Suku Beilel
Karim Malaipin, kepala suku Beilel, 2014. | |
| Jumlah populasi | |
|---|---|
| 80 (2013)[1] 62 (di Probur Utara-Habollat) 18 (di beberapa tempat di Indonesia)[a] | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Indonesia (Pulau Alor) | |
| Bahasa | |
| Beilel (punah),[2] Kafoa, Melayu Alor, dan Indonesia | |
| Agama | |
| Islam dan Kekristenan[1] | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Kafoa • Abui • Kui | |
Suku Beilel adalah sebuah kelompok etnis yang mendiami Pulau Alor di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Secara administratif, mereka mendiami dusun Lola dan Habollat di kecamatan Alor Barat Daya di Kabupaten Alor. Sebelumnya mereka adalah penutur bahasa Beilel, sebelum bahasa itu punah, hampir semua masyarakat Beilel saat ini berbicara bahasa Kafoa, Melayu Alor, dan Indonesia.[3] Mereka sering diklasifikasikan sebagai bagian dari kelompok tetangga mereka yang lebih besar secara populasi, yaitu suku Kafoa.[2]
Banyak faktor yang mempengaruhi penurunan populasi masyarakat Beliel, termasuk pergeseran bahasa, perkawinan campur, migrasi, dan sejumlah besar imigran yang tinggal di pemukiman mereka.[4] Meskipun mereka minoritas, mereka adalah pemegang hak tanah berdasarkan hukum adat di desa Probur Utara-Habollat. Wilayah adat mereka membentang dari utara Sungai Buaya sebagai batas alami, melanjutkan perjalanan ke selatan sejauh kurang lebih 15 km hingga ke Sungai Wokang yang mengalir ke kampung Lanleki.[1]
Asal-usul
Suku Beilel memiliki mitos asal-usul bahwa mereka adalah keturunan babi. Babi sangat dihormati oleh masyarakat Beilel, mereka memiliki sebuah mantra yang berisi julukan untuk babi dan pujian terhadapnya dalam bahasa Beilel. Mantra tersebut adalah:[5]
Munafe kakafe pekikika pemirafea akan hiarfe late amengfe wife ameape hiarpe mulangpe hokame hirianeawin dihokamae nuna abe alea. Hot hot hot.
Terjemahan:
Babi muna, babi kato, babi merah, babi putih, babi hitam, babi tebu, babi padang rumput, babi batu, babi tanah, babi bumi, babi langit, tuan telah datang untuk memberi kalian makan, makanan di dalam panci sudah matang, cepat kemari.
Menurut cerita mitologi, asal-usul suku Beilel berasal dari keturunan leluhur Mama Beilel. Konon, Mama Beilel adalah wanita pertama yang menetap di muka bumi di wilayah hutan adat suku Beilel. Wanita itu kemudian melahirkan seorang putra. Mama Beilel mengubur plasenta di dekat rumahnya. Di malam hari, plasenta itu berubah menjadi babi. Mama Beilel selalu memberi makan babi itu setiap malam. Namun, di siang hari batu itu berubah menjadi batu hitam berbentuk oval. Setiap hari batu itu terus tumbuh, dan Mama Beilel terus memberinya makan setiap malam. Pada akhirnya tersisa 30 batu hitam. Salah satunya telah hilang ke lokasi yang tidak diketahui, sehingga hanya tersisa 29 buah. Hingga hari ini, masyarakat Beilel percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari babi.[1]
Sejarah

Tempat di mana Mama Beilel, leluhur suku Beilel, tinggal dan ritual persembahan dilakukan oleh suku Beilel, menjadi kampung pertama suku Beilel. Situs ini terdiri dari tebing curam dengan area datar di dasarnya tempat sebuah altar berada. Di sekitar lokasi tersebut terdapat berbagai jenis tanaman berkayu, bambu, kemiri, kenari, dan kelapa, yang semuanya membentuk hutan rimba yang juga memiliki mata air yang mengalir sepanjang tahun. Tepat di bawah altar terdapat hulu Sungai Buaya yang mengalir ke utara dan bertemu dengan hulu Sungai Wokang yang mengalir ke selatan dan mengalir ke wilayah pemukiman kampung Lanleki (dihuni oleh penutur bahasa Klon). Tempat itu adalah kampung pertama suku Beilel, tetapi tidak diketahui secara pasti kapan mereka menetap di kampung tersebut. Diperkirakan usianya sekitar dua abad (sekitar abad ke-18 atau ke-19), dengan tiga hingga empat generasi yang tinggal di sana hingga tahun 2013.[1]
Kampung kedua suku Beilel terletak di Laibuk, sekitar 500 m di sebelah barat lokasi kampung Lolong (Bangyah), atau sekitar 2 km dari Kantor Desa Probur-Habollat Utara ke arah timur menanjak ke perbukitan. Diperkirakan bahwa suku Beilel pindah ke kampung Laibuk sekitar awal tahun 1950-an. Relokasi ini dilakukan setelah terjadi wabah penyakit yang mengakibatkan kematian massal penduduk Beilel di kampung sebelumnya. Namun, versi lain menyebutkan bahwa perpindahan tersebut sebenarnya terjadi selama masa pendudukan Jepang. Mereka pindah ke kampung Laibuk untuk menghindari wabah penyakit yang mengakibatkan kematian massal penduduk Beilel. Tidak diketahui jenis wabah penyakit apa yang melanda perkampungan suku Beilel pada waktu itu, hanya diketahui bahwa penduduk mengalami demam pada siang dan malam hari, dan keesokan harinya mereka tiba-tiba meninggal.[1]
Tiga tokoh Beilel yang memimpin perpindahan ke kampung Laibuk, yaitu Matius Malaipin, Hinlik (Koli Tukung), dan Rahim Banton. Ketiganya adalah keturunan Lakmrouk. Lakmrouk sendiri meninggal ketika orang-orang Beilel masih tinggal di kampung pertama dan makamnya masih dapat ditemukan di kampung Bangyah. Selanjutnya, Matius Malaipin dan Hinlik (Koli Tukung) meninggal dunia, makamnya berada di kampung Laibuk sekitar tahun 1950-an. Setelah kematian Malaipin, ia mempunyai seorang putra bernama Karim yang pada saat itu masih dipanggil Kanai Aye yang berarti kenari dalam bahasa Kafoa. Ia diasuh oleh ibunya (istri kedua Malaipin) yang kemudian menikah dengan pamannya, Rahim Banton. Rahim Banton kemudian menggantikan Matius Malaipin sebagai kepala suku Beilel hingga ia meninggal pada tahun 1988. Makam Rahim Banton terletak di ujung utara dusun Habollat, tepat di sisi jalan dari dusun Lola ke dusun Habollat. Setelah kematian Rahim Banton, posisi kepala suku Beilel dipegang oleh Karim Malaipin hingga saat ini.[1]
Pada akhir tahun 1950-an, sejumlah 30 keluarga dari kampung Makong Afeng (bukit di atas kampung Buraga, berbatasan dengan desa Probur Utara-Habollat di sebelah utara) yang terdiri dari sub-kelompok Hamalelang, Balailelang, Dikalelang, Kula Afeng, Kalong Aramang, Fariu Aramang, Kafola Aramang, dan Damoi Aramang,[1] semuanya adalah penutur bahasa Kafoa,[2] pindah ke kampung Laibuk untuk bergabung dengan orang-orang Beilel. Mereka adalah imigran dari Munaseli di Pantar. Menurut catatan sejarah mereka, perang antara Kerajaan Pandai dan Kerajaan Munaseli pada abad ke-14 membuat suasana di Munaseli menjadi tidak aman. Situasi ini mendorong migrasi penduduk keluar dari Pantar. Setelah melakukan perjalanan melalui beberapa tempat dan berlangsung cukup lama, dimulai dari Halerman, Wakapsir, Dulolong (Alor Kecil), Mataru, Pintu Mas, Buraga, dan akhirnya tiba di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Makong Afeng. Bukti sejarah tentang pengembaraan leluhur orang Habollat berupa gong dan moko yang mereka bawa dari Munaseli. Mereka membangun tempat ibadah di Makong Afeng yang disebut Mesbah Moulouk. Tarian persembahan yang disebut lego-lego dilakukan sebagai persembahan kepada leluhur masyarakat Habollat, yaitu Baa yang berdiam di Munaseli.[1]
Pada awal tahun 1960-an, karena lokasi kampung Laibuk terasa sempit, mereka didorong untuk pindah bersama ke tempat yang sekarang menjadi dusun Habollat (kampung ketiga). Di dusun Habollat, masyarakat Beilel masih hidup berdampingan dengan kelompok etnis imigran dari Munaseli. Dalam perjalanan sejarah, migrasi penduduk suku Beilel berlanjut hingga ke dusun Lola saat ini (kampung keempat). Orang-orang yang berasal dari kampung Makong Afeng menyebut diri mereka sebagai orang-orang Habollat. Nama itu diambil dari nama kampung tempat mereka tinggal. Ini menunjukkan pergeseran identitas, dari ikatan silsilah ke ikatan teritorial. Mereka adalah penganut Protestan. Sementara itu, orang-orang yang berasal dari perkampungan suku Beilel sebelumnya masih menyebut diri mereka sebagai orang Beilel. Nama itu diambil berdasarkan ikatan silsilah dengan Mama Beilel, leluhur mereka.[1]
Populasi

Suku Beilel adalah salah satu kelompok etnis yang tinggal di dusun Lola (dusun A), desa Probur Utara-Habollat, kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor. Subkelompok lainnya, yaitu Dohin, Bering, Baray, dan Kelon Worbi tinggal di desa Lanleki (semuanya penutur bahasa Klon),[2] kemudian Hamalelang, Balailelang, Diikalelang, Nalentau, Damoi Aramang, Kula Afeng, Bulaka, Kalong Aramang, Fariu Aramang, Arang Aramang, dan Kafola Aramang, tinggal di dusun Habollat (dusun B); di antara mereka berbicara bahasa Kafoa.[2] Mereka bergabung untuk menyebut diri mereka "orang Habollat". Kecuali orang Beilel, asal-usul semua subkelompok tersebut berasal dari Munaseli di Pantar yang bermigrasi ke sini.[1]
Jumlah penduduk Habollat menurut catatan "Monograf Desa Probur Utara-Habollat" pada tahun 2010 mencapai 800 orang. Penduduk yang tinggal di dusun Lola (dusun A) berjumlah 423 orang, 62 di antaranya berasal dari suku Beilel, sisanya adalah suku Abui, Kui, Kelon (Klon), Pura, dan Dulolong (Alor Kecil). Mereka adalah imigran yang datang melalui pernikahan dengan penduduk setempat atau karena alasan perdagangan, lalu menetap di sekitar Pasar Tradisional Lola. Secara keseluruhan, populasi desa Probur Utara-Habollat adalah 1.223 orang. Suku Beilel merupakan kelompok etnis minoritas dibandingkan dengan kelompok etnis imigran lainnya yang tinggal di desa Probur Utara-Habollat. Sementara itu, sebanyak 18 orang Beilel lainnya tersebar di beberapa tempat di Indonesia. Dengan total 80 orang Beilel menurut sebuah wawancara pada tahun 2013.[1]
Bahasa
Bahasa Beilel adalah bahasa ibu dari suku Beilel sebelum kepunahannya. Karena penutur bahasa Kafoa merupakan yang terbanyak di antara penduduk sekitarnya, masyarakat Beilel akhirnya mengadopsi bahasa Kafoa. Namun, yang lain juga berbicara bahasa Melayu Alor dan Indonesia.[2]
Agama
Suku Beilel pada awalnya menganut kepercayaan leluhur dan Protestantisme. Namun, setelah tinggal di dusun Lola (kampung keempat), mereka mulai memeluk Islam. Migrasi masyarakat Beilel dari dusun Habollat ke dusun Lola, menurut Karim Malaipin (kepala suku Beilel), berkaitan erat dengan masalah perkawinan antar etnis. Suku Beilel, karena jumlah mereka sedikit, hanya tiga keluarga, tidak lagi mampu membayar mas kawin berupa sejumlah moko. Alasan inilah yang mendorong masyarakat Beilel yang tinggal di dusun Lola untuk menikah secara Islami, yang dianggap lebih sederhana.[1]
Lihat juga
Referensi
- ^ a b c d e f g h i j k l m n Sudiyono (2015). "Sejarah dan Dinamika Praktik Hak Ulayat Tanah di Desa Probur Utara Habollat Kabupaten Alor" (PDF). Jurnal Masyarakat dan Budaya. 17 (2). Jakarta: Pusat Penelitian Sosial dan Budaya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia: 185–206. doi:10.14203/jmb.v17i2.284. ISSN 1410-4830.
- ^ a b c d e f Patji, A.R. (2014). Bahasa, Kebudayaan, dan Pandangan, Tentang Kebahasaan Masyarakat Etnik (Lokal) Kafoa di Alor Nusa Tenggara Timur (Edisi ke-1). Jakarta: LIPI Press. hlm. 19, 33–34. ISBN 978-979-799-775-5.
- ^ Hendra, Sofyan (6 Januari 2013). "Di Pulau Alor Ada Bahasa yang Tinggal Seorang Penuturnya". www.satelitnews.co.id. Sateliy News. Diakses tanggal 26 Desember 2025.
- ^ Putra, Dion D.B., ed. (28 Agustus 2017). "Menyoal Kepunahan Bahasa Beilel di Alor, Inilah Biang Penyebabnya". kupang.tribunnews.com. Tribun News. Diakses tanggal 26 Desember 2025.
- ^ Suprayogi, Yosep; Muhtarom, Iqbal; Touwe, Mochtar (18 Maret 2012). "Para Penutur Bahasa Terakhir". data.tempo.co. ILT (Edisi 02/41). Tempo. hlm. 46. Diakses tanggal 26 Desember 2025.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


