Peperangan Banten–Sumedang
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Agustus 2025) |
Peperangan Banten–Sumedang adalah serangkaian pertempuran antara Kesultanan Banten dengan wilayah Sumedang Larang yang berada dibawah kekuasaan Mataram. Konflik ini muncul karena Banten merasa wilayah Sumedang Larang adalah hak wilayahnya. Awal pertempuran dilakukan secara terbuka terjadi pada tahun 1627 ketika takhta anak Rangga Gempol I yaitu Kartajiwa direbut oleh Rangga Gede, dan konflik ini diakhiri dengan kemenangan bagi Banten yang dapat menguasai Sumedang Larang.[1][2]
| Peperangan Banten–Sumedang | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Konflik Banten–Mataram | |||||||||
Gambaran prajurit Kesultanan Banten, 1597. (Cetakan tahun 1646) | |||||||||
| |||||||||
| Pihak terlibat | |||||||||
Bandung Sukapura Pasukan Trunajaya |
Kebupatian Sumedang[b] | ||||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||||
|
Kartajiwa |
| ||||||||
Latar Belakang

Pada tahun 1579 Banten menginvasi Pajajaran untuk menyebarkan IsIam di Jawa Barat. Serangan ini berhasil membuat riwayat Kerajaan Pajajaran berakhir. Oleh karena itu, Wilayah-wilayah bekas Pajajaran terbagi menjadi beberapa negara , salah satunya adalah Sumedang Larang. Sejak saat itu Banten sangat menginginkan wilayah Sumedang Larang karena wilayah itu merupakan wilayah hak Banten, hingga pada tahun 1627 hingga tahun 1680 Banten menyerang Sumedang Larang karena merasa wilayah Sumedang adalah hak Banten.
Perebutan Takhta Sumedang
Pada saat itu Rangga Gempol I dihukum mati oleh Sultan Agung, lalu terjadilah kekosongan Takhta di wilayah Sumedang, Rangga Gede lalu mengambil-alih dan mempersatukan wilayah Sumedang Larang Kembali ke asalnya, di mana sebagai pemimpin ia diberi gelar Kusumadinata IV.[10][11] Putra sulung Rangga Gempol I yang bernama Kartajiwa atau Suriadiwangsa II, menuntut kembali wilayah kekuasaan yang pernah dipegang ayahnya, tetapi tuntutannya tidak ditanggapi karena status Rangga Gempol I sendiri hanyalah anak dari selir bukan permaisuri.[11][12] Kartajiwa yang kecewa akhirnya pergi meninggalkan Sumedang dan meminta bantuan kepada Sultan Abu al-Mafakhir di Banten. Ia mengungkapkan rencananya untuk menaklukan daerah Parahyangan dan jika rencana ini berhasil maka ia akan menggabungkan Parahyangan sebagai wilayah Banten.[13][14] Sultan tidak merasa keberatan dikarenakan Banten masih berambisi untuk menaklukan seluruh wilayah bekas Kerajaan Sunda. Kartajiwa lalu mendapatkan bantuan pasukan dari Banten untuk persiapan menyerbu Sumedang.[11]
Serbuan pasukan Banten
Setelah persiapan pasukan Banten dirasa cukup, Kartajiwa akhirnya melancarkan serbuan ke daerah Parahyangan di tahun 1627, yang dilakukan melalui jalur darat dan laut. Daerah pesisir utara seperti Karawang, Pamanukan dan Ciasem menjadi sasaran awal dari serbuan ini dan berhasil diduduki oleh pasukan Banten.[15][16] Banten bertujuan untuk menguasai daerah pesisir utara terlebih dahulu untuk menjadikan daerah tersebut sebagai pangkalan laut sebelum menyerbu Sumedang secara langsung, serta sekaligus mengepung VOC di Batavia yang saat itu dipertahankan oleh Pieter de Carpentier.[11] Rangga Gede kewalahan dalam menghadapi serbuan dari Banten yang dipimpin oleh keponakannya ini, dikarenakan sebagian dari pasukan Sumedang masih menetap di ibukota Mataram setelah Rangga Gempol I wafat.[17]
Kabar serbuan pasukan Banten di Karawang terdengar oleh Sultan Agung. Lalu Sultan Agung mengutus Aria Wirasaba dengan 1.000 prajuritnya untuk mengusir pasukan Banten yang ada di Karawang, tetapi sesampainya di Karawang Aria Wirasaba hanya menyisakan 300 pasukannya, karena melihat kekuatan Banten yang begitu besar, Aria Wirasaba memutuskan untuk menunda penyerangan untuk mengumpulkan kekuatan terlebih dahulu. Karena Sultan Agung tidak pernah mendengar kabar dari Aria Wirasaba, Sultan Agung langsung menyatakak bahwa tugas Aria Wirasaba gagal.[18][19]
Lalu Sultan Agung mengutus kembali Wiraperbangsa untuk mengusir tentara Banten. Dengan keberanian dan kegigihannya Wiraperbangsa berhasil mengusir tentara Banten yang berada di Karawang, Wiraperbangsa pun diberi jabatan Wedana oleh Sultan Agung, dan deri gelar "Raden Adipati Kertabumi III" dan diberi hadiah sebilah keris oleh Sultan Agung yang bernama "Karosinjang".[18][19][20][21]
Kabar serbuan dari Banten yang sampai ke telinga Sultan Agung membuatnya marah dan menganggap Rangga Gede tidak mampu mempertahankan daerahnya. Sultan Agung lalu memerintahkan pasukan Mataram untuk menuju Sumedang untuk memberhentikan Rangga Gede sebagai bupati wedana dan menawannya untuk dipenjarakan di ibukota Mataram.
Serangan balik Dipati Ukur
Setelah Rangga Gede ditahan di ibukota Mataram, jabatan dirinya sebagai bupati wedana daerah Parahyangan diserahkan kepada Wangsanata atau Dipati Ukur yang kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Sumedang ke daerah Ukur (sekarang Bandung) yang merupakan basis pendukungnya.[11][14] Disana ia lalu menyusun kekuatan dari pasukan Mataram untuk mengusir tentara Kesultanan Banten dari wilayah pesisir utara Parahyangan. Serbuan balik yang dilakukan oleh Dipati Ukur berhasil mengusir pasukan Banten dari daerah pesisir utara,[14] memaksa Kartajiwa untuk menarik mundur pasukan Banten dan mundur ke wilayah kekuasaan Banten di sebelah barat sungai Cisadane.[22]
Pemberontakan Trunajaya & Invasi Banten ke Sumedang fase Pertama
Masih dengan tujuan yang sama untuk menaklukkan Sumedang. Kali ini Sultan Abulfath memanfaatkan pemberontakan Trunjaya untuk menyerang Sumedang, dikarenakan Mataram sedang kacau oleh Trunajaya dan tidak memungkinkan untuk membantu Sumedang. Oleh karena itu Sultan Abulfath memanfaatkan kekacauan itu untuk merebut Sumedang dengan dukungan dari bupati Parakanmuncang yakni Tanubaya.[4]
Penaklukan Karawang 1677
Pada saat yang sedemikian kacau, terjadi lagi kekacauan di roda pemerintahan Karawang, yaitu antara Singaperbangsa dan Wirasaba. Kekacauan di Karawang ini dimanfaatkan oleh pasukan Banten dan Trunajaya untuk menguasai Karawang.[23][24]
Setelah lama bertempur akhirnya pasukan Banten dan Trunajaya dapat menguasai Karawang,[25][26][27] bupati Karawang yakni Singaperbangsa dapat dibunuh oleh pasukan Banten-Trunjaya,[28] sedangkan Wirasaba dapat lolos dari serbuan ini.
Pertempuran & Vassalisasi di wilayah Kesultanan Cirebon

Pada bulan Juli 1677 pasukan Banten–Trunajaya berhasil mengusir syahbandar Mataram yang berada di Cirebon.[29][30]
Oleh karena itu Cirebon menjadi negara bawahan Banten dengan beberapa perjanjian yang ditawarkan kepada syahbandar Mataram tersebut.[29] Dikarenakan syahbandar Mataram itu sudah lanjut usia akhirnya syahbandar itu menerima perjanjian,[31] dengan menyerahkan Cirebon kepada Banten. Dan dimulai dari sinilah Cirebon mulai membantu Banten untuk menginvasi Sumedang.[32]
Pertempuran Parakanmuncang–Sumedang 1678
Setelah menguasai Pesisir utara Sumedang, Raden Senapati dengan pasukan Cirebon langsung menyerang ibukota Sumedang Larang.[33][34] Perjalanan menuju ibukota Sumedang tidaklah mudah dikarenakan sering kali terhadang pasukan Sumedang, tetapi mereka tetap sampai di ibukota Sumedang.[34]
Sesampainya mereka di ibukota Sumedang, mereka langsung menyerang dan menjarah kota itu dengan hebat, ibukota Sumedang diduduki oleh pasukan Banten–Cirebon selama 1 bulan lamanya. Atas kemenangan ini Sultan Abulfath pada tanggal 2 Juni 1678 memerintahkan Raden Senapati agar kembali dengan pasukannya ke Banten.[34][35] Namun disaat menuju jalan pulang mereka dihalang oleh pasukan Sumedang–VOC, pertempuran pun tidak dapat dihindarkan. Pasukan Sumedang–VOC berhasil memukul mundur pasukan Banten hingga ke Parakan Muncang, ditengah pertempuran yang hebat ini Raden Senapati terbunuh sehingga pasukan Banten banyak yang melarikan diri.[33][34][36][37]
Oleh karena kematian Raden Senapati, akhirnya Sumedang jatuh kembali ke tangan Rangga Gempol III. VOC mengucapkan selamat kepada rakyat Sumedang atas kemenangan ini.
Invasi ke Sumedang Ke-dua
Untuk membalas kematian Raden Senapati, kali ini Sultan Banten memerintahkan Ciliwidara dengan dukungan dari Bupati Sukapura yakni Tumenggung Wiradadaha,[38] untuk menyerang Sumedang langsung ke jantung kotanya.
Pertempuran Indramayu 1678
Setelah bermusyawarah bersama pembesar lainnya akhirnya Sultan Banten memerintahkan Ciliwidara untuk memimpin pasukannya menyerang Sumedang. Ciliwidara langsung mendarat di Indramayu, disaat mendarat pasukan Ciliwidara dihadang oleh pasukan Sumedang, pertempuran pun tidak dapat dihindarkan, pasukan Banten menghancurkan tempat itu, Bupati Ciasem yakni Raden Imbawangsa[h] dibawa ke Tirtayasa dan dihukum mati disana.[39][40][41] Lalu pasukan Banten melanjutkan perjalanannya hingga ke perbatasan jantung kota Sumedang, disana mereka dihadang kembali oleh pasukan Sumedang, pasukan Banten kembali memenangkannya dengan menawan komandan perang Sumedang yakni Braja Wangsa, Yuda Wana, dan Wira Tana.[42][43][44]
Mobilisasi Banten di Cianjur
Untuk mencari jalan aman dari penglihatan VOC sekaligus memudahkan perjalanan pasukan Banten menuju Sumedang, pasukan Banten akan melewati wilayah Cianjur untuk sampai ke Sumedang. Namun ternyata Cianjur tidak mudah dilewati dikarenakan pasukan mereka yang cukup kuat, salah satunya diceritakan oleh Wawacan Jampang Manggung pasukan Banten sempat menguasai Cianjur, tetapi mereka diusir oleh Patih Hibar Palimping dan Jayasana.[45]
Dengan tujuan yang sama pasukan Banten ingin menguasai Cianjur namun gagal, pasukan Banten mengalami kerugian besar dan banyak pasukan yang melarikan diri.[46] Disaat mereka sedang melarikan diri mereka bersembunyi di sekitar wilayah Sukabumi sekarang. Mereka diketahui oleh pasukan Cianjur, pasukan Banten kembali mengalami kerugian, dan sisa pasukan yang masih hidup ditawan oleh pasukan Cianjur dan mereka bersumpah setia kepada bupati Cianjur.[47]
Pada sekitar tahun 1678-1679 pimpinan pasukan Banten yang bernama Ki Ngabehi Jayadiprana dengan 700 pasukannya berhasil menguasai Cianjur dengan menjarah 100-103 kerbau milik warga disana dan berhasil membunuh pemimpin pasukan Cianjur yang ada disana yakni Ki Ngabehi Santaprana.[48][49][50][51] Bupati Cianjur saat itu yakni Wira Tanu I melaporkan kejadian ini kepada VOC.
Penyerangan Masjid Tegalkalong
Bertepatan dengan hari raya Idulfitri, warga Sumedang sedang melaksanakan ibadah di Masjid Tegalkalong, namun kondisi ini dimanfaatkan oleh Ciliwidara untuk menyerang jantung kota Sumedang. Ciliwidara bersama dengan pasukan Bandung dan Sukapura menyerang Masjid Tegalkalong disaat warga dan pembesar Sumedang sedang beribadah.[4][52]
Pasukan Banten yang dipimpin oleh Ciliwidara dan Cakrayuda bersama pasukan gabungan Bandung dan Sukapura telah tiba di Masjid Tegalkalong. Mereka langsung menyerang, Pembesar Sumedang yang tidak memegang apapun hanya bisa berdoa, mereka melawan pasukan Banten dengan menggunakan tangan kosong.[4][53] Karena kalah jumlah dan persenjataan atas serangan dadakan ini banyak pasukan Sumedang yang gugur,[42][53] Pembesar Sumedang yang gugur karena serangan ini yakni Pangeran Tumenggung Tegalkalong, Jagatsatru Aria Santapura, Aria Sacapati, Raden Dipa, Mas Alom dan Nyi Mas Bayun serta Sebagian keluarga Pangeran Panembahan ditawan, yaitu Raden Singamanggala, Raden Bagus, Raden Tanusuta, sedangkan Pangeran Panembahan sendiri berhasil lolos dari kepungan dan menuju Indramayu.[54][4][33][42][52][53]
Atas kemenangan ini Sultan Banten mengangkat Ciliwidara sebagai wali pemerintahan di Sumedang dengan gelar Sacadiprana dengan patihnya bupati Bandung yakni Tumenggung Wira Angun-Angun dengan gelar Aria Sacadiraja (Aria Sumedang menurut catatan Batavia).[55][33][34]
Serbuan balik Pangeran Panembahan
Serbuan terhadap Masjid Tegalkalong dianggap pengecut oleh rakyat Sumedang. Oleh karena itu Rangga Gempol III saat bersembunyi di Indramayu ia sambil mengumpulkan pasukan kembali untuk merebut Sumedang.[34]
Rangga Gempol III memerintahkan bupati Parakanmuncang yakni Tanubaya untuk memimpin serangan ini, dengan bertempur akhirnya Sumedang dapat dikuasai kembali oleh Rangga Gempol III.[33]
Jatuhnya Sumedang oleh Ciliwidara
Ciliwidara yang marah atas kejadian ini kembali menyerang dengan gabungan pasukan Bandung. Akhirnya Sumedang jatuh kembali ke tangan Ciliwidara.[33][34]
Dengan ini Banten menganeksasi seluruh wilayah Sumedang dan mengangkat Ciliwidara sebagai Gubernur di wilayah Sumedang.[56][55]
Referensi
- ^ a b c de Haan 1907, hlm. 738.
- ^ a b Chijs 1909, hlm. 525.
- ^ Ali 2019, hlm. 143.
- ^ a b c d e f g Kusmayadi Soerialaga, Dedi E (2019). "Explore makam Tumenggung Tegalkalong". cipakudarmaraka.blogspot.com.
- ^ de Haan 1907, hlm. 308.
- ^ de Haan, Frederick (1908). Dagh-register behouden int Casteel Batavia Anno 1679. hlm. 38.
- ^ de Haan 1907, hlm. 404.
- ^ Dsy (2020). "Rangga Gempol III Pangeran Temperamental Musuh VOC dan Mataram dari Sumedang". jernih.co.
- ^ de Haan 1907, hlm. 560.
- ^ "Kala Sumedang Larang di Bawah Kuasa Mataram". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2020-11-07. Diakses tanggal 2025-03-26.
- ^ a b c d e "Sekilas Tentang Masa Pemerintahan Pangeran Rangga Gede". www.inimahsumedang.com (dalam bahasa American English). 2023-01-18. Diakses tanggal 2025-03-26.
- ^ Hidayat, Moh Rahmat (2017-03-22). "Cirebon di bawah kekuasaan Mataram Tahun 1613-1705 : Kajian historis mengenai hubungan politik, sosial dan agama".
- ^ Huri, Daman (2017-11-21). "GEOGRAFI VARIASI BAHASA DI BAGIAN UTARA KARAWANG JAWA BARAT". Jurnal Gramatika: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 3 (2): 239–248. doi:10.22202/jg.2017.v3i2.2159. ISSN 2442-8485.
- ^ a b c Lasmiyati, Lasmiyati (2016-09). "Dipati Ukur dan Jejak Peninggalannya di Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung (1627-1633)". Patanjala (dalam bahasa Inggris). 8 (3): 381–396. doi:10.30959/patanjala.v8i3.15. ISSN 2085-9937.
- ^ www.semanticscholar.org https://www.semanticscholar.org/paper/Sumedang-Pada-Masa-Pengaruh-Kesultanan-Mataram-MumuhMuhsin/3c980a9d433dca1c0cd5268b1534f7b9b9f9109d. Diakses tanggal 2025-03-26.
- ^ Alnoza, Muhamad (2022-12-30). "PIYAGĔM SUKAPURA (1641 M): GEOPOLITIK KERAJAAN MATARAM ISLAM DI PRIANGAN". AMERTA (dalam bahasa Inggris). 40 (2): 179–192. doi:10.55981/amt.2022.119. ISSN 2549-8908.
- ^ "Sejarah Kerajaan Sumedang Larang, Eksistensi Kekuasaan Sumedang Diantara Tiga Kekuatan Besar". Diakses tanggal 2025-03-26.
- ^ a b T, Bintang (2007). Catatan sejarah Karawang: dari masa ke masa. History and development of Karawang, Jawa Barat.
- ^ a b Sejarah Singkat Terbentuknya Kabupaten Karawang. karawangbarat.karawangkab.go.id.
- ^ 1. Panembahan Singaperbangsa / Raden Adipati Kertabhumi IV (Kyai Panembahan Singaperbangsa). id.rodovid.org. 2022.
- ^ Endan, Suhendra (2021). Sejarah Kabupaten Karawang pusat logistik Kesultanan Mataram. galajabar.pikiran-rakyat.com.
- ^ "Kisah Tiga Raksa Raden Sumedang Pendiri Kota Tangerang, Aria Wangsakara Dinobatkan Pahlawan Nasional". Tribunjabar.id. Diakses tanggal 2023-08-27.
- ^ de Haan 1907, hlm. 198.
- ^ Panembahan Singaperbangsa. witonggoputih.blogspot.com. 2015.
- ^ Panembahan Singaperbangsa/RD Adipati Kertabumi IV. www.geni.com. 2024.
- ^ Encum Nur, Hidayatullah (2011). Tumbal Kepala Singaperbangsa. ecumnurhidayatullah.blogspot.com.
- ^ Lutfi Riana, Setiadi (2023). Situs Sejarah dan Cagar Budaya desa Ciranggon. kompasiana.com.
- ^ de Haan 1907, hlm. 156.
- ^ a b Heni 2015, hlm. 48.
- ^ Sobana 2011, hlm. 90-91.
- ^ de Graaf 1987, hlm. 140.
- ^ de Haan 1907, hlm. 182.
- ^ a b c d e f Asnang (2010). "Sejarah Para Penguasa Sumedang". sumedangonline.com.
- ^ a b c d e f g "Carita Ki Sunda:Pangeran Panembahan / Rangga Gempol III". babadsunda.blogspot.com. 2010. Diakses tanggal 14 Agustus 2025.
- ^ Ali 2019, hlm. 84.
- ^ Ali 2019, hlm. 91.
- ^ de Haan 1907, hlm. 302.
- ^ de Haan 1907, hlm. 536.
- ^ Kusmayadi Soerialaga, Dedi E (2020). "Sumedang Pada Masa Pengaruh Kesultanan Mataram". sejarahtatarpasundan.blogspot.com. Diakses tanggal 15 Agustus 2025.
- ^ de Haan 1907, hlm. 648.
- ^ de Haan 1907, hlm. 675.
- ^ a b c "4. Sastra Pura Kusumah (Sutra Bandera) - Индекс потомака". rodovid.org.
- ^ Ali 2019, hlm. 102-103.
- ^ de Haan 1907, hlm. 318-319.
- ^ Luki 2020, hlm. 57.
- ^ Luki 2020, hlm. 57-58.
- ^ Luki 2020, hlm. 58.
- ^ Luki 2020, hlm. 59.
- ^ Chijs 1909, hlm. 563.
- ^ de Haan 1912, hlm. 40-41.
- ^ Yudi 2017, hlm. 152-153.
- ^ a b Adriana, Kiky (2023 03 19). "Sejarah Kelam Berdarah Masjid Tegal Kalong Sumedang". jabar.trubunnews.com. Diakses tanggal 15 Agustus 2025.
- ^ a b c Jukardi, Adang (2022). "Masjid Besar Tegalkalong Masjid Tertua di Kabupaten Sumedang". beritasumedang.com. Diakses tanggal 15 Agustus 2025.
- ^ de Haan, hlm. 738.
- ^ a b de Haan 1907, hlm. 738-739.
- ^ Ali 2019, hlm. 143-144.
Catatan
- ^ Sebelum Rangga Gempol III memisahkan Sumedang pada akhir tahun 1678
- ^ Rangga Gempol III secara de facto memisahkan Sumedang dari Kesultanan Mataram pada akhir tahun 1678
- ^ Hingga kematian Raden Senapati/Invasi Banten yang pertama
- ^ Wiradadaha menyatakan setia kepada Sultan Banten pada tanggal 11 Juli 1678
- ^ Wira Angun-Angun Bergabung dengan Banten saat Invasi Banten yang ke-dua, dan diangkat menjadi Patih Ciliwidara dengan gelar Aria Sacadiraja
- ^ Dihukum mati oleh Sultan Agung pada tahun 1632
- ^ Hingga tanggal 11 Juli 1678
- ^ Raden Imbawangsa masih saudara Rangga Gempol III
Bibliografi
- Ali, Mufti (2019). Aria Wangsakara Tangerang : Imam Kesultanan Banten, Ulama-Pejuang Anti Kolonialisme (1615-1681). Yayasan Bhakti Banten bekerja sama dengan Pemkab. Tangerang. ISBN 978-602-53710-2-8.
- de Graaf, H. J. (1987). Runtuhnya Istana Mataram (Edisi cet. 1). Jakarta Pustaka Utama Grafiti. ISBN 979-444-036-1.
Judul Asli:De Regering Van Sunan Mangkurat I Tegal Wangi, Varsr Van Mataram, 1647-1677
- de Haan, Frederick (1907). Dagh-register behouden int Casteel Batavia Anno 1678 (dalam bahasa Belanda). Batavia Centrum : Landsdrukkerij.
- de Haan, Frederick (1912). Dagh-register behouden int Casteel Batavia Anno 1680 (dalam bahasa Belanda). Martinus Nijhoff.
- Ependi, Yudi Himawan (2017). Raden Aria Wira Tanu I; Islamisasi dan Transformasi Sosial di Cianjur Abad XVII (Edisi Cet. 1). Jl. Taman Amir Hamzah no. 5 Pegangsaan, Menteng, Jakarta Selatan, 10320: Yayasan Omah Aksoro Indonesia. ISBN 978-602-616550-7-8. ; Pemeliharaan CS1: Lokasi (link)
- Heni, Rosita (2015). Pecahnya Kesultanan Cirebon Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Cirebon Tahun 1677-1752. Universitas Negeri Yogyakarta.
- Hardjasaputra, Sobana (2011). Cirebon dalam 5 zaman Abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-20. Bandung:Dinas Pariwisata dan Kepustakaan Provinsi Jawa Barat.
- Muharam, R. Luki (2020). Cianjur Dari Masa Ke Masa. Yayasan Dalem Aria Cikondang Cianjur. ISBN 978-623-93114-1-4.
- T, Bintang (2007). Catatan sejarah Karawang: dari masa ke masa. History and development of Karawang, Jawa Barat.
- Van Der Chijs, Mr. J. A. (1909). Dagh-register behouden int Casteel Batavia Anno 1679 (dalam bahasa Belanda). Martinus Nijhoff.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


