Ci Punegara

Ci Punegara
Cipunagara
Aliran hilir Cipunagara
Aliran hilir Cipunagara
PetaKoordinat: 6°11′17″S 107°53′27″E / 6.18806°S 107.89083°E / -6.18806; 107.89083
Lokasi
NegaraIndonesia
ProvinsiJawa Barat
Ciri-ciri fisik
Hulu sungaiGunung Tampomas
 - lokasiKabupaten Sumedang
 - elevasi1.500 meter (4.900 ft)
Hulu ke-2Gunung Bukit Tunggul, Pegunungan di selatan kabupaten Subang
 - lokasiCapunagara, kabupaten Subang
 - koordinat6°48′29″S 107°43′39″E / 6.808000°S 107.727583°E / -6.808000; 107.727583
 - elevasi2.100 meter (6.900 ft)
Hulu ke-3Lereng timur Kawah Domas Gunung Tangkuban Perahu
 - lokasiCiater, kabupaten Subang
 - koordinat6°45′33″S 107°38′07″E / 6.759028°S 107.635306°E / -6.759028; 107.635306
 - elevasi1.800 meter (5.900 ft)
Gabungan huluTempuran sungai Cipunagara - Cijurey
 - koordinat6°32′15″S 107°54′34″E / 6.537528°S 107.909472°E / -6.537528; 107.909472
Muara sungaiLaut Jawa
 - lokasiPatimban, Pusakanagara, kabupaten Subang
 - koordinat6°11′29″S 107°53′27″E / 6.191361°S 107.890722°E / -6.191361; 107.890722
Panjang1.473 kilometer (915 mi)
Daerah Aliran Sungai
Sistem sungaiDAS Cipunegara[1]
Luas DAS1.360 km2 (530 sq mi)[1]
Badan airBendungan Sadawarna, Bendung Salamdarma
JembatanJembatan Cipunegara
PelabuhanPelabuhan Patimban, Subang
Otoritas DASBPDAS Citarum-Ciliwung;[1] BBWS Citarum[2]
Informasi lokal
GeoNames1630414
KML Peta DAS Cipunagara


Ci Punegara atau Cipunagara adalah sungai di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Panjangnya sekira 147,3 kilometer mengalir dari dari hulunya di Gunung Bukit Tunggul di Pegunungan Bandung Utara dan bermuara ke Laut Jawa. Sungai ini melintasi tiga kabupaten yaitu Kabupaten Subang, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Indramayu. Di hulu Sungai Cipunagara terdapat sebuah danau alami (Situ) yaitu Situ Cipabeasan. Hulu Sungai Cipunagara secara administratif masuk ke wilayah Desa Cipunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang sedangkan muara sungai terletak di Desa Patimban, Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang.

Daerah Aliran Sungai

Daerah Aliran Sungai (DAS) Cipunagara memiliki luas 1360 km2 mencangkup tiga kabupaten yaitu Kabupaten Subang, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Indramayu. DAS Cipunegara berbentuk memanjang dengan topografi bergunung-gunung di bagian hulu dan daerah landai di bagian hilir.[1] DAS Cipunagara terbagi lagi menjadi lima sub-DAS lainnya terdiri dari 74 anak sungai. Anak sungai terbesarnya adalah Sungai Cikandung yang berhulu di Gunung Tampomas. Beberapa anak sungai yang bermuara ke sungai Cipunagara yaitu:

  1. Sungai Cikandung
  2. Sungai Cigadung
  3. Sungai Cilamatan
  4. Sungai Cikaramas
  5. Sungai Cileat
  6. Sungai Ciburung
  7. Sungai Cicanang

Pengelolaan DAS

Dalam pengelolaan daerah aliran sungai terkait konservasi, DAS Cipunagara termasuk ke dalam wilayah kerja BPDAS Citarum-Ciliwung yang merupakan unit pelaksana teknis pada Ditjen PDASHL di bawah Kementerian Lingkungan Hidup.[3] Sedangkan dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air, DAS Cipunagara merupakan bagian dari satuan wilayah sungai yaitu WS Citarum di bawah otoritas BBWS Citarum.[2]

Pemanfaatan

Bendung Salam Darma pada era Hindia Belanda
Bendung Salam Darma pada masa Hindia Belanda

Penduduk di sepanjang Sungai Cipunagara memanfaatkan aliran sungai untuk sumberdaya perikanan baik secara tradisional dengan cara memancing atau menjala. Besarnya debit air Sungai Cipunagara juga dimanfaatkan untuk pengairan/ irigasi lahan pertanian melalui beberapa cekdam, pintu air atau bendung seperti Bendung Salam Darma di Dusun Salam Darma, Desa Mangunjaya, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu. Bendung ini dibangun oleh pemerintah kolonial belanda pada tahun 1923 untuk mengairi lahan pertanian seluas 11.664 Hektar di Kabupaten Subang dan 24.504 Hektar di Kabupaten Indramayu.

Kerusakan & Bencana Hidrologi[4]

Perubahan tutupan lahan dapat sangat memengaruhi hidrologi DAS dan kualitas air. Urbanisasi dan pembangunan dapat meningkatkan tutupan lahan kedap air, menyebabkan lebih banyak air mengalir di permukaan daripada meresap ke dalam tanah. Hal ini dapat mengurangi pengisian ulang air tanah dan aliran dasar sungai, atau aliran yang terjadi selama musim kemarau. Deforestasi dan pembukaan lahan pertanian di kawasan hulu seringkali disertai dengan peningkatan erosi tanah dan beban sedimen di kawasan hilir. Jenis penggunaan lahan lainnya berkaitan dengan pencemaran air, misalnya, pertanian yang dapat meningkatkan beban pestisida dan nutrisi (nitrogen dan fosfor) dari pupuk. Urbanisasi dan industrialisasi di dalam DAS dapat menyebabkan kontaminasi dari berbagai macam bahan kimia yang digunakan di rumah tangga dan industri.

Jenis Perubahan Tutupan Lahan Dampak pada Hidrologi DAS Dampak pada Kualitas Air
Urbanisasi Meningkatkan tutupan kedap air, mengurangi peresapan air, dan meningkatkan limpasan permukaan. Kontaminasi dari limbah rumah tangga, industri, dan bahan kimia berbahaya.
Deforestasi Meningkatkan limpasan permukaan, mengurangi infiltrasi air, dan menyebabkan fluktuasi debit air yang ekstrem. Peningkatan erosi dan sedimentasi, degradasi habitat akuatik.
Pertanian Dapat meningkatkan limpasan permukaan, terutama jika vegetasi alami berkurang. Peningkatan beban nutrisi dari pupuk dan kontaminasi pestisida.

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

  1. ^ a b c d "Peta Interaktif SIGAP Kementerian LHK - Klasifikasi DAS". Geoportal MenLHK. Diakses tanggal 2025-09-17.
  2. ^ a b ""PerMenPUPR No.04/PRT/M/2015 - Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai"". PERATURAN.GO.ID.
  3. ^ "Peraturan Menteri LHK No.14 Tahun 2022" (PDF). JDIH Kehutanan. 2025. Diakses tanggal 2025-09-21.
  4. ^ Babaremu, Kunle & Taiwo, Olalekan & Ajayi, Dickson. (2024). Impacts of Land Use and Land Cover Changes on Hydrological Response: A Review of Current Understanding and Implications for Watershed and Water Resources Management. 19. 256-267. 10.5281/zenodo.10049652#89.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement