Orang Kalinga
Seorang wanita Kalinga dari sub suku Butbut mengenakan pakaian adat dari Buscalan, Tinglayan, Kalinga. | |
| Jumlah populasi | |
|---|---|
| 211.749[1] (2020) | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Bahasa | |
| Kalinga, Iloko, Tagalog | |
| Agama | |
| Kekristenan, Animisme | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Igorot |
Orang Kalinga[2][3][4] (IPA: [ka'liŋɡa]) adalah kelompok etnis pribumi yang berasal dari Pegunungan Cordillera di Filipina Utara.[5] Mereka sebagian besar menetap di Provinsi Kalinga yang memiliki luas 3.282,58 km persegi. Namun, mereka juga telah menyebar ke Provinsi Pegunungan, Apayao, Cagayan, dan Abra.[6] Suku Kalinga berjumlah 163.167 jiwa pada tahun 2010.[1]
Pembagian

Di masa lalu, berbagai penulis yang mempelajari orang Kalinga telah membaginya menjadi sub-suku dengan berbagai metode. Edward Dozier membagi Kalinga secara geografis menjadi tiga sub-budaya dan posisi geografis: Balbalan (utara); Pasil, Lubuagan, dan Tinglayan (selatan); dan Tanudan (timur). Pendeta Teodoro Llamzon, S.J. membagi Kalinga berdasarkan dialeknya: Guinaang, Lubuagan, Pinukpuk, Tabuk, Tinglayan, dan Tanudan.[6]
Ronald Himes (1997) membagi bahasa Kalinga menjadi tiga dialek: Masadiit (di Abra), Kalinga Utara, dan Kalinga Tengah Selatan.[7]
Baru-baru ini, penulis Kalinga John Donqui-is, dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Komisi Nasional Kebudayaan dan Seni Filipina, mengidentifikasi 31 sub-suku Kalinga.[8]
Di sebelah utara provinsi Kalinga, artikel NCCA mengidentifikasi Munisipalitas Balbalan sebagai kampung halaman bagi sub-suku Alingag (juga dikenal sebagai Salegseg), Buwaya, Dao-angan, Gobang, Mabaca, dan Banao; sedangkan Munisipalitas Pinukpuk adalah rumah bagi Balllayangon, Limos, dan Gilayon (juga dikenal sebagai Pinukpuk Tabuk).[8]
Di bagian selatan atau barat daya provinsi tersebut, artikel NCCA mengatakan bahwa Munisipalitas Labuagan adalah tanah air sub-suku Lubuagan, Mabongtot, dan Tanglag; sementara Munisipalitas Pasil menjadi rumah bagi orang Ableg, Balatoc, Balincagao, Guinaang, dan Kagalwan; sedangkan Munisipalitas Tinglayan adalah rumah bagi orang-orang Bangad, Basaso, Botbot (atau Butbut), Dananao, Tinglayan, dan Sumadel.[8]
Terakhir, artikel NCCA menyatakan bahwa di sebelah timur provinsi, Munisipalitas Tanudan merupakan rumah bagi suku Dacalam, Lubo, Mangali, dan Taloctoc; Munisipalitas Rizal merupakan rumah bagi Gammonnang; dan Kota Tabuk merupakan kediaman suku Biga, Nanong, dan Calaccad (meskipun artikel tersebut juga mengidentifikasi Calaccad sebagai Gaddang).[8]
Etimologi
Nama Kalinga sebenarnya merupakan eksonim[9] yang diberikan oleh orang-orang Ibanag dan Gaddang, kalinga, yang berarti pemburu kepala.[6]
Organisasi sosial
Seperti kelompok etnis lainnya di Cordillera, keluarga dan sistem kekerabatan juga penting dalam organisasi sosial Kalinga.[6]
Mereka terbagi menjadi dua kelas ekonomi yang ditentukan oleh jumlah sawah, hewan pekerja, dan pusaka mereka: kapo (miskin) dan baknang (kaya).[10] Orang kaya mempekerjakan pembantu (poyong).[6]
Secara politis, mingol dan papanat memiliki status tertinggi. Mingol adalah mereka yang telah membunuh banyak orang dalam kebiasaan ngayau, dan papanat adalah mantan mingol yang mengambil alih kepemimpinan setelah tradisi ngayau menghilang. Mereka biasanya adalah pembawa damai, dan masyarakat meminta nasihat dari mereka, sehingga penting bagi mereka untuk berlaku bijak serta piawai dalam berpidato.[6]
Bodong
Suku Kalinga mengembangkan sebuah lembaga pakta perdamaian yang disebut Bodong yang telah meminimalkan peperangan tradisional dan pengayauan, serta berfungsi sebagai mekanisme untuk memulai, memelihara, memperbarui, dan memperkuat ikatan kekerabatan dan sosial.[6]
Eduardo Masferré mencatat bahwa pada awal masa kolonial Amerika, masyarakat Bontok dan Gaddang yang bertetangga telah mulai mengadaptasi adat istiadat serupa yang meniru orang Kalinga.[3]
Tanah leluhur
Wilayah Kalinga meliputi dataran banjir di Tabuk dan Rizal, serta Sungai Chico. Cadangan emas dan tembaga umum telah ditemukan di Pasil dan Balbalan.[6][2]
Sejarah

Tabuk didirikan pada abad ke-12, dan dari sana permukiman Kalinga lainnya menyebar.[6][2]
Tahun 1970-an menandai masa kejayaan produksi kopi Robusta di provinsi Kalinga, tetapi monopoli pedagang pada tahun 1980-an menyebabkan harga tetap rendah sehingga petani Kalinga beralih ke tanaman lain seperti jagung. Upaya untuk mengembalikan budi daya kopi ke tingkat sebelumnya dimulai beberapa dekade kemudian, pada tahun 2010-an.[11] In
Nasib orang-orang Kalinga selama kediktatoran Marcos pada tahun 1970-an dan awal 1980-an menjadi isu nasional yang banyak dibicarakan[12] karena penentangan mereka atas proyek Bendungan Sungai Chico di tanah nenek moyang. Proyek PLTA tersebut rencananya akan mencakup Munisipalitas Tinglayan, Lubuagan, Pasil, dan sebagian Tabuk di Provinsi Kalinga; dan Munisipalitas Sabangan, Sagada, Sadanga, Bontoc, Bauko, dan sebagian Barlig di Provinsi Pegunungan. Perkiraan kontemporer menunjukkan bahwa proyek tersebut akan menggusur sekitar 100.000 orang Kalinga dan Bontok.[13][14] Penghormatan yang besar oleh orang Kalinga terhadap para leluhur yang dimakamkan di sini menyebabkan persoalan ini bukan hanya soal mata pencaharian, tetapi juga persoalan religi.[14] Marcos mengirim tiga brigade bersenjata[14] untuk meredam protes, yang mengakibatkan meningkatnya ketegangan di daerah tersebut. Pada tahun 1977 saja, banyak aktivis bendungan Kalinga — termasuk pemimpin suku Lumbaya Aliga Gayudan dan Macli-ing Dulag,[12] dan bahkan seorang anak berusia 12 tahun[14] — ditangkap oleh pasukan ini dan dipenjara hingga dua bulan.[12][14]

Pembunuhan Macli-ing Dulag pada 24 April 1980 menjadi titik balik ketika liputan pembunuhan tersebut memicu kemarahan publik. Ini adalah pertama kalinya sejak pengumuman Darurat Militer tahun 1972 di mana pers arus utama Filipina berhasil melaporkan penangkapan warga sipil di bawah Darurat Militer,[15] dan perubahan opini publik yang menentang Bendungan Sungai Chico dan Darurat Militer, ditambah dengan kemarahan bersama dari masyarakat di Pegunungan Cordillera, membuat rezim Marcos menghentikan proyek bendungan tersebut.[16] Hal ini menjadikan Proyek Bendungan Sungai Chico dianggap sebagai studi kasus penting terkait isu-isu wilayah leluhur di Filipina.[17][18]
Pada tahun 2007, serial Discovery Channel yang dipandu oleh antropolog Amerika Lars Krutak menampilkan seni tato suku Butbut yang disebut mambabatok karya seniman Whang-od.[19] Ini merupakan awal dari semakin banyaknya perhatian media yang terfokus pada Whang-od, yang mengangkat seni tato Kalinga ke perhatian dunia.[20]
Pertanian
Praktik pertanian tradisional melibatkan penanaman padi di sawah (papayaw) dan peladangan (uwa).[6][2] Karena ketersediaan air, terdapat dua musim tanam dengan padi yang ditanam di sawah berteras. Mereka menanam tiga varietas padi yaitu onoy, oyak, dan dikit. Para lelaki juga berburu babi hutan, rusa, dan unggas liar di hutan. Ikan, kerang, dan biota air lainnya ditangkap dari sungai, anak sungai, dan danau di sekitar wilayah mereka. Pohon buah-buahan seperti kelapa, kopi, dan pisang ditanam di kebun atau kakkaju. Mereka juga membuat tuak dari tebu yang disebut basi.[6]
Tradisi

Seperti kelompok etnis di Cordillera lainnya, suku Kalinga juga menganut berbagai adat dan pamali. Misalnya, ibu hamil dan suami mereka dilarang makan daging sapi, susu sapi, dan daging anjing. Mereka juga harus menghindari sungai dan air terjun karena dapat membahayakan bayi yang belum lahir. Tradisi penting lainnya adalah ngilin (menghindari roh jahat air) dan kontad atau kontid (ritual yang dilakukan kepada anak untuk menolak bala di masa depan). Pertunangan juga umum dilakukan, bahkan sejak lahir, tetapi seseorang dapat membatalkan pertunangan ini jika tidak menyukainya. Setelah kematian, pengorbanan juga dilakukan untuk menghormati roh orang yang telah meninggal dan ritual kolias digelar setelah satu tahun masa berkabung.[6]
Pakaian

Pria Kalinga mengenakan ba-ag (cawat) sementara wanita mengenakan saya (pakaian berwarna-warni yang menutupi pinggang hingga kaki). Para wanita juga memiliki tato di lengan hingga bahu dan mengenakan ornamen berwarna-warni seperti gelang, anting, dan kalung, terutama pada hari raya.
Barang berharga orang Kalinga antara lain piring Cina (panay), guci (gosi), dan gong (gangsa). Tarian-tarian utama meliputi tarian guci (salidsid) dan tarian perang (pala-ok atau pattong).[6]
Tato

Tato di kalangan suku Kalinga dikenal sebagai batok atau batek (whatok dalam bahasa Kalinga). Tato ini termasuk di antara tato Cordillera yang paling terkenal berkat popularitas Apo Whang-od — dulu dikenal sebagai "mambabatok (seniman tato) terakhir", walau kini telah mengajarkan seniman muda untuk melanjutkan tradisi tersebut.[21][22]
Arsitektur
Rumah Kalinga (furoy, buloy, fuloy, phoyoy, biloy) berbentuk segi delapan untuk orang kaya, atau persegi, dan ditopang oleh tiang-tiang (beberapa setinggi 6–9 meter), dengan satu ruangan. Bangunan lainnya meliputi lumbung padi (alang) dan gudang ladang (sigay).[6][2]
Senjata dan Peralatan
Mereka menggunakan kapak yang disebut sinawit, parang (gaman/badang), tombak (balbog/tubay/say-ang), dan perisai (kalasag). Mereka juga membawa tas rotan (pasiking) dan kantung pinang (buyo)..[6]
Kepercayaan
Suku Kalinga percaya pada Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Kabuniyan, pencipta dan pemberi kehidupan, yang pernah tinggal di antara mereka. Mereka juga percaya pada berbagai roh dan dewata, termasuk yang berhubungan dengan alam (pinaing dan aran), dan leluhur yang telah meninggal (kakarading dan anani). Dukun wanita (manganito, mandadawak, atau mangalisig) berkomunikasi dengan roh-roh ini.[6]
Referensi
- ^ a b "Authentication challenge pages".
- ^ a b c d e Scott, William Henry (1996). On the Cordilleras: A look at the peoples and cultures of the Mountain Province. 884 Nicanor Reyes, Manila, Philippines: MCS Enterprises, Inc. hlm. 16. Pemeliharaan CS1: Lokasi (link)
- ^ a b Masferré, Eduardo; Jill Gale De Villa (1999). A Tribute to the Philippine Cordillera. Asiatype, Inc. ISBN 971-91712-0-0. Diakses tanggal 2008-09-16.
- ^ Molintas, J.S. (2004). "The Philippine Indigenous Peoples' Struggle for Land and Life: Challenging Legal Texts". Arizona Journal of International & Comparative Law. 21 (1): 269–306.
- ^ Bramhall, Donna. "Exploring Kalinga culture, tattoo artistry, tribal traditions". Rappler (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-09-07. Diakses tanggal 2021-09-07.
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p Sumeg-ang, Arsenio (2005). "5 The Kalingas". Ethnography of the Major Ethnolinguistic Groups in the Cordillera. Quezon City: New Day Publishers. hlm. 115–135. ISBN 9789711011093.
- ^ Himes, Ronald S. (1997). "Reconstructions in Kalinga-Itneg". Oceanic Linguistics. 36 (1): 102–134. doi:10.2307/3623072. JSTOR 3623072.
- ^ a b c d Donqui-is, John B. "The Kalinga". National Commission for Culture and the Arts (dalam bahasa American English).
- ^ Lambrecht, Francis H (1981-01-01). "The Kalinga and Ifugaw Universe". Ultimate Reality and Meaning. 4 (1): 3–23. doi:10.3138/uram.4.1.3. ISSN 0709-549X.
- ^ Bigornia, Manny (7 Februari 2011). "Ethnic Groups of the Philippines: The Kalinga People". www.ethnicgroupsphilippines.com.
- ^ Sarian, Zac (2018-03-18). "Here Comes Cordillera Arabica Coffee". Agriculture Monthly (dalam bahasa American English). Manila Bulletin Publishing, Inc.
- ^ a b c Doyo, Ma. Ceres (2015). Macli-ing Dulag: Kalinga Chief, Defender of the Cordillera. Diliman, Quezon City: University of the Philippines Press. hlm. 17. ISBN 978-9715427722.
- ^ "Valley of Sorrow". Asiaweek. 1980-09-05.
- ^ a b c d e Cariño, Joanna K. (22–27 April 1980). "The Chico River Basin Development Project: A Case Study of National Development Policy". Paper Presented at the Third Annual Conference of the Anthropological Association of the Philippines. Manila. Diarsipkan dari asli tanggal 14 April 2018.
- ^ Aureus, Leonor J., ed. (1985). The Philippine Press Under Siege II.
- ^ Tauli-Corpuz, Victoria (29 Maret 2018). "A silent war is being waged on Philippine indigenous communities". Financial Times (dalam bahasa Inggris (Britania)).
- ^ "Where the Chico River Rumbles | Travel Inspirations | Yahoo! Singapore Travel". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-03-06.
- ^ Jamias, Juan F (1975) Readings in Development Communication. College, Philippines : College of Agriculture, University of the Philippines Los Baños.
- ^ Krutak, Lars (2009). "The Last Kalinga Tattoo Artist of the Philippines". www.larskrutak.com (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2013-10-01.
- ^ Springer, Kate (6 Agustus 2017). "Meet Whang Od Oggay: The Philippines' oldest tattoo artis". CNN.
- ^ Krutak, Lars (30 Mei 2013). "The Last Kalinga Tattoo Artist of the Philippines". LarsKrutak.com.
- ^ Salvador-Amores, Analyn (Juni 2011). "Batok (Traditional Tattoos) in Diaspora: The Reinvention of a Globally Mediated Kalinga Identity". South East Asia Research. 19 (2): 293–318. doi:10.5367/sear.2011.0045. S2CID 146925862.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


