Dhammadāyāda Sutta

Dhammadāyāda Sutta
Pewaris dalam Dhamma
JenisTeks kanonis
IndukMajjhimanikāya
SingkatanMN 3

Dhammadāyāda Sutta (MN 3, Pewaris dalam Dhamma) adalah diskursus ketiga dalam kelompok diskursus Mūlapannāsapāli, Majjhima Nikāya. Diskursus ini berisi tentang murid-murid Sang Buddha sebagai pewaris Dhamma (Pali: dhammadāyāda), dan bukanlah pewaris materi (Pali: āmisadāyāda).[1] Kitab komentar menjelaskan asal-usul diajarkannya diskursus ini di mana adanya keuntungan dan penghormatan luar biasa kepada para biku, akibat buah akumulasi kesempurnaan Sang Buddha.[2]

Isi

Sang Buddha menyebutkan bahwa murid-muridnya yang hanya mewarisi materi dan tidak mewarisi dhamma akan dicela. Sang Buddha memberi perumpamaan bahwa bila ada dua biku yang menerima dana makanan dari Sang Buddha yang tersisa dan akan dibuang, biku yang memilih untuk tidak memakan dana makanan tersebut adalah murid yang lebih mulia dan lebih terhormat daripada biku yang menerima dana makanan tersebut. Disebut lebih mulia karena hal itu dalam jangka waktu lama akan bermanfaat bagi keinginannya yang sedikit (lenyap), kepuasan, kemurnian (pengurangan) dari kekotoran batin, kemudahan untuk didukung dan membangkitkan kegigihannya.[3][4]

Setelah Sang Buddha pergi, Sariputta menjelaskan bahwa para biku baik senior, menengah dan junior akan dicela, bila tidak berlatih dalam keterasingan. Yang dimaksud tidak berlatih dalam keterasingan adalah:[5][6]

  1. Tidak berlatih dalam keterasingan
  2. Tidak meninggalkan apa yang Sang Guru katakan kepada mereka untuk ditinggalkan
  3. Hidup dalam kemewahan dan lalai (memiliki kebiasaan yang longgar), memimpin dalam kemunduran (yang terdepan dalam kejatuhan), lengah dalam keterasingan

Sariputta kemudian menjelaskan pada para biku untuk meninggalkan 16 kekotoran batin (Pali: Cittass'upakkilesā) dengan Jalan Tengah yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan:[7][8]

  1. keserakahan (abhijjha-visamalobha)
  2. kebencian (byāpāda)
  3. kemarahan (krodha)
  4. dendam (upanāha)
  5. sikap meremehkan (makkha)
  6. congkak (palāsa)
  7. iri hati (issā)
  8. kekikiran (macchariya)
  9. kecurangan (māyā)
  10. penipuan / tipu muslihat (sātheyya)
  11. sifat keras kepala (thambha)
  12. kecenderungan untuk berselisih (sārambha)
  13. keangkuhan (māna)
  14. kesombongan (atimāna)
  15. kepongahan / kebanggaan diri (mada)
  16. kelalaian (pamāda)

Referensi

  1. ^ Kheminda 2022, hlm. xxiv.
  2. ^ Kheminda 2022, hlm. xxv.
  3. ^ Ñāṇamoli 2013, hlm. 138-139.
  4. ^ Kheminda 2022, hlm. 112.
  5. ^ Ñāṇamoli 2013, hlm. 139-141.
  6. ^ Kheminda 2022, hlm. 113-117.
  7. ^ Ñāṇamoli 2013, hlm. 142.
  8. ^ Kheminda 2022, hlm. 117-119.

Sumber

  • Dhammadāyāda — Suttacentral
  • Dhamma-Dāyāda Suttaṁ, I.12 — Obo the Awakener
  • Tan, Piya (2003), Dhamma,dāyāda Sutta: The Discourse on Heirs to the Dharma (PDF)
  • Ñāṇamoli, Bhikkhu; Bodhi, Bhikkhu (2013), Khotbah-khotbah Menengah Sang Buddha, Majjhima Nikāya (PDF), diterjemahkan oleh Wijaya, Edi; Anggara, Indra, DhammaCitta Press Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  • Mahasi, Sayadaw (2021), A Discourse on the Dhammadāyāda Sutta (PDF) (dalam bahasa Inggris), diterjemahkan oleh Swe, U Min, Buddha Sāsanānuggaha Organization
  • Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha (1993), Dhammadayada Sutta, Proyek Sarana Keagamaan Buddha Departemen Agama RI
  • Kheminda, Ashin (2022), Kanon Pali dan Komentarnya, Majjhima Nikāya, Mūlapaṇṇāsapāḷi: Lima Puluh Diskursus yang di Akar (I.1B), Yayasan Dhammavihari

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement