Penyerangan Masjid Tegalkalong (1680)
Penyerangan Masjid Tegalkalong merupakan serangan yang diluncurkan oleh pasukan Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Ciliwidara untuk menguasai Sumedang Larang. Penyerangan ini mengakibatkan kerugian pesar kepada pihak Sumedang, dikarenakan banyak pejabat Sumedang yang tewas saat beribadah, dan serangan ini berhasil membuat pasukan Banten menduduki Sumedang Larang.
| Penyerangan Masjid Tegalkalong | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Peperangan Banten–Sumedang dan Konflik Banten–Mataram | |||||||||
| |||||||||
| Pihak terlibat | |||||||||
| |||||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||||
|
|
| ||||||||
Peperangan
Saat itu pasukan Banten ingin menguasai Sumedang Larang, namun saat itu bertepatan dengan hari raya Idulfitri, warga Sumedang sedang melaksanakan ibadah di Masjid Tegalkalong, namun kondisi ini dimanfaatkan oleh Ciliwidara untuk menyerang jantung kota Sumedang. Ciliwidara bersama dengan pasukan Bandung dan Sukapura menyerang Masjid Tegalkalong disaat warga dan pembesar Sumedang sedang beribadah.[2][3][4]
Pasukan Banten yang dipimpin oleh Ciliwidara dan Cakrayuda bersama pasukan gabungan Bandung dan Sukapura telah tiba di Masjid Tegalkalong. Mereka langsung menyerang, Pembesar Sumedang yang tidak memegang apapun hanya bisa berdoa, mereka melawan pasukan Banten dengan menggunakan tangan kosong.[2][4][5] Karena kalah jumlah dan persenjataan atas serangan dadakan ini banyak pasukan Sumedang yang gugur, Pembesar Sumedang yang gugur karena serangan ini yakni Pangeran Tumenggung Tegalkalong, Jagatsatru Aria Santapura, Aria Sacapati, Raden Dipa, Mas Alom dan Nyi Mas Bayun serta Sebagian keluarga Pangeran Panembahan ditawan, yaitu Raden Singamanggala, Raden Bagus, Raden Tanusuta, sedangkan Pangeran Panembahan sendiri berhasil lolos dari kepungan dan menuju Indramayu.[2][3][4][5]
Atas kemenangan ini Sultan Banten mengangkat Ciliwidara sebagai wali pemerintahan di Sumedang dengan gelar Sacadiprana dengan patihnya bupati Bandung yakni Tumenggung Wira Angun-Angun dengan gelar Aria Sacadiraja (Aria Sumedang menurut catatan Batavia).[6][5][7]
Serbuan balik Rangga Gempol III
Serbuan terhadap Masjid Tegalkalong dianggap pengecut oleh rakyat Sumedang. Oleh karena itu Rangga Gempol III saat bersembunyi di Indramayu ia sambil mengumpulkan pasukan kembali untuk merebut Sumedang.[7]
Rangga Gempol III memerintahkan bupati Parakanmuncang yakni Tanubaya untuk memimpin serangan ini, dengan bertempur akhirnya Sumedang dapat dikuasai kembali oleh Rangga Gempol III.[2][7]
Jatuhnya Sumedang oleh Ciliwidara
Ciliwidara yang marah atas kejadian ini kembali menyerang dengan gabungan pasukan Bandung. Akhirnya Sumedang jatuh kembali ke tangan Ciliwidara.
Dengan ini Banten menganeksasi seluruh wilayah Sumedang dan mengangkat Ciliwidara sebagai Gubernur di wilayah Sumedang.[1][7]
Hasil
Dengan jatuhnya kembali jantung kota Sumedang ketangan Ciliwidara, hal tersebut mengakhiri riwayat Kebupatian Sumedang yang berada dibawah kekuasaan Mataram. Yang akhirnya Kesultanan Banten menganeksasi seluruh wilayah Sumedang dan mengangkat Ciliwidara sebagai Gubernur di Sumedang dengan gelar Sacadiprana.[2]
Lihat lainnya
Referensi
- ^ a b c d de Haan 1907, hlm. 738.
- ^ a b c d e f g Kusmayadi Soerialaga, Dedi E (2019). "Explore Makam Tumenggung Tegalkalong". Diakses tanggal 30 Agustus 2025.
- ^ a b Adriana, Kiky (2023 03 19). "Sejarah Kelam Berdarah Masjid Tegal Kalong Sumedang". jabar.trubunnews.com. Diakses tanggal 15 Agustus 2025.
- ^ a b c Jukardi, Adang (2022). "Masjid Besar Tegalkalong Masjid Tertua di Kabupaten Sumedang". beritasumedang.com. Diakses tanggal 15 Agustus 2025.
- ^ a b c Asnang (2010). "Sejarah Para Penguasa Sumedang". sumedangonline.com.
- ^ de Haan 1907, hlm. 738-789.
- ^ a b c d "Carita Ki Sunda:Pangeran Panembahan / Rangga Gempol III". babadsunda.blogspot.com. 2010. Diakses tanggal 14 Agustus 2025.
- de Haan, Frederick (1907). Dagh-register behouden int Casteel Batavia Anno 1678 (dalam bahasa Belanda). Batavia Centrum : Landsdrukkerij.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


