Perang Sumedang–Banten (1627)
Perang Banten–Sumedang adalah perang yang terjadi tahun 1627 di daerah pesisir utara Jawa Barat antara Kesultanan Banten dengan Provinsi Sumedang yang saat itu sudah menjadi bagian dari Kesultanan Mataram. Perang ini dipicu karena kerjasama antara anak dari Rangga Gempol I yaitu Kartajiwa atau Dipati Aria Suriadiwangsa II serta Sultan Abu al-Mafakhir dengan tujuan untuk menaklukan daerah Parahyangan ke dalam wilayah Banten.[1][2]
| Perang Sumedang–Banten (1627) | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Permusuhan Banten dan Mataram | |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
| |||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
Kartajiwa |
Rangga Gede (POW)[3][4] | ||||||
Latar belakang
Setelah Perang Sumedang–Cirebon berakhir, terdapat kesepakatan antara raja Kusumadinata II dan Panembahan Ratu I bahwa anak yang masih dikandung oleh selir Harisbaya diharuskan untuk mewarisi takhta Sumedang Larang.[7] Anak ini lalu terlahir dengan nama Suriadiwangsa yang menjadi raja Sumedang Larang dengan gelar Kusumadinata III. Sementara anak sulung dari permaisuri Kusumadinata II yaitu Gedeng Waru yang bernama Rangga Gede hanya mewarisi daerah nagara agung atau daerah sekitar ibukota Sumedang Larang.[8] Di tahun 1620, Kusumadinata III berkunjung menemui Sultan Agung dan menyatakan bergabung sebagai bagian Kesultanan Mataram.[9][10] Gelar rajanya pun dihapus dan ia menjadi bupati wedana (jabatan setingkat Gubernur) untuk daerah Parahyangan dengan gelar Rangga Gempol I. Rangga Gempol I berperan besar dalam Penaklukan Surabaya, di mana ia diminta Sultan Agung untuk tidak pulang ke Sumedang tetapi menetap sebagai pembesar di ibukota Mataram saat itu yaitu Kerto.[10] Oleh karenanya, jabatan bupati wedana Parahyangan diserahkan kepada Rangga Gede. Namun dikarenakan suatu candaan yang dianggap merendahkan Mataram, Rangga Gempol I dihukum mati oleh Sultan Agung di tahun 1624.[10][11]
Setelah mendengar Rangga Gempol I telah dihukum mati, Rangga Gede lalu mengambil-alih dan mempersatukan wilayah Sumedang Larang Kembali ke asalnya, di mana sebagai pemimpin ia diberi gelar Kusumadinata IV.[1][11] Putra sulung Rangga Gempol I yang bernama Kartajiwa atau Suriadiwangsa II, menuntut kembali wilayah kekuasaan yang pernah dipegang ayahnya, tetapi tuntutannya tidak ditanggapi karena status Rangga Gempol I sendiri hanyalah anak dari selir bukan permaisuri.[12][13] Kartajiwa yang kecewa akhirnya pergi meninggalkan Sumedang dan meminta bantuan kepada Sultan Abu al-Mafakhir di Banten. Ia mengungkapkan rencananya untuk menaklukan daerah Parahyangan dan jika rencana ini berhasil maka ia akan menggabungkan Parahyangan sebagai wilayah Banten.[14][15] Sultan tidak merasa keberatan dikarenakan Banten masih berambisi untuk menaklukan seluruh wilayah bekas Kerajaan Sunda. Kartajiwa lalu mendapatkan bantuan pasukan dari Banten untuk persiapan menyerbu Parahyangan.[12]
Serbuan Banten
Setelah persiapan pasukan Banten dirasa cukup, Kartajiwa akhirnya melancarkan serbuan ke daerah Parahyangan di tahun 1627, yang dilakukan melalui jalur darat dan laut. Daerah pesisir utara seperti Karawang, Pamanukan dan Ciasem menjadi sasaran awal dari serbuan ini dan berhasil diduduki oleh pasukan Banten.[10][16] Banten bertujuan untuk menguasai daerah pesisir utara terlebih dahulu untuk menjadikan daerah tersebut sebagai pangkalan laut sebelum menyerbu Sumedang secara langsung, serta sekaligus mengepung VOC di Batavia yang saat itu dipertahankan oleh Pieter de Carpentier.[12] Rangga Gede kewalahan dalam menghadapi serbuan dari Banten yang dipimpin oleh keponakannya ini, dikarenakan sebagian dari pasukan Sumedang masih menetap di ibukota Mataram setelah Rangga Gempol I wafat.[17]
Pertempuran Karawang
Kabar serbuan pasukan Banten di Karawang terdengar oleh Sultan Agung. Lalu Sultan Agung mengutus Aria Wirasaba dengan 1.000 prajuritnya untuk mengusir pasukan Banten yang ada di Karawang, tetapi sesampainya di Karawang Aria Wirasaba hanya menyisakan 300 pasukannya, karena melihat kekuatan Banten yang begitu besar, Aria Wirasaba memutuskan untuk menunda penyerangan untuk mengumpulkan kekuatan terlebih dahulu. Karena Sultan Agung tidak pernah mendengar kabar dari Aria Wirasaba, Sultan Agung langsung menyatakak bahwa tugas Aria Wirasaba gagal.[18][19]
Lalu Sultan Agung mengutus kembali Wiraperbangsa untuk mengusir tentara Banten. Dengan keberanian dan kegigihannya Wiraperbangsa berhasil mengusir tentara Banten yang berada di Karawang, Wiraperbangsa pun diberi jabatan Wedana oleh Sultan Agung, dan deri gelar "Raden Adipati Kertabumi III" dan diberi hadiah sebilah keris oleh Sultan Agung yang bernama "Karosinjang"[18][19][20][21]
Kabar serbuan dari Banten yang sampai ke telinga Sultan Agung membuatnya marah dan menganggap Rangga Gede tidak mampu mempertahankan daerahnya. Sultan Agung lalu memerintahkan pasukan Mataram untuk menuju Sumedang untuk memberhentikan Rangga Gede sebagai bupati wedana dan menawannya untuk dipenjarakan di ibukota Mataram.
Serbuan Balik Dipati Ukur
Setelah Rangga Gede ditahan di ibukota Mataram, jabatan dirinya sebagai bupati wedana daerah Parahyangan diserahkan kepada Wangsanata atau Dipati Ukur yang kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Sumedang ke daerah Ukur (sekarang Bandung) yang merupakan basis pendukungnya.[12][15] Disana ia lalu menyusun kekuatan dari pasukan Mataram untuk mengusir tentara Kesultanan Banten dari wilayah pesisir utara Parahyangan. Serbuan balik yang dilakukan oleh Dipati Ukur berhasil mengusir pasukan Banten dari daerah pesisir utara,[15] memaksa Kartajiwa untuk menarik mundur pasukan Banten dan mundur ke wilayah kekuasaan Banten di sebelah barat sungai Cisadane.[22]
Akibat
Serbuan yang dilakukan Kartajiwa ini membuat Sultan Agung menyadari ancaman nyata dari Banten yang bisa kembali muncul di kemudian hari. Ia lalu memerintahkan Dipati Ukur untuk menjadikan daerah Parahyangan sebagai basis untuk menyerbu balik dan menaklukan Banten.[15] Namun Sultan Agung berencana untuk menyerbu Batavia terlebih dahulu untuk mengusir VOC dan menjadikan Batavia sebagai pangkalan laut Mataram sebelum menyerbu Banten secara langsung.[23] Penyerbuan pertama berlangsung di tahun 1628 dan berakhir dengan kegagalan, di mana Dipati Ukur akhirnya memutuskan untuk memberontak terhadap Mataram untuk menghindari hukuman dari Sultan Agung.[10][24] Sementara itu Kartajiwa yang gagal dalam menyelesaikan misinya untuk menaklukan daerah Parahyangan, diperintahkan oleh Sultan Abu al-Mafakhir untuk menetap di tepi barat sungai Cisadane untuk menjaga wilayah perbatasan Banten dari ancaman Mataram dan VOC di sebelah timur. Ia lalu membantu sepupunya Aria Wangsakara untuk mengembangkan pemukiman di daerah perbatasan tersebut, yang nantinya berkembang menjadi Kota Tangerang modern.[22]
Lihat pula
Rujukan
- ^ a b "Sekilas Tentang Masa Pemerintahan Pangeran Rangga Gede". inimahsumedang.com (dalam bahasa American English). 2023-01-18. Diakses tanggal 2025-03-08.
- ^ Mamora, Rukman Nurhalim. "Perang Sumedang Melawan Banten, Upaya Penaklukan Wilayah Bekas Pajajaran". Trust Banten. Diakses tanggal 2025-03-26.
- ^ a b c Geni.
- ^ a b c Rodovid.id.
- ^ Mumuh Muhsin Z 2008.
- ^ Inimahsumedang 2023).
- ^ "Kisah Ratu Harisbaya: Putri Madura yang Jadi Istri Dua Raja". Jatim TIMES. Diakses tanggal 2025-03-26.
- ^ Isnendes, Retty (2019-06-11). "Ngalaksa in the Folktales of Rancakalong, Sumedang, West Java: A Local Historical Study". TAWARIKH (dalam bahasa Inggris). 10 (2): 157–172. doi:10.2121/tawarikh.v10i2.1140. ISSN 2085-0980.
- ^ "Reorganization of Region and Traditional Political Structure in Priangan After the Fall of the Sunda Kingdom". Docslib (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-26.
- ^ a b c d e Alnoza, Muhamad (2022-12-30). "PIYAGĔM SUKAPURA (1641 M): GEOPOLITIK KERAJAAN MATARAM ISLAM DI PRIANGAN". AMERTA (dalam bahasa Inggris). 40 (2): 179–192. doi:10.55981/amt.2022.119. ISSN 2549-8908.
- ^ a b "Kala Sumedang Larang di Bawah Kuasa Mataram". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2020-11-07. Diakses tanggal 2025-03-26.
- ^ a b c d "Sekilas Tentang Masa Pemerintahan Pangeran Rangga Gede". www.inimahsumedang.com (dalam bahasa American English). 2023-01-18. Diakses tanggal 2025-03-26.
- ^ Hidayat, Moh Rahmat (2017-03-22). "Cirebon di bawah kekuasaan Mataram Tahun 1613-1705 : Kajian historis mengenai hubungan politik, sosial dan agama".
- ^ Huri, Daman (2017-11-21). "GEOGRAFI VARIASI BAHASA DI BAGIAN UTARA KARAWANG JAWA BARAT". Jurnal Gramatika: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 3 (2): 239–248. doi:10.22202/jg.2017.v3i2.2159. ISSN 2442-8485.
- ^ a b c d Lasmiyati, Lasmiyati (2016-09). "Dipati Ukur dan Jejak Peninggalannya di Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung (1627-1633)". Patanjala (dalam bahasa Inggris). 8 (3): 381–396. doi:10.30959/patanjala.v8i3.15. ISSN 2085-9937.
- ^ www.semanticscholar.org https://www.semanticscholar.org/paper/Sumedang-Pada-Masa-Pengaruh-Kesultanan-Mataram-MumuhMuhsin/3c980a9d433dca1c0cd5268b1534f7b9b9f9109d. Diakses tanggal 2025-03-26.
- ^ "Sejarah Kerajaan Sumedang Larang, Eksistensi Kekuasaan Sumedang Diantara Tiga Kekuatan Besar". Diakses tanggal 2025-03-26.
- ^ a b T, Bintang (2007). Catatan sejarah Karawang: dari masa ke masa. History and development of Karawang, Jawa Barat.
- ^ a b Sejarah Singkat Terbentuknya Kabupaten Karawang. karawangbarat.karawangkab.go.id.
- ^ 1. Panembahan Singaperbangsa / Raden Adipati Kertabhumi IV (Kyai Panembahan Singaperbangsa). id.rodovid.org. 2022.
- ^ Endan, Suhendra (2021). Sejarah Kabupaten Karawang pusat logistik Kesultanan Mataram. galajabar.pikiran-rakyat.com.
- ^ a b "Kisah Tiga Raksa Raden Sumedang Pendiri Kota Tangerang, Aria Wangsakara Dinobatkan Pahlawan Nasional". Tribunjabar.id. Diakses tanggal 2023-08-27.
- ^ Sumber-sumber asli sejarah Jakarta sampai dengan tahun 1630: Sumber-sumber sejarah pada dasawarsa pertama kota Batavia (1619-1630) dan kutipan dari karya sastra Indonesia yang menyangkut awal mula Jakarta. Semua sumber disajikan dalam bahasa asli, yakni Belanda, Inggris serta Jawa dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Yayasan Cipta Loka Caraka. 2001.
- ^ Opini. "Dipati Ukur Bukan Cuma Nama Jalan, Ada Cerita di Balik Terbentuknya Kabupaten Bandung". www.Pikiran-Rakyat.com. Diakses tanggal 2025-03-26.
Pranala luar
- Geni. P. Rg. Gede (Kusumahdinata-4) Koesoemadinata IV, [Versi 1].
- Rodovidorg. Pangeran Rangga Gede / Kusumadinata IV
- Inimahsumedang (2023). Sekilas tentang masa pemerintahan Pangeran Rangga Gede. (diakses pada 25 Desember 2024)
- Mumuh Muhsin Z (2008). Sumedang pada masa pengaruh Kesultanan Mataram (1601-1706). pdf
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


