Suku Emem

Emem
Jumlah populasi
Indonesia: 1,362 (2006)
Daerah dengan populasi signifikan
Distrik Web, Keerom, Papua
Bahasa
Bahasa Emem
Kelompok etnik terkait

Suku Emem merupakan suku bangsa Indonesia di wilayah perbatasan dengan Papua Nugini. Lebih tepatnya di Distrik Web dan sekitarnya di Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, Indonesia. Di beberapa kampung mereka hidup berdampingan dengan suku Dera.

Kampung-kampung mereka berupa:

  • Yuruf
  • Umuraf/Umuaf/Ubrub (Emem: Mofon)
  • Yambraf Satu dan Yambraf Dua (Emem: Embi)
  • Semografi

Bahasa

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Emem, yang dalam ethnologue dicatat sebagai Emumu, walaupun nama yang digunakan masyarakat adalah Emem. Bahasa tersebut termasuk dalam rumpun bahasa Pauwasi Timur.[1]

Setidaknya ada dua dialek dalam bahasa Emem, Emem Utara yang lebih dekat dengan Bahasa Zorop (Yaffi) dan Emem Selatan dengan Bahasa Karkar-Yuri di Papua Nugini. Ketiga bahasa tersebut membentuk rantai dialek. Hampir semua suku Emem hanya tinggal di wilayah Indonesia.[1]

Masyarakat Semografi menggunakan dua bahasa lainnya yang mereka sebut Menkal dan Mangonkal. Berdasarkan perbandingan kosakata, kedua bahasa tersebut sangat mirip dan kemungkinan merupakan variasi dari bahasa emem.[1]

Tarian adat

Tari Kepala Panjang, bagian dari upacara heru.

Orang-orang Web (suku Dera dan suku Emem) mempunyai tradisi tari-tarian yang disebut upacara heru berupa Tarian Kepala Panjang dan Tarian Kepala Pendek. Motif-motif untuk hiasan pada tarian kepala panjang dan tubuh diambil dari motif yang gambar cadas prasejarah pada dinding gua-gua di Keerom seperti Gua Triffi, Gua Yembi Aharambru, Gua Kwarpei, Gua Kefai Ambea, Gua Yakumbru, dan lain-lain. Upacara heru terdiri dari tiga bagian, penyembuhan, kesuburan, dan kematian. Motif yang paling sering digunakan adalah kura-kura dan kadal pada pelepah sagu yang dihias bulu cendrawasih, upacara itu dilakukan agar roh binatang tersebut senang sehingga tidak mengganggu orang lagi dan menyebabkan sakit. [2][3]

Motif-motif orang web (suku dera dan emem)

Beberapa motif lain dan maknanya bagi orang web (Dera dan Emem):[2]

  • ikan: bermakna janji kepada leluhur untuk hasil yang maksimal
  • kura-kura: lambang penyembuhan, dipercaya digambar oleh orang yang sakit untuk menandakan bahwa wilayah tersebut terdapat jin/soanggi yang menyebabkan sakit.
  • Kadal: lambang kesuburan dan penyembuhan, dipercaya sebagai janji leluhur bahwa wilayah tersebut subur dan hasil kebun yang melimpah
  • noken: disebut pula noken 8, berbentuk segiempat dengan garis memanjang, lambang kesuburan dan kematian. Karna noken bisa diisi oleh hasil kebun yang melimpah atau tulang belulang orang mati yang diantar ke gua.
  • anak panah: lambang perdamaian dan keberhasilan dalam berburu
  • lingkaran: Lingkaran dengan titik ditengah melambangkan keret-keret. Lingkaran dengan belah ketupat merupakan simbol batas tanah adat.

Referensi

  1. ^ a b c Lee, Myoung-Young; Lebold, Randy (2016). Survey Report on the Emem Language of Papua, Indonesia (Report). SIL Global.
  2. ^ a b Mutiara dari Keerom, Tinjauan Makna dan Budayanya. Jayapura: Balai Arkeologi Papua-Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2019.
  3. ^ Fairyo, Klementin (2016). "Lukisan Dinding Gua Prasejarah di Perbatasan Indonesia-Papua Nugini". Kalpataru. 25 (2): 117–130.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement