| Periode | ca 900–1560-an |
| Tanggal | ca Sebelum 900 M |
| Situs induk | Tondo, Manila, Pangasinan, Kamhatik, Idjang, Panay, Cebu, Butuan, Sanmalan, Maguindanao, Sulu, Ma-i, Bohol, Singhapala |
| Ciri | Kerajaan dengan pengaruh India, Negara Hindu dan Buddha, Kesultanan Melayu |
| Didahului oleh | Prasejarah Filipina |
| Diikuti oleh | Masa kolonial |
Berbagai sejarawan berpendapat bahwa permulaan masa prakolonial Filipina,[1][2] yang juga disebut sebagai "periode protosejarah Filipina"[1]: 15 dimulai pada waktu dituliskannya Prasasti Keping Tembaga Laguna pada tahun 900 Masehi, dan diakhiri dengan dimulainya kolonialisasi Spanyol atas kepulauan tersebut. Pada prasasti keping tembaga tersebut tertulis bahwa penulisannya dilakukan pada tahun 822 Saka, yang diperkirakan sama dengan tahun 900 Masehi. Ditulisnya prasasti tersebut menandai akhir dari prasejarah Filipina dan dimulainya sejarah yang tercatat dalam tulisan.[2][3][4] Dalam masa ini, Kepulauan Filipina menjadi tempat berdirinya berbagai negara, yang mendapatkan pengaruh dari negara lainnya seperti India maupun Tiongkok.[5]
Berbagai sumber sejarah, termasuk penemuan arkeologis, mencatat berbagai kontak penduduk lokal dengan pedagang dari Dinasti Song, Kesultanan Brunei, Korea, dan Jepang. Filipina juga mencatat adanya catatan genealogi mengenai penguasa Muslim yang mencapai Filipina.[6]
Kategori sosial
Masyarakat Filipina awal terdiri dari beragam kelompok profesi, seperti nelayan, petani, dan pemburu-pengumpul. Beberapa kelompok masyarakat ada yang hidup di lereng gunung, di rumah perahu, atau di pelabuhan komersial pesisir. Beberapa kelompok masyarakat lainnya memiliki perekonomian mandiri, sementara beberapa yang lainnya mengandalkan hubungan dagang dengan tetangganya.[7]: 138 William Henry Scott sendiri menyimpulkan adanya 4 jenis kelompok masyarakat:[7]: 139
- Masyarakat tanpa kelas, yakni masyarakat yang tidak memiliki status sosial untuk memisahkan satu dengan yang lain;
- Masyarakat ksatria, yakni masyarakat yang memiliki kelas ksatria yang diistimewakan berdasarkan kemampuan dalam bertarung;
- Masyarakat plutokrat kecil, yang mengakui status sosial tertinggi pada masyarakat yang memiliki harta warisan; dan
- Kepangeranan (atau kerajaan), yakni masyarakat yang mengakui adanya kelas penguasa yang mewariskan hak kekuasaan pada keturunannya.
Kategori keempat disebut juga sebagai "kelas datu", yang didasarkan pada gelar datu yang umumnya disematkan pada penguasa lokal.[7]: 150–151
Kelas sosial
Negara-negara awal yang terbentuk biasanya terdiri dari struktur sosial yang terdiri dari tiga tingkatan: kelas bangsawan, kelas "orang merdeka", dan kelas debitur-budak:[1][8]
- Datu (kelas penguasa) dan Maginoo (kelas bangsawan)
- Maharlika[9]/Timawa (orang merdeka; kelas ksatria)
- Alipin (kelas dependen), yang dapat diklasifikasikan sebagai aliping namamahay (budak tani) dan aliping saguiguilid (budak)[10]
Prasasti Keping Tembaga Laguna

Prasasti Keping Tembaga Laguna merupakan catatan tertulis terawal yang ditemukan di Filipina.[11] Prasasti tersebut ditulis pada keping tembaga memiliki ukuran panjang 20 cm dan lebar 30 cm, dan hanya ditulis pada satu sisinya dalam 10 baris.
Teks
Naskah prasasti tersebut sebagian besar ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dengan sedikti pengaruh bahasa Sanskerta, Tamil, Jawa Kuno, dan Tagalog Kuno serta menggunakan aksara Kawi. Antropolog Belanda Antoon Postma menguraikan isi prasasti tersebut. Tanggal prasasti tersebut adalah "Tahun Saka 822, bulan Waisak", yang bertepatan dengan April–Mei tahun 900 Masehi.
Naskah tersebut mencatat pembebasan semua keturunan seorang Namwaran yang terhormat dari utang sebesar 1 kati dan 8 suwarna, setara dengan 926,4 gram emas, yang diberikan oleh Panglima Militer Tundun (Tondo) dan disaksikan oleh para pemimpin Pailah, Binwangan, dan Puliran, yang kemungkinan juga merupakan negara-negara yang terletak di Pulau Luzon. Referensi ke Kerajaan Medang yang sezaman di Indonesia modern menyiratkan hubungan politik dengan wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara Maritim.
Politik
Berdirinya pemerintahan independen
Pemukiman awal di Filipina dikenal sebagai barangay, yang umumnya terdiri dari 20 hingga 100 keluarga di pesisir hingga mencapai 200 orang di daerah pedalaman. Pemukiman pesisir terhubung dengan perairan laut dan memiliki kontak yang jauh lebih sedikit dengan pemukiman di dataran tinggi.[12] Pada tahun 1300-an, sejumlah pemukiman pesisir mulai berdiri menjadi pusat perdagangan dan menjadi titik fokus transformasi masyarakat.[8] Beberapa pemukiman, yang kemudian berkembang menjadi negara, juga melakukan kontak dan perdagangan dengan negara-negara lain di Asia.[1][13][14][15][16]
Berbagai negara yang berdiri di Filipina dari abad ke-10 hingga abad ke-16 termasuk Manila,[17] Tondo, Namayan, Kumintang, Pangasinan, Caboloan, Cebu, Butuan, Maguindanao, Buayan, Lanao, Sulu, dan Ma-i.[18] Di antara negara-negara tersebut, pemegang kuasanya dikenal sebagai datu, yang bertanggung jawab untuk memerintah barangay atau dulohan di bawah kekuasaannya.[8] Ketika barangay berkembang dengan menggabungkan diri dengan barangay lain, baik itu untuk membentuk pemukiman lebih besar[8] atau untuk membentuk aliansi,[1] penguasa paling terhormat akan ditunjuk untuk memimpin wilayah kekuasaan baru tersebut[19] dan mendapat gelar "datu tertinggi"[8][20] atau memegang gelar serupa seperti raja atau sultan.[21] Terdapat sedikit bukti akan adanya konflik dan kekerasan berskala besar di kepulauan ini sebelum milenium ke-2 Masehi,[22][butuh sumber yang lebih baik] dan selama periode ini, kepadatan penduduk masih sangat rendah.[23]
| Bagian dari seri artikel mengenai |
| Sejarah Filipina |
|---|
![]() |
| Garis waktu |
| Negara atau Kerajaan | Periode | Wilayah saat ini |
|---|---|---|
| Ijang | Tidak diketahui – 1790 | Batanes |
| Lawan | Tidak diketahui − 1605 | Samar |
| Samtoy | Tidak diketahui – 1572 | Ilocos |
| Ibalon | Tidak diketahui – 1573 | Region Bikol |
| Kumintang | Tidak diketahui – 1581 | Kota Batangas |
| Taytay | Tidak diketahui – 1623 | Palawan Utara |
| Cainta | Tidak diketahui – 1571 | Rizal |
| Bo-ol | Tidak diketahui − 1595 | Bohol, sebagian dari Mindanao Utara |
| Tondo | Sebelum 900–1589 | Manila, sebagian dari Luzon Tengah, Calabarzon, dan Bikol |
| Ma-i | Sebelum 971 – c. 1339 | Pulau Mindoro, sebagian dari Luzon Selatan |
| Sanmalan | Sebelum 982–1500-an | Zamboanga |
| Butuan | Sebelum 989–1521 | Butuan, sebagian dari Mindanao Utara dan Caraga |
| Caboloan | Sebelum 1225–1572 | Kota San Carlos, Pangasinan |
| Sandao | Sebelum1225 – c. 1300-an | Calamia, Palawan, dan sebagian dari Luzon |
| Namayan | Sebelum abad ke-11– 1571 | Manila, sebagian dariCalabarzon |
| Madja-as | Setelah abad ke-11 | Visayas Barat |
| Pulilu | Sebelum 1225–1571 | Polillo, Quezon |
| Pangasinan | Sebelum 1225–1576 | Pangasinan, sebagian dari Luzon Utara |
| Lubao | Abad ke-14 – 1571 | Pampanga |
| Kesultanan Buayan | c. 1350–1905 | Sebagian Maguindanao Utara, Maguindanao Selatan, Cotabato, Cotabato Selatan, dan Kota General Santos |
| Sugbu | c. 1400–1565 | Cebu, sebagian dari Visayas Tengah |
| Kesultanan Sulu | 1457–1915 | Kepulauan Sulu, sebagian dari Palawan Selatan, serta sebagian dari Malaysia (Sabah) dan Indonesia (Kalimantan Timur dan Utara) |
| Manila | c.1500–1571 | Manila, sebagian dari Luzon Tengah |
| Kesultanan Maguindanao | 1515–1899 | Maguindanao, sebagian dari Bangsamoro, Semenanjung Zamboanga, Mindanao Utara, Soccsksargen, dan Region Davao |
| Konfederasi Lanao | 1616 – Saat ini | Lanao, sebagian dari Bangsamoro |
Ekspedisi Spanyol
Tabel berikut meringkas ekspedisi yang dilakukan oleh Bangsa Spanyol ke Kepulauan Filipina.
| Tahun | Pemimpin ekspedisi | Kapal | Pendaratan |
|---|---|---|---|
| 1521 | Trinidad, San Antonio, Concepcion, Santiago, dan Victoria | Homonhon, Limasawa, Cebu | |
| 1525 | Santa María de la Victoria, Sancti Spiritus, Anunciada, San Gabriel, Santa María del Parral, San Lesmes, dan Santiago | Surigao, Visayas, Mindanao | |
| 1527 | Florida, Santiago, danEspiritu Santo | Mindanao | |
| 1542 | Santiago, Jorge, San Antonio, San Cristóbal, San Martín, dan San Juan | Samar, Leyte, Sarangani | |
| 1564 | San Pedro, San Pablo, San Juan, dan San Lucas | Mendarat pertama kali di Samar, menetapkan Filipina sebagai koloni Imperium Spanyol |
Ekspedisi pertama

Meski wilayah sekitar Filipina telah dikenal oleh Bangsa Eropa, terutama Portugis yang menaklukkan Kota Melaka pada tahun 1511 dan mencapai Kepulauan Maluku pada tahun 1512, ekspedisi Eropa paling awal ke kepulauan Filipina dipimpin oleh navigator Portugis Ferdinand Magellan yang dibiayai oleh Raja Carlos I dari Spanyol pada tahun 1521.[24]
Dalam ekspedisinya, Magellan menemukan kepulauan tersebut, yang diketahui merupakan Pegunungan Samar, pada waktu fajar tanggal 17 Maret 1521. Ia kemudian mendarat keesokan harinya di pulau kecil Homonhon di muara Teluk Leyte.[25] Pada hari Minggu Paskah, 31 Maret 1521, di Pulau Mazaua, Magellan menancapkan salib di puncak bukit yang menghadap ke laut dan mengklaim pulau-pulau yang telah ditemuinya untuk Imperium Spanyol. Menurut penulis dalam ekspedisinya, Antonio Pigafetta, Magellan menamai kepulauan tersebut sebagai Kepulauan Santo Lazarus.[26]
Magellan kemudian mencari aliansi di antara penduduk lokal, dimulai dengan Datu Zula dari Sugbu (Cebu), dan berhasil mengajaknya memeluk agama Kristen. Magellan terlibat dalam konflik politik di kepulauan tersebut dan ikut serta dalam pertempuran melawan Lapulapu, kepala suku di Pulau Mactan dan musuh Datu Zula.
Pada tanggal 27 April 1521, Magellan, bersama 60 prajurit bersenjata dan 1.000 prajurit Visayas, mengalami kesulitan besar untuk mendarat di pantai berbatu Mactan, tempat Lapulapu memiliki 1.500 pasukan yang menunggu di darat. Dalam pertempuran tersebut, Magellan terpukul kalah dan ia bersama 14 prajuritnya tewas. Evakuasi dari pertempuran tersebut hanya dapat menyelamatkan kapal Trinidad dan Victoria, yang berlayar ke Kepulauan Maluku. Selepas berlabuh, dan sempat gagal untuk kembali jalan sebelumnya dan dipenjara oleh otoritas Portugis, Juan Sebastián Elcano memimpin Victoria ke Spanyol melalui jalur barat dan sampai pada tahun 1522
Ekspedisi selanjutnya
Setelah ekspedisi Magellan, empat ekspedisi lainnya juga dilakukan ke kepulauan tersebut. Beberapa yang tercata di antaranya dilakukan oleh García Jofre de Loaísa (1525), Sebastian Cabot (1526), Álvaro de Saavedra Cerón (1527_, dan Ruy López de Villalobos (1542).[27] Pada tahun 1543, Villalobos menamai kepulauan Leyte dan Samar sebagai Filipina, untuk menghormati Pangeran Asturia Felipe dari Spanyol.[28]
Penaklukan kepulauan
Ketika Pangeran Felipe menjadi Raja Felipe II dari Spanyol, ia kemudian memerintahkan ekspedisi ke kepulauan rempah-rempah dengan tujuan "untuk menemukan kepulauan barat".[29] Pada kenyataanya, ekspedisi tersebut bertujuan untuk menetapkan kontrol Imperium Spanyol atas Filipina.[30]
Pada tanggal 19 atau 20 November 1564, ekspedisi Spanyol yang dipimpin oleh Miguel López de Legazpi berangkat dari Barra de Navidad, Spanyol Baru, dan mendarat di Cebu pada tanggal 13 Februari 1565.[31] Ekspedisi tersebut kemudian memantapkan kontrol Imperium Spanyol dengan didirikannya pemukiman Spanyol pertama di kepulauan tersebut. Ekspedisi tersebut kemudian menjadi dasar dari rute Galiung Manila, yang dikenal sebagai tornaviaje, dari Filipina ke Meksiko melalui Samudra Pasifik oleh Andrés de Urdaneta.[32] Masa tersebut kemudian disimpulkan sebagai akhir dari masa prakolonial dan mulainya masa kolonial Spanyol di Filipina.
Lihat pula
Referensi
- ^ a b c d e Junker, Laura Lee (1999). Raiding, Trading, and Feasting: The Political Economy of Philippine Chiefdoms (dalam bahasa Inggris). Honolulu: University of Hawaii Press. hlm. 3. ISBN 978-0-8248-2035-0. Diakses tanggal July 29, 2020.
- ^ a b Scott, William Henry (1994). Barangay: Sixteenth Century Philippine Culture and Society. Quezon City: Ateneo de Manila University Press. ISBN 971-550-135-4.
- ^ Scott, William Henry (1992), Looking for the Prehispanic Filipino. New Day Publishers, Quezon City. 172 pp. ISBN 9711005247
- ^ Patricia Herbert; Anthony Crothers Milner (1989). South-East Asia: Languages and Literatures : a Select Guide. University of Hawaii Press. hlm. 153. ISBN 978-0-8248-1267-6.
- ^ "Philippines | The Ancient Web". theancientweb.com. Diarsipkan dari asli tanggal October 3, 2019. Diakses tanggal March 4, 2016.
- ^ Scott, William Henry. (1984). Prehispanic Source Materials for the Study of Philippine History (Revised Edition). New Day Publishers, Quezon City. ISBN 9711002264.
- ^ a b c Scott, William Henry (1979). "Class Structure in the Unhispanized Philippines". Philippine Studies. 27 (2). Ateneo de Manila University: 137–159. JSTOR 42632474.
- ^ a b c d e Jocano, F. Landa (2001). Filipino Prehistory: Rediscovering Precolonial Heritage. Quezon City: Punlad Research House, Inc. ISBN 978-971-622-006-3.[halaman dibutuhkan]
- ^ Scott, William Henry (1992). Looking for the Prehispanic Filipino.. hlm. 2.
- ^ Woods, Damon L. (1992). "Tomas Pinpin and the Literate Indio: Tagalog Writing in the Early Spanish Philippines" (PDF). UCLA Historical Journal. 12.
- ^ Postma, Antoon (1992). "The Laguna Copper-Plate Inscription: Text and Commentary". Philippine Studies. 40 (2): 182–203.
- ^ Newson, Linda A. (2009). Conquest and Pestilence in the Early Spanish Philippines. University of Hawaii Press. hlm. 12. ISBN 978-0-8248-6197-1.
- ^ Miksic, John N. (2009). Southeast Asian Ceramics: New Light on Old Pottery. Editions Didier Millet. ISBN 978-981-4260-13-8.[halaman dibutuhkan]
- ^ Sals, Florent Joseph (2005). The history of Agoo : 1578–2005 (dalam bahasa Inggris). La Union: Limbagan Printhouse. hlm. 80.
- ^ Jocano, Felipe Jr. (2012). Wiley, Mark (ed.). A Question of Origins (dalam bahasa Inggris). Tuttle Publishing. ISBN 978-1-4629-0742-7. [halaman dibutuhkan]
- ^ "Timeline of history". Diarsipkan dari asli tanggal November 23, 2009. Diakses tanggal October 9, 2009.
- ^ Ring, Trudy; Robert M. Salkin & Sharon La Boda (1996). International Dictionary of Historic Places: Asia and Oceania. Taylor & Francis. hlm. 565–569. ISBN 978-1-884964-04-6. Diakses tanggal January 7, 2010.
- ^ Historical Atlas of the Republic. The Presidential Communications Development and Strategic Planning Office. 2016. hlm. 64. ISBN 978-971-95551-6-2.
- ^ Tan, Samuel K. (2008). A History of the Philippines (dalam bahasa Inggris). UP Press. hlm. 37. ISBN 978-971-542-568-1. Diakses tanggal August 10, 2020.
- ^ Legarda, Benito Jr. (2001). "Cultural Landmarks and their Interactions with Economic Factors in the Second Millennium in the Philippines". Kinaadman (Wisdom) A Journal of the Southern Philippines. 23: 40.
- ^ Carley, Michael (November 4, 2013) [2001]. "7". Urban Development and Civil Society: The Role of Communities in Sustainable Cities. Routledge. hlm. 108. ISBN 9781134200504. Diakses tanggal September 11, 2020.
Each boat carried a large family group, and the master of the boat retained power as leader, or datu, of the village established by his family. This form of village social organization can be found as early as the 13th century in Panay, Bohol, Cebu, Samar and Leyte in the Visayas, and in Batangas, Pampanga and Tondo in Luzon. Evidence suggests a considerable degree of independence as small city-states with their heads known as datu, rajah or sultan.
- ^ Mallari, Perry Gil S. (April 5, 2014). "War and peace in precolonial Philippines". Manila Times. Diakses tanggal October 24, 2020.
- ^ Newson, Linda (2009) [2009]. "2". Conquest and Pestilence in the Early Spanish Philippines. University of Hawaii Press. hlm. 18. doi:10.21313/hawaii/9780824832728.001.0001. ISBN 9780824832728. Diakses tanggal September 11, 2020.
Given the significance of the size and distribution of the population to the spread of diseases and their ability to become endemic, it is worth commenting briefly on the physical and human geography of the Philippines. The hot and humid tropical climate would have generally favored the propagation of many diseases, especially water-borne infections, though there might be regional or seasonal variations in climate that might affect the incidence of some diseases. In general, however, the fact that the Philippines comprise some seven thousand islands, some of which are uninhabited even today, would have discouraged the spread of infections, as would the low population density.
- ^ Zaide, Gregorio F.; Sonia M. Zaide (2004). Philippine History and Government (Edisi 6th). All-Nations Publishing Company. hlm. 52–55. ISBN 971-642-222-9.
- ^ Zaide 2006, hlm. 78
- ^ Zaide 2006, hlm. 80–81
- ^ Zaide 2006, hlm. 86–87.
- ^ Scott 1985, hlm. 51.
- ^ Williams 2008, hlm. 14
- ^ Williams, Patrick (2008). "Philip II, the Philippines and the Hispanic World". Dalam Ramírez, Dámaso de Lario (ed.). Re-shaping the World: Philip II of Spain and His Time (dalam bahasa Inggris). Ateneo University Press. hlm. 13–33. ISBN 978-971-550-556-7.
- ^ M.c. Halili (2004). Philippine History' 2004 Ed.-halili. Rex Bookstore, Inc. ISBN 978-971-23-3934-9.
- ^ Zaide 1939, hlm. 113
Bacaan lanjutan
- Scott, William Henry (1985), Cracks in the parchment curtain and other essays in Philippine history, New Day Publishers, ISBN 978-971-10-0074-5.
- Zaide, Gregorio F. (1939), Philippine History and Civilization, Philippine Education Co..
- Zaide, Sonia M (2006), The Philippines: A Unique Nation, All-Nations Publishing Co Inc, Quezon City, ISBN 971-642-071-4.
Pranala luar
Media terkait History of the Philippines (900–1565) di Wikimedia Commons- Pre-colonial Manila Diarsipkan December 22, 2021, di Wayback Machine.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



