Bhayabherava Sutta
| Bhayabherava Sutta Kekhawatiran dan Ketakutan | |
|---|---|
| Jenis | Teks kanonis |
| Induk | Majjhimanikāya |
| Singkatan | MN 4 |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Bhayabherava Sutta (MN4, Kekhawatiran dan Ketakutan) adalah diskursus keempat dalam kelompok diskursus Mūlapannāsapāli, Majjhima Nikāya. Diskursus ini menjelaskan tentang Kekhawatiran (Pali: bhaya) dan Ketakutan (Pali: bherava) yang muncul pada saat menjalani keterasingan.
Isi
Diskursus ini disampaikan Sang Buddha pada saat seorang brahmana bernama Jāṇussoṇi[a] bertanya kepada-Nya mengenai kehidupan dalam keterasingan.[1] Sang Buddha kemudian menceritakan pengalaman pribadi-Nya sendiri pada saat belum mencapai Pencerahan, yaitu tentang ketakutan-ketakutan yang dihadapinya selama bertapa di di hutan atau tempat-tempat yang terpencil (Pali: arañña). Sang Buddha menjelaskan bahwa sebelum seseorang tinggal di hutan, ia harus memeriksa dirinya dan memastikan bahwa ia terbebas dari segala bentuk perilaku dan batin yang dapat menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan, yaitu:[2]
- Kemurnian perilaku (perbuatan)
- Kemurnian ucapan
- Kemurnian pikiran
- Kemurnian penghidupan
- Bebas dari keserakahan (hawa nafsu duniawi)
- Bebas dari kebencian (dengki)
- Bebas dari kemalasan (ketumpulan) dan kantuk
- Bebas dari kegelisahan dan tidak tenang
- Bebas dari bimbang dan keraguan
- Bebas dari kecenderungan memuji diri sendiri
- Bebas dari ketakutan dan kengerian
- Bebas dari rasa ingin pada perolehan, penghormatan dan ketenaran
- Bebas dari malas dan kurang gigih
- Bebas dari tanpa perhatian dan tidak waspada
- Bebas dari tidak konsentrasi dan dengan pikiran mengembara
- Bebas dari tanpa kebijaksanaan
Sang Buddha menyatakan bahwa jika seorang pertapa memiliki kekurangan moral atau batin seperti yang disebutkan di atas, ia akan selalu diliputi rasa takut dan kekhawatiran akibat kekotoran batin selama berada di tempat yang terasing. Sebaliknya, karena Sang Buddha melihat kemurnian semua kualitas ini dalam diri-Nya, Ia merasa aman dan nyaman untuk tinggal di hutan.
Sang Buddha kemudian menceritakan bagaimana ia melakukan praktik menghadapi kekhawatiran dan ketakutan yang muncul saat berada di hutan, alih-alih melarikan diri darinya. Sang Buddha berpikir: "Mengapa Aku berdiam dengan selalu menanti kekhawatiran dan ketakutan? Bagaimana jika Aku menaklukkan kekhawatiran dan ketakutan itu sambil mempertahankan postur yang sama dengan ketika hal itu mendatangiKu?"
- Jika ketakutan datang saat berjalan, Sang Buddha akan terus berjalan sampai ketakutan itu hilang.
- Jika ketakutan datang saat berdiri, Sang Buddha akan terus berdiri sampai ketakutan itu hilang.
- Jika ketakutan datang saat duduk, Sang Buddha akan terus duduk sampai ketakutan itu hilang.
- Jika ketakutan datang saat berbaring, Sang Buddha akan terus berbaring sampai ketakutan itu hilang.
Ini menunjukkan tekad yang kuat (Pali: virya) untuk tidak membiarkan ketakutan mengganggu latihannya dan bahwa ketenangan batin sejati tidak tergantung pada postur tubuh atau lingkungan luar.
Sang Buddha kemudian berkata bahwa makhluk dengan sifat tanpa delusi yang akan memberi manfaat, kesejahteraan dan kebahagiaan pada dunia. Usaha menjadi makhluk seperti itu dimulai oleh Sang Buddha yang dengan gigih dan perhatian penuh, tenang dan tidak terganggu, serta konsentrasi penuh sehingga terbebas dari nafsu-nafsu duniawi, kondisi-kondisi mental yang tidak baik dan mencapai 4 tingkatan absorpsi meditatif (Pali: jhāna). Ketika batin telah sedemikian terpusat, murni, bersih tanpa noda, tanpa cacat, lentur, kokoh, stabil dan mencapai keadaan yang tidak terganggu membuat Sang Buddha mengetahui tiga pengetahuan sejati (Pali: visso vijjā) selama tiga jaga malam, yaitu:
- Mengingat kehidupan-kehidupan lampau (Pali: Pubbenivāsanussati ñāṇa).
- Pengetahuan tentang muncul dan lenyapnya makhluk sesuai karma mereka (Pali: Cutūpapāta ñāṇa).
- Pengetahuan tentang pemusnahan noda-noda batin (Pali: Āsavakkhaya ñāṇa) dengan mengetahui 4 kebenaran mulia dan 4 tahap pemusnahan noda batin yang merupakan puncak dari pencapaian Penerangan Sempurna (Buah Ke-Arahanta-an).
Catatan
- ^ Jāṇussoṇi bukanlah nama asli, melainkan suatu gelar kehormatan yang berarti "brahmana kerajaan" (purohita) yang dianugerahkan kepadanya oleh raja.
Referensi
- ^ Nanamoli 2013, hlm. 145.
- ^ Kheminda 2022, hlm. 187-196.
Sumber
- Bhayabherava Sutta — Suttacentral
- Bhaya-Bherava Suttaṁ, I.16 — Obo The Awakener
- Fear & Terror: Bhaya-bherava Sutta (MN 4) — dhammatalks.org
- Tan, Piya (2013), Bhaya Bherava Sutta (PDF)
- Ñāṇamoli, Bhikkhu; Bodhi, Bhikkhu (2013), Khotbah-khotbah Menengah Sang Buddha, Majjhima Nikāya (PDF), diterjemahkan oleh Wijaya, Edi; Anggara, Indra, DhammaCitta Press Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha (1997), Khotbah-khotbah Menengah Sang Buddha, Majjhima Nikāya, Hanuman Sakti
- Kheminda, Ashin (2022), Kanon Pali dan Komentarnya, Majjhima Nikāya, Mūlapaṇṇāsapāḷi: Lima Puluh Diskursus yang di Akar (I.1B), Yayasan Dhammavihari
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


