Sungai Singkil

Sungai Singkil
Krueng Singkil, Batang Air Besar
Muara sungai Singkil, Aceh, Sumatera, Indonesia
Muara sungai Singkil, Aceh
PetaKoordinat: 2°14′41″N 97°46′57″E / 2.24472°N 97.78250°E / 2.24472; 97.78250
Lokasi
Negara Indonesia
ProvinsiAceh
Ciri-ciri fisik
Hulu sungaiPegunungan Leuser
 - lokasikabupaten Gayo Lues, Aceh
 - koordinat03°54′02″N 97°11′05″E / 3.90056°N 97.18472°E / 3.90056; 97.18472
 - elevasi3.000 km (1.900 mi)
Hulu ke-2Parbuluan
 - lokasikabupaten Dairi, Sumatera Utara
 - koordinat02°40′08″N 98°27′01″E / 2.66889°N 98.45028°E / 2.66889; 98.45028
 - elevasi1.600 km (990 mi)
Hulu ke-3Pakkat
 - lokasikabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara
 - koordinat02°13′07″N 98°34′02″E / 2.21861°N 98.56722°E / 2.21861; 98.56722
 - elevasi1.000 km (620 mi)
Muara sungaiMuara Singkil
 - lokasiSingkil, Aceh Singkil, Aceh
 - koordinat02°13′08″N 97°46′01″E / 2.21889°N 97.76694°E / 2.21889; 97.76694
Panjang130 km (81 mi)
Daerah Aliran Sungai
Sistem sungaiDAS Singkil (0210001)[1]
Luas DAS12.335 km2 (4.763 sq mi)[1]
Markah tanahTaman Nasional Gunung Leuser
JembatanJembatan Kilangan; Jembatan Rundeng; Jembatan Dah; Jembatan Sultan Daulat
PelabuhanDermaga Penyeberangan Sungai Kilangan
Otoritas DASBPDAS Wampu Sei Ular;[1] WS Alas-Singkil[2]
Informasi lokal
GeoNames1213712
KML Peta DAS Singkil

Sungai Singkil (Bahasa Aceh: Krueng Singkil) merupakan aliran dari sungai besar Lae Soraya, sungai terpanjang di Aceh, yang terhubung langsung dengan Lae Alas di Kabupaten Aceh Tenggara. dan salah satu yang terpenting di gugusan Pegunungan Pakpak. Sungai ini mempertemukan aliran Sungai Alas di Aceh Tenggara dan Sungai Simpang Kanan di Dairi (sumber lain menyatakan Lae Cinendang) di Sumatera Utara. Bermuara di Desa Kilangan, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil. Masyarakat sekitar sungai juga sering menyebutnya dengan nama Batang Air Besar. Sungai dengan lebar sekitar 60 meter tersebut juga dapat dilayari jauh ke arah hulu. Sungai ini memiliki dua muara yang dikenal dengan nama Kuala Aceh dan Kuala Baru.[3][4]

Kapal uap bersandar di dermaga sungai Singkil, Aceh
Kapal uap yang sedang bersandar di dermaga sungai Singkil, Aceh

Wilayah ini dulunya juga dikenal sebagai pusat perdagangan terbesar di Sumatera. Sejak tahun 1861, sungai ini menjadi lumbung perekonomian masyarakat nelayan. Sungai Singkil pernah memainkan peran penting untuk aktivitas perdagangan komoditas pada era kolonial Belanda itu tercatat dalam sejarah, telah datang ke Singkil Lama yang merupakan Kota Singkil pertama.

Hampir semua hasil bumi diangkut melalui sungai ini seperti lada, benzoin (kemenyan), kapur barus dan minyak nilam. Kegiatan perdagangan tersebut dikonsentrasikan di sebuah pasar yaitu Pasar Kota Singkil yang terletak sekitar setengah jam dari muara sungai. Di pasar ini juga bermukim beberapa penduduk yang terdiri dari suku bangsa Melayu, China, dan India. Para saudagar yang datang ke pasar ini berasal dari pedalaman dan kota-kota pantai lain di pesisir barat, bahkan dari luar negeri.[3]

Nelayan sungai khususnya, melakukan aktivitas perikanan tangkap air tawar, payau, termasuk pencari lokan (kerang khas Singkil) serta bidang usaha hasil hutan non kayu mengumpulkan dan mengolah pucuk nipah untuk bahan baku rokok linting (klobot) sudah menerobos pasar ekspor hingga keluar negeri seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Myanmar dan India. Banyak lagi sumber kekayaan yang ada di sekitar Sungai Singkil yang merupakan kawasan daratan rawa dan lahan gambut. Diantaranya berbagai jenis ikan laut dan tawar, siput dan burung Punai.[5] Pada bagian hulu sungai di wilayah Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, sungai ini membelah Taman Nasional Gunung Leuser. Sementara di beberapa tempat, sungai ini juga menjadi batas hutan lindung dan hutan konservasi.[6]

Hidrologi DAS

Sungai Singkil merupakan aliran utama dalam sistem daerah aliran sungai yaitu DAS Singkil yang memiliki luas daerah tangkapan air mencapai 12.335 km2 (4.763 sq mi) yang melingkupi beberapa wilayah di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.[1]

Pengelolaan DAS

Dalam pengelolaan daerah aliran sungai terkait konservasi, DAS Singkil termasuk ke dalam wilayah kerja BPDAS Wampu Sei Ular yang merupakan unit pelaksana teknis pada Ditjen PDASHL dibawah Kementerian Lingkungan Hidup.[7] Sedangkan dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air, DAS Singkil merupakan bagian dari satuan wilayah sungai yaitu WS Alas-Singkil.[2]

DAS Singkil (nomor kode 004), salah satu dari 8 anggota daerah aliran sungai (DAS) yang berada dalam satuan Wilayah Sungai (WS) Alas-Singkil.
DAS Singkil (nomor kode 004), salah satu dari 8 anggota daerah aliran sungai (DAS) yang berada dalam satuan Wilayah Sungai (WS) Alas-Singkil.

Degradasi DAS

Perubahan tutupan lahan dapat sangat memengaruhi hidrologi DAS dan kualitas air. Urbanisasi dan pembangunan dapat meningkatkan tutupan lahan kedap air, menyebabkan lebih banyak air mengalir di permukaan daripada meresap ke dalam tanah. Hal ini dapat mengurangi pengisian ulang air tanah dan aliran dasar sungai, atau aliran yang terjadi selama musim kemarau. Deforestasi dan pembukaan lahan pertanian di kawasan hulu seringkali disertai dengan peningkatan erosi tanah dan beban sedimen di kawasan hilir.[8][9][10] Jenis penggunaan lahan lainnya berkaitan dengan pencemaran air, misalnya, pertanian yang dapat meningkatkan beban pestisida dan nutrisi (nitrogen dan fosfor) dari pupuk. Urbanisasi dan industrialisasi di dalam DAS dapat menyebabkan kontaminasi dari berbagai macam bahan kimia yang digunakan di rumah tangga dan industri.[11]

Bencana Hidrologi

Banjir di Aceh Singkil sering terjadi akibat meluapnya sejumlah sungai utama, seperti Sungai Singkil (Krueng Singkil), Sungai Lae Cinendang, dan sungai lainnya, terutama saat musim hujan dengan curah hujan tinggi. Peristiwa banjir yang terjadi pada Agustus dan Oktober 2024, telah merendam ribuan rumah dan melumpuhkan aktivitas warga di beberapa kecamatan.[12][13]

Penyebab banjir

Curah hujan tinggi selama beberapa hari menyebabkan debit air sungai meningkat drastis hingga meluap ke permukiman. Penebangan liar dan alih fungsi lahan di wilayah hulu, termasuk di Aceh Tenggara, menyebabkan berkurangnya daya serap tanah sehingga air lebih cepat tumpah ke hilir. Selain hujan lokal, banjir juga dipicu oleh kiriman air dari wilayah hulu sungai. Secara geografis posisi Kabupaten Aceh Singkil yang berada di hilir membuat wilayahnya rentan terdampak kiriman air dari hulu.

Dampak banjir

Sejumlah ruas jalan utama, seperti jalan nasional Singkil-Subulussalam dan jalan penghubung antar desa, terputus total atau sulit dilintasi kendaraan. Banjir menyebabkan kerusakan pada fasilitas umum, seperti sekolah, masjid, puskesmas, dan jembatan yang ambruk akibat longsor. Ribuan kepala keluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Banjir melumpuhkan kegiatan masyarakat, termasuk proses belajar mengajar di sekolah yang terpaksa diliburkan. Sejumlah fasilitas kesehatan ikut terendam, mengganggu layanan untuk warga.

Mitigasi dan penanganan

Upaya penanganan banjir memerlukan keterlibatan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, mengingat wilayah DAS Singkil mencakup lintas kabupaten dan provinsi. Walhi Aceh telah solusi penanganan terpadu dari hulu, tengah, dan hilir untuk mengatasi masalah banjir yang berulang. Masyarakat Singkil pun memiliki kearifan lokal dalam menghadapi banjir, seperti konstruksi rumah panggung atau "lampung".

Kawasan Lindung Nasional

Lihat pula

Referensi

  1. ^ a b c d "Peta Interaktif SIGAP Kementerian LHK - Klasifikasi DAS". Geoportal MenLHK. Diakses tanggal 2025-09-17.
  2. ^ a b ""PerMenPUPR No.04/PRT/M/2015 - Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai"". PERATURAN.GO.ID.
  3. ^ a b Kusumo, Rizky. "Peran Sungai Singkil dalam Kejayaan Perabadan Aceh yang Kini Terlupakan". www.goodnewsfromindonesia.id. Diakses tanggal 2023-06-30.
  4. ^ Ampun, Saidin I. A.; Agustina, Sri; Purnawan, Syahrul (2018-02-28). "Analisis Kadar Cu dan Cd Pada Sedimen di Sungai Singkil Kabupaten Aceh Singkil". Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan Perikanan Unsyiah (dalam bahasa American English). 3 (1). ISSN 2527-6395.
  5. ^ Redaksi (2020-11-06). "Sungai Singkil Riwayatmu Kini | Waspada Aceh". Media Online Aceh. Diakses tanggal 2023-06-30.
  6. ^ R, Rahmadi (2021-04-17). "Foto: Indahnya Hutan Leuser dari Sungai Alas-Singkil". Mongabay.co.id (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2023-06-30.
  7. ^ "Peraturan Menteri LHK No.14 Tahun 2022" (PDF). JDIH Kehutanan. 2025. Diakses tanggal 2025-09-21.
  8. ^ Babaremu, Kunle & Taiwo, Olalekan & Ajayi, Dickson. (2024). Impacts of Land Use and Land Cover Changes on Hydrological Response: A Review of Current Understanding and Implications for Watershed and Water Resources Management. 19. 256-267. 10.5281/zenodo.10049652#89.
  9. ^ Shiferaw, Natnael; Habte, Lulit; Waleed, Mirza (2025-02). "Land use dynamics and their impact on hydrology and water quality of a river catchment: a comprehensive analysis and future scenario". Environmental Science and Pollution Research International. 32 (7): 4124–4136. doi:10.1007/s11356-025-35946-y. ISSN 1614-7499. PMC 11835986. PMID 39862375.
  10. ^ Ridwan, Muhammad; Sarjito, Joko (2024-09-30). "Studi Kajian Dampak Perubahan Tutupan Lahan terhadap Kejadian Banjir di Daerah Aliran Sungai". ENVIRO: Journal of Tropical Environmental Research (dalam bahasa Indonesia). 26 (1): 38–45. doi:10.20961/enviro.v26i1.93145. ISSN 2963-1246. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  11. ^ "Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan : Dampak Pestisida Pada Lingkungan Akuatik". Diakses tanggal 2025-09-24.
  12. ^ "Banjir di Aceh Singkil Rendam Pemukiman, Ribuan Warga Tak Bisa Beraktivitas". Rmol.id. Diakses tanggal 2025-09-24.
  13. ^ TV, Metro. "Banjir di Aceh Tenggara hingga Aceh Singkil Meluas". https://www.metrotvnews.com. Diakses tanggal 2025-09-24.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement