Depresogen

Depresogen adalah zat yang menyebabkan atau dapat menyebabkan depresi, biasanya sebagai efek samping.[1] Kegunaan golongan obat ini merupakan kebalikan dari antidepresan.[2]

Contoh obat-obatan yang umumnya dikaitkan dengan efek depresogenik meliputi etanol; beberapa antikonvulsan seperti barbiturat (misalnya fenobarbital), benzodiazepin (misalnya diazepam), vigabatrin, dan topiramat; kortikosteroid seperti deksametason dan prednison, sitokin seperti interferon-α dan interleukin 2; antihipertensi tertentu seperti amiodaron, klonidin, metildopa, reserpin, dan tetrabenazin (digunakan sebagai antipsikotik/antihiperkinetik);[3][4] dan agen dengan aktivitas antiandrogen, antiestrogen, dan/atau anti-neurosteroid seperti seperti agonis hormon pelepas gonadotropin (misalnya, leuprorelin, goserelin), anastrozol (penghambat aromatase), finasterid (penghambat 5α-reduktase),[5] dan klomifen (SERM); serta yang lainnya termasuk flunarizin, meflokuin, dan efavirenz.[1] Agen penting lainnya adalah rimonabant, antagonis reseptor kanabinoid yang dipasarkan sebagai antiobesitas yang ditarik tak lama setelah diperkenalkan karena insiden efek samping psikiatrik yang parah terkait dengan penggunaannya termasuk depresi, kecemasan, dan muncul keinginan bunuh diri.[6]

Contoh senyawa endogen yang telah dikaitkan dengan stres psikologis dan depresi meliputi hormon pelepas kortikotropin (CRH), sitokin (misalnya interferon-α, interleukin 2), takikinin (misalnya substansi P), glukokortikoid (misalnya kortisol, kortison),[7][8] dan dinorfin.[9]

Lihat juga

Referensi

  1. ^ a b Celano CM, Freudenreich O, Fernandez-Robles C, Stern TA, Caro MA, Huffman JC (2011). "Depressogenic effects of medications: a review". Dialogues in Clinical Neuroscience. 13 (1): 109–25. doi:10.31887/DCNS.2011.13.1/ccelano. PMC 3181967. PMID 21485751.
  2. ^ Belmaker RH (Agustus 2008). "The future of depression psychopharmacology". CNS Spectrums. 13 (8): 682–7. doi:10.1017/S1092852900013766. PMID 18704023. S2CID 33347610.
  3. ^ Beers MH, Passman LJ (Desember 1990). "Antihypertensive medications and depression". Drugs. 40 (6): 792–9. doi:10.2165/00003495-199040060-00003. PMID 2078996. S2CID 2052978.
  4. ^ Kenney C, Hunter C, Mejia N, Jankovic J (2006). "Is history of depression a contraindication to treatment with tetrabenazine?". Clinical Neuropharmacology. 29 (5): 259–64. doi:10.1097/01.WNF.0000228369.25593.35. PMID 16960470. S2CID 248730.
  5. ^ Finn DA, Beadles-Bohling AS, Beckley EH, et al. (2006). "A new look at the 5alpha-reductase inhibitor finasteride". CNS Drug Reviews. 12 (1): 53–76. doi:10.1111/j.1527-3458.2006.00053.x. PMC 6741762. PMID 16834758.
  6. ^ Moreira FA, Crippa JA (Juni 2009). "The psychiatric side-effects of rimonabant". Revista Brasileira de Psiquiatria. 31 (2): 145–53. doi:10.1590/s1516-44462009000200012. PMID 19578688.
  7. ^ Norman TR, Burrows GD (Februari 2007). "Emerging treatments for major depression". Expert Review of Neurotherapeutics. 7 (2): 203–13. doi:10.1586/14737175.7.2.203. PMID 17286553. S2CID 28998898.
  8. ^ Stokes PE, Sikes CR (Februari 1988). "The hypothalamic-pituitary-adrenocortical axis in major depression". Neurologic Clinics. 6 (1): 1–19. doi:10.1016/S0733-8619(18)30881-8. PMID 2837631.
  9. ^ Knoll AT, Carlezon WA (Februari 2010). "Dynorphin, stress, and depression". Brain Research. 1314: 56–73. doi:10.1016/j.brainres.2009.09.074. PMC 2819644. PMID 19782055.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement