Puasa Ramadan di Asia Tengah

Puasa Ramadan di Asia Tengah dilaksanakan oleh muslim di Asia Tengah selama siang hari pada bulan Ramadan. Pengakhiran puasa Ramadan di Asia Tengah ditandai dengan diadakannya perayaan Idul Fitri. Ketaatan muslim di Asia Tengah dalam melaksanakan puasa Ramadan sangat rendah selama masa pemerintahan Uni Soviet di Asia Tengah dan umumnya hanya dipraktikkan oleh muslim yang telah melaksanakan haji. Namun setelah berakhirnya pemerintahan Uni Soviet, komunitas muslim di negara-negara Asia Tengah kembali menerapkan syariat Islam sehingga pengamalan puasa Ramadan mengalami peningkatan yang pesat sejak dasawarsa 1990-an.

Pelaksanaan

Puasa Ramadan di Asia Tengah dilaksanakan terutama oleh muslim dari negara Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan. Selain itu, puasa Ramadan juga dilaksanakan oleh muslim di Xinjiang yang termasuk wilayah Tiongkok di Asia Tengah. Muslim di Asia Tengah tidak makan, minum maupun memenuhi kebutuhan fisik lainnya selama siang hari pada masa puasa Ramadan dalam bulan Ramadan. Di sisi lain, muslim di Asia Tengah memperbanyak ibadah selama masa puasa Ramadan pada siang hari.[1] Berakhirnya puasa Ramadan di Asia Tengah ditandai dengan diadakannya perayaan Idul Fitri. Perayaan Idul Fitri umumnya dipimpin oleh para mullah yang berperan sebagai tokoh keagamaan dalam masyarakat muslim setempat di Asia Tengah.[2]

Ketaatan

Pada masa pemerintahan Josef Stalin, ia menetapkan beberapa larangan terhadap ajaran Islam di wilayah Asia Tengah yang berada dalam pemerintahan Uni Soviet. Salah satu larangan yang berdampak besar terhadap penurunan pengamalan ajaran Islam di Asia Tengah ialah pelarangan pengalihan aksara bahasa-bahasa di Asia Tengah ke abjad Arab.Larangan ini disertai dengan penetapan pengalihan aksara bahasa-bahasa di Asia Tengah ke alfabet Latin dan ke alfabet Kiril. Karena ketentuan tersebut, generasi muslim di Asia Tengah tidak lagi dapat membaca Al-Qur'an dalam bahasa Arab dan tidak dapat membaca literatur Islam klasik. Salah satu dampaknya yaitu berkurangnya pengamalan muslim di Asia Tengah terhadap pelaksanaan puasa Ramadan selama masa pemerintahan Uni Soviet.[3] Pelaksanaan puasa Ramadan secara taat selama masa pemerintahan Uni Soviet di Asia Tengah umumnya hanya dilakukan oleh muslim yang telah melaksanakan haji sebagai bentuk menampilkan identitas diri sebagai penganut ajaran Islam yang taat.[4]

Setelah masa kekuasaan Uni Soviet di Asia Tengah berakhir, berkembang paham pluralisme agama pada komunitas muslim di Asia Tengah sebagai perkembangan penerapan kembali syariat Islam dalam kehidupan individu maupun masyarakat muslim. Dalam persoalan puasa Ramadan, pengamalannya mengalami peningkatan terutama di Tajikistan dan Kirgizstan.[5] Selama masa konfrontasi politik di Tajikistan (1992–1997) antara pendukung politik Islam dan pendukung sekularisasi di pegunungan sekitar perbatasan Afganistan dengan Tajikistan, jumlah penduduk di Tajikistan yang melaksanakan puasa Ramadan terus mengalami peningkatan yang pesat setiap tahunnya.[6]

Pada tahun 2004 dilaporkan bahwa terjadi peningkatan jumlah muslim yang berpuasa Ramadan dari kalangan pelajar di universitas-universitas yang ada di Kazakhstan. Pada tahun 2003, jumlah pelajar yang melaksanakan puasa Ramadan sebanyak 400 orang dan meningkat menjadi 1.000 orang pada tahun 2004. Sementara itu, sebuah survei yang diadakan di Tajikistan melaporkan bahwa sebanyak 70,5% muslim di Tajikistan melaksanakan puasa Ramadan sebulan penuh dan 19,3% lainnya melaksanakan puasa Ramadan selama beberapa hari saja dalam bulan Ramadan. Dalam laporan lain oleh International Crisis Group, sebanyak 64,5% dari muslim di Asia Tengah melaksanakan puasa Ramadan pada tahun 2003.[7] Sementara itu, sebuah survei yang diadakan di Tajikistan menyatakan bahwa sebesar 76,2% dari total penduduk muslim di Tajikistan melaksanakan puasa Ramadan pada tahun 2010.[8]

Lihat juga

Referensi

Catatan kaki

  1. ^ "Muslim Asia Tengah Menjaga Tradisi Ramadhan Agar Tetap Hidup". Baitul Maal Hidayatullah. Diakses tanggal 26 Maret 2025.
  2. ^ Abashin 2006, hlm. 272.
  3. ^ Hanks, Reuel R. (2005). "Muslims at the Crossroads: An Introductory Survey of Historical and Contemporary Aspects of Islam in Central Asia". Education about Asia (dalam bahasa Inggris). 10 (3): 40–41.
  4. ^ Abashin 2006, hlm. 276.
  5. ^ Laruelle, Marlène, ed. (Januari 2018). Being Muslim in Central Asia: Practices, Politics, and Identities (PDF) (dalam bahasa Inggris). Eurasian Studies Library. hlm. 6. ISBN 978-90-04-35724-2. ; Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ^ Nogoybayeva, Elmira, ed. (2017). Central Asia: A Space for “Silk Democracy” Islam and State (PDF) (dalam bahasa Inggris). Almaty: Yayasan Friedrich Ebert. hlm. 34. ISBN 978-601-806-108-0. ; Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ^ Ro'i, Yaacov (2009). "Muslim identity and Islamic practice in post-Soviet Central Asia". Central Asian Survey (dalam bahasa Inggris). 28 (3): 302–322.
  8. ^ Seifert, Arne C. (November 2012). "Political Islam in Central Asia – Opponent or Democratic Partner?" (PDF). CORE Working Paper (dalam bahasa Inggris) (25): 7.

Daftar pustaka

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement