Anaṅgaṇa Sutta

Anaṅgaṇa Sutta
Tanpa Noda
JenisTeks kanonis
IndukMajjhimanikāya
SingkatanMN 5

Anaṅgaṇa Sutta (MN5, Tanpa Noda) adalah diskursus kelima dalam kelompok diskursus Mūlapannāsapāli, Majjhima Nikāya. Diskursus ini disampaikan di wihara Jetavana dan berisi dialog antara Sāriputta dan Mahāmoggallāna yang membahas tentang empat keadaan batin seseorang terkait cela atau noda (Pali:aṅgaṇa), yaitu keadaan batin yang bersih atau bernoda, serta bagaimana orang itu mengetahui atau tidak mengetahui keadaan batinnya sendiri.

Isi

Empat jenis orang

Sāriputta menyebutkan empat jenis orang berkaitan dengan noda, yaitu sebagai berikut:[1][2]

  1. Seseorang yang memiliki noda tetapi tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki noda
  2. Seseorang yang memiliki noda dan benar-benar mengetahui bahwa dirinya memiliki noda
  3. Seseorang yang tidak memiliki noda dan tidak mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki noda
  4. Seseorang yang tidak memiliki noda dan benar-benar mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki noda

Disebutkan bahwa orang yang memiliki noda dan benar-benar mengetahui bahwa dirinya memiliki noda adalah orang yang lebih unggul (Pali: seṭṭha) daripada yang tidak mengetahuinya. Begitu pula orang yang tidak memiliki noda dan benar-benar mengetahuinya adalah orang yang lebih unggul daripada yang tidak mengetahuinya. Sāriputta menggunakan piring perunggu sebagai perumpamaan, di mana piring perunggu yang menjadi kotor atau bersih tergantung bagaimana diperlakukan.[3]

Noda

Noda yang dimaksud adalah keinginan-keinginan yang tidak bermanfaat. Sariputta memberikan penjelasan mengenai noda yang berupa keinginan-keinginan yang muncul di kalangan para biku, antara lain yang disebabkan karena:[4][5]

  • Kemarahan dan ketidaksenangan
  • Rasa ingin dihormati
  • Ingin mendapat posisi, penghargaan, jubah, makanan, tempat tinggal yang lebih baik
  • Keinginan agar hanya dirinya yang mendapat perhatian guru, memimpin, atau mengajar

Semua bentuk kecemburuan, keangkuhan, dan ketidakpuasan adalah noda batin. Seorang biku yang masih memiliki keinginan-keinginan tidak bermanfaat tersebut, meskipun ia hidup mengasingkan diri, menjalankan cara hidup sederhana tetap tidak akan dihormati, sementara biku yang telah meninggalkan noda-noda tersebut akan dihormati.[6]

Setelah mendengar perkataan Sariputta, Moggallāna menyampaikan perumpamaan tentang seorang pertapa dan pembuat roda yang menyerut dan menghaluskan cacat-cacat pada pelek roda sehingga menjadi pelek roda yang melengkung bersih.

Referensi

  1. ^ Tan 2011, hlm. 79.
  2. ^ Kheminda 2023, hlm. xi.
  3. ^ Ñāṇamoli 2013, hlm. 158-160.
  4. ^ Ñāṇamoli 2013, hlm. 160-163.
  5. ^ Kheminda 2023, hlm. 7-16.
  6. ^ Ñāṇamoli 2013, hlm. 162-164.

Sumber

  • Bhayabherava Sutta — Suttacentral
  • Anaṅgaṇa Suttaṁ, I.24 — Obo the Awakaner
  • Unblemished: Anaṅgaṇa Sutta (MN 5) — dhammatalks.org
  • Tan, Piya (2011) [2007], Anaṅgaṇa Sutta: The Discourse on the Blemish-free (PDF)
  • Ñāṇamoli, Bhikkhu; Bodhi, Bhikkhu (2013), Khotbah-khotbah Menengah Sang Buddha, Majjhima Nikāya (PDF), diterjemahkan oleh Wijaya, Edi; Anggara, Indra, DhammaCitta Press Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  • Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha (1997), Anangana Sutta, Jakarta: Hanuman Sakti
  • Kheminda, Ashin (2023), Kanon Pali dan Komentarnya, Majjhima Nikāya, Mūlapaṇṇāsapāḷi: Lima Puluh Diskursus yang di Akar (I.1C), Yayasan Dhammavihari

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement