Pertempuran Karawang (1677)

Pertempuran Karawang (1677)
Bagian dari Serangan Trunajaya terhadap Pantai Utara dan Pemberontakan Trunajaya
Tanggal1677
LokasiKarawang, Kesultanan Mataram
Hasil Kemenangan Banten–Trunajaya
Perubahan
wilayah
Karawang diduduki oleh Pasukan Pemberontak dan Pasukan Banten[2]
Pihak terlibat
Kesultanan Banten
Pasukan Trunajaya[1]
Tokoh dan pemimpin
Raden Senapati
Nata Manggala
Wangsananga
Rd. A. Singaperbangsa [3]
Tmg. Wirasaba[4][5]
Rangga Suriadipati
S. D. K. Kumambang
Indra Manggala
Korban
Tidak diketahui Banyak penduduk sipil yang dibunuh[2][a]

Pertempuran Karawang tahun 1677 adalah pertempuran yang terjadi antara Pasukan pemberontak dari Trunajaya dengan Pasukan Kesultanan Banten melawan Kesultanan Mataram di daerah Karawang. Perang ini terjadi karena memang tujuan dari Trunajaya untuk menghancurkan pemerintah Amangkurat I,[6] Namun Pemberontak dapat mudah menguasai Karawang karena ada perselisihan di Roda Pemerintahan di Karawang. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pemberontak agar dapat menguasai Karawang dengan mudah.

Latar Belakang

Bupati Karawang saat itu sebagaimana yang ditetapkan dalam pelat berupa kuningan yang disebut sebagai Kandang Sapi Gede, yang merupakan bukti surat pengangkatan Bupati Karawang. Bahwa antara Singaperbangsa dan Aria Wirasaba adalah setara/setingkat. Namun dalam roda pemerintahan Aria Wirasaba dianggap sebagai bawahan dari Singaperbangsa, Aria Wirasaba memimpin Karawang di Wilayah Barat sedangkan Singaperbangsa di wilayah bagian Timur. Namun karena banyak terjadi perselisihan dan ke-tidak kompakan antara mereka, Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para pemberontak dari Trunajaya untuk menguasai Karawang.[7]

Pertempuran

Karena melihat ke-tidak kompakan dalam roda pemerintahan, Pemberontak langsung menyerang Karawang yang dipimpin oleh Nata Manggala dan Wangsananga, Karena terkejut atas serangan ini Singaperbangsa lari ke arah Utara, namun di Tunggak Jati Tengah Singaperbangsa ditangkap oleh pemberontak lalu kepalanya di penggal dan dipajang di pusat kota agar masyarakat Karawang saat itu agar tunduk tepada Pemberontak dan Banten. Disaat yang sama penduduk Karawang yang berada di sungai Citarum dan Pantai Karawang mendapat gangguan dari pasukan Banten yang merampas harta mereka dan membunuh penduduk yang ada disana yang tidak setia kepada Banten. Melihat kekacauan ini, Keluarga Singaperbangsa yang dipimpin oleh Singa Derpa Kerta Kumambang mengungsi ke arah Selatan hingga menyebrangi Sungai Citarum.[8]

Bupati Kelapa Dua & Tasikmalaya membantu keluarga Singaperbangsa

Rangga Suriadipati selaku Bupati dari Kelapa Dua dan Indra Manggala Putra Dalem Jaya Manggala selaku dari Bupati Tasikmalaya mendengar kabar bahwa Karawang diserang oleh para pemberontak, mendengar itu mereka ber-2 bertekad untuk membantunya. Disaat menuju ke Karawang mereka bertemu dengan keluarga Singaperbangsa, mereka berunding lalu bersepakat agar mengambil kepala Singaperbangsa yang dipajangkan di pusat kota, agar jenazah Singaperbangsa dapat dikubur dengan layak.[9]

Pencurian Kepala Singaperbangsa

Setelah berunding dan sepakat akan mengambil kepala Singaperbangsa yang dipajang di pusat kota, selang bebarao hari Suriadipati dan Indra Manggala telah sampai di pusat kota yang diduduki oleh pemberontak. Dengan strategi dan taktik bagus yang dilakukan oleh 2 bupati itu, akhirnya kepala Singaperbangsa dapat dicuri dan dibawa kabur oleh mereka. Saat kabur untuk memberikan kepala Singaperbangsa kepada keluarganya, mereka ber-2 sempat beristirahat di Ciranggon tepatnya di irigasi, saat di irigasi, mereka ber-2 merasa kasihan kepada kepala Singaperbangsa yang kotor dan penuh darah kering.[10]

Mitos mengenai larangan menyembelih Kambing di Ciranggon

Setelah sampai di irigasi mereka membuat Kobak/Sumur untuk membersihkannya, kepala Singaperbangsa pun membuat air nya memerah dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Bau tersebut mengundang kemurkaan makhluk halus yang berada di irigasi tersebut, Dengan kontak gaib yang dilakukan oleh Indra Manggala bahwa makhluk halus itu sangat menginginkan kepala Singaperbangsa, Makhluk sangat susah diusir sampai-sampai mereka ber-2 kehilangan akal untuk mengusir makhluk itu, Namun disaat itu ada penduduk yang membawa beberapa Kambing, Suriadipati meminta izin kepada penduduk itu untuk meminta seekor Kambing untuk dijadikan tumbal, Penduduk itu memberikan seekor Kambing, tidak lama Kambing itu segera di sembelih dan kepalanya ditancapkan di bambu dekat irigasi itu, setelah selesai berhubungan dengan makhluk halus itu mereka lalu pergi menemui keluarga Singaperbangsa, lalu memakamkan jenazah Singaperbangsa dengan kepala yang terpotong dari badannya. Konon dari peristiwa itulah, tercipta kenapa di daerah Ciranggon orang tabu untuk memelihara apalagi menyembelih kambing, termasuk untuk berkurban.[11]

Referensi

  1. ^ Dagh Register 12-5-1678, hlm. 198.
  2. ^ a b Panembahan Singaperbangsa/RD Adipati Kertabumi IV. www.geni.com. 2024.
  3. ^ Dagh Register 26-4-1678, hlm. 156.
  4. ^ de Haan 1907, hlm. 404.
  5. ^ Dsy (2020). "Rangga Gempol III Pangeran Temperamental Musuh VOC dan Mataram dari Sumedang". jernih.co.
  6. ^ Puspasari, Setyaningrum (2023). Pemberontakan Trunojoyo: Penyebab, Kronologi, dan Dampak. yogyakarta.kompas.com.
  7. ^ Encum Nur, Hidayatullah (2011). Tumbal Kepala Singaperbangsa. ecumnurhidayatullah.blogspot.com.
  8. ^ Andri, Budiman S (2023). Misteri Kobak Sumur Karawang. pesulaponline.blogspot.com.
  9. ^ SM, Said (2016). Singaperbangsa dan Pantangan Penyembelihan Kambing. daerah.sindonews.com.
  10. ^ Panembahan Singaperbangsa. witonggoputih.blogspot.com. 2015.
  11. ^ Lutfi Riana, Setiadi (2023). Situs Sejarah dan Cagar Budaya desa Ciranggon. kompasiana.com.

Catatan

  1. ^ Terutama penduduk yang berada di Pantai Karawang dan Sungai Citarum

Daftar Pustaka

  • De Haan, Frederick, ed. Dagh-Register Gehouden In ’T Casteel Batavia Van ’T Passerende Daer Ter Plaetse Als Over Geheel Nederlands India Anno 1678. Batavia: Landsdrukkerij, 1907.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement