Sukanda Kartasasmita
Sukanda Kartasasmita | |
|---|---|
Sukanda Kartasasmita pada tahun 1988 | |
| Anggota Dewan Perwakilan Rakyat | |
| Masa jabatan 1 Oktober 1997 – 28 November 1998 | |
| Presiden | Soeharto B. J. Habibie |
| Daerah pemilihan | Jawa Barat |
| Bupati Subang ke-2 | |
| Masa jabatan 21 November 1978 – 21 November 1988 | |
| Gubernur | Aang Kunaefi Yogie Suardi Memet |
| Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat | |
| Masa jabatan 1971–1978 | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 13 Januari 1935 Cirebon, Hindia Belanda |
| Meninggal | 28 November 1998 (umur 63) Jakarta, Indonesia |
| Partai politik | Golkar |
| Suami/istri | Milly Sudewi |
| Anak | 4, termasuk Arief Sjamsulaksan Kartasasmita |
| Almamater | Institut Pertanian Bogor (Ir.) |
| Profesi | Politisi |
Sukanda Kartasasmita (13 Januari 1935 – 28 November 1998) adalah seorang politikus Jawa Barat yang pernah menjabat sebagai Bupati Subang (1978–1988). Dia pernah menjabat berbagai posisi seperti Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat (1971–1978), dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat-Republik Indonesia (DPR-RI) (1997–1998). Selain menjadi politikus, dia juga dikenal pendiri majalah berbahasa Sunda yang bernama Manglé.
Lahir di Cirebon pada tanggal 13 Januari 1935, Sukanda menyelesaikan pendidikan SMA pada tahun 1955. Dia lulus dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1964 dan melanjutkan pendidikannya di Universitas Wisconsin-Madison selama setahun. Seusai kembali ke Indonesia, dia bekerja sebagai dosen Universitas Padjadjaran dan juga menjabat sebagai pemimpin redaksi (pemred) majalah Baranangsiang. Pada tahun 1971, dia terpilih sebagai Anggota DPRD Jawa Barat. Selama menjabat sebagai anggota DPRD Jawa Barat, dia mengemban berbagai posisi di organisasi dan partai.
Sukanda terpilih menjadi Bupati Subang pada tahun 1978 dan menjabat posisi tersebut hingga tahun 1988. Sebagai bupati, dia melancarkan program pembangunan di bidang ekonomi, infrastruktur, lingkungan, pendidikan, dan pertanian. Di samping itu, dia juga memberikan dampak terhadap kesenian sisingaan dan menggalakkan program Keluarga Berencana. Berkat pembangunan yang dia lakukan di Subang, dia mendapatkan penghargaan Satyalancana Pembangunan.
Seusai menjabat sebagai Bupati Subang, dia sempat menjadi staf khusus di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia dan terpilih menjadi Anggota DPR-RI untuk periode 1997–2002. Dia meninggal dunia pada tanggal 28 November 1998 dan dimakamkan di Makam Besar Pasawahan.
Kehidupan awal dan pendidikan

Sukanda lahir di Cirebon pada tanggal 13 Januari 1935. Dia menyelesaikan pendidikan SD pada tahun 1948, SMP tahun 1952, dan SMA tahun 1955.[1] Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pada tahun 1955, dia menempuh pendidikan tinggi di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan berhasil meraih gelar insinyur dari jurusan pertanian pada tahun 1964. Kemudian, dia berkuliah S2 di Universitas Wisconsin–Madison (1964–1965), tetapi dia tidak mendapatkan ijazah.[1]
Karier awal
Sebelum terjun ke dunia politik, Sukanda bekerja sebagai dosen di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran.[1][2] Bersama dengan Oeton Moechtar, Rochamina Sudarmika, Wahyu Wibisana, Saleh Danasasmita, dia juga menjadi salah satu pendiri majalah Manglé pada tanggal 21 November 1957.[3] Pada tahun 1967, dia menjadi pemimpin redaksi majalah Baranangsiang.[4] Di samping itu juga, dia menjabat sebagai Wakil Ketua majalah Manglé.[2]
Pada Pemilu 1971, dia terpilih sebagai Anggota DPRD Jawa Barat dari Partai Golkar. Sebagai Anggota DPRD Jabar periode 1971–1977, dia menjabat sebagai Ketua Kopri unit UNPAD, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat, dan Asisten Sekretaris Bidang Tani dan Nelayan Golkar Jawa Barat.[1] Meski sempat menjadi calon sementara anggota DPR-RI untuk daerah pemilihan Jawa Barat pada tahun 1976, dia akhirnya kembali terpilih untuk menduduki kursi DPRD Jawa Barat pada Pemilu 1977.[5][1]
Bupati Subang
Ketika masa jabatan Atju Syamsudin sebagai Bupati Subang berakhir pada tahun 1978, pemilihan Bupati Subang diadakan dan terdapat tiga calon yaitu, Mohamad Amin, Sukanda Kartasasmita, dan Saleh. Dari ketiga calon tersebut, Sukanda terpilih menjadi bupati dari Fraksi Karya Pembangunan dan dilantik pada tanggal 21 November 1978.[6][7] Dia menjabat sebagai Bupati Subang selama 10 tahun.[8]
Selama menjabat sebagai Bupati Subang, dia melancarkan program pembangunan. Dalam program pembangunan tersebut, dia memprioritaskan kepada bidang perdagangan, yang menurutnya mampu menyerap banyak tenaga kerja.[9] Dia juga dikenal sebagai bupati dengan gaya kepemimpinan seperti legislator, bukan eksekutor.[7] Sebagai Bupati Subang, dia juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Golkar Kabupaten Subang.[10]
Ekonomi

Pada masa kepemimpinan Sukanda, dia melakukan kegiatan pembinaan lembaga perekonomian, khususnya koperasi. Selain itu, dia melakukan penyuluhan kepada masyarakat guna meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus menguatkan koperasi.[9] Pada tanggal 14 Mei 1983, dia mengangkat 37 manajer koperasi unit desa (KUD) di Subang sebagai pegawai negeri sipil. Hal tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan gairah koperasi desa.[11]
Dalam bidang kewirausahaan, Sukanda, memberikan fasilitas usaha di pasar inpres, toko-toko swasta, dan kios-kios pemerintah serta rekomendasi kredit bank kepada kepada pengusaha kecil. Selain itu juga, dia juga memberikan pelatihan dan modal usaha kepada pengusaha.[9] Dia juga mendirikan tim pengembalian kredit tunggakan massal pada bulan September 1983 karena tunggakan kredit Kabupaten Subang mencapai Rp3 miliar pada bulan September 1982. Salah satu faktornya ialah karena banyak masyarakat Subang yang tidak mau membayar utang, khususnya kelompok nonpetani.[12]
Infrastruktur
Dalam hal infrastruktur, Sukanda melakukan pemugaran Tugu Benteng Pancasila di Subang pada tahun 1980.[13] Kemudian, pada tahun 1981, dia membangun Gedung Juang di Subang.[14] Pada tahun 1986, Pemerintah Kabupaten Subang membangun Gedung Dakwah Islamiyyah sebagai sarana untuk menyiarkan ajaran Islam.[15] Di tahun yang sama, dia mengatakan bahwa jumlah masjid di Kabupaten Subang meningkat dari 162 buah pada tahun 1979 menjadi 962 buah pada tahun 1986.[16]
Sukanda juga menggandeng perusahaan swasta untuk membangun pusat pertokoan, bioskop, dan Komplek Perumahan Ciheuleut Indah. [15] Di samping itu, dia memindahkan pedagang kaki lima ke pujasera yang terletak di tanah bekas Terminal Subang dan Pasar Subang yang terbakar pada tahun 1984.[17][18]
Birokrasi
Pada tanggal 29 Mei 1984, Sukanda melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 230 pegawai honorer daerah. Hal ini dilakukan karena pegawai tersebut diangkat oleh Kepala Bagian Personalia tanpa sepengetahuan bupati dan juga untuk efisiensi keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Subang. Dia juga memberikan amplop uang sebesar Rp15.000 sebagai kompensasi kepada 230 pegawai honorer daerah yang diberhentikan.[19] Pada bulan Mei 1986, dia mengeluarkan surat keputusan untuk menindaklanjuti PNS Pemda Subang yang menggunakan ijazah palsu.[20]
Sukanda juga melakukan kebijakan pemekaran desa. Pada tahun 1982, Subang memiliki 10 desa baru yang dimekarkan dari desa lama. Hal ini dilakukan karena wilayah yang lebih kecil akan lebih mudah untuk dikontrol dan menghasilkan pelayanan administratif yang efisien.[21]
Pertanian dan lingkungan
Di masa kepemimpinannya, petani dan penganjur pertanian ditugaskan untuk berpartisipasi dalam program Supra Insus yang dimulai pada bulan April 1987 dengan tujuan untuk menaikkan produksi padi menjadi 9 ton di setiap hektar sawah.[22] Dia juga pernah menjanjikan hadiah naik haji kepada kelompok petani intesifikasi khusus (Insus) Subang yang berhasil menjadi juara nasional, yang dananya ditanggung oleh Pemda Kabupaten Subang.[23]
Produksi padi juga meningkat di masa kepemimpinannya, dari yang awalnya hanya memproduksi 3,2 ton padi tahun 1968 menjadi 899.676 ton pada tahun 1986.[22] Sebelumnya, produksi padi pada tahun 1981 naik 13% dibandingkan tahun sebelumnya karena peningkatan kualitas panca usaha tani dan kesiapan petani yang dapat menghindari serangan hama.[24] Peningkatan produksi komoditas pertanian lainnya juga terjadi pada tumbuhan palawija dan buah-buahan.[25]
Subang juga menjadi penyumbang padi ke pasokan pangan nasional. Pada tahun 1984, Subang menyumbangkan 33.782 ton. Jumlah tersebut meningkat pada tahun 1986, di mana daerah tersebut berhasil menyumbangkan 37.413 ton. Berkat peningkatan produksi, Subang dijuluki sebagai "gudang padi" di Jawa Barat.[15]
Sukanda juga melakukan reboisasi di lahan-lahan kritis seluas 2.270 hektar pada tanggal 20 Januari 1982 dalam rangka menyukseskan Pekan Penghijauan Nasional ke-21.[26]
Guna mengatasi masalah pertanahan di Subang, Sukanda melancarkan Operasi Catur Tertib. Dari operasi tersebut, dia memberikan pengusulan hak milik atas tanah negara kepada 116 kepala keluarga dan juga sertifikasi tanah kepada masyarakat, Pemda Subang, dan instansi.[9]
Melihat banyak tanaman lamtoro gung yang mati akibat serangan hama kutu loncat, Sukanda menerapkan kebijakan untuk melepaskan pemangsa (Curinus coeruleus)[a] di perkebunan dan lahan rakyat. Kegiatan perdana pelepasan Curinus coeruleus dilakukan pada tanggal 16 Desember 1987 di Perkebunan Teh PTP XIII Kebuna Kasomalang Kulon di Jalancagak.[28]
Berkat prestasinya di bidang pertanian, Sukanda mendapatkan piagam penghargaan dari presiden, menteri, dan Gubernur Jawa Barat.[29]
Sosial
Sukanda menjalankan program Keluarga Berencana (KB) di Kabupaten Subang. Dalam pelaksanaan program KB, dia memilih untuk menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim daripada pil atau suntikan. Hal ini dilakukan karena banyak kegagalan dalam kontrasepsi pil atau suntikan.[30] Majalah Dharmasena memuji penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim sebagai langkah yang efektif.[9] Di samping itu, dia juga mengadakan program pembinaan dan rehabilitasi wanita tuna susila.[31] Sukanda juga melancarkan program pemberantasan buta huruf di ratusan desa tersebar di Kabupaten Subang.[32]
Kesenian
Sebelum Sukanda menjadi bupati, sisingaan memiliki nama dan kelompok yang berbeda. Nama-nama yang beredar adalah Gotong Singa, Singa Ungkleuk, Singa Depok, Kuda Ungkleuk, Pergosi, atau Odong-odong.[33] Saat Sukanda menjadi bupati, dia menyatukan berbagai kelompok sisingaan yang berbeda dan melakukan pembakuan terhadap kesenian ini melalui seminar khusus Sisingaan.[33] Pada tanggal 15 April 1983, dia meresmikan sanggar budaya dan taman hiburan di Jl. Otto Iskandardinata, Subang.[34]
Karier selanjutnya dan meninggal dunia

Sukanda bergabung ke Komisi D pada Musyawarah Nasional IV Golkar pada bulan Oktober 1988.[35] Komisi ini membahas rancangan pernyataan politik.[36] Pada bulan Mei 1989, Sukanda ditetapkan sebagai satu dari 11 ketua HKTI.[37] Sukanda menjadi staf ahli bidang sosiologi di Menteri Negara Urusan Peranan Wanita pada tahun 1992.[38]
Pada Pemilu 1997, dia terpilih sebagai anggota DPR-RI periode 1997–2002 dari partai Golkar mewakili Jawa Barat.[39] Sebagai Anggota-DPR-RI, dia menjadi salah satu anggota tim kunjungan kerja ke proyek pemberantasan kemiskinan di Jakarta dan Jawa Barat dari tanggal 27 Juli 1998 hingga 1 Agustus 1998.[40]
Sukanda meninggal dunia pada tanggal 28 November 1998 di Jakarta. Dia dimakamkan di Makam Besar Pasawahan di Desa Pananjung, Tarogong Kaler, Garut.[41]
Kehidupan pribadi
Sukanda menikah dengan Milly Sudewi dan pasangan ini memiliki empat anak. Salah satu anaknya, Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, menjabat sebagai Rektor Universitas Padjadjaran.[42]
Penghargaan
- Satyalancana Pembangunan bidang koperasi.[43]
Catatan
Referensi
- ^ a b c d e LPU, LPU (1979). Ringkasan riwayat hidup anggota DPRD-I, hasil pemilihan umum tahun 1977: Untuk wilayah Jawa. Jakarta: Lembaga Pemilihan Umum. hlm. 19.
- ^ a b Pikiran Rakyat Pedesaan, Pikiran Rakyat Pedesaan (15 Februari 2025). "Romantisme Membaca Pikiran Rakyat Pedesaan Edisi Minggu ke-2 Februari 1987, Lihat Tampilan dan Rubrikasinya". kabarpriangan.pikiran-rakyat.com. Kabar Priangan. Diakses tanggal 1 Oktober 2025.
- ^ Siswadi, Anwar (30 April 2025). "Kesulitan Terbit, Majalah Sunda Tertua Mangle Dikelola Unpad". tempo.co. Tempo. Diakses tanggal 19 Juli 2025.
- ^ Rusyana, Yus; Yudibrata, Kama; Wibisana, Wahyu; Wassid, Iskandar (1987). Ensiklopedi Susastra Sunda (PDF). Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. hlm. 8. ISBN 979-459-008-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Humas DPR RI, Humas DPR RI (1978). Parlementeria No.68 Tahun ke VII. Jakarta: Humas DPR RI. hlm. 79.
- ^ Yulianto, Wisnu (2007). LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN DI DINAS SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN SUBANG. UNIKOM (Report). Bandung: UNIKOM.
- ^ a b "Pertanian Prioritas Yang Diharapkan Akan Menunjang Pembangunan Purwasuka". Berita Yudha. 8 April 1981. hlm. 5.
- ^ "Sejarah Kabupaten Subang, Daerah Subur di Jawa dan Kisah Sosok Subanglarang". Suarajabar.id. Diakses tanggal 2025-09-30.
- ^ a b c d e Iskandar 1987, hlm. 81.
- ^ "Bappilu Golkar Subang Dilantik". Berita Yudha. 1 Mei 1986. hlm. 4.
- ^ "KUD Dengan Fasilitas Yang Aduhai, Harus Dilandasi Dengan Mentalitas Yang Sehat". Berita Yudha. 21 Mei 1983. hlm. 9.
- ^ "Tunggakan Kredit Masal di Kabupaten Subang". Berita Yudha. 24 September 1983. hlm. 8.
- ^ "Tugu Benteng Pancasila lambang penumpasan G 30 S PKI di Subang". Suara Karya. 9 Oktober 1980. hlm. 5.
- ^ "Sembilan Orang Perintis Dapat Bingkisan Subang". Berita Yudha. 16 November 1981. hlm. 4.
- ^ a b c Iskandar 1987, hlm. 55.
- ^ "Gubernur Jabar Meletakkan Batu Pertama Pembangunan Mesjid Goparana Dari YABMP". Berita Yudha. 28 Juli 1986. hlm. 4.
- ^ "Pujasera Di Subang Untuk Mengangkat Gengsi Pedagang K-5". Berita Yudha. 12 Maret 1990. hlm. 8.
- ^ Sugeng Purnomo (30 Maret 1987). "Subang Mulai Menuju Kota Bersih Dan Indah". Berita Yudha. hlm. 5.
- ^ "Pemberhentian Karyawan Honda Dalam Rangka Penertiban Subang". Berita Yudha. 21 Juni 1984. hlm. 4.
- ^ "Singkat Daerah:Subang". Berita Yudha. 9 Mei 1986. hlm. 4.
- ^ "Kabupaten Subang Tambah Sepuluh Desa Lagi". Berita Yudha. 28 Februari 1983. hlm. 4.
- ^ a b Iskandar 1987, hlm. 54.
- ^ "Bupati Subang janji: Hadiah naik Haji untuk petani Insus berprestasi". Suara Karya. 6 Oktober 1980. hlm. 5.
- ^ "20.000 ton pengadaan beras di kab.Subang". Berita Yudha. 16 Maret 1981. hlm. 4.
- ^ Iskandar 1987, hlm. 80-81.
- ^ "2270 HA Tanah Kritis Berhasil Dihijaukan". Berita Yudha. 20 January 1982. hlm. 4.
- ^ Mahrub, Eddy (1987). "STUDI MORFOLOGI DAN BIOLOGI PREDATOR Curinus coeruleus Mulsant DI LABORATORIUM". Ilmu Pertanian. 4 (4).
- ^ "250 Ekor Pemangsa Hama Kutu Loncat Dilepas di Subang". Berita Yudha. 29 Desember 1987. hlm. 5.
- ^ "Subang Berpacu Tingkatkan Produksi Pangan". Berita Yudha. 18 April 1988. hlm. 9.
- ^ "Akseptor KB di Kabupaten Subang 91% pakai IUD". Berita Yudha. 14 Desember 1984. hlm. 4.
- ^ "Menengok usaha rehabilitasi WTS di Subang: "Mereka tak kuat menerima tamu lebih dari dua orang"". Suara Karya. 16 Oktober 1980. hlm. 5.
- ^ "Bupati Subang serahkan Rp. 115,8 juta dana belajar". Berita Yudha. 6 Desember 1984. hlm. 4.
- ^ a b Redaksi Indonesia.go.id, Redaksi Indonesia.go.id. "Sisingaan, Sindiran Ala Orang Sunda". Indonesia.go.id. Redaksi Indonesia.go.id. Diakses tanggal 26 Juli 2025.
- ^ "Fasilitas Hiburan Di Kota Subang Kini Bertambah". Berita Yudha. 16 April 1983. hlm. 8.
- ^ Golkar 1988, hlm. 740.
- ^ Golkar 1988, hlm. 711.
- ^ "Dari Martono untuk Martono". Media Karya. Jakarta: DPP Golkar. Juni 1989.
- ^ Departemen Penerangan R.I, Departemen Penerangan R.I (1992). Daftar nama dan alamat pejabat-pejabat negara Republik Indonesia. Departemen Penerangan R.I. hlm. 92.
- ^ Departemen Penerangan RI, Departemen Penerangan RI (1997). Nama anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat yang terpilih dan yang diangkat masa bakti tahun 1997-2002. Departemen Penerangan RI. hlm. 18.
- ^ Parlementaria (1998). "Liputan Khusus Kunjungan Kerja Komisi:Pencairan Dana Kukesra Masih Tersendat". Parlementaria. Jakarta: DPR-RI.
- ^ @makamindo (16 Juli 2024). "Ir. Sukanda Kartasasmita Cirebon, 13 January 1935-Jakarta, 28 November 1998" – via Instagram.
- ^ Zubaidah, Neneng. "Profil Pendidikan Prof Arief S Kartasasmita, Rektor Unpad Periode 2024-2029". edukasi.sindonews.com. SindoNews. Diakses tanggal 19 Juli 2025.
- ^ "Masuk Koperasi Jangan karena Dambakan Fasilitas". Harian Neraca. 7 Maret 1988. hlm. 9.
Bibliografi
- Golkar, Golkar (1988). Musyawarah Nasional IV Golongan Karya tanggal 20 s/d 25 Oktober 1988 di Jakarta. Golkar.
- Iskandar, Adi Mercy (1987). "Karya Utama: Subang Tandang Memacu Pembangunan". Dharmashena. Jakarta: Departemen Penerangan.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.






