Pacuan kuda di Indonesia
| Pacuan kuda di Indonesia | |
|---|---|
Suasana perlombaan pacuan kuda di Agam, Sumatera Barat, 2016 | |
| Badan yang mengatur | Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (melalui Pordasi Pacu) |
| Pertama kali bermain | Terawal yang tercatat adalah pada tahun 1812 |
Kompetisi nasional | |
| Bagian dari seri tentang |
| Budaya Indonesia |
|---|
Pacuan kuda di Indonesia adalah bentuk olahraga berkuda yang kaya akan sejarah dan budaya Indonesia. Sejarah olahraga ini di Indonesia dapat ditelusuri kembali ke era kolonial Hindia Belanda. Olahraga ini kemudian distandarisasi sebagai kompetisi resmi di bawah PORDASI.
Olahraga nasional ini memiliki kejuaraan tahunan seperti seperti Indonesia Derby dan seri Kejurnas. Uniknya, pacuan kuda Indonesia menggunakan sistem klasifikasi terperinci berdasarkan usia, tinggi badan, dan persentase darah Thoroughbred (kuda ras unggul), seringkali mengkategorikan kuda menggunakan sistem kuda G untuk mengelola perkawinan silang dengan kuda sandel lokal dan kuda poni lokal lainnya.
Pacuan kuda mencapai puncaknya selama era Orde Baru dengan pengembangan tempat-tempat modern utama seperti di Pulomas. Meskipun popularitasnya menurun setelah larangan perjudian, upaya baru-baru ini telah dimulai untuk memprofesionalkan dan menghidupkan kembali olahraga ini, sementara pacuan tradisional tetap menjadi bagian penting dari lanskap budaya di daerah-daerah seperti Sumatera Barat dan Bima.
Pacuan kuda di Indonesia sebagian besar berupa pacuan datar, dengan ajang-ajang besar seperti seri Piala Tiga Mahkota tahunan dan Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda, yang sejak tahun 2020-an dimasukkan ke dalam rangkaian Indonesia's Horse Racing. Yang unik, pacuan kuda datar di Indonesia terdiri dari tiga jenis berbeda: Ras unggul, kuda hasil campuran dengan ras unggul, dan Kuda Pacu Indonesia.
Sejarah
Era kolonial
Sebagian besar sejarah pacuan kuda di Indonesia yang tercatat berasal dari masa kolonial Hindia Belanda. Catatan paling awal mengenai pacuan kuda modern dilaporkan terjadi pada masa pemerintahan sementara Inggris pada tahun 1812, sebagai bentuk hiburan bagi para pejabat kolonial, kaum bangsawan, dan kalangan elit.[1] Pacuan kuda menjadi bagian dari tradisi perlombaan pacuan kuda tradisional yang digelar di berbagai wilayah di Indonesia sebelum Indonesia merdeka. Di Aceh, pacu kude menjadi tradisi berkuda yang rutin digelar dalam memperingati hari besar,[2] seperti hari kemerdekaan Indonesia atau hari jadi Takengon, Aceh Tengah.[3][4] Di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, maen jaran di Kabupaten Sumbawa dan pacoa jara di Kabupaten Bima juga mewarisi tradisi pacuan kuda tradisional, dengan ciri khas seperti lintasan tanah sederhana, joki anak-anak, dan penggunaan kuda tanpa pelana.[5][6][7] Pacuan kuda juga umum digelar rutin di beberapa wilayah lainnya, seperti Sumatera Barat dengan pacu kudo, Jawa,[8][9] Nusa Tenggara Timur,[10] dan Sulawesi Utara.[11]
Pacuan kuda di Jawa pada masa itu diatur oleh Asosiasi Balap Kuda dan Kereta Kuda Jawa (De Javasche Ren- en Harddraverij Vereeniging).[12] Beberapa organisasi regional juga beroperasi, termasuk Klub Balap Batavia–Buitenzorg (Batavia–Buitenzorg Wedloop Sociëteit), Perhimpunan Balap Kuda Semarang (Wedloop Sociëteit Semarang), Klub Pacuan Kuda Priangan (Preanger Wedloop Sociëteit),[13] Asosiasi Pacuan Kuda Kereta dan Datar Surabaya (Soerabaijasche Harddraverij en Renvereeniging),[14] dan Asosiasi Pacuan Deli (De Deli Renvereeniging).[15] Ras kuda yang umum digunakan pada masa ini meliputi kuda ras unggul impor dari Australia atau Inggris, kuda Arab, kuda poni, dan kuda lokal yang khas di setiap wilayah (misalnya kuda Priangan atau kuda poni Sandalwood), serta kuda hasil persilangan.[16]

Banyak gelanggang pacuan kuda dari era kolonial yang kini sudah tidak digunakan lagi, sementara beberapa di antaranya telah dialihfungsikan untuk keperluan umum lainnya. Contohnya antara lain gelanggang pacuan kuda di Koningsplein yang kini menjadi bagian dari Medan Merdeka, serta gelanggang pacuan kuda di Tegallega, Bandung, yang kini menjadi Lapangan Tegallega yang menjadi lokasi monumen peringatan peristiwa Bandung Lautan Api.[17] Pengecualian yang menonjol antara lain adalah Gelanggang Pacuan Kuda Bukit Ambacang di Bukittinggi, yang dibangun pada tahun 1889 dan dianggap sebagai gelanggang pacuan kuda tertua di negara ini, serta Gelanggang Pacuan Kuda Bancah Laweh di Padang Panjang, yang didirikan pada tahun 1913.[18][19] Kedua gelanggang pacuan kuda tersebut menjadi referensi budaya dalam sastra Indonesia pada era Balai Pustaka, berkontribusi pada latar cerita novel-novel yang menggambarkan budaya Minangkabau, seperti novel Hamka tahun 1939 berjudul Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan novel Toelis Soetan Sati tahun 1928 berjudul Sengsara Membawa Nikmat.[20][21]
Setelah kampanye Hindia Belanda oleh Imperium Jepang di pada Maret 1942, kegiatan pacuan kuda terhenti. Pada masa itu, kuda-kuda terutama digunakan untuk keperluan militer dan mendukung upaya perang hingga setelah penyerahan kedaulatan kepada Indonesia pada tahun 1949.[18]
Era pasca-kolonial


Para penggemar pacuan kuda di Indonesia mengambil inisiatif untuk menghidupkan kembali olahraga ini setelah masa vakum selama Perang Dunia II. Kembalinya pacuan kuda kolonial di negara Indonesia yang baru merdeka dimulai dengan pembukaan kembali gelanggang pacuan kuda Tegallega di Bandung pada 1948 setelah perbaikan akibat kerusakan selama pendudukan Jepang. Selain upacara pembukaan gelanggang pacuan kuda, acara tersebut juga menandai reaktivasi Preanger Wedloop Sociëteit (kemudian berganti nama menjadi Perkumpulan Pacuan Kuda Priangan), yang telah tidak aktif selama pendudukan Jepang.[22] Organisasi lain seperti Batavia–Buitenzorg Wedloop Sociëteit (kemudian berganti nama menjadi Perkumpulan Pacuan Kuda Djakarta-Bogor) mengikuti jejak tersebut dengan membuka kembali operasinya pada tahun berikutnya.[23]
Meskipun organisasi pacuan kuda sudah ada sebelum kemerdekaan, mereka belum beroperasi secara nasional dan sebagian besar bersifat regional. Upaya untuk menyatukan asosiasi-asosiasi ini berujung pada pembentukan Pusat Organisasi Poni Seluruh Indonesia (POPSI) sekitar tahun 1953, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Singgih. Sayangnya, POPSI gagal berkembang dan perlahan-lahan menghilang seiring waktu.[24]
Era Orde Baru
Selama transisi ke Orde Baru pada tahun 1966, sebuah pacuan eksibisi diadakan di Bandung pada tanggal 9 Juni. Hal ini berujung pada pertemuan pada 11–12 Juni, yang secara resmi mendirikan Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI), dengan Achmad Sham sebagai ketua umum. Beberapa bulan kemudian, organisasi yang baru dibentuk tersebut meminta Jenderal Soeharto saat itu untuk menjadi “bapak angkat pacuan kuda Indonesia” dan mengizinkan penggunaan namanya untuk kejuaraan nasional yang akan datang. Persetujuannya dituangkan dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Olahraga No. 016/1966, tertanggal 28 Oktober 1966, yang secara resmi mengakui PORDASI sebagai badan pengatur nasional untuk olahraga berkuda di Indonesia.[24] Kuda milik Soeharto, Diana, memenangkan Soeharto Cup perdana yang diselenggarakan di Bogor pada 12–13 November 1966.[25]

Pada tahun 1971, Gelanggang Pacuan Kuda Pulomas dibangun di Jakarta Timur dan diresmikan oleh Gubernur saat itu, Ali Sadikin. Gelanggang pacuan kuda ini dikembangkan dan didanai oleh Djakarta Racing Management, sebuah usaha patungan antara Pemerintah Provinsi Jakarta dan konsorsium swasta asal Australia. Pembangunan dan pengoperasian gelanggang pacuan kuda ini juga mendapat dukungan dari tokoh-tokoh terkemuka, seperti pensiunan perwira militer dan pendiri Kopassus, Alex Kawilarang, serta pelatih kuda pacu terkenal asal Australia, Bart Cummings.[26] Gelanggang pacuan kuda ini juga memperkenalkan sistem totalizator untuk taruhan, yang disahkan di Jakarta hingga larangan perjudian secara nasional diberlakukan pada tahun 1981.[27]
Selama periode ini, kuda-kuda yang dilombakan meliputi kuda Thoroughbred murni (beberapa di antaranya diimpor dari Australia), kuda lokal (secara umum dikenal sebagai sandel), atau kuda campuran. Era ini juga memperkenalkan sistem klasifikasi baru untuk kuda silang, yang dikenal secara lokal sebagai kuda G (kuda G), di mana G1 merujuk pada generasi pertama kuda silang, G2 pada generasi kedua (disilangkan kembali dengan kuda Thoroughbred), dan seterusnya.
Era ini menyaksikan pemenang pertama dalam sejarah Piala Tiga Mahkota, Mystere, pada tahun 1978. Namun, penamaan gelar tersebut dihentikan tidak lama setelahnya pada tahun 1979.[25]
Era Reformasi
Pada masa ini, diciptakan istilah baru untuk kuda hasil persilangan yang disebut Kuda Pacu Indonesia, yang didefinisikan sebagai hasil persilangan antara kuda G3 dan/atau G4 dengan kuda G3 dan/atau G4 lainnya atau kuda ras ungul.[28][24]

Manik Trisula menjadi kuda kedua dan kuda betina pertama yang memenangkan Piala Tiga Mahkota pada tahun 2002, menandai berakhirnya jeda selama 25 tahun dalam seri tersebut. Setelah itu, Djohar Manik mengikuti jejaknya, menjadi kuda ketiga yang meraih gelar tersebut pada tahun 2014.[24]
Sejak jatuhnya Soeharto, popularitas pacuan kuda di Indonesia merosot tajam.[29] Pada tahun 2016, Gelanggang Pacuan Kuda Pulomas menghentikan operasinya untuk memberi ruang bagi pembangunan Jakarta International Equestrian Park, yang selesai dibangun sebagai persiapan untuk Pesta Olahraga Asia 2018.[30]
Menyambut Pekan Olahraga Nasional 2016, gelanggang pacuan kuda di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, diperbarui agar memenuhi standar nasional dan selesai pada Agustus 2016.[31][32]
2020-an
Di tengah pandemi COVID-19, pacuan kuda di Indonesia tetap berlangsung, dengan pacuan besar seperti A.E. Kawilarang Memorial Cup, seri pertama Kejurnas, dan berbagai pacuan regional tetap diselenggarakan.[33][34]
Upaya untuk menghidupkan kembali olahraga ini muncul kembali pada tahun 2020-an, dengan promotor SARGA.CO meluncurkan sirkuit pacu nasional bekerja sama dengan PORDASI untuk memprofesionalkan pacuan kuda dan menarik penonton yang lebih muda.[35][36] Sirkuit pacuan ini secara resmi disusun menjadi seri Indonesia's Horse Racing.[37]

Peluncuran global Umamusume: Pretty Derby pada Juni 2025 secara tak terduga menjadi katalisator kebangkitan kembali dunia pacuan kuda di kalangan anak muda Indonesia.[38] Promotor SARGA.CO, yang menyelenggarakan acara pacuan kuda nasional, mengakui pengaruh waralaba tersebut dan sejak saat itu telah bermitra dengan beberapa komunitas penggemar Umamusume lokal untuk mempromosikan olahraga ini.[39][40] Secara kebetulan, pada 27 Juli, King Argentin mencatatkan tonggak sejarah dengan memenangkan ketiga seri Piala Tiga Mahkota, menjadi kuda keempat yang berhasil meraih prestasi tersebut setelah 11 tahun tidak ada pemenang.[41]
Menyusul insiden di Jateng Derby 2025, PORDASI memberlakukan aturan baru yang menyatakan bahwa joki kini hanya diperbolehkan menunggangi maksimal enam kuda dalam satu kompetisi. Sebelum aturan ini diberlakukan, joki dapat menunggangi jumlah kuda yang tidak terbatas dalam satu kompetisi, dengan beberapa di antaranya berpartisipasi dalam sepuluh hingga sebelas pacuan.[42]
Pada Mei 2025, Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi) secara resmi menandatangani perjanjian kemitraan strategis dengan Prancis. Perjanjian kerja sama tersebut mencakup kemitraan strategis dengan Federasi Berkuda Prancis (FFE), France Galop, Asosiasi Stal Pacu (AFASEC), Institut Kuda dan Berkuda Prancis (IFCE), serta Filière Cheval, yang merupakan tindak lanjut dari kunjungan PP Pordasi ke Prancis pada 6–9 Maret 2025. Perjanjian kemitraan strategis tersebut ditandatangani oleh Ketua PP Pordasi Aryo Djojohadikusumo dan Direktur Jenderal IFCE Jean-Roch Gaillet di Istana Negara, disaksikan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Emmanuel Macron.[43] Khususnya dalam hal pacuan kuda, kemitraan ini bertujuan untuk meningkatkan standar pacuan di Indonesia. Upaya ini mencakup pelatihan joki, pembangunan arena, dan fasilitas pelatihan di Indonesia.[44]
Pada Desember 2025, Aryo Djojohadikusumo bersama CEO Sarga Group, Aseanto Oudang, mengadakan pertemuan dengan Ketua Dubai Racing Club, Sheikh Rashed bin Dalmook Al Maktoum, di Gelangang Pacuan Kuda Meydan, Dubai, Uni Emirat Arab, untuk membahas peluang kerja sama.[45] Rincian kedua kerja sama tersebut belum diumumkan.
Klasifikasi kuda
Berdasarkan usia
Untuk klasifikasi berdasarkan usia, kelas-kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok untuk kuda berusia dua, tiga, dan empat tahun ke atas, dengan semua kelompok mencakup kuda jantan dan betina. Kuda berusia 2 hingga 3 tahun memulai karier balapnya di Kelas Pemula atau Perdana. Kuda berusia tiga tahun diklasifikasikan dalam Kelas Remaja atau Derby, dan ini adalah satu-satunya kelompok usia yang memenuhi syarat untuk bersaing dalam Piala Tiga Mahkota. Sementara itu, kuda berusia 3 tahun ke atas dapat bersaing di Kelas Dewasa, dan kuda berusia empat tahun ke atas diperbolehkan berpartisipasi dalam pacuan terbuka yang mencakup jarak jauh dan/atau sprint.
Berdasarkan tinggi
| Klasifikasi Kejurnas | Klasifikasi Non-Kejurnas | ||
|---|---|---|---|
| Kelas | Tinggi (cm) | Kelas | Tinggi (cm) |
| A | ≥ 161.1 | G | 134.1 – 138 |
| B | 156.1 – 161 | H | 130.1 – 134 |
| C | 151.1 – 156 | I | 127.1 – 130 |
| D | 146.1 – 151 | J | 124.1 – 127 |
| E | 142.1 – 146 | ||
| F | 138.1 – 142 | ||
Klasifikasi tinggi badan didasarkan pada tinggi badan kuda tanpa memperhitungkan usia. Dengan kata lain, kuda dari segala kelompok usia, mulai dari usia dua tahun ke atas, dapat berkompetisi selama mereka memenuhi standar dan persyaratan tinggi badan yang ditetapkan. Klasifikasi ini tidak berlaku untuk kuda ras unggul.
Berikut adalah klasifikasi berdasarkan tinggi kuda. Balapan di kelas A hingga F dikategorikan sebagai kejuaraan nasional (Kejurnas). Sementara itu, balapan di kelas G hingga J tidak termasuk dalam kategori kejuaraan nasional (non-Kejurnas).[46]
Berdasarkan persentase darah ras unggul
Karena sebagian besar kuda pacu Indonesia merupakan hasil persilangan antara kuda ras unggul dan kuda lokal, mereka diklasifikasikan berdasarkan persentase darah ras unggul yang dimilikinya, sebuah sistem yang umumnya dikenal sebagai sistem klasifikasi kuda-G. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa garis keturunan dapat dilacak untuk keperluan pembiakan dan seleksi.
Klasifikasi dimulai dengan G1, yang mewakili persilangan generasi pertama antara kuda lokal (dalam klasifikasi ini juga dikenal sebagai G0/sandel/LK) dan kuda ras unggul (juga dikenal sebagai THB). Dalam istilah Mendel, setiap generasi menggandakan proporsi materi genetik Thoroughbred, sehingga menghasilkan 50% (G1), 75% (G2), 87,5% (G3), dan seterusnya. Kuda di luar generasi ke-4 umumnya disebut menggunakan "KP", yang berlanjut ke KP5, KP6, KP7, dan seterusnya.[24]
Pada tahun 1996, penamaan alternatif baru untuk kuda pacu hasil persilangan yang dikenal sebagai Kuda Pacu Indonesia distandardisasi. Generasi kuda ini didefinisikan sebagai hasil persilangan antara kuda generasi ketiga (G3) dan generasi keempat (G4). Klasifikasi ini secara resmi diluncurkan oleh Kementan pada tahun 2013.[28]
Pada tahun 2021, klasifikasi baru untuk kuda silang diajukan dan disetujui oleh PORDASI. Klasifikasi baru ini, yang dikenal sebagai Gumarang, didefinisikan sebagai hasil persilangan dua kuda KP5–KP8, dan kemudian, persilangan keturunan yang dihasilkan. Meskipun telah disahkan oleh PORDASI, klasifikasi ini belum diluncurkan secara resmi.[47]
| Ras | Persilangan | Persentasi darah
ras unggul |
|---|---|---|
| Unggul | 100% | |
| Kuda lokal (G0/Sandel) | 0% | |
| G1 | Persilangan generasi F1 | 50% |
| G2 | Persilangan generasi F2 | 75% |
| G3 | Persilangan generasi F3 | 87,5% |
| G4 | Persilangan generasi F4 | 93,75% |
| KP5 | Persilangan generasi F5 | 96,88% |
| KP6 | Persilangan generasi F6 | 98,44% |
| KP7 | Persilangan generasi F7 | 99,21% |
| KP8 | Persilangan generasi F8 | 99,61% |
| Kuda Pacu Indonesia | G3×G3, G4×G4, or G3×G4 | ~87.5–93.75% |
Joki
PORDASI menetapkan standar khusus bagi joki pacuan kuda profesional dalam pedoman kejuaraan resminya. Untuk memenuhi syarat, calon joki harus merupakan warga negara Indonesia yang berusia 18 tahun ke atas dan dipilih oleh seorang pelatih kuda.[48] Untuk mendapatkan lisensi, calon joki harus lulus pemeriksaan kesehatan (baik fisik maupun mental) dan penilaian keterampilan oleh Dewan Pengawas, serta mendapatkan rekomendasi resmi dari cabang PORDASI di tingkat provinsi. Joki yang menunggangi kuda kecil harus memiliki berat minimal 35 kg, sedangkan joki yang menunggangi kuda standar nasional harus memiliki berat antara 48 kg dan 55 kg.[48]
Salah satu joki terbaik Indonesia adalah Coen Singal. Ia memulai kariernya sebagai joki pada tahun 1980-an, dan sejak saat itu, ia telah memenangkan Indonesia Derby sebanyak lima kali (1988, 1990, 1999, 2000, dan 2004). Selain Coen, Jemmy Runtu juga telah memenangkan lima pacuan Indonesia Derby (2016, 2018, 2021, 2024, dan 2025). Runtu adalah joki King Argentin, pemenang Piala Tiga Mahkota 2025.
Pacuan
Handicap
Seri Kejurnas menggunakan sistem yang mirip dengan sistem Weight for Age, di mana handicap yang diberikan kepada setiap kuda bergantung pada usia, jenis kelamin, dan tinggi badannya dalam klasifikasi tinggi badan. Sebagai patokan umum, untuk setiap sentimeter di atas tinggi badan minimum kelas atau usia di atas 2 tahun, seekor kuda akan diberi tambahan 0,5 kg pada bobotnya, hingga maksimal 2 kg untuk usia kuda. Kuda Kelas A juga memiliki handicap maksimum 2 kg untuk tinggi badannya. Ini merupakan tambahan dari bobot dasar yang bergantung pada kelas dan jenis kelamin.[46] Kuda Kelas A dan B membawa handicap dasar 51 kg, sedangkan kuda Kelas C hingga F membawa handicap dasar 50 kg. Kuda betina juga menerima keringanan 1 kg.
Pacuan klasik Indonesia
Ini adalah serangkaian pacuan kuda datar. Setiap pacuan klasik diadakan sekali setahun dan merupakan bagian dari kalender nasional PORDASI.
| Pacuan | Tanggal | Jarak | Seri |
|---|---|---|---|
| Seri Tiga Mahkota 1 | Maret / April | 1200 meter | Tiga Mahkota |
| Pertiwi Cup | Maret / April | 1600 meter | Seri Kejurnas 1
(untuk kuda betina berusia 3 tahun) |
| Seri Tiga Mahkota 2 | Mei | 1600 meter | Tiga Mahkota |
| Indonesia Derby | Juli | 2000 meter | Seri Tiga Mahkota/Kejurnas 1 |
| Super Sprints | Oktober | 1300 meter | Seri Kejurnas 2 |
| Star of Stars | Oktober | 2200 meter | Seri Kejurnas 2 |
Seri Kejurnas
Setiap tahun, PORDASI menyelenggarakan Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda (Kejurnas), di mana para peserta bertanding bukan sebagai individu melainkan sebagai perwakilan dari cabang provinsi atau daerah masing-masing. Juara umum ditentukan berdasarkan total poin yang diraih di seluruh kelas pacuan. Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda diselenggarakan untuk memperebutkan Piala Presiden.[46]
Seri Kejurnas 1
Juga dikenal sebagai Seri Tiga Mahkota. Kuda-kuda Indonesia, baik jantan maupun betina, memperoleh gelar Tiga Mahkota dengan memenangkan ketiga pacuan. Seri ini terdiri dari:
- Seri Tiga Mahkota 1, Tanah 1200m
- Seri Tiga Mahkota 2, Tanah 1600m
- Indonesia Derby, Tanah 2000m
Seri Kejurnas ini mempertandingkan kuda balap berdasarkan usia yang dibagi ke dalam kelas. Indonesia Derby dianggap sebagai salah satu acara utama dalam seri Kejurnas pertama, karena secara tradisional diadakan pada hari yang sama dan terintegrasi ke dalam program kejuaraan.[46]
Seri Kejurnas 2
Seri Kejurnas ini mempertandingkan kuda pacu berdasarkan tinggi badan mereka yang dibagi ke dalam kelas. Pacuan utama dalam seri ini meliputi:
- Super Sprints, Tanah 1300m
- Star of Stars, Tanah 2200m
Pacuan utama lainnya
Pacuan utama lainnya meliputi:
A.E. Kawilarang Memorial Cup
- Jateng Derby
- Sawahlunto Derby
- Piala Ketua Umum Pengurus Pusat Pordasi (Piala Ketum PP Pordasi)
- Piala Raja Hamengku Buwono XI
- Pakualam Cup
- Sumpah Pemuda Cup
Seri pacuan kuda regional meliputi:
- Wisata Derby Bukittinggi
- Berbagai pacuan yang diselenggarakan oleh walikota/bupati (misalnya Piala Bupati Minut, dll.)

Selain kompetisi nasional yang diselenggarakan oleh PORDASI, cabang-cabang regional dan pengelola lokal juga menyelenggarakan acara pacuan kuda mereka sendiri, mulai dari balapan datar modern hingga bentuk-bentuk kompetisi tradisional).[49][50] Pacuan kuda juga sering dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Nasional, dengan penambahan terakhirnya pada edisi 2024.[51]
Pacuan non-datar dan/atau tradisional/lokal

Pacuan kuda telah menjadi bagian dari tradisi lokal sejak pertama kali diperkenalkan di seluruh nusantara. Berbagai adaptasi dan variasinya tersebar di berbagai daerah, mulai dari Aceh, Sumatera Barat, Bima (Nusa Tenggara Barat), Sumbawa (Nusa Tenggara Timur), hingga Sulawesi Utara. Tradisi di Aceh (pacu kude) dan Bima (pacoa jara) diakui sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2016.[52][53]
Selain pacuan datar, baik dalam konteks tradisional maupun modern, bentuk-bentuk lain dari pacuan kuda (terutama pacuan kereta kuda) juga terdapat dalam scene pacuan kuda lokal Indonesia. Dalam pacuan kuda tradisional Minangkabau, selain pacu kudo, kompetisi berkuda lain yang umum disebut draf bogie. Dalam draf bogie, pemenang ditentukan tidak hanya berdasarkan kuda mana yang melintasi garis finish terlebih dahulu, tetapi juga berdasarkan kualitas dan konsistensi langkahnya.[18] Di Sulawesi Utara, pacuan kereta kuda dikenal sebagai bendi kalaper.[54]
Badan pengatur
Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) adalah organisasi yang mengatur kompetisi pacuan kuda di Indonesia. Melalui Komisi Pordasi Pacu, Pordasi secara rutin menggelar seri tahunan Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda Pordasi (kini Indonesia's Horse Racing) sejak pendirian organisasi ini pada tahun 1966.[55] Sejak 2023, promotor kompetisi berkuda Sarga.co dibentuk melalui dukungan Pordasi untuk mengembangkan kualitas perlombaan pacuan kuda di tingkat nasional.[56][57]
Gelanggang
Sebagian besar gelanggang pacuan kuda di Indonesia berlintasan tanah, kecuali Gelanggang Pacuan Kuda Yosonegoro di Gorontalo, yang merupakan satu-satunya arena rumput di negara ini.
| Gelanggang | Lokasi | Track | Status | Telah menjadi tuan rumah kejuaraan tingkat nasional[a] |
|---|---|---|---|---|
| Gelanggang Pacuan Kuda Arcamanik[58] | Bandung, Jawa Barat | Tanah | Ditutup
sejak 2013 |
|
| Gelanggang Pacuan Kuda Balitka | Manado, Sulawesi Utara | Tanah | Aktif | Regional |
| Gelanggang Pacuan Kuda Bancah Laweh | Padang Panjang, Sumatera Barat | Tanah | Aktif | Regional |
| Gelanggang Pacuan Kuda Bukit Ambacang | Bukittinggi, Sumatera Barat | Tanah[b] | Aktif | Regional |
| Gelanggang Pacuan Kuda Bora | Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah | Tanah | Aktif | Regional |
| Gelanggang Pacuan Kuda Cilembang | Tasikmalaya, West Java | Tanah | Aktif | Regional |
| Gelanggang Pacuan Kuda Dadaha | Tasikmalaya, West Java | Tanah | Ditutup | Regional |
| Gelanggang Pacuan Kuda HM Hasan Gayo | Takengon, Aceh | Tanah | Aktif | |
| Gelanggang Pacuan Kuda Kandih | Sawahlunto, Sumatera Barat | Tanah | Aktif | |
| Gelanggang Pacuan Kuda Ki Ageng Astrojoyo | Pasuruan, Jawa Timur | Tanah | Aktif | |
| Gelanggang Pacuan Kuda Kubu Gadang | Payakumbuh, Sumatera Barat | Tanah | Aktif | |
| Gelanggang Pacuan Kuda Legokjawa | Pangandaran, Jawa Barat | Tanah | Aktif | |
| Gelanggang Pacuan Kuda Lembah Kara | Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Timur | Tanah | Aktif | Regional |
| Gelanggang Pacuan Kuda Maesa Tompaso | Tompaso, Sulawesi Utara | Tanah | Aktif | |
| Gelanggang Pacuan Kuda Nyi Ageng Serang | Sragen, Jawa Tengah | Tanah | Ditutup | Regional |
| Gelanggang Pacuan Kuda Pada Eweta | Waikabubak, Nusa Tenggara Timur | Tanah | Aktif | Regional |
| Gelanggang Pacuan Kuda Pulomas | Jakarta Timur | Tanah | Ditutup
sejak 2016 |
|
| Gelanggang Pacuan Kuda Ranomuut | Manado, Sulawesi Utara | Tanah | Ditutup
sejak sebelum 2003 |
|
| Gelanggang Pacuan Kuda Rihi Eti | Waingapu, Nusa Tenggara Timur | Tanah | Aktif | Regional |
| Gelanggang Pacuan Kuda Sultan Agung | Bantul, DIY | Tanah | Aktif | |
| Gelanggang Pacuan Kuda Siborongborong | Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara | Rumput[c] | Aktif | Regional |
| Gelanggang Pacuan Kuda Tanah Sareal | Bogor, Jawa Barat | Rumput | Ditutup
sejak 1967 |
|
| Gelanggang Pacuan Kuda Tegallega | Bandung, Jawa Barat | Rumput | Ditutup
sejak 1968 |
|
| Gelanggang Pacuan Kuda Tegalwaton | Kabupaten Semarang, Jawa Tengah | Tanah | Aktif | |
| Gelanggang Pacuan Kuda Tunggul Hitam | Padang, Sumatera Barat | Tanah | Aktif | |
| Gelanggang Pacuan Kuda Yosonegoro | Kabupaten Gorontalo, Gorontalo | Rumput | Aktif | Regional |
- ^ Termasuk pacuan di luar Pordasi seperti Pekan Olahraga Nasional.
- ^ Awalnya rumput.
- ^ Lintasan pacuan kuda non-standar; lintasan pacuan kuda ini tidak menggunakan rumput standar untuk pacuan kuda.
Referensi
- ^ "Salatiga Races October Meeting". Java Government Gazette. Batavia (dipublikasikan Oktober 24, 1812). 1812. hlm. 2. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-03-11. Diakses tanggal 2025-10-26.
- ^ Yunus, M., dan Hayati, E. (November 2015). "Realisasi Nilai-nilai Pendidikan pada Tradisi Perlombaan Pacuan Kuda di Aceh Tengah". Jurnal Bhineka Tunggal Ika. 2 (2): 89. ISSN 2355-7265. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ^ "Sekilas Sejarah Pacuan Kuda Gayo Sebagai Tradisi Pestas Rakyat Gayo". Dinas Pariwisata Kabupaten Aceh Tengah. 2020-03-07. Diakses tanggal 2025-08-10.
- ^ "Pacuan Kuda Tradisional Gayo, Tradisi yang Tetap Lestari di Aceh". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2025-08-10.
- ^ "Pacoa Jara", Cultural Heritage, Ministry of Education and Culture of Indonesia, 2016
- ^ Ulum, Gagas (2017). Uniquely Lombok-Sumbawa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. hlm. 231. ISBN 9786020373874.
- ^ "Mengenal Maen Jaran, Tradisi Pacuan Kuda di Pulau Sumbawa". Tempo. 24 Mei 2023 | 20.25 WIB. Diakses tanggal 2025-08-10.
- ^ "Ratusan Kuda Ikuti Lomba Pacuan Berskala Nasional di Ambal" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-08-10.
- ^ "PPID Provinsi Jawa Barat". ppid.jabarprov.go.id. Diakses tanggal 2025-08-10.
- ^ NTT, Redaksi Tribratanews (2025-08-07). "Gema Sorak dan Derap Kuda Meriahkan Pembukaan Pacuan Kapolda Cup 2025". Polda NTT. Diakses tanggal 2025-08-10.
- ^ Polii, Jinever; Kaunang, Ivan R.B.; Suatan, Sientje (2022-08-02). "SEJARAH PACUAN KUDA DI KECAMATAN TOMPASO KABUPATEN MINAHASA 1970-2000". JURNAL ELEKTRONIK FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SAM RATULANGI. 38 (2022).
- ^ "Tanende Sport". Bataviaasch Nieuwsblad (dalam bahasa Belanda). Vol. 55, no. 84. March 11, 1940. hlm. 1. Diakses tanggal December 18, 2025.
- ^ "De Ren-Data voor 1935". Jaarvergadering Javasche Ren-vereeniging. De locomotief (dalam bahasa Belanda). No. 46. Samarang (dipublikasikan Februari 25, 1935). 1935. hlm. 9.
- ^ Sembodo, Satrio Luhur (2023). "Kajian Historis: Toponimi Jalan Pacuan Kuda Surabaya Tahun 1925-1950". Avatara. 13 (2). Surabaya: UNESA – via ejournal UNESA.
- ^ "De Deli renvereeniging". De Sumatra post (dalam bahasa Belanda). No. 52. Medan (dipublikasikan Agustus 13, 1923). 1923. hlm. 10. Diakses tanggal 2025-10-18.
- ^ "Verbetering van Paardenras. Nieuwe aankoop van Sandelwoods". Nederlandsch-Indië. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (dalam bahasa Belanda). Batavia (dipublikasikan Februari 23, 1939). 1939. hlm. 3. Diakses tanggal 2025-10-19.
- ^ Fikri, Ahmad (2025). "NGULIK BANDUNG: Balapan Kuda di Tegallega". Bandung Bergerak (dipublikasikan Oktober 9, 2022). Diakses tanggal 2025-10-29.
- ^ a b c Almaizon; Refisrul (2009). Potensi Pacu Kudo Sebagai Objek Pariwisata di Nagari Vll Koto Talago, Kecamatan Guguk Kabupaten Lima Puluh Koto (PDF). Padang: BPSNT Padang Press. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2025-10-26.
- ^ Setiawan, Irwan (2024-10-25). "Gelanggang Pacuan Kuda Bukit Ambacang, Gelanggang Pacuan Kuda Tertua di Indonesia". Netral News. Diakses tanggal 2025-12-13.
- ^ Setiawan, Irwan (2024-10-25). "Gelanggang Pacuan Kuda Bukit Ambacang, Gelanggang Pacuan Kuda Tertua di Indonesia". Netral News. Diakses tanggal 2025-12-13.
- ^ Haris, Hasbunallah (2025). "Gelanggang Pacu Kuda di Padang Panjang, Tradisi Kolonial Hingga Millenial". eXpos Sumbar (dipublikasikan Juni 24, 2025). Diakses tanggal 2025-10-18.
- ^ "Raceterrein Tegallega te Bandoeng Hersteld". De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad (dalam bahasa Belanda). Vol. 96, no. 251. Semarang (dipublikasikan Juli 3, 1948). 1948. hlm. 2. Diakses tanggal 2025-10-18.
- ^ "Batavia Buitenzorg Wedloop Sociëteit". Indische courant voor Nederland (dalam bahasa Belanda). Vol. 1, no. 96. Amsterdam (dipublikasikan Juni 25, 1949). 1949. hlm. 2. Diakses tanggal 2025-10-18.
- ^ a b c d e Soehadji; Muladno; Bandiati, Sri; Soekotjo, Wirasmono; Soehardjono, Oetari (2019). Sejarah Pembentukan Kuda Pacu Indonesia: Rumpun Baru Kuda Indonesia Karya Anak Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBN 9786020622446.
- ^ a b Soehardjono, Oetari (1990). Kuda. Pamulang: Yayasan Pamulang Equestrian Centre. hlm. 336. ISBN 9798196007.
- ^ Bressiac, Sam (12 June 1971). "Something Nobody Talks About". The Bulletin. Vol. 93, no. 4759. Sydney. hlm. 32–33 – via Trove.
- ^ "Pelaksanaan Penertiban Perjudian". Peraturan Pemerintah (PP) per . Vol. 9. Pemerintah Pusat Indonesia. JDIH BPK. Diakses tanggal 2025-10-29.
- ^ a b Subagyo (31 July 2013). "Kementan lakukan pelepasan rumpun kuda pacu indonesia". ANTARAnews. ANTARA. Diakses tanggal October 30, 2025.
- ^ "Nasib Pacuan Kuda Pulomas yang Dulu Pernah Bersinar". Detik. detik.com. June 19, 2014. Diakses tanggal 2025-10-21.
- ^ Bramantoro, Toni (1 May 2016). "Tetap di Pulomas, ke Tegalwaton atau Pangandaran?". Tribun News. Diakses tanggal 2025-10-29.
- ^ Hidayat, Novia Aris (22 December 2015). "Terkendala Sarana, Kualifikasi PON Pacuan Kuda Mundur". Tempo.co. Tempo. Diakses tanggal 2025-10-11.
- ^ "Lapangan Pacuan Kuda PON XIX Berada di Dekat Pantai". JPNN.com. Jawa Pos Group. 29 August 2016. Diakses tanggal 2025-10-11.
- ^ "Lomba Pacuan Kuda Nasional "Kawilarang Memorial Cup 2020" Dibuka Wabup Pangandaran". Barak News. 16 March 2020. Diakses tanggal 2025-10-29.
- ^ Amar, Raikhul (16 March 2020). "Di Tengah Ancaman Corona, Pordasi Tetap Gelar Kejurnas 2020". SINDO News (Sports). SINDO Media Group. Diakses tanggal 2025-10-29.
- ^ Arie, Jan. "Bangun Olahraga Pacuan Kuda Indonesia, Aryo Djojohadikusumo Dorong Sarga.co Bekerjasama Dengan BMW Motorrad". Hallo Id. Diakses tanggal 2025-08-10.
- ^ Prasatya, Randy. "Kolaborasi Pordasi Hadirkan 10 Kejuaraan Berkuda di 2025". detiksport. Diakses tanggal 2025-07-29.
- ^ "Indonesia Horse Racing, Kompetisi Adu Cepat dan Warna Baru Menikmati Sport Tourism Indonesia". kemenpar.go.id. Diakses tanggal 2026-02-06.
- ^ Dany, Muhammad (28 August 2025). "Indonesian horse racing tournament sees surge in popularity due to "Uma Musume"". KAORI Nusantara. Diakses tanggal 5 September 2025.
- ^ Kusumanto, Dody (31 July 2025). "Sarga.co Sampaikan Terima Kasih untuk Fans Uma Musume". KAORI Nusantara. Diakses tanggal 5 September 2025.
- ^ @Sarga_co (2025-10-22). "GRATEFUL FOR EVERY PARTNER BEHIND THE TRACK!🔥Terima kasih untuk..." (Tweet) – via X.
- ^ Sari, Putri Purnama (30 July 2025). "Profil King Argentin, Peraih Triple Crown Indonesia". Metro TV News. Diakses tanggal 29 August 2025.
- ^ Kalangi, Ariany (27 February 2025). "Kuda Milord Tewas, Pordasi Usulkan Aturan Baru Joki". RRI. RRI. Diakses tanggal 2025-10-11.
- ^ "PP Pordasi Resmi Tanda Tangani Perjanjian Kemitraan Strategis Olahraga Berkuda dengan Prancis di Istana Negara". PORDASI. 2025-05-29. Diakses tanggal 2025-11-17.
- ^ Janti, Nur (30 May 2025). "Indonesia, France sign deal to develop equestrian sports". Jakarta Post. Diakses tanggal 2025-11-18.
- ^ Dubai Racing Club [@RacingDubai] (Dec 3, 2025). "Our Chairman, @RashedDalmook, welcomed Mr. Aryo Djojohadikusumo..." (Tweet) – via X.
- ^ a b c d PORDASI (October 20, 2020). "Peraturan Organisasi Tentang Peraturan Pacuan dan Petunjuk Pelaksanaan Kejuaraan Nasional Pacuan No.PO-10/PP/PORDASI/VIII/2020". Jakarta. Diarsipkan dari asli tanggal November 22, 2025. Diakses tanggal November 22, 2025.
- ^ "Stud Book Indonesia - Musim Kawin Periode 2021-2022 dan Pengumuman Tentang Trah Gumarang" [Stud Book Indonesia - 2021-2022 Mating Season and Announcement Regarding the Gumarang Breed]. studbook.or.id. 2021-08-31. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-08-08. Diakses tanggal 2025-11-17.
- ^ a b "Tak Hanya Jago Kendalikan Kuda, Begini Tahapan Menjadi Joki Pacuan Profesional!". Sarga News. Diakses tanggal 2025-11-28.
- ^ Suadnyana, I Wayan Sui; Nickyrawi, Faruk (26 May 2024). "Serunya Menonton Pacuan Kuda Tradisional di Dompu, Ditunggangi Joki Cilik". detikBali. detikcom. Diakses tanggal 2025-10-29.
- ^ Sabandar, Switzy (25 June 2025). "Pacuan Kuda Tradisional Gayo, Tradisi dan Pesta Rakyat Khas Kabupaten Aceh Tengah". Liputan6.com (Regional). Liputan6. Diakses tanggal 2025-10-11.
- ^ arahkita.com. "Jakarta Raih Juara Umum Nomor Pacu Kuda PON XII 2024". arahkita.com. Diakses tanggal 2025-08-10.
- ^ "Pacu Kude", Cultural Heritage, Ministry of Education and Culture of Indonesia, 2016
- ^ "Pacoa Jara, Pacu Mbojo", Cultural Heritage, Ministry of Education and Culture of Indonesia, 2016
- ^ Sekeon, Rian (19 August 2015). "Aksi Sengit di Kelas Bendi Kalaper Tarik Perhatian Penonton di Milord Cup 2025". Manado Post. Jawa Pos. Diakses tanggal 21 November 2025.
- ^ Nabila, Arin (2022-10-08). "Pordasi Gelar Kejurnas Pacuan Kuda ke-56 Piala Presiden 2022". www.skor.id. Diakses tanggal 2025-07-29.
- ^ Arie, Jan. "Bangun Olahraga Pacuan Kuda Indonesia, Aryo Djojohadikusumo Dorong Sarga.co Bekerjasama Dengan BMW Motorrad". Hallo Id. Diakses tanggal 2025-08-10.
- ^ Prasatya, Randy. "Kolaborasi Pordasi Hadirkan 10 Kejuaraan Berkuda di 2025". detiksport. Diakses tanggal 2025-07-29.
- ^ "ARENA PACUAN KUDA ARCAMANIK DIPASTIKAN HILANG". ANTARA News Jawa Barat. 17 November 2012. Diakses tanggal 2025-12-18.
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


