Sisingaan

Arak-arakan Sisingaan di Lembang, Bandung Barat.

Sisingaan atau Gotong Singa (sebutan lainnya Odong-odong) merupakan salah satu jenis seni pertunjukan rakyat khas Sunda dan berasal dari wilayah Kabupaten Subang, biasanya dalam bentuk arak-arakkan yang dilakukan dalam hajat sunatan.[1] Sisingaan menggunakan media tandu yang dingkat oleh 4 orang dan diatasnya ditunggangi 1 orang atau pada umumnya oleh seorang anak kecil. Kesenian ini dimainkan dengan musik, sehingga para pengangkat tandu melakukanya dengan gerakan tarian.

Masyarakat Subang meyakini bahwa dimasa lalu Sisingaan dijadikan sebagai alat perjuangan untuk melepaskan diri dari tekanan penjajah. Hal tersebut karena singa merupakan hewan yang menjadi lambang dari negara Inggris dan Belanda yang pada saat itu menjadikan wilayah subang sebagai lahan perkebunan dengan nama Pamanoekan en Tjiasemlanden atau P&T Land. Para penjajah memahami bahwa Sisingaan adalah bentuk kesenian yang bersifat untuk menghibur, tetapi bagi rakyat Subang penggunaan lambang hewan singa ialah sebagai salah satu bentuk kebencian terhadap kaum penjajah.[2]

Sejarah

Mengenai asal-usul kesenian sisingaan, banyak pakar meyakini bahwa kemunculan sisingaan memiliki kaitan yang erat dengan situasi sosial politik Subang pada masa penjajahan. Versi pertama berdasarkan pada cerita yang berkembang di masyarakat. Sisingaan diciptakan oleh seseorang yang berasal dari Desa Ciherang. Orang tersebut selalu memikirkan nasib dirinya dan rakyat Subang yang berada dalam tekanan dan siksaan para penjajah. Kondisi demikian membuat dirinya semakin benci terhadap penjajah dan ingin melakukan perlawanan terhadap mereka. Untuk itu, ia mencoba mencari cara terbaik untuk melakukan perlawanan yaitu melalui kesenian sisingaan.[1] Secara simbolis bentuk perlawanan terhadap penjajah melalui nilai-nilai filosofis yang terdapat pada sisingaan adalah sebagai berikut:

Prosesi sedekan bumi
  • Boneka singa yang diusung melambangkan penjajah (Inggris dan Belanda)
  • Empat orang pengusung singa merupakan rakyat Subang yang sedang ditindas penjajah
  • Anak kecil yang menunggangi singa adalah generasi penerus Subang yang akan melawan dan mengusir penjajah dari tanah Subang[2]

Versi selanjutnya menyebutkan sejak Raffles menjadikan Subang sebagai tanah partikelir melalui penjualan sebagian tanah negara pada 1813. Saat kepemilikan tanah Subang dikelola oleh H.W. Hofland. Kepemimpinannya di Subang sebagai tuan tanah terekam dalam sejarah selama tiga puluh dua tahun (1840-1872).[1] Kehidupan di daerah Subang pada masa itu jauh lebih baik dibandingkan masa sebelumnya. Hal ini karena keluarga Hofland mampu memajukan P&T Land dan juga memperbaikin kehidupan rakyat. Karena penguasa P&T Land saat itu dianggap membawa kemakmuran bagi kehidupan rakyat, sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada penguasa, masyarakat membuat sebuah kreasi seni yang cenderung bersifat sanjungan atau pemujaan.[2] Dalam konteks ini biasa dipertunjukan odong-odong dalam upacara Ngaruwat Bumi. Tradisi ini dilakukan dengan cara mengarak sesuatu benda yang dibentuk menyerupai binatang tertentu. Seiring dengan berkembangnya waktu, odong-odong melahirkan bentuk-bentuk seni pertunjukan seperti Sisingaan, Kukudaan, Mamanukan, atau bentuk lainnya.[2]

Perkembangan

Keberadaan kesenian sisingaan berawal dari kegiatan ritual masyarakat yang akan menyunat anak laki-laki, dengan cara dihibur terlebih dahulu, diarak keliling kampung menggunakan kursi yang dihias atau disebut jampana. Jampana diusung oleh empat orang dewasa, sedangkan calon pengantin sunat duduk diatas kursi yang telah dihias (jampana), musik pengiring dalam arak-arakan tersebut menggunakan alat musik seadanya seperti , Dog-dog, kendang, kempul, kecrek, dengan pola tabuh pencak silat, dan improvisasi bersipat spontan (tidak terencana). Gerak tari pengusung jampana tersebut belum ada gerak baku, masih bersipat helaran atau berjalan secara biasa, kostum yang digunakan seadanya.[3] Sseiring pergeseran fungsi dan bentuk kreatifitas masyarakat, jampana mengalami perubahan pada bentuk patung singa bongsang, yaitu patung singa yang terbuat dari rangkaian bambu (Carangka) yang dibungkus karung goni, kepala dan kakinya terbuat dari kayu randu, rambutnya terbuat dari tali rapiya, matanya tebuat dari tutup botol minuman, dingusung oleh empat orang pengusung.[3]

Seiring waktu, sisingaan kemudian dipertunjukan dalam heleran, upacara khitanan, hiburan, penyambutan tamu, festival, dan sebagainya. Perkembangan pertunjukan Kesenian Sisingaan di pengaruhi oleh berkembangnya grup sisingaan yang memiliki ciri khas masing-masing, akan tetapi tetap memiliki kesamaan dalam struktur pertunjukan seperti adanya pembuka, arak-arakan (isi), dan penutup. Sedangkan ciri khas atau perbedaan dapat dilihat dari segi bentuk boneka singa, kostum, instrumen dan pemilihan lagu.[2]

Kesenian Sisingaan mulai berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah lain di Jawa Barat. Kepopuleran Sisingaan sampai di wilayah Kabupaten Indramayu, akan tetapi pada awalnya masyarakat Indramayu tidak mengetahui nama resmi dari kesenian ini. Masyarakat Indramayu lebih sering menyebutnya sebagai Singa Depok, dan mengadaptasi keseniaan Sisingaan dengan dipadukan musik Tarling dan dangdut sebagai musik pengiringnya.[4]

Pada tahun 2000-an, para seniman di Indramayu membuat inovasi baru pada Singa Depok ini. Boneka singa yang merupakan bagian utama dalam pertunjukan ini diganti dengan bentuk-bentuk lain seperti burung rajawali, naga, binatang atau makhluk legenda lainnya. Boneka singa sendiri tetap digunakan dalam acara pembukaan dan atraksi yang dilakukan setelah acara arak-arakan, hal tersebut bertujuan untuk tetap mempertahankan akar sejarahnya bahwa kesenian ini berasal dari Kabupaten Subang.[4]

Pertunjukan

Kesenian sisingaan biasanya dipertunjukkan satu hari sebelum prosesi khitanan, hal ini dimaksudkan untuk menghibur anak yang akan di khitan tersebut. Anak yang akan dikhitan duduk di atas boneka singa untuk selanjutnya diarak keliling desa atau lingkungan tempat tinggalnya, dengan diiringi musik tradisional Sunda, seperti kendang, gong, dan seruling, menciptakan suasana meriah dan penuh semangat. Selain musik, tarian energik dan atraksi akrobatik seringkali menambah kemeriahan prosesi ini.[5]

Permainan sisingaan oleh penari pengusung sisingaan, lewat gerak antara lain: pasang/kuda-kuda, bangkaret, masang/ancang-ancang, gugulingan, sepakan dua, langkah mundur, kael, mincid, ewag, jeblag, putar taktak, gendong singa, nanggeuy singa, angkat jungjung, ngolecer, lambang, pasagi tilu, melak cau, nincak rancatan, dan kakapalan. sebagai seni helaran, sisingaan bergerak terus mengelilingi kampung, desa, atau jalanan kota. Sampai akhirnya kembali ke tempat semula. Di dalam perkembangannya, musik pengiring lebih dinamis, dan melahirkan musik Genjring Bonyok dan juga Tardug.

Penyajian

Pola penyajian Sisingaan meliputi:

  1. Tatalu (tetabuhan, arang-arang bubuka) atau keringan
  2. Kidung atau kembang gadung
  3. Sajian Ibingan di antaranya solor, gondang, ewang (kangsreng), catrik, kosong-kosong dan lain-lain
  4. Atraksi atau demo, biasanya disebut atraksi kamonesan dalam pertunjukan Sisingaan yang awalnya terinspirasi oleh atraksi Adem Ayem (genjring akrobat) dan Liong (barongsai)
  5. Penutup dengan musik keringan.

Musik pengiring

Musik pengiring Sisingaan pada awalnya cukup sederhana, antara lain: Kendang Indung (2 buah), Kulanter, Bonang (ketuk), Tarompet, Goong, Kempul, Kecrek. Karena Helaran, memainkannya sambil berdiri, digotong dan diikatkan ke tubuh. Dalam perkembangannya sekarang memakai juru kawih dengan lagu-lagu (baik vokal maupun instrumental) antara lain: Lagu Keringan, Lagu Kidung, Lagu Titipatipa, Lagu Gondang, Lagu Kasreng, Lagu Selingan (Siyur, Tepang Sono, Awet rajet, Serat Salira, Madu dan Racun, Pria Idaman, Goyang Dombret, Warudoyong, dll.), Lagu Gurudugan, Lagu Mapay Roko atau Mars-an (sebagai lagu penutup). Lagu lagu dalam Sisingaan tersebut diambil dari lagu-lagu kesenian Ketuk Tilu, Doger dan Kliningan.

Pemaknaan

Sisingaan di TMII

Ada beberapa makna yang terkandung dalam seni pertunjukan Sisingaan, diantaranya:

  • Makna sosial, masyarakat Subang percaya bahwa jiwa kesenian rakyat sangat berperan dalam diri mereka, seperti egalitarian, spontanitas, dan rasa memiliki dari setiap jenis seni rakyat yang muncul.
  • Makna teatrikal, dilihat dari penampilannya Sisingaan dewasa ini tak diragukan lagi sangat teatrikal, apalagi setelah ditmabhakn berbagai variasi, seperti jajangkungan dan lain-lain.
  • Makna komersial, karena Sisingaan mampu meningkatkan kesejahteraan mereka, maka antusiasme munculnya sejumlah puluhan bahkan ratusan kelompok Sisingaan dari berbagai desa untuk ikut festival, menunjukan peluang ini, karena si pemenang akan mendapatkan peluang bisnis yang menggiurkan, sama halnya seperti seni bajidoran.
  • Makna universal, dalam setiap etnik dan bangsa sering kali dipunyai pemujaan terhadap binatang Singa (terutama Eropa dan Afrika), meskipun di Jawa Barat tidak terdapat habitat binatang Singa, namun dengan konsep kerakyatan, dapat saja Singa muncul bukan dihabitatnya, dan diterima sebagai miliknya, terbukti pada Sisingaan.
  • Makna Spiritual, dipercaya oleh masyarakat lingkungannya untuk keselamatan (selamatan) atau syukuran.

Referensi

  1. ^ a b c Junaedi, Anggi Agustian; Lubis, Nina Herlina; Sofianto, Kunto (2017). "KESENIAN SISINGAAN SUBANG: SUATU TINJAUAN HISTORIS" (PDF). Patanjala. 9 (2): 181–196.
  2. ^ a b c d e Abdu, Muhamad (2023-10-11). "Kesenian Sisingaan: Bentuk Kreatifitas Masyarakat Subang Dalam Melawan Penjajah". Good News From Indonesia. Diakses tanggal 2026-02-10.
  3. ^ a b "Sisingaan". subang.go.id. Diakses tanggal 2026-02-10.
  4. ^ a b Abdu, Muhamad (2023-11-04). "Adaptasi Kesenian Sisingaan: Perubahan Bentuk dan Penyajiannya". Good News From Indonesia. Diakses tanggal 2026-02-10.
  5. ^ Ayatullah, Ghildan Syarif (2024). "Sisingaan dalam Upacara Khitanan: Tradisi dan Nilai Kultural Masyarakat Sunda". JURNAL AWILARAS. 11 (1): 52–61. doi:https://doi.org/10.26742/jal.v11i1.3412. ;
  • Ganjar Kurnia. 2003. Deskripsi kesenian Jawa Barat. Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat, Bandung

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement