Bedaya Semang

Bedaya Semang
240px
Para penari di Keraton Yogyakarta, ca 1885
Nama asliꦧꦼꦣꦪꦱꦼꦩꦁ ([Bědhaya Sěmang] Galat: {{Transliteration}}: missing language / script code (bantuan))
GenreKlasik Jawa
Instrumen
PenciptaHamengkubuwana I[1]
TahunAbad ke-17 (penciptaan)
1759 (penyempurnaan)
2002 (selesai rekontruksi)
AsalKeraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Indonesia

Bedaya Semang (bahasa Jawa: ꦧꦼꦣꦪꦱꦼꦩꦁ, translit. Bědhaya Sěmang) merupakan bentuk tari klasik Jawa yang termasuk dalam kategori pusaka seni milik Kesultanan Mataram, kemudian diwariskan kepada Kesultanan Yogyakarta. Tarian ini diciptakan pada masa kekuasaan Sultan Agung dan menjadi varian bedaya yang paling tua. Pada 1759, tarian ini disempurnakan oleh Keraton Yogyakarta dan diakui menjadi karya (Yasa dalem) Hamengkubuwana I.[2][3][4]

Bedaya Semang dipentaskan dalam berbagai upacara adat resmi dan dilarang dipentaskan di luar istana. Tarian ini juga berfungsi sebagai ritual persembahan sebagai bentuk penghormatan kepada Kanjeng Ratu Kidul, mirip dengan Bedaya Ketawang dari Kesunanan Surakarta.[5][6][7] Pada tahun 2014, Bedaya Semang secara resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia milik Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nomor SK. 270/P/2014.[8][9]

Sejarah

Bedaya Semang dipercaya masyarakat sebagai tarian arkaik yang diciptakan pada masa kekuasaan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram pada abad ke-17.[2] Menurut Babad Nitik, tarian bedaya adalah gubahan Kanjeng Ratu Kidul, sementara nama Semang diberikan oleh Sultan Agung.[10] Setelah Perjanjian Giyanti, seni dan budaya yang tersisa dari Kesultanan Mataram dibagi dua untuk Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Bersama Bedaya Babarlayar dan Bedaya Rambu, Kesultanan Yogyakarta melalui Hamengkubuwana I memilih untuk melestarikan tiga tarian tersebut.[10] Sekitar 1759, struktur Bedaya Semang disempurnakan, diakui sebagai Yasa dalem (karya) Hamengkubuwana I dan menjadi tarian pusaka dari Keraton Yogyakarta.[4][10]

Etimologi

Istilah bahasa Jawa "semang" dalam nama tarian ini memiliki arti was-was, kegelisahan, keraguan, atau kebimbangan.[11][12] Makna tersebut merujuk pada representasi keadaan batin Sultan Agung saat menerima persembahan tarian dari Kanjeng Ratu Kidul. Nama ini menggambarkan suasana psikologis yang menjadi inti dari narasi pertemuan antara penguasa daratan dan penguasa laut selatan.[3][13][14]

Cerita

Narasi dalam Bedaya Semang mengisahkan pertemuan mistis antara Sultan Agung dari Mataram dengan penguasa pantai selatan Jawa, Kanjeng Ratu Kidul, di kawasan pesisir yang merupakan perbatasan simbolik antara wilayah Mataram dan daerah kekuasaan Ratu Kidul. Dalam pertemuan tersebut, keduanya saling tertarik hingga Sultan Agung mengikuti Ratu Kidul untuk bermukim di istananya yang terletak di dasar laut selama beberapa waktu. Pertemuan tersebut diyakini terjadi bertepatan dengan malam bulan purnama, di mana daya tarik Ratu Kidul disamakan dengan cahaya bulan yang membuat Sultan Agung terpesona.[3][12][15]

Keberadaan Sultan Agung di istana laut kemudian mendapat peringatan dari Sunan Kalijaga, yang menyatakan bahwa Ratu Kidul bukanlah manusia biasa melainkan makhluk gaib. Sunan Kalijaga mengingatkan Sultan Agung agar kembali memusatkan perhatian pada tanggung jawabnya memimpin dan mengayomi rakyat yang sempat terabaikan. Atas nasihat tersebut, Sultan Agung memutuskan untuk meninggalkan Ratu Kidul, namun Ratu Kidul memberikan janji untuk tetap melindungi Sultan Agung serta para penerusnya setiap kali Kesultanan Mataram menghadapi ancaman bahaya.[3][15]

Tujuan dan ritual

Penampilan Bedaya Semang tujuan utamanya sbagai sarana penghormatan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Secara filosofis, tarian ini berfungsi untuk memperkuat ikatan antara raja dengan kekuatan gaib yang dipercaya menjaga keseimbangan wilayah, sekaligus sebagai bentuk persembahan dan penghormatan kepada leluhur serta penguasa alam semesta. Di Keraton Yogyakarta, pertunjukan ini dianggap sebagai agenda yang langka dan sempat tidak dipentaskan dalam jangka waktu yang sangat lama. Pementasan kembali digelar pada 2002, didasari pada kepercayaan bahwa penghentian tarian tersebut dapat membawa dampak buruk.[3][7][16] Salah satu variannya, Bedaya Harjunawijaya, pernah dipentaskan secara khusus untuk merayakan hari ulang tahun Hamengkubuwana X ke-66 pada 17 April 2010.[7]

Menurut tradisi, Bedaya Semang merupakan tarian yang secara khusus ditarikan dalam upacara Tingalan Jumenengan Dalem, yaitu upacara peringatan kenaikan takhta Sultan. Dalam konteks keraton, pementasan pada acara ini berfungsi sebagai pembaruan janji spiritual antara penguasa Mataram dengan kekuatan pelindung laut selatan, sekaligus sebagai simbol legitimasi kekuasaan Sultan yang sedang bertahta. Kehadiran tarian ini dalam ritual Jumenengan dipandang sebagai elemen sakral yang harus dipenuhi demi menjamin keselamatan raja dan rakyat serta menjaga kewibawaan keraton, namun kenyataannya Bedaya Semang jarang dipentaskan dalam acara-acara penting tersebut. Meskipun jarang dipentaskan, latihan (gladhen) Bedaya Semang diadakan setiap malam Selasa Kliwon dan pementasan hanya diizinkan pada hari Anggarakasih.[12]

Di Keraton Surakarta, Bedaya Semang diyakini sebagai tarian yang lebih tua dibandingkan seluruh jenis tari bedaya lainnya, termasuk Bedaya Ketawang.[4] Ritual pementasannya dilakukan setidaknya sekali dalam setahun, bertepatan dengan peringatan hari penobatan Pakubuwana. Pelaksanaan tarian ini bersifat eksklusif dan hanya dapat disaksikan di dalam keraton oleh kalangan tertentu. Pada masa lampau, para penari yang menjalankan ritual ini terdiri dari gadis atau perempuan muda yang belum menikah, termasuk selir-selir penguasa.[3]

Penampilan

Penari

Bedaya Semang sering dijuluki sebagai tarian roh (spirit dance), di mana pertunjukan ini hanya dilakukan oleh sembilan penari wanita yang masih perawan dengan tambahan satu penari yang berperan sebagai simbolisasi kehadiran Kanjeng Ratu Kidul.[15] Penari Bedaya tersebut mendapatkan status sebagai pegawai resmi dalam struktur organisasi Keraton Yogyakarta dengan sebutan abdi dalem Bedhaya. Jumlah penari sembilan orang dipahami sebagai lambang arah mata angin, arah kedudukan planet-planet dalam kehidupan alam semesta, serta lambang lubang hawa sebagai kelengkapan jasmaniah manusia (babadan hawa sanga), yakni dua lubang hidung, dua lubang mata, dua lubang telinga, satu lubang mulut, satu lubang kemaluan, dan satu lubang dubur. Formasi sembilan penari Bedaya Semang tersebut terdiri dari posisi batak, endhel, jangga (gulu), apit ngajeng, apit wingking, dhadha, endhel wedalan ngajeng, endhel wedalan wingking, dan buntil.[10][12][14]

Busana

Para penari Bedaya Semang mengenakan busana yang seragam sebagai simbolisasi bahwa setiap manusia terlahir dalam keadaan dan wujud yang sama. Meskipun demikian, tata busana yang digunakan mengalami perubahan sesuai dengan kehendak Sultan yang sedang memerintah. Bentuk busana pada masa Hamengkubuwana I tidak diketahui secara pasti karena ketiadaan dokumen atau gambar, dan gambaran rinci baru diperoleh sejak masa Hamengkubuwono V, di mana busana dan tata riasnya menyerupai mempelai istana.[10]

Pada masa Hamengkubuwana VI, busana Bedaya Semang kemudian diubah secara signifikan dengan mengacu pada busana tari gaya Yogyakarta. Busana tersebut meliputi mekak (kemban penutup dada), kain batik motif Parang Rusak Seling, udhet cindhe, slepe, serta keris sebagai lambang keprabon. Hiasan kepala terdiri dari rambut gelung bokor dengan klewer bunga melati, serta riasan wajah yang dikerik dan dipaes lengkap dengan cundhuk mentul, kelat bahu, dan gelang layaknya pengantin istana. Memasuki masa Hamengkubuwana VII, busana penari secara garis besar masih sama, namun menggunakan baju tanpa lengan yang diberi gombyok.[10]

Perubahan gaya juga terjadi pada masa Hamengkubuwana VIII, di mana para penari tidak lagi menggunakan riasan kerikan, melainkan memakai hiasan kepala berupa jamang dan bulu-bulu. Selain itu, perlengkapan lainnya meliputi gelung bokor, ron, kalung sungsun, kelat bahu, gelang, baju tanpa lengan, kain pola seredan motif Parang Rusak, serta udhet cindhe. Tata busana pada masa Hamengkubuwana IX hingga Hamengkubuwana X tetap mengikuti standar yang ditetapkan pada masa Hamengkubuwana VIII. Adapun properti senjata yang digunakan dalam adegan peperangan pada tarian ini adalah keris.[10]

Rekontruksi

Rekontruksi tari Bedaya Semang dilakukan oleh seorang abdi dalem Bedhayan bernama Theresia Suharti yang bergelar KRT Pujaningsih sebagai bagian dari disertasi doktoralnya yang berjudul Bedhaya Semang Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Reaktualisasi Sebuah Tari Pusaka pada tahun 2012.[3][16] Dalam penelitian tersebut terungkap bahwa Bedaya Semang, yang diakui sebagai bedhaya pusaka tertua di Keraton Yogyakarta, tidak pernah dipentaskan sejak masa pemerintahan Hamengkubuwana VIII,[3] spesifiknya sebelum 1920.[5] Hal ini disebabkan oleh kuatnya pengaruh pandangan modern terhadap perkembangan seni tari pada masa itu, yang memicu terciptanya bentuk-bentuk tari baru dan menyebabkan tradisi lama cenderung terabaikan dalam perhatian keraton.[3][16]

Suharti membutuhkan waktu selama lebih dari tiga puluh tahun untuk meneliti Bedaya Semang yang ia angkat sebagai topik skripsi hingga disertasi. Proses membongkar kembali struktur tari ini dianggap sangat pelik dan rumit, namun melalui upaya penelitian yang mendalam, bentuk tarian tersebut berhasil diwujudkan kembali. Ia bersama timnya mempelajari manuskrip-manuskrip lama, termasuk notasi gending pengiring tarian ini.[16] Tim penari dan pengrawit juga memerlukan waktu untuk latihan selama dua tahun demi menampilkan tarian ini.[16] Setelah penelitiannya mencapai final, Suharti diminta oleh Hamengkubuwana X untuk meringkas Bedaya Semang sehingga dapat ditampilkan sesuai kondisi keraton saat ini. Kini, tarian ini memiliki versi yang lebih pendek, awalnya empat jam menjadi dua jam saja.[3][16]

Dalam sejarah perkembangannya, Bedaya Semang diposisikan sebagai induk dari seluruh jenis tari bedaya dan srimpi di Keraton Yogyakarta.[3] Reaktualisasi pertama tari ini dilakukan pada tanggal 7 Oktober 2002 dalam rangka upacara Tingalan Jumenengan Dalem Hamengkubuwana X yang ke-13 di Bangsal Kencana, Keraton Yogyakarta.[3][16] Hasil dari proses rekontruksi ini kini telah didokumentasikan secara sistematis ke dalam bentuk naskah tari yang lengkap serta rekaman audio-visual guna menjaga keberlangsungan warisan budaya tersebut.[3]

Referensi

  1. ^ "Tari Bedhaya". Kundha Kabudayan Daerah Istimewa Yogyakarta. 2014-03-04. Diakses tanggal 2026-01-25.
  2. ^ a b Kandiraras, Tudhy Putri Apyutea (2022-04-20). "Konsep Tari Bedhaya dan Bedayan dalam Tari Saraswati ISI Yogyakarta". Widyadharma: Prosiding Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik. 1 (1): 165–174.
  3. ^ a b c d e f g h i j k l m Suharti, Theresia (2015). Indarwati, Lucia (ed.). Bedhaya Semang Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Reaktualisasi Sebuah Tari Pusaka. Yogyakarta: PT Kanisius. ISBN 978-979-21-4245-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ a b c Supriyanto, Eko (2019-01-16). "Eksistensi Tari Bedhaya Ketawang". Acintya. 10 (2): 166–178. doi:10.33153/acy.v10i2.2280. ISSN 2655-5247.
  5. ^ a b Hostetler, Jan (1982). "Bedhaya Semang: The Sacred Dance of Yogyakarta". Archipel. 24 (1): 127–142. doi:10.3406/arch.1982.1774.
  6. ^ Administrator (2012-03-29). "Raih Doktor Usai Teliti Bedhaya Semang". Universitas Gadjah Mada. Diakses tanggal 2025-06-19.
  7. ^ a b c Redaksi, Tim (2022-04-16). "Mitos Nyai Lara Kidul: Sumber Ide Tari Bedhaya Semang dan Ruwatan". Nusantara Institute. Diakses tanggal 2026-01-26.
  8. ^ "Bedhaya Semang - Warisan Budaya Tekbenda Indonesia". Budaya Kita. 2014. Diakses tanggal 2026-01-26.
  9. ^ Paluseri, Dais Dharmawan; Murdiartono, Dwi; Syahdenal, Lintang Maraya; Ryan (2014). Warisan budaya takbenda Indonesia: penetapan tahun 2014. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya.
  10. ^ a b c d e f g "Tari Bedhaya". Kundha Kabudayan Daerah Istimewa Yogyakarta. 2014-03-04. Diakses tanggal 2026-01-26.
  11. ^ "Bedhaya Semang dan Pemahaman Kewilayahan". Cakrawarta. 2020-04-19. Diakses tanggal 2026-01-26.
  12. ^ a b c d Khairani, Jihan Nisrina. "Tari Bedhaya Semang: Kisah Hubungan Nyi Roro Kidul dan Sultan Agung". detikjogja. Diakses tanggal 2026-01-26.
  13. ^ Widiasih, Kinanti Putri; Parwati, Nunuk (2019-04-30). "Gaya Expository Documentary: Tradisi Pelembagaan Tari Bedhaya Di Keraton Ngayogyakarta". Jurnal Ilmiah Produksi Siaran. 5 (1): 48–58. ISSN 2722-1121.
  14. ^ a b "Tari Bedhaya Semang, Cerminan Diri Manusia". Kumparan. 2018-04-09. Diakses tanggal 2026-01-26.
  15. ^ a b c Iqrimah, Ani Nur. "Tari Bedhaya Semang, Kisah Hubungan Sultan Agung dan Ratu Kidul". Good News From Indonesia. Diakses tanggal 2025-06-19.
  16. ^ a b c d e f g "KRT Pujaningsih, Sang Penjaga Tari Pusaka". Kraton Jogja. 2018-09-25. Diakses tanggal 2026-01-26.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement