Tari Sireh

Tari Sireh merupakan tari hiburan tradisional masyarakat dusun Buani, Desa Bentek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).[1]

Istilah Sireh diambil dari istilah dalam bahasa Sasak yang berarti 'daun sirih'. Penamaan ini berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Nusa Tenggara Barat dalam memasak dan/atau mengunyah daun sirih (memahaq). Ada sebuah kisah pada zaman dahulu bahwa beberapa orang perempuan saling berkunjung ke rumah tetangga di sekitar dusun Biani terdekat. Pada saat berkunjung atau bertamu, mereka diterima dan dijamu oleh tuan rumah. Umumnya tuan rumah menyediakan pabuan (wadah menyirih) dengan isian daun sirih beserta kelengkapannya, termasuk gambir dan buah pinang.[1][2]

Pada 2016, Tari Sireh masuk dalam daftar seni pertunjukan di Indonesia. Setelah dilakukan kajian lanjutan, tarian tradisional NTB ini resmi ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda pada kategori seni tradisi dengan domain seni pertunjukan pada 2019.[3] Tarian ini ditampilkan pada upacara-upacara adat maupun perayaan hari raya Buddha.[4]

Komponen tari

Penari

Pertunjukan Tari Sireh melibatkan enam orang penari wanita yang berada pada rentang usia remaja hingga wanita dewasa.[1]

Busana dan aksesoris

Dalam pertunjukan, penari sireh mengenakan pakaian adat tradisional untuk pria. Sebagai pakaian atasan, penari mengenakan kaos katun berwarna putih polos. Penari juga mengenakan kain songket dengan corak seperti bintang empet, subahnalekeker, dan corak sejenis yang menggambarkan semangat mengabdi pada masyarakat. Selain itu, penari dapat menggunakan pakaian tenun bercorakkan tapo kemalo bersama songket bercorak serat penginang. Sebagai kain dalam penari menggunakan wiron/sute yang menjuntai hingga ujung mata kaki, melambangkan sikap rendah hat[1]

Penampilan penari juga dilengkapi dengan hiasan tutup kepala (capuq) serupa mahkota serta cecunduk berupa bunga-bunga dan tusuk konde. Penari juga menggunakan bopang di leher, ampek-ampek dipasangkan pada perut, jeret yang dipasangkan pada dada, serta sebuah selendang kuning khas buddhist. Pada telinga penari diselipkan bunga cempaka.[1]

Iringan musik

Tari Sireh disajikan dengan iringan berbagai macam alat musik tradisional seperti kajar, suling, rincik, kidur, gong, dan gendang. Alat musik tersebut dimainkan oleh sembilan orang pemusik (6 orang pemusik utama dan 3 orang pemusik cadangan).[1]

Pola lantai

Pada pertunjukan Tari Sireh, pola lantai yang dipakai secara keseluruhan hanya berupa garis vertikal dan horizontal. Susunan penari terdiri atas dua barisan, masing-masing berisi tiga orang. Barisan tersebut lantas membentuk persegi panjang, beriringan berjalan maju, lalu berputar kembali ke arah belakang.[1]

Gerakan Tari Sireh

Durasi yang dimiliki dari tarian sireh ini bervariasi, mulai dari 5 menit hingga lebih dari 30 menit, tergantung pada permintaan dari si pemesan tarian tersebut, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi di lapangan. Pertunjukan tari ini dibagi menjadi tiga babak, yakni tarian pembuka, isi, dan penutup.[5]

Pada babak pertama, tarian pembuka dalam tari sireh disebut dengan igelan petembeq menggunakan tarian tumpang tampik. Ciri khas pada bagian ini adalah gerakan tangan menumpang dan menampik yaitu gerakan tangan kanan digerakkan ke atas secara bergantian dengan tangan kiri.[6] Bagian ini menggambarkan penari yang masuk ke rumah tetangga untuk menerima jamuan sireh atau memamaq. Lalu, turut memakan buah pinang jol yang menyebabkan pusing.[1]

Pada bagian isi dalam tarian sireh ini disebut sebagai igelan penengaq yang menampilkan tari parade dan kejerot. Pada bagian ini, para penari menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri, disertai dengan gerakan tangan kanan dan kiri sambil memegang selendang yang di gerakkan ke depan atau ke atas dengan cara bergantian.[6] Gerak tari ini menggambarkan kondisi penari yang menari dan bernyanyi karena sedang pusing.[1]

Pada babak terakhir tarian sireh, ditampilkan tari penutup yang disebut dengan igelan penutuq. Pada bagian ini, para penari seolah telah tersadar sepenuhnya akibat mabuk dari buah jol tersebut.[6]

Fungsi Tari Sireh

Fungsi tari sireh dalam kehidupan masyarakat yaitu sebagai tari pergaulan, sebagai tari penyambutan, dan sebagai tari hiburan. Selain itu, tarian ini juga memiliki fungsi ekonomi/kesejahteraan dan edukatif/pendidikan. Makna tari sireh yang berarti sebuah simbol peringatan atau aturan mengenai cara bergaul di masyarakat desa Bentek, menunjukkan leluhurnya nilai-nilai kemasyarakatan yang dimiliki Indonesia.[6]

Makna Tari Sireh

Tari Sireh disuguhkan sebagai bentuk penghormatan pada tamu yang hadir pada semua kegiatan di Dusun Buani. Tidak hanya sebagai tari tradisi, masyarakat Desa Bentek juga menggunakan tarian ini sebagai tari pengisi acara ritual, tari pergaulan, maupun hiburan.[1] Selain sebagai hiburan, Tari Sireh juga memiliki fungsi pendidikan, yakni menanamkan nilai moral melalui syair yang dilantunkan saat pementasan. Di tengah perkembangan zaman yang semakin maju. Eksistensi tari harus dilestarikan, untuk itu dukungan orang tua, tokoh masyarakat, tokoh adat budaya, hingga pemerintah sangat dibutuhkan. Sehingga akan semakin banyak generasi muda yang terlibat melestarikan warisan budaya ini.[7]

Referensi

  1. ^ a b c d e f g h i j Gria, A. Agung Gde Rai; Prawitasari, Raj Riana Dyah; Putra, I Ketut Sudharma; Dwikayana, Kadek; Santosa, Dwi Bambang; Ekasmara, Dyah Chri (2018). Inventarisasi karya budaya Tari Sireh di dusun Buani, Desa Bentek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat (PDF). Bali: Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ "Tari Sireh, Lombok Tengah » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-11-07.
  3. ^ Kompas, Tim Harian (2019-09-05). "Tari Sireh dari Lombok Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda". Kompas.id. Diakses tanggal 2026-03-30.
  4. ^ Harnish, David D. (2021-09-13). Change and Identity in the Music Cultures of Lombok, Indonesia (dalam bahasa Inggris). BRILL. ISBN 978-90-04-49824-2.
  5. ^ Putri, Niluh Pingkan Amalia Pratama. "Mengenal 2 Tarian NTB yang Raih Penghargaan Warisan Budaya Tak Benda". detikbali. Diakses tanggal 2026-03-30.
  6. ^ a b c d A. AGUNG GDE RAI GRIA, RAJ RIANA DYAH PRAWITASARI, I KETUT SUDHARMA PUTRA, KADEK DWIKAYANA, DWI BAMBANG SANTOSA, DYAH CHRI EKASMARA (2018). TARI SIREH DI DUSUN BUANI, DESA BENTEK, KECAMATAN GANGGA, KABUPATEN LOMBOK UTARA, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT. Nusa Tenggara Barat: BPNB BALI. hlm. 103. ISBN 978-602-356-218-3. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ^ "Semarak Gebyar Tari Tradisional Suku Sasak Dayan Gunung, Tari Sireh Warisan Budaya Asal KLU". lombokpost.jawapos.com. 15-08-2023. Diakses tanggal 07-11-2025. ;

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement