Suku Kalanguya
| Jumlah populasi | |
|---|---|
| 96.619[1] (2010) | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Bahasa | |
| Kalanguya, Iloko, Tagalog | |
| Agama | |
| Kekristenan, agama asli | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Igorot |
Suku Kalanguya atau Ikalahan adalah suku bangsa Austronesia yang bertempat tinggal di Region Administratif Cordillera, Filipina.[2][3][4] Sebagian lainnya juga tinggal di Nueva Vizcaya, Nueva Ecija, dan Pangasinan.[5] Orang Kalanguya pada mulanya digolongkan oleh beberapa peneliti sebagai subkelompok dari etnis Ifugao.[6] Namun, studi ekstensif terbaru menunjukkan bahwa Kalanguya merupakan suku bangsa yang terpisah.[7][8]
Nama
Istilah "kallahan" terkadang juga merujuk pada bahasa asli suku Kalanguya.[9] Populasi Kalanguya di Nueva Vizcaya juga telah diidentifikasi dalam literatur antropologi sebagai "ikal-lahan".[2] Mereka yang tinggal di Tinoc dan Buguias menyebut dirinya kalangoya sementara yang menetap di Nueva Vizcaya dan Quirino menyebut diri mereka ikalahan. Dahulu, kelompok etnolinguistik ini juga dikenal dengan nama kalanggutan, keley'i, mandek'ey, yatukka, atau kalangoya.[10]
Budaya
Terdapat dua golongan masyarakat, yaitu golongan kaya (baknang atau kadangyan) dan golongan miskin (biteg atau abiteng). Orang Ikalahan mempraktikkan pertanian berpindah (“tebang-bakar”) (inum-an) tanaman camote, dan ubi rambat (gabi).[10]
Rumah Ikalahan, yang secara tradisional dibangun untuk satu keluarga inti, memiliki atap dari alang-alang (pal-ot atau gulon), dinding dari kulit kayu atau lempengan pohon, dan lantai dari potongan palem (balagnot). Rumah-rumah ini secara tradisional berbentuk persegi panjang dan ditinggikan dari tanah setinggi 3–5 kaki, dengan satu ruang utama untuk kegiatan umum dan satu jendela serta pintu. Biasanya terdapat ruang terpisah (duwag) untuk pengunjung atau anggota keluarga tunggal, di seberang area dapur. Dua tungku batu diletakkan di atas perapian, satu untuk memasak makanan babi dalam kuali tembaga (gambang), dan yang lainnya untuk makanan keluarga. Rak (pagyay) menyimpan peralatan rumah tangga, termasuk mangkuk kayu (duyo) dan nampan (ballikan atau tallaka) yang terbuat dari rotan. Kulit ubi (dahdah) atau sisa ubi (padiw) diberikan kepada babi, yang dipelihara di bawah ruang tamu atau di dekat rumah.[10]
Suku Ikalahan, seperti banyak kelompok etnis lainnya, gemar menggunakan alat musik dalam perayaan, yang sebagian besar terbuat dari bambu. Gong (gangha) adalah instrumen utama yang digunakan, yang juga dilengkapi dengan drum. Mereka juga menggunakan gitar atau galdang, dan alat musik getar yang disebut pakgong yang dimainkan dengan cara dipukul, serta karinding (ko-ling).[10]
Untuk pakaian, pria Ikalahan mengenakan cawat (kubal), dan membawa ransel (akbot) yang terbuat dari kulit rusa. Pria hampir selalu membawa parang saat keluar rumah. Wanita mengenakan rok tenun (lakba) di pinggang, yang terbuat dari lipatan dengan kombinasi warna yang berbeda. Mereka mengenakan blus dari bahan yang sama. Mereka menggunakan keranjang (kayabang) yang digendong di punggung untuk membawa peralatan pertanian mereka. Hiasan tubuh termasuk gelang kuningan (gading atau batling).[10]
Urusan masyarakat menjadi tanggung jawab para tetua (nangkaama), dengan musyawarah yang disebut tongtongan menjadi metode pengambilan keputusan. Perayaan-perayaan meliputi keleng untuk menyembuhkan orang sakit, mengenang leluhur, dan acara-acara lainnya. Seorang penyandang dana juga dapat mengadakan pesta selama sepuluh hari yang disebut padit.[10]
Suku Kalanguya menanam dan mengonsumsi beras di lahan terbatas. Ubi jalar, ubi rambat, kacang-kacangan, pisang, jahe, dan pohon buah-buahan lainnya juga ditanam. Hewan yang dikonsumsi antara lain babi hutan, rusa, burung, ayam hutan, dan ikan. Babi peliharaan tidak hanya digunakan untuk konsumsi tetapi juga sebagai simbol kekayaan, sementara ayam peliharaan digunakan sebagai sumber makanan saat melahirkan atau sakit, tetapi bukan bagian dari makanan sehari-hari.[10]
Referensi
- ^ National Statistics Office (2013). 2010 Census of Population and Housing, Report No. 2A: Demographic and Housing Characteristics (Non-Sample Variables), Philippines (PDF) (Report). Manila.
- ^ a b Cayat, Gaspar C. (n.d.). "Manuscript on Kalanguya Cultural Communities". National Commission for Culture and the Arts. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-01-15.
- ^ Arsenio, Bagly; Stallsmith, Glenn (2008). "Preserving Living Traditions in Live Performances: A Traditional Music and Dance Troupe of the Kalanguya of the Northern Philippines" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2015-09-24.
- ^ Bulayungan, Vency D. (29 Juni 2011). "Ifugao's Kalanguya Tribe Receives CADT". Sun.Star Baguio. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-06-30.
- ^ "Lawmakers Propose Center for Kalanguya Tribe". InterAksyon.com. Philippines News Agency. 17 Juli 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-01-15.
- ^ Sumeg-ang, Arsenio (2005). "4 The Ifugaos". Ethnography of the Major Ethnolinguistic Groups in the Cordillera. Quezon City: New Day Publishers. hlm. 72. ISBN 9789711011093.
- ^ "Preserving Living Traditions in Live Performances: A Traditional Music and Dance Troupe of the Kalanguya of the Northern Philippines" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2010-07-15.
- ^ Camaya, et al. (2018). Indigenous Peoples and Gender Roles: The Changing Traditional Roles of Women of the Kalanguya Tribe in Capintalan, Carranglan in the Philippines. Open Journal of Social Sciences.
- ^ Himes, Ronald S. (1998). "The Southern Cordilleran Group of Philippine Languages". Oceanic Linguistics. 37 (1): 120–177. doi:10.2307/3623282. JSTOR 3623282.
- ^ a b c d e f g Sumeg-ang, Arsenio (2005). "3 The Ikalahans". Ethnography of the Major Ethnolinguistic Groups in the Cordillera. Quezon City: New Day Publishers. hlm. 52–69. ISBN 9789711011093.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


